Aura mistis hadir ketika saya sampai di depan gedung yang dulunya merupakan sebuah bioskop legendaris di Jogja sejak tahun 50-an, Bioskop Permata. Adalah Kalanari Theatre Movement yang dalam kesempatannya pada acara Teater Festival Kesenian Yogyakarta XXVII, memanfaatkan gedung tersebut untuk menggelar pertunjukan proyek mereka yang bertajuk In Situ: #1 Permata selama 3 hari mulai tanggal 23-25 Agustus 2015. Pada etalase ruang tunggu terdapat sebuah poster film tua “Gadis Penggoda” yang mungkin memang sengaja ditempel agar membuat bioskop terkesan lebih hidup. Dan di etalase sebelahnya terdapat sesosok wanita berbaju putih rambut panjang merupakan-salah-satu-pemeran-dalam-teater tengah duduk dengan pandangan kosong, sehingga menambah kesan horor. Lalu penonton diminta untuk menukarkan tiket masuk terlebih dahulu di pintu loket sebelah barat. Saya bisa membayangkan pada masa kejayaannya, trotoar di depan gedung bioskop penuh orang mengantre tiket, seperti pada malam hari ini. Suasana yang gelap dengan suara dentingan piano dan gesekan biola menyapa penonton ketika memasuki gedung menuju ke ruang pemutaran film.
Suasananya mencekam, ruangan gelap, hanya terdapat cahaya dari sorotan pada sebuah layar putih besar yang usang. Ditambah backsound sambungan dari pintu masuk tadi yang semakin kencang. Ditengah layar tersebut ada sesosok wanita yang duduk menghadap penonton. Kemudian bisa diketahui kalau wanita tersebut adalah Permata, tokoh utama dalam teater ini. “Namaku Permata. Ratu horor… Ratu erotis… Paha, dada dan darah perawan adalah senjataku. Aku dipuja oleh mata kalian yang jalang.” Suara Permata menggelegar ke seluruh isi ruangan, membuka pertunjukan. Dalam teater ini Permata merupakan seorang perempuan yang pernah menjadi primadona di era 70-an hingga 80-an, seorang bintang film, perempuan panggilan kelas elit dan praktisi klenik, dengan berjibun penggemar dan penghujat di seantero negeri. Tokoh Permata merupakan personifikasi dari Bioskop Permata. Begitu yang tertulis dalam press releasenya (http://www.kalanari.org/2015/07/in-situ-1-permata.html).
Pertunjukan yang menarik, dengan tokoh-tokoh yang berperan secara maksimal, ceritanya sensasional, sedikit mistis dan agak erotis namun tetap edukatif. Yogyakarta, 26 Agustus 2015








