Hampa
“Seorang (yang jiwa penuh nafsunya telah mati) adalah orang yang makanannya sepenuhnya cinta (Ilahi); yang lain adalah manusia yang hampa seperti debu.” [Rumi, Masnavi 5:3830]
Cinta memakan bagian dari diri kita sedikit demi sedikit hingga tak menyisakan secuil apapun untuk dikenali. Cinta menghancurkan hal paling mendasar dari identitas, suatu keakuan dalam memandang realitas. Demikianlah cinta para sufi yang tidak menyisakan apapun kecuali Sang Kekasih. Namun jiwaku tak semurni para mistikus itu, aku mengenal sedikit tentangmu dan aku tak dapat mengusirmu dari pikiranmu sejak saat itu.
Setiap hari adalah kisah mengenaimu. Aku menghindari sejak awal dan sejak itu pula ketiadaanmu adalah mengenaimu sekaligus. Aku bisa menghitung beberapa kali tak sengaja kita berpapasan, tapi aku sampai lupa berapa kali ketakberadaanmu justru mengingatkanku pada eksistensimu. Aku melihat dirimu dalam pengalihan pandanganku ke manapun dan kapanpun. Dirimu menjelma dalam mimpi, simbol-simbol kealpaan dan setiap objek di saat kesadaran. Usahaku untuk menemuiNya berakhir pada hasrat untuk membersamaimu, aku selalu merindukan tatapanmu yang teduh lagi suci.
Penolakanmu yang sangat hati-hati adalah skenario terbaik dari semua kemungkinan kognitifku. Semakin aku mencintaimu setelahnya, aku bahkan tak dapat menghadirkan kebencian paling minimal dan manusiawi kepada sesama manusia. Persoalan mengenaimu dimulai dengan cinta, diisi dengan cinta dan diakhiri dengan cinta yang bertambah-tambah.
Aku mencintaimu dan aku tak lagi peduli dengan seluruh kehampaan konstan ini. Aku hampa dan mencintai kehampaan. Dan dalam kehampaan aku bertemu lagi denganmu. Aku telah berhenti dalam usaha untuk melupakan. Sebab kau telah menjadi semesta di dalam kealpaan dan ketiaadaan.















