Lost in Bulgaria
Sebuah sentuhan membangunkanku. Samar kulihat wajah wanita dengan kemeja putih dan garis wajah yang asing. Hidungnya tajam, seperti banyak fitur lain yang juga runcing di wajahnya, dengan bingkai rambut hitam yang lebat bergelombang. Satu, dua, tiga detik, barulah aku sadar ia kenek bus yang aku naiki di perjalanan dari Plovdiv ke Istanbul. Dibanding kenek bus yang biasa aku temui di bis antarkota di Indonesia, mungkin ia lebih seperti pramugari di pesawat. Tugasnya melayani penumpang seperti menawarkan segelas teh panas, memberikan air minum, dan mengecek paspor.
Kutatap jam, baru dua setengah jam berlalu sejak aku duduk di bis ini. Seharusnya aku belum mencapai Istanbul di jam 3.30 pagi. Tiket yang kupesan adalah Plovdiv-Istanbul pukul 00.30 sampai 07.00 pagi.
“Passport check,” ujarnya.
Aku berdiri, mendapati semua orang sudah turun dari bis dan mengantri di depan pos imigrasi Turki. Ternyata aku sudah ada di perbatasan antara Bulgaria dan Turki. Kutengok tas selempangku yang berwarna tosca muda, dan kulihat paspor ada di sana, satu dari dua dokumen yang biasanya harus kusiapkan untuk petugas imigrasi. Kartu residence permit-ku juga seharusnya aman di dalam boks kartuku yang berwarna hitam, tempatku menyimpan segala jenis kartu. Hidup di Eropa sungguh berbeda. Di Indonesia kartu yang esensial hanya kartu ATM-ku saja. Sementara dengan seluruh kecanggihan teknologi, mendadak aku hidup bergelimang kartu sehingga butuh tempat khusus.
“Do you have other European Visa?” tanya petugas imigrasi. Visa Belanda di pasporku memang sudah tidak berlaku.
“Yes, I have residence permit from the Netherlands,” jawabku yakin sambil membuka kotak kartu.
Kartu debit bank Belanda, kartu kredit, kartu debit bank Indonesia, kartu kereta, kartu pelajar, kartu asuransi, kartu kereta cadangan, kartu member gym kampus, dan aku terpaku. Kartu yang kucari tidak ada.
“I think I leave it in my other bag,” kilahku.
“Please look for it. I need it.”
Patuh pada perintahnya, aku pun kembali ke bis membongkar seluruh isi ransel biru donkerku.
Kamera mirrorless, lengkap dengan charger.
Ipad, lengkap dengan charger.
Satu set baju kotor dalam keresek.
Satu set baju bersih.
Seperangkat alat mandi lengkap dengan make-up.
Handuk.
Dua tempelan kulkas yang kubeli di Sofia.
Buku bacaan.
Map berisi berbagai kertas.
“Pasti ada di dalam map ini, terselip.” Dalam hati aku bergumam sambil membongkar satu per satu isi map.
Lukisan cat air, berbagai kartu pos bergambar lukisan cat air, tiket-tiket museum; itu saja yang kutemukan. Aku menghela napas berat. Kubongkar lagi bagian depan tasku dan mendapati bahwa di sana hanya ada kunci kamar, stabilo, lip cream, dan coin pouch. Kartu saktiku untuk bisa keluar masuk negara mana pun di Eropa seakan mengalami sublimasi bagai seonggok kapur barus. Di antara semua kartuku yang kusimpan kotak kartu, hanya itu saja yang raib. Dengan langkah berat aku kembali ke hadapan pria 30-an tahun yang sudah memasang wajah gahar, sebagaimana pekerjaan menuntutnya.
“Ada visa untuk masuk Turki?” tanyanya lagi setelah kubilang bahwa kartuku tidak ada.
Aku menggeleng. Bodohnya aku yang baru memutuskan di tanggal keberangkatan untuk pergi ke Turki tanpa memeriksa aturan imigrasinya. Padahal ternyata visa Turki bisa dimohon secara daring dalam waktu kurang dari satu jam.
“Kamu nggak bisa masuk tanpa itu,” tegasnya.
