Aku adalah dunia yang gelap gulita, terlahir di dalamnya dengan belenggu dosa yang membebani hari, batin dan diri. Aku telah mati ditelan oleh bumi yang kejam ini. Berharap hari menjemput pagi demi keselamatan hidupku yang sudah tiada berharga lagi, tetapi aku selalu menanti keselamatan untuk yang kesekian kali.
Bagaimana mungkin seorang pendosa seperti diriku berbicara tentang keselamatan ?
Terlahir dan hidup dalam gelap, aku tak pernah mengenal kebaikan, semua cawan dan amuk telah kuminum dan kunikmati; kejamnya kematian jiwa.
Aku telah patah, jiwaku telah hanyut terseret arus; terpengaruh iblis yang haus akan semua dosa, saksi kengerian dosa dan kengerian diri sendiri. Terlalu hina dan najis bagi kaum manusia biasa, tetapi aku tetap tak bisa melupakan bagaimana kematian merenggutku dalam gelap; memakan habis jiwa, merasuk pikiran dan hati. Telah tiada yang murni dari diri. Semuanya adalah cemar.
Aku hanya berharap akan datang Salvator Mundi bagi diri yang hancur ini sebagaimana aku merindukan keselamatan lagi. Apakah masih ada kesempatan untuk tidak mengulangi kebejatan ini?
Aku telah dihakimi oleh rasa bersalahku sendiri. Telah habis ditelanjangi tanpa harapan dihadapan alam, tetapi keselamatan untuk kesekian kalinya bukanlah hal yang baru dilalui.
Aku selalu berharap dan meminta agar diluputkan dari mati untuk yang kesekian kalinya.
Eksistensi Kebenaran: Menelusuri Jejak Kosmologi, Teologi, dan Teknologi
SURAU.CO – Dalam perjalanan sejarah peradaban, manusia selalu dikenal sebagai makhluk yang memiliki rasa ingin tahu tanpa batas. Sejak pertama kali menapakkan kaki di bumi, kita selalu berusaha memecahkan misteri alam semesta. Pencarian kebenaran ini bukanlah perjalanan singkat, melainkan sebuah transformasi panjang yang melibatkan aspek kosmologi, teologi, hingga ledakan teknologi modern.
Fitrah…
Pernahkah terlintas di benak Anda, "Kenapa sih Tuhan kok seolah-olah 'gila hormat'? Kalau Dia Maha Kuasa, bukankah pujian kita tidak akan menambah apa-apa?"
Pertanyaan ini sangat wajar. Banyak orang, baik yang percaya maupun tidak, bergumul dengan hal ini. Namun, ada satu kesalahpahaman mendasar yang perlu kita luruskan.
Jawabannya singkatnya: Tuhan tidak butuh pujian kita. Justru, kita yang butuh menyembah Dia! Perintah-Nya untuk menyembah bukanlah tuntutan dari seorang tiran, melainkan undangan kasih seorang Bapa yang tahu apa yang terbaik untuk anak-anak-Nya. Ini bukan tentang Dia yang haus pujian, melainkan tentang kita yang haus akan kehadiran-Nya.
1. Kebenaran yang Membebaskan: Tuhan Itu Maha Cukup
Pertama, mari singkirkan ide bahwa Tuhan itu kurang dan butuh kita. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Tuhan itu Maha Cukup (aseity). Dia tidak kekurangan apa pun. Pujian kita tidak membuat-Nya menjadi lebih mulia, dan ketidaktaatan kita tidak akan mengurangi kemuliaan-Nya.
Rasul Paulus menegaskan hal ini dalam Kisah Para Rasul 17:24-25, "Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan sesuatu, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang."
Ayat ini seperti tamparan yang menyadarkan: Tuhan itu sempurna. Dia adalah sumber dari segala sesuatu, bukan penerima yang haus. Dia sudah utuh dan mulia, bahkan sebelum dunia diciptakan.
Jadi, mengapa Dia memanggil kita untuk menyembah-Nya?
2. Penyembahan Mengubah Hidup Kita
Sembah adalah hal terbaik untuk kita, karena penyembahan mengubah kita dari dalam ke luar. Ini adalah resep ilahi untuk jiwa yang utuh.
a. Penyembahan Meluruskan Realitas
Penyembahan adalah tindakan menempatkan Tuhan pada takhta yang seharusnya. Dia adalah Pribadi yang paling mulia, paling agung, dan paling berharga di seluruh alam semesta. Ketika kita menyembah-Nya, kita hanya mengakui kebenaran ini.
