Kacamata Bocah Jurusan Filsafat dalam Melihat Keberadaan Tuhan
“Tuhan itu enggak ada! Lagi pula, zaman sudah canggih begini, di mana-mana sudah dibuktikan lewat penelitian, masih saja ada yang percaya hal begituan. Melek sains dikit, dong!” Pfttt… Sontak, kopi yang baru saja kutenggak langsung ku hemburkan, usai tak sengaja menguping percakapan salah seorang mahasiswa yang kurasa sedang panas memperdebatkan, ‘apakah Tuhan itu ada atau tidak.’ Huh… Aku tidak ingin menghakimi orang yang mengatakan demikian, tetapi yang ingin kutahu adalah, apakah ia memiliki alasan yang kuat untuk menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, atau mungkin hanya karena Tuhan tidak terlihat, maka ia berpendapat seperti itu. Hadeh… Tapi tak mengapa. Pernyataan yang ia lontarkan barusan masih kumaklumi. Mengapa tidak? Aku sendiri masih bingung bagaimana menjelaskan bahwa Tuhan itu ada atau tidak, apa yang membuat Tuhan ada, apa yang dapat membuktikannya, apakah ada makhluk atau entitas sebelum Tuhan, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kerap terlintas di benakku dan sering ditanyakan kepadaku, yang kebetulan anak jurusan filsafat.
“Eh, kamu percaya Tuhan itu ada, ga?” tanya seorang teman.
“Kamu ga salah tuh, nanya begituan ke anak filsafat? Halaman buku yang mereka baca lebih tebal dibanding kepercayaan mereka tentang adanya Tuhan,” jawab temanku yang lain.
Aku tidak sempat menjawab. Wajahku kini datar. Pembaca yang budiman bisa membayangkan wajah datar Squidward ketika ia sudah pasrah melihat kelakuan usil SpongeBob dan Patrick. Kurang lebih, saat itu, wajahku sama datarnya. Hal yang bisa kulakukan adalah menghela napas dalam-dalam, kemudian menjawab dalam hati, “Aku masih percaya bahwa Tuhan itu ada, ya, Tuhan itu ada!”
Baiklah, sekarang pembaca mungkin bertanya, apa dasar argumen saya ketika mengatakan bahwa ‘Tuhan itu ada’. Tuan dan Nyonya, izinkan hambamu ini menjelaskan sedikit yang ia ketahui terkait pernyataan tersebut. Sebelumnya, saya ingin memperkenalkan diri. Saya Agito, mahasiswa jurusan filsafat di sebuah universitas ecek-ecek di Yogyakarta. Kebetulan, saya masih semester dua, pengetahuan saya masih teramat sedikit. Bahkan, saya berani mengatakan bahwa saya tidak tahu apa-apa bak Socrates. Pembahasan saya tentang ketuhanan kali ini cukup nekat, karena saya belum mengambil mata kuliah filsafat ketuhanan ataupun filsafat agama. Oleh karena itu, saya hanya akan mengupas pernyataan “Tuhan itu ada” sampai pada lapisan luar, tidak sampai pada inti yang lebih dalam. Saya harap pembaca dapat memahami tulisan saya yang sedikit filosofis ini. Dan terakhir, saya memohon kepada pembaca untuk segera mengoreksi atau membantah jikalau argumen yang saya utarakan dalam tulisan ini cenderung bias, karena saya tegaskan sekali lagi, pengetahuan saya masih sangat terbatas.
Hukum Kausalitas
Keberadaan Tuhan dapat dibuktikan melalui hukum sebab-akibat. Para teolog dan filsuf sering menggunakan hukum ini dalam mencari keberadaan sesuatu yang bersifat metafisik. Pertama, saya dan pembaca harus sepakat terlebih dahulu bahwa Tuhan tidak dapat dilihat oleh pancaindra; dengan kata lain, Tuhan adalah sesuatu yang tak kasat mata (nonfisik). Maka, bagaimana kita dapat membuktikan sesuatu itu ada atau tidak, sedangkan ia tidak dapat kita lihat melalui pancaindra kita? Walaupun demikian, kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena Ia tidak terlihat. Saya tegaskan bahwa sesuatu yang tidak terlihat belum tentu tidak ada. Berbeda dengan benda-benda fisik yang dapat diteliti dan diukur melalui penelitian dan observasi inderawi, cara-cara tersebut tidak dapat diterapkan untuk membuktikan keberadaan Tuhan.