Perdebatan panjang dalam bahasa Bulgaria antara supir bis, petugas imigrasi, dan beberapa penumpang berakhir pada kesimpulan aku tidak bisa melanjutkan perjalanan dan harus dieliminasi. Aku diturunkan dari bis dan harus kembali ke Bulgaria. Petugas imigrasi memesankan aku taksi untuk bisa pergi dari garis batas dua negara. Terkadang, kebodohan memang ada batasnya untuk bisa ditolerir.
Tika, berada di perbatasan Bulgaria dan Turki, tanpa bukti izin tinggal di Eropa, tanpa visa untuk masuk ke Turki. Jikalau ini adalah permainan catur, raja sudah terkepung di petaknya. Skakmat.
***
Tak ada yang bisa kulihat di kanan kiriku. Cahaya yang kulihat hanya bersumber dari sorotan lampu mobil taksi. Jalan, rumput, pagar pembatas jalan, ilalang, rambu; itu saja yang secara samar tertangkap oleh retinaku dalam kroma hitam putih. Mungkin karena ini daerah perbatasan Bulgaria, jauh dari pusat kota. Aku membayangkan seperti apa daerah perbatasan pada umumnya dan menyadari bahwa aku pun belum pernah ada di perbatasan di Indonesia. Kata perbatasan membuatku mengingat perbatasan Turki-Suriah, Aleppo, dan Palestina-Israel, Gaza. Memang, perjalanan seorang diri membuat kita lebih banyak merenung, mempertanyakan keadilan dan kemanusiaan.
Fokusku entah mengapa kembali ke dalam ruang sempit di dalam taksi. Sejujurnya aku selalu takut berada di dalam ruang tertutup seperti ini dan hanya berdua dengan supir laki-laki, apalagi di daerah yang sepi. Pengalaman pelecehan seksual membuat napasku lebih berat ketika menjadi penumpang tunggal di taksi. Aku kepalkan tangan dan berusaha mengingat di mana aku menyimpan benda tajam di dalam tasku untuk bisa memastikan aku sanggup melawan ketika ada serangan. Aku tahu bahwa tidak semua laki-laki punya pikiran jahat. Namun, meski tidak parah dan selalu berusaha kulawan dengan tidak membiarkan rasa takut menghalauku untuk beraktivitas, dampak traumatis dari pengalaman buruk saat aku berusia 13 tahun tidak hilang begitu saja.
Itu aku, yang mengalami pelecehan seksual dalam perjalanan dengan ojek di Bogor, belum sampai ke tahap kekerasan yang lebih lanjut. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dengan mereka yang mengalami kejadian yang lebih keras lagi dan trauma yang harus mereka lawan bersamaan dengan budaya victim blaming yang ada di tengah-tengah masyarakat. Belum lagi soal regulasi yang masih banyak lubangnya terkait kekerasan seksual yang tak berpihak pada korban, hukum yang tak berpihak pada wanita. Ada saat di mana wanita tidak bisa melawan karena pengaruh obat yang diminumkan, atau murni tidak bisa bergerak karena reaksi psikologis, tapi dituduh menikmati kekerasan seksual karena dianggap tak melawan.
“You are okay with me,” ujar supir taksi itu tiba-tiba yang mengoyak lamunanku.
Mungkin ia mampu membaca ekspresiku yang terlihat tidak nyaman dari sejak aku membuka pintu taksinya. Aku tersenyum, namun terlalu lelah untuk memulai percakapan. Perjalanan ke stasiun terdekat membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Dari stasiun, aku harus pergi ke ibukota untuk menyelesaikan perkara kehilangan kartu izin tinggalku.
Taksi berhenti di depan sebuah bangunan berwarna krem, terlihat seperti puskesmas di mataku. Kubuka dompet dan memberikan selembar uang euro terakhirku kepada supir taksi. Aku tidak punya pilihan.
Stasiun itu sepi, tentu saja. Apa yang kuharapkan dari stasiun di perbatasan Bulgaria pukul 5 pagi? Kutatap layar yang menampilkan jadwal kereta, dan hanya abjad Sirilik yang kudapati. Tak menyerah, aku ketuk kamar petugas tiket dan bertanya jadwal kereta ke Plovdiv, kota besar terdekat yang kutahu. Seorang wanita dengan rambut pirang menuliskan harga yang harus kubayar. Tujuh leva.
