WARNING: Tulisan berikut ini hanya curhat belaka, bukan untuk dibaca oleh yang sedang tidak luang. Panjang, beneran.
Ya...tapi kalo mau baca juga gakpapa si ehe.
Kamis, 1 Maret 2018
Semalam aku berangkat ke Surabaya dari Semarang. Tujuan utamaku ke Surabaya adalah survey ke TPA Benowo untuk studi banding dan melengkapi data Tugas Akhir. Perasaanku waktu di bandara semalem nano-nano. Excited, tapi juga khawatir. Excited, karena aku belum pernah mengeksplor Surabaya, jadi kuharap bisa mengunjungi tempat-tempat hebat di kota ini. Khawatir, karena ini kali pertama aku pergi ke Surabaya seorang diri. Masih mending kalo cuma perjalanannya, ini nantipun aku akan sendiri di kota itu. Yaaa gak bener-bener sendiri secara harfiah sih. Alhamdulillahnya, ada temen SMA bapakku yang tinggal di Surabaya, Om Ari. Waktu kuhubungi Om Ari, beliau bersedia nampung aku selama aku di Surabaya. Tapi ya….tetep aja aneh rasanya tinggal di rumah orang yang belum pernah kukenal dan belum pernah kutemui sebelumnya.
Aku sampai di rumah Om Ari sekitar jam setengah 12 malam karena pesawatku delay 1,5 jam. Segala puji hanya bagi Allah, Om Ari dan keluarganya sangat baik, ramah, dan menyenangkan. Esoknya, ketika azan subuh, aku dibangukan oleh istrinya dan diajak shalat subuh berjamaah di masjid kompleks. Ini awal yang sangat baik untuk mengikis perasaan khawatirku.
Aku berniat survey ke TPA hari ini juga agar urusanku segera selesai. Beruntung, Om Ari menawarkanku memakai motornya selama aku di Surabaya. Aku sengaja berangkat pagi dari rumah karena jarak TPA itu dari rumah Om Ari sangat sangat sangat sangatlah jauh, begitu kiranya informasi yang kutangkap dari googlemaps. Iya, aku emang belum tau jalannya. Jadi yaaa bayangkan saja, dengan kondisi jauhnya TPA Benowo dan aku yang sama sekali buta akan Surabaya bagaimana jadinya jika tidak berangkat pagi-pagi. Maka aku juga mengestimasikan waktu untuk nyasar-nyasar haha. Apa? Berani? Oh bukan, itu nekat.
Karena motor Om Ari gak ada tempat naro hp buat navigasi dari googlemaps, jadilah aku bolak-balik liat hp yang ditaro di kantong motor. Fokus jalan – liat HP - Fokus jalan – liat HP - Fokus jalan – liat HP – Fokus jal…..ok cukup. Ya kurang lebih kaya gitu selama berjam-jam.
Btw, gugelmep kadang sesat ya. Ngikutin arahan dia kali ini, aku nyasar. Benerkan, untung berangkat pagi. Akhirnya aku harus muter lagi jauuuuuuhhhh ~ sekali. Singkat cerita, setelah nanya ke abang pemulung, tukang cimol, ibu2 warung, mas2 tambel ban, bapak2 di lampu merah, abang bakso keliling, ibu2 yang lagi nunggu di depan SD, mas2 pake baju batik di pinggir jalan, and many more, aku mulai sering beriringan dengan truk sampah. Semakin lama juga aku semakin mencium bau yang menusuk hidung. Aku girang. Aha! Pasti udah deket! Bener aja, sekitar 400 meter di depanku ada sebuah gang dimana truk2 sampah keluar masuk. Aku tersenyum. Semakin dekat, tulisan di gangnya semakin jelas: TPA Benowo. Akhirnya. Setelah menempuh perjalanan 2-3 jam, setelah rela terpanggang teriknya Surabaya yang membuat punggung tangan dan mukaku semakin kontras dengan bagian lainnya, akhirnya! Aku mantap belok ke sana.
Gangnya lumayan besar. Muatlah untuk 2 truk jika berjalan beriringan. Sungguh, jika tidak ada bau ini, pemandangannya sangat menyenangkan. Kiri kanan ditanami bermacam pohon yang rindang, belum lagi siluet ‘Gor Bung Tomo’ berdiri gagah di belakangnya sehingga menambah apik pemandangan. Sayang, baunya membuat suasana jadi terasa sangat terbalik. Aku menempuh gang yang kurang lebih panjangnya 1 km. Titik kesibukan mulai terlihat diujung sana. Sebelum masuk lebih dalam, aku diberhentikan oleh penjaga keamanan. Biasa, pemeriksaan. Dengan percaya diri kutunjukkan surat surveyku dari kampus, bukti bahwa aku benar mahasiswa yang membutuhkan datanya.