Menurut saya, cara yang paling mudah untuk mengetahui keberadaan Tuhan adalah dengan menggunakan rasio atau menalar hukum sebab-akibat. Melalui hukum sebab-akibat, kita dapat meyakini bahwa Tuhan benar adanya, dengan rasio sebagai alat pemahaman. Pembaca yang budiman pasti sepakat dengan saya ketika saya mengatakan bahwa setiap akibat pasti ada sebabnya. Sekarang saya bertanya, ketika alam semesta ini bermula, apa sebab utama di balik terciptanya alam semesta ini? Kita akan memposisikan alam semesta sebagai ‘akibat’, lalu sebab yang menyebabkan terciptanya akibat (alam semesta) ini apa?
Contohnya seperti ini: coba kita perhatikan sebuah jam atau benda apapun. Apakah jam atau benda yang kita lihat sekarang tercipta begitu saja? Duarr…..Langsung ada sebuah jam di depan mata kita. Tentu tidak, kan? Jam tersebut ada karena ‘ada’ yang menciptakannya. Dengan demikian, mustahil sebuah jam bisa ada di bumi ini tanpa adanya seorang pembuat atau penemu jam. Coba bayangkan, Anda melihat sebuah lahan kosong di depan rumah atau kos Anda. Setelah setahun mengurung diri di rumah, lalu Anda keluar dan melihat lahan yang semula kosong berubah menjadi sebuah rumah. Apakah rumah tersebut datang begitu saja? Tanpa ada yang membangunnya, tiba-tiba duarrrr… terbangun sebuah rumah. Tidak, kan? Pasti ada yang membangun rumah tersebut, atau ada sebab yang menyebabkan bahwa sebuah rumah telah dibangun di lahan kosong tersebut.
“Saya selalu yakin bahwa sebuah jam membuktikan keberadaan pembuat jam dan alam semesta membuktikan keberadaan Tuhan.” — Voltaire
Keberadaan jam tidak muncul secara tidak sengaja atau dengan sendirinya tercipta begitu saja, tetapi jam tersebut ‘ada’ melalui hasil kerja yang disengaja dari seorang pembuat jam yang terampil. Begitu pula dengan alam semesta, tidak mungkin muncul secara tidak sengaja atau dengan sendirinya, tetapi alam semesta tercipta melalui hasil kerja yang disengaja oleh seorang perancang yang cerdas, yakni Tuhan.
Sampai di sini, saya harap pembaca dapat memahami pendekatan sebab-akibat yang telah dijelaskan. Silakan para pembaca yang budiman menyimpulkannya sendiri.
Baik, izinkan saya menebak pikiran yang ada di benak para pembaca. Pasti salah satu di antara kalian bertanya atau merasa bingung, jika alam semesta disebabkan oleh Tuhan, lalu siapa yang menyebabkan Tuhan itu sendiri? Jika alam semesta ini diciptakan oleh perancang hebat, yakni Tuhan, maka siapa yang menciptakan Tuhan, yang notabene adalah pencipta dari segala sesuatu? Mari kita gunakan rumus Thomas Aquinas dan Aristoteles. Tuhan sebagai causa prima. Apa itu? Tuhan dikatakan sebagai causa prima karena Tuhan adalah sebab awal dan murni yang tidak disebabkan oleh sebab-sebab yang lain. Sebagai pencipta segala sesuatu, Tuhan ada dengan sendirinya. Ia kekal, sudah pasti ia merupakan awal sekaligus akhir. Ia adalah penyebab pertama dan utama dari segala sesuatu, tanpa diawali atau diakhiri oleh faktor-faktor lain. Sumber paling awal yang tidak memiliki awal.