“Apakah bisa bayar pakai kartu?” tanyaku.
Aku baru sadar bahwa aku sudah tidak punya lagi mata uang Bulgaria karena sudah berniat pergi ke Turki. Uangku sisanya ada di ATM.
“Cash,” jawabnya.
“Euro?” tanyaku, berharap uang Euro berlaku di Bulgaria, sebagaimana negara Uni Eropa lainnya.
“Leva,” tegasnya sambil menutup jendela di depan mukaku.
Benarkah negara ini bagian dari Uni Eropa? Aku menghela napas dan tersenyum lemah ke arah dua orang yang ada di sebelah kananku, sepasang bapak-ibu di usia 50-an tahun.
“ATM?” tanyaku pada mereka.
Saat kita berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda, aku selalu berusaha mengurangi jumlah kata yang kusebut dengan harapan ada kata-kata umum. yang mereka mengerti. Bapak-ibu yang sedang duduk itu hanya saling bertatapan lalu menggelengkan kepala tanda tak mengerti.
Kuraih ponselku untuk menerjemahkan ATM ke dalam bahasa Bulgaria. Salam hormatku pada tim pengembangan Google karena dengan teknologi aku hampir bisa berkomunikasi dengan siapa saja dengan bantuan Google Translate. Berjalan sendiri di negara yang tak seluruhnya menguasai bahasa Inggris, aku harus mengandalkan teknologi. Beberapa orang bisa berkomunikasi dengan lancar dalam bahasa Inggris di Bulgaria, terutama di museum, restoran; tapi di luar itu, tidak terlalu banyak.
“Bankomat?” tanyaku lagi pada mereka. Ditulis dengan банкомат, begitulah cara orang Bulgaria menyebut ATM.
Bapak itu berdiri dari duduknya dan melambaikan tangannya padaku. Aku membaca sebagai pesan bahwa tidak ada ATM di sini. Ia menunjuk ke luar dan menghadapkan telapak tangannya padak. Lima? Lima ratus meter bagiku adalah jarak yang masuk akal. Aku membuka pintu stasiun dan berniat keluar sampai Bapak itu berkata sambil menunjuk ke luar,
“Bis.”
Aku tak bisa melihat wajahku sendiri, tapi aku yakin ia terlihat cukup pucat. Kota macam apa ini yang untuk menjangkau ATM dari stasiun saja butuh naik bis terlebih dahulu. Malam itu aku lupa bahwa masih ada daerah di Indonesia yang belum punya pilihan untuk bisa menggunakan listrik atau tidak.
Bis yang berukuran seperti travel Jakarta-Bandung akhirnya datang, membawaku ke jalan utama kota ini, Svilengard nama kotanya, kata Google Maps. Bis berjalan pelan mengelilingi kota kecil ini dengan satu per satu penumpang naik di halte. Kebanyakan dari mereka berusia di atas 50 tahun. Selayaknya fenomena urbanisasi secara umum, orang muda banyak bermigrasi ke kota-kota besar untuk mencari pekerjaan. Bangunan paling besar yang kulihat adalah casino dan hotel, dikelilingi oleh air dan dihiasi gemerlap lampu; kontras sekali dengan kegelapan di sekitarnya.
Setelah 5 kilometer, seperti yang diberitahukan Bapak tadi, aku diturunkan di depan sebuah ATM tanpa harus membayar ongkos bis. Sepertinya supir itu tahu aku tidak punya uang. Di tengah berbagai drama yang kulalui, sedikit kebaikan membuat hatiku terasa hangat. Baik sekali supir bis ini, pikirku, mau mengantarkan dengan gratis dan menungguku mengambil uang. Saat kedua kakiku menginjak trotoar, barulah aku sadar bahwa supir bis tersebut tak punya niat menungguku. Aku hanya bisa berdiri di tepi jalan yang kosong melompong sambil menatap bis yang pergi meninggalkanku seorang diri di kota yang aku tak tahu cara menyebut namanya. Tatapanku nanar, dan selayaknya orang tua yang menasihati anak saat tertimpa musibah, aku bergumam
“Mungkin kurang sedekah.”
Sayup aku mendengar musik dan suara Harry Styles,
“If you like going places
you can’t even pronounce
Baby you’re perfect.”