“Surat dari DKPnya juga dibawa?” tanya si bapak.
“Hah?” Saya malah balik heran.
“Iya, kalo mau survey ke sini, baik itu buat penelitian atau yang lainnya, harus ada surat pengantar dari DKP Surabaya.” Jelasnya.
Aku diem. Bukan lagi gaktau harus ngapain, tapi gaktau harus mikir apa. Waktu menyusuri gang tadi, aku ingat betul betapa aku masih semangat dan senang karena akhirnya menemukan tempat ini. Tapi detik itu juga rasanya semua energi, semangat, atau semacam itulah menguap begitu saja. Pernah lihat bolak-baliknya molekul air yang mendidih? Ya begitulah cepatnya suasana hatiku berbalik saat itu. Tiba-tiba aku benar-benar merasa capek.
“DKP dimana pak?” akhirnya aku bersuara setelah diam lumayan lama. Si bapak menunjukan sebuah alamat. Setelah aku cek di googlemap, aku lemas seketika. Jarak DKP dan TPA kurang lebih seperti jarak rumah Om Ari ke TPA.
“Bener2 gakboleh masuk pak? Atau ada siapa gitu di luar yang bisa saya tanya2 tanpa harus pake surat” kataku sedikit maksa. Aduh yang bener aja, masa harus bolak-balik lagi :’)
“Enggak dek. Ini kalo kamu diizinin masuk juga di dalem malah dipermasalahkan. Kalo ada suratnya justru enak nanti dianter keliling” jawab si bapak.
Aku benar-benar merasa bodoh. Aduuuhhh Muli, kenapa gak nyaritau dulu persyaratan surveynya sih. Grrr.
Akhirnya dengan langkah gontai kunaiki lagi motor Om Ari. Balik arah. ‘Biarlah, biar capek sekalian aja hari ini. Surveynya besok aja’, batinku.
Setelah kurang lebih 2 jam, akhirnya aku sampai juga di DKP. Gedung oranye itu terlihat sepi. Hanya ada satu dua truk sampah di depannya. Setelah diarahkan satpam DKP, aku masuk ke sebuah ruangan. Ada 3 orang petugas di dalamnya. Masih muda. Sepertinya baru lulus kuliah dan langsung bekerja di sana.
“mau minta surat pengantar survey ke TPA Benowo.” Jawabku setelah ditanya keperluanku sambil menunjukkan surat survey dari kampus.
“Oh kalo mau surat pengantar untuk urusan akademik gini minta surat pengantar dari Bakesbangpol Surabaya dulu. Baru abis itu ke sini buat surat pengantar ke TPA Benowo nya” Jelas salah seorang yang sepertinya paling senior di antara mereka.
Aku menahan napas. ‘Apa lagi ini….’ Batinku.
“itu dimana?” Tanyaku. Petugas tadi menunjukkan sebuah alamat. Entahlah, rasanya ingin segera pulang ke Semarang.
“Bener-bener gakbisa pake ini aja mas? Kurang bukti apa lagi kalo saya beneran mahasiswa?”
“Iya mbak gakbisa, emang gitu prosedurnya.”
“hm yaudah makasih. Ini tutup jam berapa?”
“sekitar jam 4an mbak.”
Aku keluar DKP dengan ekspresi datar, menyembunyikan rasa sebal. Kuaktifkan lagi googlemap, pada kolom ‘tujuan’ kuisi alamat Bakesbangpol Surabaya. Baiklah, semoga setelah ini aku bisa survey dengan lancar. Aku menarik napas panjang.
Mendung. Sepertinya akan turun hujan setelah ini. Beruntung, Baksbangpol sudah tidak terlalu jauh. Beberapa menit kemudian aku sampai di sana dan segera memarkir motor.
Dengan langkah segera, aku naik tangga menuju lantai 3. Saat itu sudah masuk jam istirahat sebenarnya, tapi aku ingin menemui petugasnya dulu untuk memastikan.
“mbak, bener ya di sini bisa minta surat pengantar survey?” tanyaku kepada seorang petugas di balik meja.