Teman-teman bisa membayangkan, jika Tuhan bukanlah awal dan masih ada awal yang lain dari Tuhan itu sendiri, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai Tuhan, karena otomatis ia tidak kekal. Aristoteles dalam konsep kosmologisnya mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di jagat raya saling menggerakkan satu sama lain. Setiap yang bergerak, menerima gerak dari sesuatu yang lain. Begitulah, menggerakkan dan digerakkan ini berantai terus-menerus. Namun, mustahil bahwa gerak menggerakkan ini tak berujung, maka pasti ada penggerak pertama, sesuatu yang tidak digerakkan. Sudah pasti jawabannya adalah Tuhan. Karena sifat Tuhan adalah immaterial dan nonjasmani, berbeda dengan benda-benda yang bersifat materi, yang sudah pasti mempunyai potensi untuk bergerak. Namun, Tuhan tidak mungkin digerakkan karena Ia nonjasmani (immaterial). Maka dari itu, Tuhan sebagai penggerak pertama yang tidak digerakkan sudah jelas adanya.
Huh… tulisan ini mulai terasa berat. Maafkan saya, sebagai penulis, saya masih belum paham betul bagaimana menyederhanakan tulisan yang bersinggungan dengan filsafat. Memang sih, penjelasan-penjelasan filsafat itu cenderung berat dan bisa membuat muak para pembaca. Oleh karena itu, jika tulisan ini belum dipahami, pembaca boleh rehat sejenak dengan mendengarkan sebuah lagu di Spotify. Saya merekomendasikan lagu-lagunya Michael Learns to Rock biar terasa lebih plonggg… Kalau dirasa mendengarkan lagu saja tidak cukup, pembaca juga bisa mencoba memejamkan mata selama 1–2 menit. Mungkin ini bisa menjadi solusi untuk merehatkan otak sejenak. Setelah itu, pembaca boleh melanjutkan membaca tulisan saya ini. Hehe.
Serba-serbi terkait keberadaan Tuhan
Yap, apakah teman-teman pembaca pernah mendengar atau melihat berita tentang seseorang yang mengaku pernah melihat wujud Tuhan secara fisik? Ada juga yang mengaku pernah dijumpai Tuhan saat berjalan di malam hari, dan Tuhan muncul dengan perawakan yang besar. Apakah manusia benar-benar bisa melihat keberadaan Tuhan lewat pancaindra dan tahu wujud asli-Nya seperti apa? Menurut saya, manusia tidak bisa melihat keberadaan Tuhan secara fisik. Maka, jika ada yang mengaku bahwa ia pernah berjumpa langsung dengan Tuhan, saya jamin ia sedang berbohong. Mengapa demikian?
Manusia memang dikatakan sempurna, tetapi itu hanya berlaku bila manusia dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Namun, jika kita sesempurna itu, seharusnya kita bisa melihat Tuhan secara langsung. Saya ingin memberitahu bahwa pancaindra manusia itu terbatas, hanya dapat mengakses apa yang ada di ruang dan waktu. Sedangkan Tuhan ada di mana? Ia berada di luar ruang dan waktu. Maka, mustahil manusia dapat melihat Tuhan secara langsung dengan matanya. Mata manusia tidak bisa melihat sesuatu yang begitu besar, begitu kecil, begitu jauh, dan begitu dekat. Kita (manusia) dianugerahi keterbatasan yang berasal dari Tuhan yang tak terbatas. Bagaimana mungkin kita yang terbatas mampu melihat sesuatu yang tak terbatas?
Dan saya rasa, Tuhan juga tidak mungkin menampakkan diri-Nya kepada kita yang penuh kecacatan di sana sini. Jika Tuhan yang tak terbatas menunjukkan diri-Nya kepada kita yang terbatas, otomatis Ia juga menjadi terbatas seperti kita, karena Ia mampu dilihat oleh kita, manusia, yang terbatas. Begitu juga sebaliknya. Maka, Tuhan mungkin tidak akan menggunakan kehendak-Nya untuk menghilangkan sifat-sifat kemahakuasaan-Nya jika tidak ada alasan dan tujuan yang kuat.