Ini seperti menyetel kembali kompas jiwa kita. Hidup tanpa penyembahan membuat kita tersesat, mengejar hal-hal yang fana dan tidak pernah merasa puas. Sebaliknya, saat kita mengarahkan hidup kita kepada-Nya, kita kembali selaras dengan tujuan penciptaan kita. Hidup yang berpusat pada Tuhan adalah hidup yang paling benar dan paling bermakna.
b. Penyembahan Mengubah Karakter Kita
Kita menjadi seperti apa yang kita sembah. Jika kita menyembah uang, kita akan menjadi serakah. Jika kita menyembah diri sendiri, kita akan menjadi sombong. Kita mencerminkan nilai-nilai dari objek sembahan kita.
Oleh karena itu, Tuhan mengundang kita menyembah-Nya, karena saat kita memandang kemuliaan-Nya, kita diubahkan dari kemuliaan kepada kemuliaan, menjadi serupa dengan gambar-Nya (2 Korintus 3:18). Saat kita fokus pada kasih, keadilan, dan kekudusan-Nya, kita pun diubahkan menjadi pribadi yang lebih penuh kasih, adil, dan kudus. Penyembahan adalah proses yang mengaktifkan transformasi rohani ini. Ini bukan sekadar ritual, ini adalah pengalaman pribadi dan dinamis dengan Roh Kudus yang mengubah kita.
c. Penyembahan Adalah Puncak Sukacita
C.S. Lewis pernah berkata, "Kita memuji apa yang kita nikmati." Kita memuji film yang bagus, makanan yang lezat, atau pemandangan yang indah. Pujian bukan tambahan, melainkan puncak dari kenikmatan itu sendiri.
Tuhan mengundang kita memuji-Nya karena Dia tahu, di dalam Dia lah kita akan menemukan sukacita yang paling dalam dan abadi. Mazmur 16:11 mengatakan, "Di hadapan-Mu ada kepenuhan sukacita, di tangan kanan-Mu ada nikmat selama-lamanya." Dia tidak berkata, "Puji Aku agar Aku senang," melainkan "Pujilah Aku, dan kamu akan menemukan kepenuhan sukacita yang tiada bandingnya!"
Kesimpulannya, Tuhan tidak menyuruh kita menyembah-Nya karena Dia butuh. Dia meminta kita menyembah-Nya karena Dia tahu, saat kita sungguh-sungguh menyembah-Nya dengan hati yang tulus, kita akan mengalami kehadiran-Nya yang nyata, diubahkan oleh Roh Kudus, dan dipenuhi sukacita yang hanya bisa ditemukan di dalam Dia. Penyembahan adalah sebuah pengalaman spiritual yang membawa kita lebih dekat kepada-Nya, bukan sebuah kewajiban yang membebani.
Kacamata Bocah Jurusan Filsafat dalam Melihat Keberadaan Tuhan
“Tuhan itu enggak ada! Lagi pula, zaman sudah canggih begini, di mana-mana sudah dibuktikan lewat penelitian, masih saja ada yang percaya hal begituan. Melek sains dikit, dong!” Pfttt… Sontak, kopi yang baru saja kutenggak langsung ku hemburkan, usai tak sengaja menguping percakapan salah seorang mahasiswa yang kurasa sedang panas memperdebatkan, ‘apakah Tuhan itu ada atau tidak.’ Huh… Aku tidak ingin menghakimi orang yang mengatakan demikian, tetapi yang ingin kutahu adalah, apakah ia memiliki alasan yang kuat untuk menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, atau mungkin hanya karena Tuhan tidak terlihat, maka ia berpendapat seperti itu. Hadeh… Tapi tak mengapa. Pernyataan yang ia lontarkan barusan masih kumaklumi. Mengapa tidak? Aku sendiri masih bingung bagaimana menjelaskan bahwa Tuhan itu ada atau tidak, apa yang membuat Tuhan ada, apa yang dapat membuktikannya, apakah ada makhluk atau entitas sebelum Tuhan, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kerap terlintas di benakku dan sering ditanyakan kepadaku, yang kebetulan anak jurusan filsafat.
“Eh, kamu percaya Tuhan itu ada, ga?” tanya seorang teman.
“Kamu ga salah tuh, nanya begituan ke anak filsafat? Halaman buku yang mereka baca lebih tebal dibanding kepercayaan mereka tentang adanya Tuhan,” jawab temanku yang lain.
Aku tidak sempat menjawab. Wajahku kini datar. Pembaca yang budiman bisa membayangkan wajah datar Squidward ketika ia sudah pasrah melihat kelakuan usil SpongeBob dan Patrick. Kurang lebih, saat itu, wajahku sama datarnya. Hal yang bisa kulakukan adalah menghela napas dalam-dalam, kemudian menjawab dalam hati, “Aku masih percaya bahwa Tuhan itu ada, ya, Tuhan itu ada!”