“iya bener. Tapi udah jam istirahat”
“iya nggakpapa, ini mau nanya2 dulu aja mbak. Kalo mau survey ke TPA Benowo bisa? Pake ini aja kan?” aku menunjukkan surat pengantar dari kampus. Dia melihat-lihat surat surveyku sejenak. Entah emang mbaknya yang jutek atau aku yang terlampau lelah sehingga merasa mbaknya emang jutek.
“iya pake ini, tapi harus pake proposal tugasnya juga. Senggaknya bab 1 dan 2, yang udah ditandatanganin dosen”
Hah………….gimana…..? Mendadak otakku sulit mencerna kata-katanya. Ketika aku masih diam berusaha menenangkan diri berharap diri ini tidak ngamuk di tempat (haha ini serius, rasanya pengan banting mbaknya-_-) si mbaknya memerhatikan surat survey kampusku dan bilang,
“owalah dari Semarang toh? Waduh jauh banget surveynya ke sini. Kalo dari luar kota, harus ke Bakesbangpol provinsi dulu baru ke sini. Nanti di sana dikasih surat pengantar buat ke sini. Nanti di sini baru pengecekan berkas yang tadi”
SESEORANG, TOLONG PEGANGIN AKU DONG BIAR GAK NGAMUK DI TEMPAT.
Apa-apaan sih Surabaya ini :’)
“mbak, saya baru sampe sini semalem, dan Cuma bawa ini. Masa saya harus balik lagi ke semarang sih cuma buat minta tandatangan dosen? Serius, saya mahasiswa beneran yang lagi ngerjain Tugas Akhir, mbak.” Aku coba meyakinkan.
“prosedurnya emang gitu. TPA Benowo ini kan udah pindah alih ke swasta, jadi sebenernya diurusnya bukan ke sini, tapi gakpapa ini coba kita bantu dan kasih surat pengantar. Yaudah gini aja, mbaknya ke Bakesbangpol Provinsi, kalo udah dapet surat pengantar dari sana, kita mau acc walaupun gak pake proposalnya. Tapi setau saya di sana juga persyaratannya sama, harus ada proposal. Tapi yaudah mbak coba aja siapatau ngizinin gakpake proposal”
Aku memejamkan mata beberapa saat. Mengatur napas.
“Bakesbangpol provinsi jauh dari sini mbak?”
“1 jam lebih perjalanan mbak”
Teman, pernah nggak ngerasain capek yang amat dan bercampur kesal? Capek fisik sih nggak seberapa, tapi capek hati itu yang sangat amat seberapa. Mataku hangat. Sekuat mungkin kutahan agar airnya tidak keluar dan membuatku malu. Aku setengah berlari, turun ke lantai 2 dan duduk di sofa tamu. Suasana yang sepi membuat pelupuk mataku tidak oke untuk diajak berkordinasi, dia menyerah dan membiarkan air mataku tumpah. Sepertinya aku marah. Tapi marah sama siapa? Siapa yang harus disalahkan? Ya aku lah! Bisa begitu bodohnya nggak nyaritau dulu sebelumnya.
Jika sudah seperti ini, harus ada seseorang yang ku ajak bicara.
Tepat ketika itu, Om Ari mengirim pesan, “gimana kak surveynya? Nggak nyasar kan?”. Ah jangan, jangan Om Ari. Bapak! Ah, sosok itu selalu membayang setiap aku dalam keadaan baik atau buruk. Seolah memberi sinyal bahwa lelaki itu siap untukku dalam kondisi apapun.
Kuhubungi bapak lewat freecall WA. Tedengar nada sambung di sana. Tak lama, “Halo, assalamualaikum mbak. Gimana?”
Sungguh, banyaaaakkkkkkk sekali yang ingin kuluapkan pada bapak. Semua. Apa yang terjadi, bagaimana rasasanya, ah pokoknya semua! Tapi suaraku seperti tertahan di kerongkongan. Berulangkali kupaksa untuk bicara, tapi mulutku hanya mampu membuka dan menutup tanpa mengeluarkan kata yang jelas. Sakit sekali tenggorokanku, seperti menahan sesuatu. Alhasil, yang terdengar oleh bapak adalah isakku yang sesekali.
“mbak? Heh kamu nangis?” tanya bapak dengan suara meninggi.
“haha..” aku tertawa. Bukan menertawai bapak, tapi menertawai diriku sendiri yang tidak mampu menjelaskan. Tawa yang diiringi isak.
“heh knapa?! Mbak!” di ujung sana, bapak setengah berteriak. Panik. Iyalah siapa yang gak bingung anaknya tiba2 nelpon sambil nangis terus ketawa.
Aku memejamkan mata dalam-dalam. Allah, aku mohon. Izinkan aku menjelaskan..