Pada akhirnya, pengetahuan manusia tentang Tuhan hanya akan berujung pada ketidaktahuan, ini yang dikatakan St. Agustinus, bukan saya. Karena, seperti yang kita sepakati di awal, Tuhan itu nonfisik, jadi bagaimana mungkin dapat dilihat oleh fisik (manusia)? Keberadaan Tuhan saja sudah berada di luar ruang dan waktu, tentu hal ini sudah menutup kemungkinan bagi manusia untuk melakukan pembuktian ilmiah mengenai keberadaan-Nya. Itu sama saja seperti karakter-karakter di film SpongeBob yang sedang berdiskusi: “Eh, siapa sih yang sebenarnya menciptakan atau menggambarkan kita?” Kalau si penulis atau penggambar film SpongeBob tidak mau menampakkan dirinya, maka si SpongeBob, Patrick, Squidward, dan kawan-kawan pasti tidak akan mengetahui siapa yang menciptakan atau menggambarkan mereka.
Dan saya tegaskan, seluruh jagat raya dipenuhi oleh misteri, sebab faktor transenden di luar ruang dan waktu adalah fenomena yang tak dapat dinalar secara sempurna oleh manusia, kalaupun bisa, pasti mengandung kecacatan. Sekali lagi, jika sang penulis tidak mau memperkenalkan dirinya, sudah barang tentu kita, manusia, tak akan tahu seperti apa wujud fisik dan asal Tuhan itu sendiri. Di tengah kengerian ini, segala sesuatu yang diselimuti misteri disebabkan oleh keterbatasan manusia. Seharusnya, kepercayaan kita semakin kuat bahwa ada sesuatu yang tak terbatas, yaitu Tuhan, dengan segala kemahakuasaan-Nya. Menurut saya, agak aneh jika hanya sesuatu terbatas yang ada, padahal segala sesuatu di bumi ini terdiri dari dualitas: panas dan dingin, siang dan malam, basah dan kering, gelap dan terang, hidup dan mati, senang dan sedih, dan sebagainya. Tentu saja, yang terbatas ini hanya bisa beriringan dengan yang tak terbatas, bukan? Hehe, sedikit cocoklogi dari seorang anak filsafat yang masih prematur.
Pembaca yang saya hormati, di semester pertama kemarin, saya mengenal salah satu filsuf aliran rasionalisme, yaitu René Descartes. Ia terkenal dengan ungkapan “Cogito ergo sum” — Aku berpikir maka aku ada. Awalnya, ungkapan ini ia gunakan untuk membuktikan keberadaan dirinya di dunia. Kita harus meragukan segala sesuatu, tetapi satu hal yang tidak bisa kita ragukan adalah keberadaan diri kita yang sedang ragu-ragu. Baiklah, saya cukupkan pembahasan ini agar tidak melenceng terlalu jauh.
Descartes kemudian membuktikan adanya Tuhan melalui argumennya yang mengatakan bahwa kita, sebagai manusia, memiliki kapasitas untuk berpikir secara terbatas. Namun, bagaimana mungkin ide tentang Tuhan yang tak terbatas dan begitu sempurna muncul pertama kali dalam benak kita? Descartes beranggapan bahwa ide tentang Tuhan yang tak terbatas ini tidak mungkin berasal dari diri manusia yang terbatas, sehingga harus ada entitas yang jauh lebih tinggi derajatnya — yaitu Tuhan — yang menanamkan ide tersebut dalam pikiran kita. Menurut saya, pemikiran Descartes tentang eksistensi Tuhan mirip dengan pemikiran Justinus Martyr, seorang tokoh Patristik, yang mengatakan bahwa Allah menanamkan benih logos dalam pikiran setiap manusia, sehingga mereka memiliki ide tentang Tuhan itu sendiri.
