Matahari senja kini tak seelok biasanya. Tapi bagaimanapun senja tetaplah senja. Selalu ada nila yang entah dibelahan bumi mana. Disana aku titipkan do’a-do’a.
Hey, Nila.
Untuk kesekian kali aku harus memberankan diri untuk menyapamu (lagi). Untuk kesekaian kalinya pula aku harus meruntuhkan benteng pertahanan yang ku sebut ‘ikhlas’ yang ku bangun sendiri. Dan untuk kesekian kalinya juga aku harus dengan sengaja menancapkan duri-duri halus di telapak tanganku sendiri, yang akan membuatku tak nyaman melakukan apapun, yang membuatku tak aman menyentuh apapun, pun diriku sendri. Duri-duri halus itu ku sebut ‘ingat’. Sedikit kamu tahu, apapun yang aku lakukan dan dimanapun itu pada akhirnya akan sampai pada ‘mengenangmu’.
Aku bukan ingin menyalahkan keadaan seperti, tak sedikitpun. Jika dan hanya jika memang keadaan seperti ini membuatku serba salah, karena memang aku sendirilah yang salah. Tapi memang tak ada yang salah tentang keadaan ini. Sesuatu yang terjadi-keadaan ini sudah pasti karena sebab yang juga pasti ada akibat. Ya, keadaan ini karena aku merindukanmu. Entah sedalam apa lagi aku tak pernah terlalu memikirkan, aku hanya merindukanmu, itu saja. Sekalipun aku tahu tak banyak yang bisa aku lakukan, sekalipun aku tahu pada akhirnya aku hanya harus menerimanya.
Hey, Nila. Aku merindukanmu.
Aku takkan pernah berharap kamu akan membalasnya, aku hanya berharap Tuhan bisa menyampaikannya padamu.
Ah, aku terlalu naif. Ya, aku selalu berharap Tuhan akan menyampaikannya padamu, dan kau akan mau membalasnya, entah dalam apa. Ya, aku selalu mengharapkannya, sekalipun tak seperti sebelum Tuhan memberikan jarak.
Aku pernah mencintai nila di langit senja, lalu Tuhan menciptakan malam yang gelap. Sangat gelap, hingga aku sempat lupa bahwa ada nila lainnya saat fajar, atau ada jingga yang begitu cerah sesudahnya.
Entah cepat atau lama, jika telah sampai waktunya, mungkin aku akan lupa dan benar-benar lupa tentang bagaimana aku merindukanmu. Aku harus merindukan seseorang yang lain, seseorang yang entah kapan Tuhan mempertemukan.
Hey, Nila.
Entah kapan lagi aku akan menyapamu, atau entah sampai kapan aku akan terus merindukanmu. Satu yang pasti, aku tak pernah menyesalinya.
Kelak, entah kapan
Akan ada senja yang lain
Yang akan selalu kunanti kedatangannya
Yang akan selalu membawa jingga dan nila
Mungkin kamu diantaranya,
Mungkin kamu ditempat entah mana,
juga merasakannya.
Senja akan tetap sama
Hati kita yang tak lagi sama
Aku,
yang pernah ingin menjadi langit dan menjatuhkan hujan untukmu.