Next Chapter (Part 1)
Tepat setelah wisuda, Bapak dan Ibu mengajak bicara lebih dalam mengenai "what's next". Actually, saya masih sedikit mengawang ketika itu. Dalam artian memikirkan apa jawaban tentang rencana kedepan saya yang saya yakin, dalam waktu dekat, akan ditanyakan bapak-ibu. Bapak orangnya keras. Bagi bapak, anak-anaknya yang sudah dewasa (tidak tergantung umur) harus bisa hidup mandiri. Versi lebaynya, bapak pengin anak-anaknya punya banyak duit dan bisa hidup berkecukupan tapi dengan usahanya sendiri. Kalau ibu, sedikit beda. Ibu ingin kehidupan anak-anaknya berguna dan bermanfaat. Selebihnya, ibu berpikir semua pekerjaan adalah hal yang baik asalkan kita bisa mengambil nilai-nilai manfaatnya. Tapi, ibu sedikit mendorong saya untuk mengabdi kepada negara dengan menjadi Pegawai Negeri Sipil. Ketika itu, saya tidak sreg dengan permintaan itu.
Jujur saja, sekitar 3 sampai 7 hari setelah wisuda, saya berada pada posisi air mengambang yang tidak mengalir. Bingung. Bagaimana mengungkapkan ke bapak ibu kalau saya tidak sedang berambisi mencari pekerjaan di perusahaan. Sedangkan saya sendiri melihat beberapa teman sudah settle dengan kerjaannya di perusahaan besar milik negara atau swasta asing. Beberapa bahkan sudah one step ahead dengan melanjutkan studi masternya. Saya kok masih belum tahu mau bawa diri ini kemana. Bapak-Ibu mulai gelisah.
Tapi ketika itu, saya punya suatu bisnis yang bernama Klastik Footwear. Sebuah bisnis kecil dengan pemasukan yang sederhana dan hasil yang tidak sebanding dengan kerjanya, tapi saya sangaaat suka mengerjakannya. Setiap hari, saya seperti termotivasi untuk menjadikan bisnis ini besar dan berkembang. Misi saya bukan sekedar uang, tapi mengenalkan budaya dan tradisi Indonesia, memperkerjakan pengrajin lokal, dan menaikkan level produk lokal di mata dunia. Hal ini saya sebut pekerjaan. Dan ini adalah "next chapter of my life".
Ketika itu, saya yakin perubahan itu akan datang. Perubahan menjadi seorang yang lebih sukses dan produk saya akan menjadi produk favorit semua orang. Saya optimis. Terlalu optimis mungkin bisa dibilang. Tapi, yang belum saya telaah adalah, perubahan itu tidak datang dalam 1 sampai 2 tahun. Perubahan menuju kesuksesan itu perlu proses. Setiap hari saya belajar untuk mempelajari proses itu. Menjalankan bisnis itu ibarat sekolah lagi. Tepatnya Sekolah Menengah Atas. Setiap bulan, anggap saja ada ujian akhir bulan, kalau nilainya diatas 70, bulan depannya harus ditingkatkan lagi supaya bisa 100. Tapi, kalau nilainya cuma 40, minggu depannya harus remidial.
Pemikiran ini saya jabarkan ke pada Bapak-Ibu. Reaksinya macam-macam. Ada yang meninggikan alis kemudian bergumam, "kamu terlalu PD, nak". Ada yang berkata optimis, "Yaudah, kamu butuh modal tambahan kah? berapa?." Tapi saya jadikan reaksi-reaksi mereka sebagai sebuah motivasi. Beberapa tahun lagi, pak, bu, InsyaAllah saya akan buktikan pemikiran dan bisnis ini akan cukup membuat bapak-ibu mengangguk dan tersenyum.
Sampai sekarang saya terus bersyukur, mungkin Allah menyuruh saya untuk belajar. Belajar berbisnis sekaligus belajar menghargai sesama. Saya bersyukur juga bersama dengan saya, Allah mendampingkan saya dengan sahabat-sahabat yang mau terus bersama-sama membangun Klastik Footwear. Mereka yang tidak kalah optimisnya dengan saya juga turut andil atas eksisnya Klastik Footwear hingga kini. Tulisan ini semata-mata saya buat untuk menguatkan kembali motivasi saya ketika nanti saya tidak cukup kuat melanjutkan, saya akan membaca kembali tulisan saya ini. Setidaknya, saya malu kalau saya menyerah.
(Di sebuah Keda Kopi, Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta)
Cheerio,
Tyasnastiti
kantor Klastik Footwear, basecamp di rumah Alifta Ainin, salah satu Co-Founder Klastik Footwerar.