Namun, kembali lagi, ide manusia tentang Tuhan bisa dibilang masih parsial. Manusia masih terus mencari sana-sini, bertanya ini-itu, dan berpikir apa saja untuk memuaskan ketidaktahuannya terkait keberadaan Tuhan yang penuh misteri. Padahal, jika Tuhan sudah memutuskan untuk tidak menampakkan diri-Nya — seperti analogi antara penulis dan karakter Spongebob yang saya sampaikan sebelumnya — maka pengetahuan manusia tentang Tuhan hanya akan berujung pada ketidaktahuan, seperti yang dikatakan oleh St. Agustinus. Semakin abstrak dan tak jelas konsep Tuhan dalam pikiran manusia, maka perkataan Tertullianus mungkin akan semakin menarik perhatian: “Credo quia absurdum est,” — Aku percaya karena itu tidak masuk akal. Justru karena tak masuk akal, saya semakin percaya.
Bagaimana menurut teman-teman ? Sampai di sini, pasti bingung, kan? Sama, saya juga bingung ketika sedang menulis ini. Nanti tidak bingung lagi, kalau sudah berada di surga. Eh!?
Teman-teman, saya sudah lelah mengatakan bahwa manusia itu sebegitu terbatasnya. Baik melalui pancaindra maupun rasio, saya rasa manusia tidak bisa 100% menggambarkan atau menafsirkan secara utuh Tuhan yang agung. Namun, di balik gelar manusia sebagai makhluk multidimensional yang terdiri dari cipta, rasa, dan karsa, kita tidak boleh melupakan salah satu aspek penting, yaitu iman. “Credo ut intelligam” — aku beriman maka aku mengerti. Istilah ini dikemukakan oleh filsuf Kristen, Anselmus. Ia mengatakan bahwa untuk memahami Tuhan sepenuhnya, seseorang harus terlebih dahulu memiliki iman kepada-Nya. Iman adalah langkah pertama bagi manusia untuk mengetahui kebenaran, yaitu Tuhan. Iman mendahului pengetahuan, dan melalui iman, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.
Begitu juga dengan kata Kierkegaard, iman didasarkan pada keyakinan yang mendalam dan penuh komitmen. Meskipun kita seringkali mengingkari keberadaan sesuatu hanya karena kita tidak dapat menerimanya secara logika, Kierkegaard mengatakan iman merupakan aspek yang penting bagi mereka yang memilih untuk percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya. Saya lupa kutipan ini terletak di kitab apa, namun yang jelas kutipan ini mengandung pesan tentang kekuatan iman yang tidak bergantung pada bukti empiris atau penglihatan indrawi, melainkan keyakinan yang tulus meskipun kita tidak dapat melihat-Nya secara fisik.
Dengan iman, kita dipanggil untuk mempercayai sesuatu yang lebih besar dari sekadar apa yang tampak di depan mata, dan untuk menerima bahwa iman sejati seringkali melibatkan ketidakpastian, pengharapan, dan kepercayaan tanpa bukti konkret. Iman memungkinkan manusia merasakan kehadiran Tuhan meskipun tidak secara langsung melihat-Nya. Karena jika kita memiliki iman yang kuat, Tuhan itu tidak di mana-mana; Dia berada di setiap hati manusia yang penuh pengharapan kepada-Nya.
Duh… sudah seperti khotbah pendeta di hari Minggu saja, nih.
Teman-teman, ada sebuah alasan pragmatis yang ditawarkan oleh Blaise Pascal terkait keberadaan Tuhan, yang dikenal dengan “Taruhan Pascal”. Ia menyadari bahwa keberadaan Tuhan sangat sulit untuk dijelaskan secara rasional. Oleh karena itu, ia memilih alasan yang lebih praktis untuk mempercayai Tuhan. Inti dari taruhan tersebut adalah sebagai berikut: jika kita percaya bahwa Tuhan itu ada, dan setelah kita mati ternyata kita tidak menemukan bahwa Tuhan itu ada, maka kita tidak akan rugi banyak. Kita hanya mengorbankan sedikit waktu di dunia untuk menaati perintah-Nya. Tetapi, jika setelah mati kita mendapati bahwa Tuhan benar-benar ada, bukankah kita akan memperoleh surga karena sebelumnya kita telah percaya dan mengikuti firman-Nya?
