Diam-diam mengamati
Dua hari ini aku diam & tidak banyak berbicara di rumah. Jika ditanya mengapa ?
Iya jawabannya karena aku menyembunyikan segala kesedihanku seorang diri. Aku tidak ingin ayah & ibu tahu bahwa diriku juga sedang bersedih atas ujian yang sedang mereka hadapi saat ini.
Sejak kemarin, aku merenung & mempertanyakan hal apa saja yg sudah kulakukan selama ini? Apa aku sudah bermanfaat untuk ayah & ibu? Sejauh mana aku bisa membantu mereka?
Tanpa disadari, pertanyaan-pertanyaan itu justru semakin membuatku merasa sedih, rapuh, terpuruk.
Aku pernah membaca sebuah kalimat,
"Pelukan ibu itu menghangatkan, sedangkan pelukan seorang ayah itu menenangkan".
Kalimat itu benar. Hari ini, dimana aku tidak bisa lagi membendung semuanya sendiri. Tumpah ruah air mataku di depan ayah & ibu. Tak kulepaskan pelukanku kepada ibu dan dengan lirih aku berucap, " Maaf, bu", sambil menangis tak berhenti.
"Sudah tidak apa-apa. Sudah jangan nangis terus, anak lesmu sudah menunggumu", jawab ibuku. Tapi tetap saja, aku tidak melepaskannya. Rasanya sudah terlalu lama aku tidak pernah memeluknya.
Pelukan ibu membuat seluruh beban di hatiku meluruh seketika.
Aku tidak tahu bahwa mereka diam-diam mengamati setiap perilakuku yang tiba-tiba menjadi aneh. Sedari kemarin aku juga terheran, karena mereka tidak terlalu memaksaku untuk membantu mereka menjaga usahanya. Tadi pun, setelah ayah pulang dari masjid langsung mengganti aku menjaga warnet agar aku sholat dhuhur.
"Habis sholat, sudah istirahat saja", kata ayahku.
Seusai sholat dhuhur tadi pun tangisku pecah. Merenungi diri karena banyak hal yang belum bisa tercapai. Ibarat diriku ini masih seekor ulat, sedangkan teman-temanku yang lain sudah bertahap berubah menjadi kepompong.
Lagi-lagi, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri. Pikiran positif & negatif saling bertengkar untuk menjadi pemenang. Bukankah setiap ulat juga akan berubah menjadi kepompong? Bukankah diperlukan kesabaran agar diri bisa bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik? Tidak ada yang instan di dunia ini. Bukankah mie instan saja masih perlu direbus dulu agar bisa dimakan & mengenyangkan?
Lalu mengapa diri masih sibuk melihat pencapaian orang lain jika hal itu hanya membuat diri semakin merasa down? Bukankah seharusnya diri ini mencari jalan & berikhtiar semaksimal mungkin agar mendapatkan pencapaian yang bermanfaat bagi orang lain, bukan hanya untuk diri sendiri atau keluarga?
Mari bersama-sama kita akhiri perasaan terpuruk, menyedihkan dll. Mari berusaha mengupgrade diri agar segera berubah menjadi kepompong & menjadi kupu-kupu yang cantik serta bermanfaat bagi orang lain. Bismillah, semoga Allah meridhoi setiap langkah kita. Mari niatkan semua karena Allah dengan tujuan untuk membahagiakan ayah & ibu.
Jawablah soal-soal ujian kehidupanmu sampai batas titik akhir ikhtiar yang kamu bisa. Sabar dan tunggulah sedikit lagi, sampai Allah berikan jawaban dan menuntunmu pada jalan yang benar. Jalan yang Allah ridhoi & telah siapkan untukmu menjemput kado terindah.
Sumber : Dezy Zahrotul I.N
Surabaya, 23 September 2019


