Baiklah, sekarang pembaca mungkin bertanya, apa dasar argumen saya ketika mengatakan bahwa ‘Tuhan itu ada’. Tuan dan Nyonya, izinkan hambamu ini menjelaskan sedikit yang ia ketahui terkait pernyataan tersebut. Sebelumnya, saya ingin memperkenalkan diri. Saya Agito, mahasiswa jurusan filsafat di sebuah universitas ecek-ecek di Yogyakarta. Kebetulan, saya masih semester dua, pengetahuan saya masih teramat sedikit. Bahkan, saya berani mengatakan bahwa saya tidak tahu apa-apa bak Socrates. Pembahasan saya tentang ketuhanan kali ini cukup nekat, karena saya belum mengambil mata kuliah filsafat ketuhanan ataupun filsafat agama. Oleh karena itu, saya hanya akan mengupas pernyataan “Tuhan itu ada” sampai pada lapisan luar, tidak sampai pada inti yang lebih dalam. Saya harap pembaca dapat memahami tulisan saya yang sedikit filosofis ini. Dan terakhir, saya memohon kepada pembaca untuk segera mengoreksi atau membantah jikalau argumen yang saya utarakan dalam tulisan ini cenderung bias, karena saya tegaskan sekali lagi, pengetahuan saya masih sangat terbatas.
Hukum Kausalitas
Keberadaan Tuhan dapat dibuktikan melalui hukum sebab-akibat. Para teolog dan filsuf sering menggunakan hukum ini dalam mencari keberadaan sesuatu yang bersifat metafisik. Pertama, saya dan pembaca harus sepakat terlebih dahulu bahwa Tuhan tidak dapat dilihat oleh pancaindra; dengan kata lain, Tuhan adalah sesuatu yang tak kasat mata (nonfisik). Maka, bagaimana kita dapat membuktikan sesuatu itu ada atau tidak, sedangkan ia tidak dapat kita lihat melalui pancaindra kita? Walaupun demikian, kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena Ia tidak terlihat. Saya tegaskan bahwa sesuatu yang tidak terlihat belum tentu tidak ada. Berbeda dengan benda-benda fisik yang dapat diteliti dan diukur melalui penelitian dan observasi inderawi, cara-cara tersebut tidak dapat diterapkan untuk membuktikan keberadaan Tuhan.
Menurut saya, cara yang paling mudah untuk mengetahui keberadaan Tuhan adalah dengan menggunakan rasio atau menalar hukum sebab-akibat. Melalui hukum sebab-akibat, kita dapat meyakini bahwa Tuhan benar adanya, dengan rasio sebagai alat pemahaman. Pembaca yang budiman pasti sepakat dengan saya ketika saya mengatakan bahwa setiap akibat pasti ada sebabnya. Sekarang saya bertanya, ketika alam semesta ini bermula, apa sebab utama di balik terciptanya alam semesta ini? Kita akan memposisikan alam semesta sebagai ‘akibat’, lalu sebab yang menyebabkan terciptanya akibat (alam semesta) ini apa?
Contohnya seperti ini: coba kita perhatikan sebuah jam atau benda apapun. Apakah jam atau benda yang kita lihat sekarang tercipta begitu saja? Duarr…..Langsung ada sebuah jam di depan mata kita. Tentu tidak, kan? Jam tersebut ada karena ‘ada’ yang menciptakannya. Dengan demikian, mustahil sebuah jam bisa ada di bumi ini tanpa adanya seorang pembuat atau penemu jam. Coba bayangkan, Anda melihat sebuah lahan kosong di depan rumah atau kos Anda. Setelah setahun mengurung diri di rumah, lalu Anda keluar dan melihat lahan yang semula kosong berubah menjadi sebuah rumah. Apakah rumah tersebut datang begitu saja? Tanpa ada yang membangunnya, tiba-tiba duarrrr… terbangun sebuah rumah. Tidak, kan? Pasti ada yang membangun rumah tersebut, atau ada sebab yang menyebabkan bahwa sebuah rumah telah dibangun di lahan kosong tersebut.
“Saya selalu yakin bahwa sebuah jam membuktikan keberadaan pembuat jam dan alam semesta membuktikan keberadaan Tuhan.” — Voltaire
Keberadaan jam tidak muncul secara tidak sengaja atau dengan sendirinya tercipta begitu saja, tetapi jam tersebut ‘ada’ melalui hasil kerja yang disengaja dari seorang pembuat jam yang terampil. Begitu pula dengan alam semesta, tidak mungkin muncul secara tidak sengaja atau dengan sendirinya, tetapi alam semesta tercipta melalui hasil kerja yang disengaja oleh seorang perancang yang cerdas, yakni Tuhan.