Sekarang, saya bertanya: jika kita tidak percaya kepada Tuhan, acuh terhadap perintah-perintah-Nya, mati-matian mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, dan ternyata setelah mati kita mendapati bahwa Tuhan itu benar-benar ada, apakah masih ada waktu untuk menyesal karena tidak percaya sebelumnya? Tentu saja, panasnya api neraka sudah menunggu. Emang sih, kalau disuruh milih secara rasional, saya rasa kebanyakan dari kita mungkin memilih untuk percaya kepada Tuhan, toh jika ternyata Tuhan tidak ada setelah kita mati, kita tidak akan kehilangan apa-apa. Tetapi, kalau kita memilih untuk tidak percaya, lalu ternyata Tuhan malah ada setelah kita mati… Eh, bukankah malah gawat?
Taruhan Pascal ini memang cukup menggelitik. Ternyata, ada orang yang sudah memikirkan konsep praktis seperti ini sebelumnya, sungguh menarik. Namun, ada kritik yang perlu saya sampaikan: jika banyak orang memutuskan untuk percaya kepada Tuhan hanya berdasarkan alasan praktis seperti di atas, saya rasa itu kuranglah tepat. Sebab, untuk benar-benar mempercayai Tuhan, kita membutuhkan iman dan pengharapan yang tulus, bukan hanya karena alasan praktis yang bersifat ada maunya. Walaupun begitu, tidak bisa dimungkiri bahwa Taruhan Pascal ini memang bisa menjadi bahan pertimbangan, meski sebaiknya kita tidak hanya berhenti di sana.
Teman-teman, saya cukupkan tulisan saya di sini. Oh ya, saya ingin memberitahukan bahwa ide untuk menulis tulisan bertemakan seperti ini muncul ketika saya sedang kuliah aksiologi bersama Pak Arqom. Penjelasan yang beliau sampaikan sungguh membuka cakrawala pengetahuan saya yang semula rapat, kini sudah terbuka meskipun masih sedikit. Terima kasih, Pak Arqom!
Sekedar memberitahukan, tulisan saya selanjutnya akan membahas ungkapan “Tuhan telah mati, dan kita telah membunuhnya,” sebagaimana dikemukakan oleh filsuf Jerman yang kontroversial, Friedrich Nietzsche. Dalam tulisan tersebut, saya juga akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan bernada ateistik dan cacat logika terkait keberadaan Tuhan. Saya merasa jika semua itu saya tulis di sini, kamu mungkin akan jenuh membacanya. Selain itu, saya juga akan membahas kritik Kierkegaard terhadap gereja di Denmark pada masanya. Oke, cukup sekian. Terima kasih sekali lagi.
Mengungkap Sumbu Kosmologis Yogyakarta sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO
Mengungkap Sumbu Kosmologis Yogyakarta sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO
#HimpunID
HIMPUN.ID – The Cosmological Axis of Yogyakarta and its Historic Landmarks, atau Sumbu Kosmologis Yogyakarta dan penanda bersejarahnya, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO. Penetapan ini diumumkan pada pertemuan Komite Warisan Dunia (World Heritage Committee/WHC) UNESCO ke-45, pada 18 September 2023 di Riyadh, Saudi Arabia.
Penetapan tersebut menjadikan Sumbu Kosmologis…
Penggemar Zayn Malik Dapa Nasehat dari Stephen Hawking
Penggemar Zayn Malik Dapa Nasehat dari Stephen Hawking
HARIANACEH.co.id — Apa dampak kosmologis hengkangnya penyanyi Zayn Malik dari boy band One Direction yang telah membuat jutaan remaja di seluruh dunia kecewa?
Dalam kaitan ini, kosmolog Inggris Stephen Hawking memberi saran kepada para penggemar Malik yang lagi patah hati untuk mengikuti saja fisika teori. Sebab, kata Hawking, Malik mungkin akan tetap menjadi anggota grup pop tersebut di alam…