Di Antara Bentuk Penjagaan Hati
Sekarang ngerti sedikit rasanya ketika Rasulullah nggak menerima wahyu selama 6 bulan sebelum surat Ad-Duhaa diturunkan. Mungkin agak mirip dengan perasaan nggak ketemu temen dalam jangka waktu yang lama.
Sebenarnya ga terlalu apple to apple analoginya, tapi yang mau digarisbawahi adalah kebutuhan untuk tetap terhubung agar senantiasa memperbarui pemahaman dan pengenalan tentang pihak lain di database atau perpustakaan internal dalam kepala kita.
Kata Pastor Raguel Lewi, pengenalan melunturkan penghakiman. Itu sebabnya penghakiman seringkali datang dari orang yang kurang mengenal dan memahami. Entah kurang bisa atau kurang mau berusaha. Istilahnya mah lack of understanding, lack of comprehension of a concept, situation, or idea.
Sering kan, kita bertahun-tahun nggak berkabar sama seseorang? Di fase itu, kalo orangnya memang yang udah kita kenal, tentu ga akan jadi masalah. Kalo kabarnya bagus, ikut seneng. Kalo lagi ga baik-baik aja, kita memberikan semacam "uzur" atau pemakluman serta doa baik. Kek, "aku paham kenapa dia begitu."
Tapi kalo yang nggak deket-deket amat, paling pas denger kabarnya respon kita ga sehangat itu. Males effort buat memahaminya juga. Kalo kabarnya bagus kita lumayan kaget dan timbul penyakit hati, kalo kabarnya jelek kita kaget juga dan mempertanyakan keputusannya, "aku ga paham deh kenapa dia begini dan begitu?" Dikiranya orang lain ga boleh punya dinamika perjalanannya sendiri apa ya? Wkwk.
Nah itu sebabnya memperbarui pengenalan kita terhadap pihak lain itu penting. Karena seiring berjalannya waktu, orang tuh berubah dan penilaian kita ga selamanya relevan. Dan yang gak kalah penting lagi, kita juga perlu menyaring penilaian dari perantara kabar. Ketika kabar tentang seseorang nggak kita denger langsung dari sumber pertama (A1), maka jangan langsung cepat menyimpulkan. Kita perlu tau kredibilitasnya juga.
Sama seperti Rasulullah yang tidak mendengar ucapan orang Quraisy dalam pengenalan beliau terhadap Allah. Ketika orang Quraisy bilang, "Tuhanmu meninggalkanmu dan membencimu" yang Rasulullah lakukan adalah tidak mengambil ucapan mereka dengan serius, melainkan terus berdoa agar tetap terhubung dan Allah senantiasa membimbing beliau dalam perjalanan mengenal dan memperbarui pemahaman tentang Allah. Rasulullah juga sadar kok, bagaimanapun orang Quraisy gembar-gembor berusaha bikin beliau ngerasa ga berharga, pendapat mereka ga relevan dan bahkan prasangka mereka tentang Allah tuh benar-benar ngga kredibel.
Jadi beliau menyabarkan diri menunggu Allah memberi kabar. Menunggu Allah memperkenalkan diri-Nya lagi. Menunggu inilah yang cuma bisa dilakukan oleh orang yang percaya. Ketika kepercayaan hilang, ga ada alasan untuk bertahan dalam kesabaran. Kalau ga sabaran mah udah deh, bakal langsung salah paham, berasumsi, kecewa sendiri sama asumsi itu, dan terluka akibat cara pandang yang sempit itu.
Kita sebagai manusia aja ga suka disalahpahami kan? Allah pun demikian. Makanya Allah klarifikasi, "Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu." Ya istilahnya mah, menegaskan bahwa Allah memang tidak seperti yang orang Quraisy katakan.
Itulah kenapa Allah terus menerus memperkenalkan dirinya di dalam ayat demi ayat. Lathifulkhabir, rahmaanurrahim, azizulhakim, ghafururrahim, sami'ulbashir, a'limanhakima, tawwaburrahim, a'limunhalim, a'liyyulkabir, raufurrahim ghaniyyunhamid, dan lafadz-lafadz lainnya adalah cara Allah ingin dikenali oleh manusia. Cara kita menghargai Allah adalah mengenal-Nya dari nama dan sifat-Nya. Makanya Nabi Ibrahim tuh pas ngenalin tentang Allah ke bapaknya, Azar, bilangnya, "Allah sangat baik loh padaku."