Bukan. Svilengard tidak menyerel lagu One Direction sebelum matahari terbit. Itu suara di pikiranku sendiri. You’re perfectly in disaster, Tika.
***
“Gara?”
“Gara?” ulangku lagi dengan sedikit berteriak kepada siluet yang bergerak di hadapanku sejarak 50 meter.
Entah itu manusia atau bukan, aku yang takut hantu ini sudah tak peduli lagi. Lagi pula hantu Bulgaria mungkin tidak seseram kuntilanak, pocong, leak, dan berbagai hantu legendaris Indonesia lainnya. Udara dingin di kota perbatasan Bulgaria, yang bahkan tak kutahu apa namanya, menikamku hingga aku hanya fokus pada satu hal: aku harus meninggalkan ruang terbuka selekas mungkin. Gara, artinya stasiun dalam bahasa Bulgaria. Uangku di bank sudah kukuras habis; artinya aku hanya butuh kembali ke stasiun untuk membayar tiket.
“...Bis…auto…bis…,” siluet yang perlahan terlihat jelas sebagai pria paruh baya itu pun menjawab.
Membantu? Tidak sama sekali. Tentu aku tahu bahwa aku harus naik bis. Tapi aku butuh informasi yang lebih detail seperti lokasi halte yang tepat, nomor bis, dan berapa lama aku harus menunggu.
Aku berjalan lagi dan menyadari kelemahanku sebagai anak yang biasa dimanja kemudahan ibukota. Di Jabodetabek, ataupun Bandung, aku hanya perlu membuka Google Maps untuk pergi ke mana pun. Dengan hanya mengetikkan nama tempat tujuan, aku bisa mendapatkan informasi kendaraan umum apa yang harus kunaiki, dan berapa lama waktu tunggu maupun waktu tempuh yang dibutuhkan. Begitu pun yang aku alami di setiap kota di Belanda. Tapi di Bulgaria, pilihan transportasi umum tak pernah muncul di Google Maps.
Setelah dua ratus meter, aku berpapasan dengan seorang laki-laki yang membawa dua buah karung. Imajinasiku membawa pada berbagai terkaan soal isi karungnya: dari mulai bahan makanan, perkakas dapur, alat pertukangan, hingga kepala atau bagian tubuh manusia seperti yang sering ada dalam kasus-kasus yang biasa dipecahkan Kindaichi.
“Gara?” kutanyakan lagi kata sakti itu, satu-satunya kata kunci yang bisa membawaku ke Plovdiv, atau mungkin Sofia, ibukota Bulgaria.
“German? English?” tanyanya yang menyadari pelafalanku terdengar aneh.
Sungguh, ingin kupeluk Bapak ini rasanya. Malaikat ini tidak mungkin merupakan pelaku mutilasi seperti di komik detektif.
“Two, turn left,” ujarnya dengan hemat kata dibantu bahasa tubuh yang mengarahkan.
Dengan bersemangat aku berjalan lagi mengikuti instruksinya. Entah apa maksud dia dengan dua. Dua halte, dua belokan, entahlah, yang jelas mungkin aku bisa menemukan stasiun dengan petunjuknya yang minim. Setidaknya ada harapan. Aku berdzikir sambil berjalan, berharap Allah memberikanku jalan untuk setidaknya menemukan tempat yang ramai, atau tempat yang bisa membawaku keluar dari kota ini.
Tidak ada halte di sepanjang jalan ini. Dua persimpangan dan aku belok ke kiri, kutemukan sebuah lapangan yang tampak seperti terminal bis. Ini tempat teramai yang kujumpai di jam 5.30 pagi di kota ini. Aku pun memutuskan untuk mencoba peruntungan, masuk ke ruangan di terminal dan mencari bis antarkota.
“Plovdiv?” tanyaku pada sang petugas, yang juga wanita. Sepertinya di Bulgaria aku menemukan lebih banyak petugas wanita untuk pekerjaan di malam hari atau dini hari dibandingkan dengan di Indonesia.
“No bus to Plovdiv.”
“Sofia?”
“Yes.”
Selamat datang kembali, Atika, ke peradaban ibukota. Aku tersenyum lebar.














