Halo Sahabat Komda, gimana kabarnya? :) Alhamdulillah baik ya insyaallah. Sudah siap memulai Seninmu? Yuk simak artikel berikut ini biar Seninmu bisa jadi lebih bermanfaat!
Berdoa kepada Allah Swt dalam kehidupan ini merupakan sesuatu yang sangat penting. Hal ini tidak hanya sebagai bukti bahwa kita merasa rendah dan lemah di hadapan Allah Swt, tetapi juga kita sadari bahwa pertolongan Allah itu memang sangat kita butuhkan. Oleh karena itu Rasulullah Saw mengajarkan sejumlah doa kepada para sahabatnya yang tentunya juga ditujukan kepada kita ummatnya agar kita dapat mengamalkannya.
Dari sekian banyak doa yang terdapat di dalam Al-Qur’an maupun hadits, ada satu doa yang Rasul sangat tekankan kepada Mu’adz bin Jabal untuk dimohonkan kepada Allah setiap kali selesai melaksanakan shalat lima waktu. Penekanan ini pun berlaku untuk kaum muslimin.
Dari hadits di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa ada tiga permohonan kepada Allah Swt yang harus dilaksanakan. Permohonan akan pertolongan Allah terhadap tiga hal ini menunjukkan bahwa ketiga hal tersebut bukanlah perkara yang mudah.
Dzikrullah atau berdzikir kepada Allah adalah permohonan yang pertama. Permohonan ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk kita ajukan karena setan selalu menggoda manusia dengan cara membuat manusia lupa kepada Allah dan segala hal yang menjadi kewajibannya.
“Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa golongan setan itulah golongan yang rugi.” (QS. Al-Mujaadilah: 19)
Jika seseorang telah lupa kepada Allah Swt, maka mereka menjadi orang yang mengabaikan ketentuan-ketentuan Allah, bahkan lupa pula kalau mereka akan dikembalikan kepada Allah dan berjumpa dengan hari akhirat. Orang seperti itu akan dimasukkan oleh Allah ke dalam neraka yang sangat mengerikan siksanya.
“Dan kepada mereka dikatakan, ‘Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu melupakan pertemuan (dengan) harimu ini; dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tidak akan ada penolong bagimu.” (QS. Al-Jaatsiyah: 34)
Tidak sedikit manusia yang telah berhasil dibuat lupa oleh setan sehingga dapat kita temukan orang yang karena harta lupa kepada Allah Swt. Mereka rela menghalalkan segala cara dalam mendapatkan harta, atau mereka mendapatkan harta yang halal tapi mereka tidak menunaikan kewajiban zakat, infaq dan sedekahnya. Begitu pula dengan anak yang dikaruniakan Allah Swt untuk dididik menjadi anak yang shaleh dan shalihah. Tetapi banyak orang tua yang mengabaikan pendidikan kepada anak mereka, khususnya pendidikan agama dan moral, sehingga anak mereka justru tidak menjadi anak yang shaleh dan shalihah.
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
Oleh karena itu, kita semua dituntut untuk selalu berdzikir kepada Allah Swt sebanyak-banyaknya. Sebelum melakukan sesuatu hendaknya membaca basmallah, sesudah melakukan sesuatu mengucapkan hamdallah sehingga kita selalu ingat kepada Allah Swt dalam berbagai situasi dan kondisi.
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)
Rasulullah SAW juga pernah menggambarkan perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah seperti orang yang hidup, sementara orang yang tidak berdzikir kepada Allah sebagai orang yang mati:
“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir, adalah seumpama orang yang hidup dan mati.” (HR. Bukhari)
Seorang mukmin yang senantiasa berdakwah mengajak orang lain untuk kembali kepada Allah, akan sangat memerlukan porsi dzikrullah yang melebihi daripada porsi seorang muslim biasa. Karena pada hakekatnya, ia ingin kembali menghidupkan hati mereka yang telah mati. Namun bagaimana mungkin ia dapat mengemban amanah tersebut, manakala hatinya sendiri redup remang-remang, atau bahkan juga turut mati dan porak poranda?
Dari sini dapat diambil satu kesimpulan bahwa tidak mungkin memisahkan dzikir dengan hati. Karena pemisahan seperti ini pada hakekatnya sama seperti pemisahan ruh dan jasad dalam diri insan. Seorang manusia sudah bukan manusia lagi manakala ruhnya sudah hengkang dari jasadnya.
Salah satu manfaat yang bisa didapat dari dzikir adalah ketenangan.
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah bahwa hanya dengan dzikrullah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketenangan bukanlah sebuah kata yang tiada makna dan hampa. Namun ketenangan memiliki dimensi yang sangat luas, yaitu mencakup kebahagian di dunia dan di akhirat. Allah SWT ketika memanggil seorang hamba untuk kembali ke haribaan-Nya guna mendapatkan keridhaan-Nya, menggunakan istilah ini:
“Wahai jiwa-jiwa yang tenang. Kembalilah kamu pada Rabmu dalam kondisi ridha dan diridhai. Maka masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kamu dalam surga-Ku.” (Al-Fajr, 27-30)
Ketenangan hati juga berkaitan erat dengan kebersihan hati. Hati yang tidak bersih, tidak dapat menjadikan diri insan menjadi tenang. Dan di sinilah dzikir dapat mengantisipasi hati menjadi bersih, sebagaimana dzikir juga dapat menjadikan hati menjadi tenang. Dan ini pulalah letak urgensitas dzikir dalam hati seorang da’i.
Selain itu, dengan dzikir menjadi salah satu amalan yang merupakan kunci ampunan dan pahala yang besar dari Allah Swt, seperti dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’ , laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)
Berdzikir juga erat kaitannya dengan kemenangan.
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlahlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya (berdzikir dan berdoa) agar kamu beruntung.” (QS. Al-Anfal: 45)
Setelah membaca tulisan di atas pastinya Sahabat Komda jadi tergugah dan mau mulai berdzikir kan? Yuk mulai berdzikir pagi ini dengan membaca Al-Matsurat, jangan lupa ingetin dan ajak temanmu juga ya! :)
*PS : nantikan post tentang syukur dan ibadah yang baik senin depan!
Rikza Maulan. 2016. “Keutamaan Dzikir”. Eramuslim.com (Keutamaan Dzikir)
Yani, Ahmad 2013. ‘Dzikir, Syukur dan Ibadah yang baik’, 52 Materi Khutbah, 1, LPPD Khairu Ummah, Jakarta, hal 282-290.
Dzikir, Syukur, dan Ibadah yang baik #1 Assalamualaikum! Halo Sahabat Komda, gimana kabarnya? :) Alhamdulillah baik ya insyaallah. Sudah siap memulai Seninmu? Yuk simak artikel berikut ini biar Seninmu bisa jadi lebih bermanfaat!