Sampai di sini, saya harap pembaca dapat memahami pendekatan sebab-akibat yang telah dijelaskan. Silakan para pembaca yang budiman menyimpulkannya sendiri.
Baik, izinkan saya menebak pikiran yang ada di benak para pembaca. Pasti salah satu di antara kalian bertanya atau merasa bingung, jika alam semesta disebabkan oleh Tuhan, lalu siapa yang menyebabkan Tuhan itu sendiri? Jika alam semesta ini diciptakan oleh perancang hebat, yakni Tuhan, maka siapa yang menciptakan Tuhan, yang notabene adalah pencipta dari segala sesuatu? Mari kita gunakan rumus Thomas Aquinas dan Aristoteles. Tuhan sebagai causa prima. Apa itu? Tuhan dikatakan sebagai causa prima karena Tuhan adalah sebab awal dan murni yang tidak disebabkan oleh sebab-sebab yang lain. Sebagai pencipta segala sesuatu, Tuhan ada dengan sendirinya. Ia kekal, sudah pasti ia merupakan awal sekaligus akhir. Ia adalah penyebab pertama dan utama dari segala sesuatu, tanpa diawali atau diakhiri oleh faktor-faktor lain. Sumber paling awal yang tidak memiliki awal.
Teman-teman bisa membayangkan, jika Tuhan bukanlah awal dan masih ada awal yang lain dari Tuhan itu sendiri, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai Tuhan, karena otomatis ia tidak kekal. Aristoteles dalam konsep kosmologisnya mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di jagat raya saling menggerakkan satu sama lain. Setiap yang bergerak, menerima gerak dari sesuatu yang lain. Begitulah, menggerakkan dan digerakkan ini berantai terus-menerus. Namun, mustahil bahwa gerak menggerakkan ini tak berujung, maka pasti ada penggerak pertama, sesuatu yang tidak digerakkan. Sudah pasti jawabannya adalah Tuhan. Karena sifat Tuhan adalah immaterial dan nonjasmani, berbeda dengan benda-benda yang bersifat materi, yang sudah pasti mempunyai potensi untuk bergerak. Namun, Tuhan tidak mungkin digerakkan karena Ia nonjasmani (immaterial). Maka dari itu, Tuhan sebagai penggerak pertama yang tidak digerakkan sudah jelas adanya.
Huh… tulisan ini mulai terasa berat. Maafkan saya, sebagai penulis, saya masih belum paham betul bagaimana menyederhanakan tulisan yang bersinggungan dengan filsafat. Memang sih, penjelasan-penjelasan filsafat itu cenderung berat dan bisa membuat muak para pembaca. Oleh karena itu, jika tulisan ini belum dipahami, pembaca boleh rehat sejenak dengan mendengarkan sebuah lagu di Spotify. Saya merekomendasikan lagu-lagunya Michael Learns to Rock biar terasa lebih plonggg… Kalau dirasa mendengarkan lagu saja tidak cukup, pembaca juga bisa mencoba memejamkan mata selama 1–2 menit. Mungkin ini bisa menjadi solusi untuk merehatkan otak sejenak. Setelah itu, pembaca boleh melanjutkan membaca tulisan saya ini. Hehe.
Serba-serbi terkait keberadaan Tuhan
Yap, apakah teman-teman pembaca pernah mendengar atau melihat berita tentang seseorang yang mengaku pernah melihat wujud Tuhan secara fisik? Ada juga yang mengaku pernah dijumpai Tuhan saat berjalan di malam hari, dan Tuhan muncul dengan perawakan yang besar. Apakah manusia benar-benar bisa melihat keberadaan Tuhan lewat pancaindra dan tahu wujud asli-Nya seperti apa? Menurut saya, manusia tidak bisa melihat keberadaan Tuhan secara fisik. Maka, jika ada yang mengaku bahwa ia pernah berjumpa langsung dengan Tuhan, saya jamin ia sedang berbohong. Mengapa demikian?
Manusia memang dikatakan sempurna, tetapi itu hanya berlaku bila manusia dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Namun, jika kita sesempurna itu, seharusnya kita bisa melihat Tuhan secara langsung. Saya ingin memberitahu bahwa pancaindra manusia itu terbatas, hanya dapat mengakses apa yang ada di ruang dan waktu. Sedangkan Tuhan ada di mana? Ia berada di luar ruang dan waktu. Maka, mustahil manusia dapat melihat Tuhan secara langsung dengan matanya. Mata manusia tidak bisa melihat sesuatu yang begitu besar, begitu kecil, begitu jauh, dan begitu dekat. Kita (manusia) dianugerahi keterbatasan yang berasal dari Tuhan yang tak terbatas. Bagaimana mungkin kita yang terbatas mampu melihat sesuatu yang tak terbatas?
