#14-Merangkak
Tik. Tok. Tik. Tok. Saya bisa mendengar detik jarum jam dengan teramat jelas meski sudah setengah jam lebih saya berusaha memejamkan mata. Awalnya kepala saya masih dipenuhi dengan solusi penyelesaian desain pasar, tapi akhirnya bayang-bayang tentang Student Summit membuat saya benar-benar tidak bisa tidur. Seminggu ini rasanya saya --dan mungkin juga kami semua-- benar-benar terseok-seok.
Momen akhir pekan kemarin sebenarnya dilalui dengan amat menyenangkan karena kami menghabiskan waktu untuk muker Kabinet KM ITB. Di tengah berbagai perdebatan mengenai bagaimana kami akan menjawab visi “KM ITB sebagai simpul aksi untuk mewujudkan kemandirian bangsa”, banyak gelak tawa yang terselip sehingga kami tak lelah menjalaninya. Ada banyak masukan yang didapat kemenkoan kominfo yang memiliki fungsi umum untuk mengeskalasi gerakan dengan menggunakan media informasi, data, dan jaringan. Seluruh rencana dan mimpi-mimpi yang kami bawa akan coba saya kisahkan lagi di tulisan yang lain.
Hari Minggu kami menerima kunjungan dari teman-teman BEM KM IPB. Seujurnya saya cukup iri dengan teman-teman di sana yang sudah bisa memulai pekerjaan dengan cepat, sementara kami di sini bahkan masih belum melakukan rekrutmen terbuka untuk staf Kabinet KM ITB 2016. Namun tentu saya sadar, bahwa dari proses persiapan yang panjang ini, terlebih dengan adanya Student Summit, ada hal yang lebih besar yang sama-sama kita kejar: sinergisasi yang telah menjadi sebuah dongeng panjang. Ada sebuah perhatian besar dari teman-teman IPB terhadap pemangkasan birokrasi yang berbelit-belit. Saya rasa hal ini perlu kita tinjau juga di KM ITB.
Hari Senin dan Selasa saya habiskan untuk melanjutkan persiapan Student Summit. Senin pukul 7.30 kami, Presiden beserta calon Menko, melaksanakan forum Pra-Student Summit bersama Kongres. Malam itu berjalan cukup lancar dengan dimulainya presentasi dari Dhika selaku Presiden KM ITB. Namun, forum mulai berubah kita saya melanjutkan presentasi. Tiba-tiba saja pertanyaan bodoh yang seringkali ada di forum-forum kembali muncul, “Sebenarnya apa tujuan forum kali ini?”
Bahkan setelah melalui beberapa kali koordinasi pun Kongres dan Kabinet masih belum benar-benar sepaham apa yang memang akan dibahas di dalam Pra-Student Summit. Dalam anggapan Kongres, yang paling penting dalam Pra-SS adalah penyepakatan arahan kementerian, yang merupakan penjawaban dari arahan presiden dan juga arahan GBHP. Namun Kabinet menganggap forum Pra-SS juga sekaligus menjadi sarana pengecekan Kongres terhadap Kabinet mengenai hal-hal apa saja yang akan disampaikan di Student Summit. Bagi Kabinet, tidak mungkin pemaparan Kabinet di Student Summit berhenti di tataran arahan kementerian tanpa Kabinet bisa menjalaskan alur kerja secara umum di masing-masing sektornya. Oleh karena itu presentasi yang dilakukan oleh Kabinet cukup menggambarkan ranah implementasi dari penjawaban arahan tersebut.
Perdebatan terjadi cukup panjang hingga akhirnya disepakati bahwa Kabinet memang perlu mempresentasikan secara keseluruhan: dari mulai bagaimana Kabinet menjawab arahan yang di dalamnya termausk arahan GBHP, hingga bagaimana rencana umum untuk implementasinya.
Seusai forum Pra-SS kami menyadari bahwa ada beberapa hal yang harus segera dipublikasikan kepada massa kampus dan hal tersebut belum kami siapkan teknisnya. Massa kampus memang telah diberi tahu bahwa ada beberapa hal yang harus disiapkan berdasarkan TAP 001 tahun 2016 tentang Student Summit: Informasi Potensi Lembaga, Konsep Gerakan lembaga dan Rencana Kerja berupa proker unggulan beserta lini masa kegiatan himpunan. Sesuai Pra-SS pukul 11 malam kami kemudian melanjutkan kumpul untuk mendetailkan teknis pelaksanaan dan juga membuat template dokumen yang harus dikerjakan lembaga sebelum Student Summit. (seluruh hasil kerja kami dapat diunduh di : bit.ly/paketStudentSummit)
Kami baru tertidur sehabis subuh dan saat bangun kami harus langsung melakukan roadshow ke lembaga-lembaga untuk menarik inputan sebagai bahan pelengkap yang akan dibawa ke Student Summit. Ada banyak masukan yang kami dapatkan baik itu secara konten maupun mengenai bentukan acara Student Summit. Pada akhirnya kami sangat berharap segala persiapan ini pada akhirnya bisa membuat kita semua menyunggingkan seulas senyum di akhir proses yang panjang ini.
Pekan ini kami memang merangkak, terseok-seok hingga terkadang lutut terasa perih. Namun pekan depan kami sudah harus bangkit, dan mengajak seluruh elemen di KM ITB bangkit bersama; mewujudkan simpul aksi yang telah kita harap sejak lama.