“gak…papa..” akhirnya. Walau patah-patah, 1 kata berhasil keluar.
“Mbak kenapa!” bapak membentak.
Aku menjauhkan telpon dari telinga. Berusaha menenangkan diri dulu. Aku tau bapak khawatir jika aku terus seperti ini.
“se..bentar..” sambungku patah-patah. Ketika aku sudah agak tenang, kudekatkan lagi telponnya.
“kamu kenapa mbak?!” suara bapak masih keras. Menuntutku menjelaskan apa yang terjadi.
Aku diam. Lama. Seolah kehilangan apapun yang harus kuceritakan. Telpon diputus. Aku bingung kenapa bapak mematikan telponnya.
Tak lama, ada telpon masuk via nomer biasa. Bapak. Aku tau, bapak pasti tak mau penjelasanku terputus hanya karna sinyal buruk yang ditangkap oleh WA maka dia menelpon lewat nomer biasa.
Aku menjelaskan semuanya. Tidak runtut. Berantakan. Saking marahnya,saking capeknya, saking kesalnya. Dengan penjelasanku yang acak-acakan itu, kuharap bapak mengerti.
“owalah cuma gituuuu toh yaampun kirain apa. Kirain kamu ditabrak orang atau gimana”
CUMA GITU??!!!!! Astaga, sekarang aku malah ingin meninju bapak. Aku cemberut.
Benar kata seseorang, jangan sesekali menganggap remeh beban orang lain. Kalo dipikir-pikir, emang biasa banget sih perkara ini. Kalo dipikir-pikir, ya ngapain sih pake nangis segala, toh tinggal lengkapin aja administrasinya, kan selesai. Iya, kalo dipikir-pikir. Tapi di posisi yang cuma ‘mikir-mikir’ itu kan nggaktau rasanya. Nggak tau sesulit apa situasinya.
Tapi aku tau, bapak bilang gitu bukan karena meremehkan bebanku, justru karena ingin menguatkan. Buktinya, setelah itu beliau memberi saran-saran, meyakinkanku bahwa ini bukan berarti Tugas Akhirku gagal, meyakinkan bahwa masih ada jalan lain. Bapak bahkan mengutarakan kesediaannya mengakomodasikan tiket pesawat jika aku memang perlu bolak-balik lagi dengan segera dari Semarang ke Surabaya untuk pelengkapan berkas, juga kesediaannya untuk mengakomodasikan gocar untukku bepergian sejauh tadi.
“Ngaco. Tiket pesawat itu gak murah, ya kalo sesekali okelah, tp kalo buat bolak-balik 4 kali ya gak tega juga lah aku. Terus taxi dari bandara ke om ari aja 100 ribu. Apalagi keliling2 sejauh itu. Bisa sejuta kali kalo make gocar.” kataku.
“ya gakpapa kalo itu emang lebih baik buat mbak.” Jawab bapak dengan pasti dan mantap.
Aku tersenyum. Yang aku garisbawahi di sini bukan uangnya, bukan kemampuan bapak dalam finansial. Bapak bukan pejabat, hanya dosen biasa. Jadi yaa bisa dibayangkan lah paling berapa sih gajinya. Yang kugarisbawahi di sini adalah kesediaannya, kerelaannya, dukungannya untuk anaknya.
Dulu, waktu aku diizinkan membeli HP baru, aku tertarik dengan tipe X yang harganya jelas lebih mahal dari tipe sebelumnya yg sudah bapak acc untuk kubeli. Tapi bapak melarang dengan alasan harganya yang memang mahal. See? Dalam urusan kesenangan, bapak tidak memanjakanku. Aku suka bapakku yang seperti ini.
Cerita sama bapak selalu men(y)enangkan. Seolah, bapak selalu menopangku berdiri lagi no matter how hard the situation is. Mungkin inilah hakikat seorang ayah. Kelak, aku sungguh ingin anakku merasakan betapa ayahnya selalu ada di sampingnya ketika dia jatuh saat belajar sepeda, gagal dalam sebuah persaingan, bahkan jika gagal dalam mendapatkan cintanya haha.
Setelah curhat sama bapak, aku mencari masjid terdekat untuk shalat zuhur. Dalam perjalanan ke masjid, kesalku masih membekas. Tepat ketika lampu merah, hujan turun, lama-lama makin lebat. Aku tak peduli. Dengan hujan, tangisku tidak terlihat orang. Biarlah aku basah sekalian.