Dan saya rasa, Tuhan juga tidak mungkin menampakkan diri-Nya kepada kita yang penuh kecacatan di sana sini. Jika Tuhan yang tak terbatas menunjukkan diri-Nya kepada kita yang terbatas, otomatis Ia juga menjadi terbatas seperti kita, karena Ia mampu dilihat oleh kita, manusia, yang terbatas. Begitu juga sebaliknya. Maka, Tuhan mungkin tidak akan menggunakan kehendak-Nya untuk menghilangkan sifat-sifat kemahakuasaan-Nya jika tidak ada alasan dan tujuan yang kuat.
Pada akhirnya, pengetahuan manusia tentang Tuhan hanya akan berujung pada ketidaktahuan, ini yang dikatakan St. Agustinus, bukan saya. Karena, seperti yang kita sepakati di awal, Tuhan itu nonfisik, jadi bagaimana mungkin dapat dilihat oleh fisik (manusia)? Keberadaan Tuhan saja sudah berada di luar ruang dan waktu, tentu hal ini sudah menutup kemungkinan bagi manusia untuk melakukan pembuktian ilmiah mengenai keberadaan-Nya. Itu sama saja seperti karakter-karakter di film SpongeBob yang sedang berdiskusi: “Eh, siapa sih yang sebenarnya menciptakan atau menggambarkan kita?” Kalau si penulis atau penggambar film SpongeBob tidak mau menampakkan dirinya, maka si SpongeBob, Patrick, Squidward, dan kawan-kawan pasti tidak akan mengetahui siapa yang menciptakan atau menggambarkan mereka.
Dan saya tegaskan, seluruh jagat raya dipenuhi oleh misteri, sebab faktor transenden di luar ruang dan waktu adalah fenomena yang tak dapat dinalar secara sempurna oleh manusia, kalaupun bisa, pasti mengandung kecacatan. Sekali lagi, jika sang penulis tidak mau memperkenalkan dirinya, sudah barang tentu kita, manusia, tak akan tahu seperti apa wujud fisik dan asal Tuhan itu sendiri. Di tengah kengerian ini, segala sesuatu yang diselimuti misteri disebabkan oleh keterbatasan manusia. Seharusnya, kepercayaan kita semakin kuat bahwa ada sesuatu yang tak terbatas, yaitu Tuhan, dengan segala kemahakuasaan-Nya. Menurut saya, agak aneh jika hanya sesuatu terbatas yang ada, padahal segala sesuatu di bumi ini terdiri dari dualitas: panas dan dingin, siang dan malam, basah dan kering, gelap dan terang, hidup dan mati, senang dan sedih, dan sebagainya. Tentu saja, yang terbatas ini hanya bisa beriringan dengan yang tak terbatas, bukan? Hehe, sedikit cocoklogi dari seorang anak filsafat yang masih prematur.
Pembaca yang saya hormati, di semester pertama kemarin, saya mengenal salah satu filsuf aliran rasionalisme, yaitu René Descartes. Ia terkenal dengan ungkapan “Cogito ergo sum” — Aku berpikir maka aku ada. Awalnya, ungkapan ini ia gunakan untuk membuktikan keberadaan dirinya di dunia. Kita harus meragukan segala sesuatu, tetapi satu hal yang tidak bisa kita ragukan adalah keberadaan diri kita yang sedang ragu-ragu. Baiklah, saya cukupkan pembahasan ini agar tidak melenceng terlalu jauh.
Descartes kemudian membuktikan adanya Tuhan melalui argumennya yang mengatakan bahwa kita, sebagai manusia, memiliki kapasitas untuk berpikir secara terbatas. Namun, bagaimana mungkin ide tentang Tuhan yang tak terbatas dan begitu sempurna muncul pertama kali dalam benak kita? Descartes beranggapan bahwa ide tentang Tuhan yang tak terbatas ini tidak mungkin berasal dari diri manusia yang terbatas, sehingga harus ada entitas yang jauh lebih tinggi derajatnya — yaitu Tuhan — yang menanamkan ide tersebut dalam pikiran kita. Menurut saya, pemikiran Descartes tentang eksistensi Tuhan mirip dengan pemikiran Justinus Martyr, seorang tokoh Patristik, yang mengatakan bahwa Allah menanamkan benih logos dalam pikiran setiap manusia, sehingga mereka memiliki ide tentang Tuhan itu sendiri.
