Semua sama - sama belajar, merupakan salah satu petuah dari Konfusius yang sering dikutip hingga hari ini. Menurut para murid dan pengikutnya kata-kata ini bermakna bahwa " Semua orang memiliki hak yang sama untuk memperoleh pengajaran."
Hal ini dibuktikan dengan pernyataan lain yang pernah diucapkan Konfusius bahwa beliau berkenan mengajar siapa saja termasuk mereka yang berjalan kaki dan hanya mampu memakan daging kering (dendeng) yang berarti mereka yang berasal dari kalangan miskin.
Murid kesayangan beliau (yang juga disiapkan sebagai penerus beliau) bernama Yang Hui berasal dari keluarga miskin.
Beberapa sejarawan dan ahli bahasa masih memperdebatkan arti kalimat ini, menurut mereka arti "semua sama-sama belajar" Lebih merujuk kepada suatu metode, dimana setiap orang yang ingin menguasai suatu ilmu atau keahlian. Hakikatnya adalah sama, harus memulainya dengan belajar dari dasar hingga akhir. Tidak boleh memilah- milah dan hanya mempelajari sebagian topik saja dan menafikan topik- topik lainnya yang "dianggap" Tidak penting.
Hal yang menguatkan pendapat mereka adalah bahwa bahan-bahan yang diajarkan oleh Konfusius berasal dari kitab - kitab sejarah, kitab-kitab yang menjelaskan tentang etika dan makna upacara, serta kitab-kitab syair dan puisi. Suatu ilmu pengetahuan yang hanya berguna dan dibutuhkan oleh para bangsawan dan calon pejabat, bukan masyarakat secara umum.
Konfusius juga hanya menerima para siswa yang telah memiliki dasar untuk membaca, menulis dan menelaah, bukan mereka yang buta huruf sama sekali. Di masa itu kecakapan literasi hanya dimiliki oleh para keturunan kaum ningrat.
Yan Hui, meski dikatakan berasal dari keluarga miskin, namun berdasarkan ukuran miskin-nya kaum ningrat ( keturunan kaum ningrat yang gagal mendapatkan jabatan di pemerintahan maupun menambah pundi-pundi kekayaan keluarga-nya, sama dengan status Konfusius yang merupakan putra pahlawan tapi tidak memiliki jabatan di pemerintahan) bukan miskin dalam arti-an papa dan fakir.
Konfusius juga yang dianggap pertama kali menerapkan sistem "sekolah berbayar" Dimana beliau menetapkan tarif untuk periode tertentu kepada murid-muridnya atas jasa pengajarannya. Meski catatan - catatan sejarah juga menegaskan betapa " Uang sekolah" Hanya diwajibkan kepada mereka yang secara ekonomi berasal dari keluarga yang mampu secara finansial atau kepada mereka yang memang ingin memberikan tanda balas jasa dan Terima kasih. Sifatnya juga tidak terlalu mengikat