Tapi kenapa sih Allah harus sampai klarifikasi dengan "Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu"? Berarti Rasulullah sempet salah paham dong ke Allah sebelumnya? Entahlah, Allahu a'lam. Yang jelas, posisi Rasul saat itu merasa perlu tetap terhubung untuk bisa memperbarui pengenalan beliau tentang Allah.
Nah sama kaya ke kita, kenapa sih Allah sampai harus berulang kali memperkenalkan dirinya dengan nama dan sifat yang berbeda-beda? Karena manusia menyalahpahami Allah melalui berbagai cara. Ada yang jalur patah hati, jalur sok pinter, jalur ga terima takdir, jalur terpengaruh omongan orang lain, dan lain-lain. Nah makanya ini juga penting. Fakta bahwa input dari apa yang dilihat dan didengar pun berpengaruh. Maka terhadap Allah pun, harus mengenal-Nya sebagaimana Dia memperkenalkan dirinya.
Jadi jangan dengerin sesuatu tentang Allah dari orang yang hatinya masih terluka akan takdir, dari orang yang logikanya masih dia tinggikan daripada kuasa Allah, dari orang yang tidak percaya kepada Allah. Skenario terburuknya bisa salah paham dan berujung membenci.
"Kenapa Allah gak adil ya?"
"Kenapa Allah jahat ya?"
"Kalau Allah baik, ga mungkin jadi kaya gini."
Sama halnya, jangan denger sesuatu tentang orang lain, dari orang yang hatinya benci, pikirannya judgemental, dan tidak dapat dipercaya.
"Kok bisa-bisanya dia gitu?"
"Ih parah banget, toxic lah, aku ga suka deh."
"Kirain dia bukan orang yang kaya gitu."
Menyadari hal ini, kadang diri sendiri pun cenderung milih bodo amat. Ga perlu tau kabar orang yang ngga deket-deket amat. Kalo tau juga kayanya lebih cepet lupa aja. Bukannya apa-apa, di antara perilaku menjaga hati pun adalah tidak perlu mendengar dan melihat apa yang tidak perlu kita ketahui. Ga semuanya harus dikepoin. Ga semuanya penting juga. Dan database di kepala pun perlu diistirahatkan dengan merasa cukup dengan ketidaktahuan akan kabarnya orang lain.
Tapi aku nulis gini juga ga bermaksud meniadakan penghakiman serta melonggarkan pemakluman. Nggak juga. Kita harus tetep punya batas. Makanya yang disebut "adil sejak pikiran" tuh kita harus bisa menempatkan kapan penghakiman internal kita harus diutarakan. Karena mau nggak mau, yang namanya moral dan agama mah pasti udah ada standar patokan baik dan buruknya. Orang beragama pasti punya penilaian terhadap sesuatu (terlepas penilaiannya dia keep sendiri, maupun dia utarakan).
Masalahnya kadang orang-orang nggak mengungkapkan boundaries mereka secara verbal. Mereka cuma berasumsi, antara suatu hal ga akan pernah terjadi, atau mengharapkan hal-hal tertentu terjadi. Makanya pas kejadian tertentu terjadi, timbul penghakiman. Di sinilah komunikasi atau keterhubungan jadi penting. Penting bagi mereka yang menganggap serius hubungannya. Penting bagi mereka yang butuh senantiasa terhubung agar dapat terus memperbarui dan mendalamkan pengenalan atas satu sama lain.
Pinter-pinter milih juga deh, mana orang yang kabarnya penting untuk di-update, mana yang enggak. Sama kaya aplikasi, pilih update yang perlu aja, yang sering dipakai kaya WhatsApp, Tumblr, X, atau YouTube. Kalo ada aplikasi yang udah ga terlalu kepakai, ga usah terlalu sering di-update, uninstall aja daripada menuh-menuhin. Dah sih, gitu aja.
— Giza, ini teh nulis apa ya kok lompat-lompat gini? Intinya tentang mengenal dengan baik, baik terhadap manusia maupun terhadap Allah. Kalo mau kenal Giza, Giza lagi suka nangkep Pokèmon akhir-akhir ini mah.




