Namun, kembali lagi, ide manusia tentang Tuhan bisa dibilang masih parsial. Manusia masih terus mencari sana-sini, bertanya ini-itu, dan berpikir apa saja untuk memuaskan ketidaktahuannya terkait keberadaan Tuhan yang penuh misteri. Padahal, jika Tuhan sudah memutuskan untuk tidak menampakkan diri-Nya — seperti analogi antara penulis dan karakter Spongebob yang saya sampaikan sebelumnya — maka pengetahuan manusia tentang Tuhan hanya akan berujung pada ketidaktahuan, seperti yang dikatakan oleh St. Agustinus. Semakin abstrak dan tak jelas konsep Tuhan dalam pikiran manusia, maka perkataan Tertullianus mungkin akan semakin menarik perhatian: “Credo quia absurdum est,” — Aku percaya karena itu tidak masuk akal. Justru karena tak masuk akal, saya semakin percaya.
Bagaimana menurut teman-teman ? Sampai di sini, pasti bingung, kan? Sama, saya juga bingung ketika sedang menulis ini. Nanti tidak bingung lagi, kalau sudah berada di surga. Eh!?
Teman-teman, saya sudah lelah mengatakan bahwa manusia itu sebegitu terbatasnya. Baik melalui pancaindra maupun rasio, saya rasa manusia tidak bisa 100% menggambarkan atau menafsirkan secara utuh Tuhan yang agung. Namun, di balik gelar manusia sebagai makhluk multidimensional yang terdiri dari cipta, rasa, dan karsa, kita tidak boleh melupakan salah satu aspek penting, yaitu iman. “Credo ut intelligam” — aku beriman maka aku mengerti. Istilah ini dikemukakan oleh filsuf Kristen, Anselmus. Ia mengatakan bahwa untuk memahami Tuhan sepenuhnya, seseorang harus terlebih dahulu memiliki iman kepada-Nya. Iman adalah langkah pertama bagi manusia untuk mengetahui kebenaran, yaitu Tuhan. Iman mendahului pengetahuan, dan melalui iman, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.
Begitu juga dengan kata Kierkegaard, iman didasarkan pada keyakinan yang mendalam dan penuh komitmen. Meskipun kita seringkali mengingkari keberadaan sesuatu hanya karena kita tidak dapat menerimanya secara logika, Kierkegaard mengatakan iman merupakan aspek yang penting bagi mereka yang memilih untuk percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya. Saya lupa kutipan ini terletak di kitab apa, namun yang jelas kutipan ini mengandung pesan tentang kekuatan iman yang tidak bergantung pada bukti empiris atau penglihatan indrawi, melainkan keyakinan yang tulus meskipun kita tidak dapat melihat-Nya secara fisik.
Dengan iman, kita dipanggil untuk mempercayai sesuatu yang lebih besar dari sekadar apa yang tampak di depan mata, dan untuk menerima bahwa iman sejati seringkali melibatkan ketidakpastian, pengharapan, dan kepercayaan tanpa bukti konkret. Iman memungkinkan manusia merasakan kehadiran Tuhan meskipun tidak secara langsung melihat-Nya. Karena jika kita memiliki iman yang kuat, Tuhan itu tidak di mana-mana; Dia berada di setiap hati manusia yang penuh pengharapan kepada-Nya.
Duh… sudah seperti khotbah pendeta di hari Minggu saja, nih.
Teman-teman, ada sebuah alasan pragmatis yang ditawarkan oleh Blaise Pascal terkait keberadaan Tuhan, yang dikenal dengan “Taruhan Pascal”. Ia menyadari bahwa keberadaan Tuhan sangat sulit untuk dijelaskan secara rasional. Oleh karena itu, ia memilih alasan yang lebih praktis untuk mempercayai Tuhan. Inti dari taruhan tersebut adalah sebagai berikut: jika kita percaya bahwa Tuhan itu ada, dan setelah kita mati ternyata kita tidak menemukan bahwa Tuhan itu ada, maka kita tidak akan rugi banyak. Kita hanya mengorbankan sedikit waktu di dunia untuk menaati perintah-Nya. Tetapi, jika setelah mati kita mendapati bahwa Tuhan benar-benar ada, bukankah kita akan memperoleh surga karena sebelumnya kita telah percaya dan mengikuti firman-Nya?
Sekarang, saya bertanya: jika kita tidak percaya kepada Tuhan, acuh terhadap perintah-perintah-Nya, mati-matian mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, dan ternyata setelah mati kita mendapati bahwa Tuhan itu benar-benar ada, apakah masih ada waktu untuk menyesal karena tidak percaya sebelumnya? Tentu saja, panasnya api neraka sudah menunggu. Emang sih, kalau disuruh milih secara rasional, saya rasa kebanyakan dari kita mungkin memilih untuk percaya kepada Tuhan, toh jika ternyata Tuhan tidak ada setelah kita mati, kita tidak akan kehilangan apa-apa. Tetapi, kalau kita memilih untuk tidak percaya, lalu ternyata Tuhan malah ada setelah kita mati… Eh, bukankah malah gawat?
