Keluar Kota
Pertama kali memberanikan diri belajar menyetir mobil, dan pekerjaan belum sebanyak hari ini, aku kerap memintanya untuk menjemputku usai les. Entah di akhir pekan, atau di hari biasa. Aku benar-benar lupa. Namun, aku masih ingat kala aku memberinya tanda di mana aku belajar mengemudi.
"Patokannya sebrang BCH banget!" ujarku.
Aku les mengemudi di tempat yang paling murah dan nyaman buatku. 8 kali pertemuan yang dilakukan selama 2 minggu akhirnya sedikit lagi rampung, setelah satu bulan menunggu antrean. Tempat les yang menempati ruko kecil ini ramai dikunjungi murid baru setiap hari. Mulai dari anak-anak SMA sampai bapak-bapak yang siap untuk bekerja sebagai supir.
Ini adalah kedua kalinya aku les mengemudi. Sekitar 3 tahun lalu, aku pernah diantar bapak untuk les mengemudi. Jujur, les di tempat tersebut tidak membuat aku pandai menyetir. Selain hanya kegugupan setiap kali ditantang lampu hijau, feeling menggunakan kopling pun tidak mulus sampai akhir pertemuan.
Lantas, aku lupa bagaimana cara mengendarai mobil sampai akhirnya kembali les menggunakan uang sakuku sendiri (juga SIM A -nya, dong).
Setelah aku mampu mengendarai mobil, aku pernah minta belajar dengannya. Meskipun tidak mulus-mulus amat, yaaaa ada saja halang rintangnya. Seperti aku yang masih tergesa-gesa, juga aku yang tidak pandai mengoper kopling. Gugup untuk melesat lebih cepat sementara mobil sudah mengeluarkan gerungan yang dalam.
Ia bisa dikatakan menjadi saksi dari perjalanan menyetirku. Mulai dari ketidaklihaianku hingga aku mampu membawanya pulang dari perjalanan Cirebon sampai Bandung. Ia bahkan tertidur dan mendengkur di sampingku sementara hari sudah gelap.
Ada satu hal yang paling kita sukai ketika di akhir pekan. Jalan-jalan pakai mobil ke mana saja. Kalau tidak tahu mau ke mana, kami memutuskan salat di KM 125. Entah apa yang merasuki kami, perjalanan adalah sesuatu yang seru. Ia suka menyetir, aku suka melihat jalan raya.
Keluar kota adalah hari perayaan akhir pekan. Meskipun harus menunggu kapan waktunya ia libur, kami tetap bersikeras untuk pergi. Mulai dari Soreang, Ciwidey, Pangalengan, Lembang, Jatinangor, Padalarang, Cianjur, Purwakarta, Jakarta, Tangerang, sampai Cirebon.
Aku masih mengingatnya. Ini adalah usaha aku mengingat setiap rekaman memori dalam kepala. Fotonya memang sudah hilang lantaran hp-ku terjatuh dan terkunci. HP- ini pun kembali normal dengan tidak ada satu foto pun tersisa.
Sepanjang perjalanan adalah sesuatu yang paling dinanti. Selain bicara banyak hal yang penuh dengan argumentasi dan wawasan penuh sainsnya, bicara selera musik saat diputar pun kerap menjadi wacana setiap mula menyetir.
"Mana dong musiknya..."
"Baru juga jalan, sabar pak." ujarku.
Ia menyukai lagi city pop, lirik Jepang. Aku? Tentu aliran pop dan countrynya Taylor Swift, Maroon 5, dan lagu-lagu hits saat itu.
Ini adalah mukadimah dari perjalanan keluar kota. Selanjutnya, aku akan beri judul dengan nama-nama tujuan yang pernah kami kunjungi.
photo KM 125 from Foursquare