Di sini aku sempat mengeluh, lalu apa arti usahaku tadi pagi untuk shalat dhuha, mengkhatamkan 1 juz sebelum berangkat, zikir pagi, dan doa-doa lainnya? Bukankah katanya itu semua akan memperlancar urusan di hari tersebut? Lalu kenapa ini terjadi padaku? Astagfirullah. Aku menepis pertanyaan-pertanyaan bodohku.
Begitu sampai masjid. Kukeringkan dulu tubuhku yang basah kuyup. Begitu agak lembab, aku ambil wudhu kemudian shalat zuhur. Setelahnya, aku membaca Qur’an, bukan karna aku anak yang baik, aku hanya malas beranjak keluar,i have no idea setelah ini langkah apa yang kulakukan. Pikiranku kosong. Di sini aku pasrah. Sungguh. Biarlah Allah yang menentukan akan ada apa selanjutnya.
Sekarang aku mengerti, ikhtiar-ikhitiarku sebelum berangkat tadi, sejatinya bukan agar urusanku diperlancar dan dipermudah, melainkan agar aku lebih kuat menghadapi apapun yang terjadi. Tadi pagi Allah mampukan aku untuk shalat dhuha, membaca Qur’an, zikir dan doa pagi karena sudah Allah tetapkan hari ini aku akan mengalami ‘kejadian surat pengantar’ ini sehingga ikhtiar2 pagi inilah yang jadi penguat.
Lambat laun hatiku tenang. Aku benar-benar ikhlas karena aku yakin akan banyak kebaikan dibalik ketetapan-ketetapan Allah, sekalipun ketetapan itu buruk di mataku. Aku yakin nanti akan ada solusinya. Entah apa, yang pasti sudah Allah siapkan.
Di tengah-tengah lantunan ayat suciku, kata-kata petugas2 yang memintaku ke sini lah ke situlah untuk meminta surat pengantar terngiang kembali. Salah satunya adalah kata-kata si mbak Bakesbangpol Surabaya,
“prosedurnya emang kayak gitu mbak. TPA Benowo ini kan udah pindah alih ke swasta, jadi sebenernya diurusnya bukan ke sini, tapi gakpapa ini coba kita bantu dan kasih surat pengantar..”
Awalnya aku nyeri mendengarnya, rasanya ingin menangis lagi karna sebal. Tapi lama-lama aku tersenyum. Seperti mendapatkan angin segar di tengah gurun pasir.
Aha! Aku melihat titik terang!
Setelah menyelesaikan bacaan Qur’anku, aku segera melajukan motor ke arah DKP. Aku berdoa, sambil terus berharap mudah-mudahan cara ini berhasil.
Beruntung, aku sampai beberapa menit sebelum DKP tutup. Aku masuk ke ruangan, ketiga petugas tadi memandangiku dengan heran, mereka bertanya-tanya mengapa aku bisa secepat itu dapat surat Bakesbangpol karna setau mereka suratnya tidak akan jadi dalam sehari.
“Mas, mbak, tadi saya udah ke Bakesbangpol. Petugasnya sendiri yang bilang kalo di sana gakbisa ngurus survey ke swasta. Kalo gitu ya langsung dari DKP aja karna TPA Benowo yg notabene udah swasta itu mintanya toh cuma dari DKP kan.” Kataku sok tau. Entah benar atau tidak. Pokoknya kan logikanya gitu. Sing penting yaqin !!!!
Mereka bertiga saling berpandangan, seakan baru mendengar prosedur seperti itu selama bekerja di sana.
“emang gitu mbak?” tanya dia ke aku. LAH MALAH NANYA. MANG W SAPA-___-
Akhirnya setelah betul-betul kuyakinkan, petugas yang paling senior ini mengizinkanku mendapatkan surat surveynya. Alhamdulillah, ngapa kagak daritadi yak :’))))))))))))))))))))))))
Berhubung hari sudah sore, maka aku baru bisa survey esoknya ke TPA Benowo. Fuh, tak apa. Mungkin ini salah satu pengabulan Allah atas harapanku di awal, ‘Mengeksplor Surabaya’ -_-
Well, buat kalian yang sudah sangat berbaik hati baca sampe baris ini, mudah-mudahan gak nyesel dan ada pelajaran yang bisa diambil ya haha. Seenggaknya, jangan mengulangi kebodohanku di atas. Buat yang nanti butuh survey2 untuk skripsi atau Tugas Akhir, misalnya, caritau dulu berkas apa aja yang perlu disiapin biar gak buang waktu, tenaga, dan energi:’)