Taruhan Pascal ini memang cukup menggelitik. Ternyata, ada orang yang sudah memikirkan konsep praktis seperti ini sebelumnya, sungguh menarik. Namun, ada kritik yang perlu saya sampaikan: jika banyak orang memutuskan untuk percaya kepada Tuhan hanya berdasarkan alasan praktis seperti di atas, saya rasa itu kuranglah tepat. Sebab, untuk benar-benar mempercayai Tuhan, kita membutuhkan iman dan pengharapan yang tulus, bukan hanya karena alasan praktis yang bersifat ada maunya. Walaupun begitu, tidak bisa dimungkiri bahwa Taruhan Pascal ini memang bisa menjadi bahan pertimbangan, meski sebaiknya kita tidak hanya berhenti di sana.
Teman-teman, saya cukupkan tulisan saya di sini. Oh ya, saya ingin memberitahukan bahwa ide untuk menulis tulisan bertemakan seperti ini muncul ketika saya sedang kuliah aksiologi bersama Pak Arqom. Penjelasan yang beliau sampaikan sungguh membuka cakrawala pengetahuan saya yang semula rapat, kini sudah terbuka meskipun masih sedikit. Terima kasih, Pak Arqom!
Sekedar memberitahukan, tulisan saya selanjutnya akan membahas ungkapan “Tuhan telah mati, dan kita telah membunuhnya,” sebagaimana dikemukakan oleh filsuf Jerman yang kontroversial, Friedrich Nietzsche. Dalam tulisan tersebut, saya juga akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan bernada ateistik dan cacat logika terkait keberadaan Tuhan. Saya merasa jika semua itu saya tulis di sini, kamu mungkin akan jenuh membacanya. Selain itu, saya juga akan membahas kritik Kierkegaard terhadap gereja di Denmark pada masanya. Oke, cukup sekian. Terima kasih sekali lagi.
Renungan Harian: Segala tulisan yang diilhamkan Allah: 2 Timotius 3:16
2 Timotius 3:16:
"Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."
Tulisan rasul Paulus ini dilatar belakangi oleh pengakuan bahwa Alkitab adalah firman Allah.
Segala tulisan tersebut bertujuan untuk mengajar dan mendidik serta membawa kepada kehidupan yang kekal.
Paulus memiliki kerinduan untuk memberi nasehat dan juga meneguhkan dan menguatkan Timotius, bahwa menerima panggilan untuk melayani tidak mudah. Mereka harus benar-benar mengenal Allah melalui firman-Nya yang tertulis.
Apabila mengingat usia Timotius yang masih muda dan sudah menjadi pemimpin gereja, maka Paulus memiliki tanggung jawab untuk menasehatinya.
Bahkan Paulus juga mengajar dan menguatkan Timotius supaya menjadi pelayan yang setia dalam melaksanakan panggilannya.
Teologi Kristen memiliki sejarah yang panjang dan kompleks, terbagi dalam beberapa tahap perkembangan. Teologi Kristen dimulai dengan ajaran Yesus Kristus pada abad pertama.
Murid-murid Tuhan Yesus dan Paulus dari Tarsus menulis beberapa surat kepada gereja yang menjadi dasar teologi Kristen mula-mula, termasuk mengenai konsep keselamatan melalui iman dan kasih karunia.
Teolog pertama Reformasi Calvinis adalah Ulrich Zwingli, salah satu pendiri Protestantisme Swiss, setelah Martin Luther. Berbagai sumber mengatakan bahwa Zwingli lahir setelah Tahun Baru 1484. 52 hari setelah Luther, di Wildhaus, sekitar 60 km dari Zurich.
Ulrich Zwingli menganut pendirian Protestan hampir bersamaan dengan Luther, namun ia menjauhkan diri sepenuhnya dari Luther.
Kedua reformis gereja ini mempunyai latar belakang yang berbeda. Martin Luther sendiri sangat dipengaruhi oleh "Jalan Modern" dan para pengikutnya seperti Gabriel Beer. Beer sendiri berupaya menafsirkan ajaran Alkitab selaras dengan sains dan penemuan ilmiah.
Gabriel Beer adalah seorang teolog dan filsuf abad pertengahan yang terkenal karena karyanya tentang pemikiran sekolah dan Reformasi. Meskipun Zwingli diajari "cara lama" Thomas Aquino, dia juga sangat dipengaruhi oleh humanisme Erasmus.
Selama berada di Glarus dan Einsiedeln, Zwingli banyak membaca dan meluangkan waktu untuk mengembangkan berbagai landasan bagi pandangan Reformed. Pada tahun 1518 ia menjadi pendeta di gereja Grossmunster di Zurich.
Dia banyak berkhotbah dan mendiskusikan kitab tersebut secara sistematis dan rinci. Biasanya hal ini dilakukan oleh gereja kuno, namun pada masa Zwingli merupakan masa pembaharuan yang radikal.
Salah satu karya Zwingli yang pertama adalah Von Klarheit und Gewissheit de Wortes Gottes (Kejelasan dan kepastian Firman Allah) yang diterbitkan pada tahun 1522.
Zwingli mengajukan Protestan mendasar tentang Alkitab yang mempunyai wewenang terakhir, Firman Allah adalah pasti. Jikalau Allah berbicara, maka terjadilah.
Menurutnya: “Jika kita membuka Alkitab dengan pendapat dan tapsiran sendiri, lalu kita membentuknya menurut pikiran sendiri, maka kita tidak akan menerima pesan yang ada di dalamnya.”
Pengalaman mistik atau pengalaman spiritual tidak pernah sama antara satu orang dengan orang lain atau antara satu keyakinan dengan keyakinan lain atau paling tidak tidak ada kemungkinan untuk mengonfirmasi kesamaannya atau juga perbedaannya. Penyebabnya adalah pengalaman tersebut non indrawi hingga tidak ada standar baku tentang persamaannya dan perbedaannya dengan pengalaman orang lain. Karena itu, juga tidak mungkin mengukur kekeliruan atau kebenarannya.
Contoh pengalaman spiritual adalah pengalaman “menyatu dengan Tuhan” atau “menyatu dengan alam semesta”. Menyatu tidak mesti berarti ada “penggabungan” dua entitas atau “penyerapan” satu entitas oleh entitas lain. Bisa saja menyatu itu lebih merupakan sebuah “kontak” sehingga hamba tetap hamba dan Tuhan tetap Tuhan sebagai entitas yang tidak menyatu, hanya berhubungan secara intensif.
Karena melampaui pengalaman indrawi, maka pengalaman spiritual tidak mudah didefinisikan. Objek (jika bisa disebut begitu) dari pengalaman spiritual memang juga bukan objek indrawi biasa. Pengalamannya tidak indrawi dan objeknya juga tidak indrawi, namun hasil dari sebuah pengalaman spiritual adalah sebuah pengetahuan. Tentu saja pengetahuan di sini bukan pengetahuan indrawi pula karena realitas yang menjadi “objek” juga tidak dapat diakses melalui persepsi indra biasa.
Pengalaman spiritual benar-benar personal sehingga bahkan mereka yang mengakui bahwa pengalaman seperti memang ada pun tetap mengalami pengalaman spiritual yang tidak sama satu sama lain. Meski demikian, bisa saja sebuah definisi disepakati bersama dengan catatan bahwa pengalaman masing-masing orang tetap tidak pernah sama.
Saking personalnya sebuah pengalaman spiritual, maka bahkan terjadi tanpa media apapun. Indra sesungguhnya adalah media yang mengantarai antara “subjek” yang mengalami dan “objek” yang dialami. Pengandaiannya adalah bahwa jika ada semacam media sebagai alat, maka alat tersebut bisa dipakai juga oleh orang lain dank arena itu, bisa didiskusikan kebenarannya. Karena pengalaman spiritual adalah tanpa media, maka sering pula disebut “pengetahuan melalui partisipasi” dan juga “pengetahuan melalui kehadiran”.
Salah satu bentuk pengalaman spiritual adalah kesadaran (subjek) akan (objek) Tuhan yang menghasilkan kesadaran lanjutan tentang ketergantungan subjek sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam hal ini, tampak ada dua entitas, yaitu subjek dan objek. Namun bisa juga ada bentuk berbeda yaitu kesadaran subjek sebagai entitas yang tidak kekal. Pada yang kedua ini, yang ada hanya subjek dan tidak ada objek.
Kisah Pengalaman yang Juga Selalu Gagal
Setelah terjadi pengalaman spiritual, ada semacam problem tersendiri bagi yang mengalami dan hendak memberikan semacam konseptualisasi atau pengisahakan atas pengalamannya tersebut. Sekali lagi, problem itu ada karena pengalaman tersebut tidak indrawi dan “objek”-nya pun tidak indrawi. Bagaimana tidak menjadi problem tersendiri jika sebuah pengalaman yang melampaui indra hendak dikisahkan dalam bentuk yang harus tunduk kepada indera seperti bahasa, kosa kata, dan ungkapan yang seluruhnya hanya bisa dipahami jika direlasikan dengan realitas indrawi.
Agama biasanya didefinisikan lewat teologinya yang memang selain dihadirkan untuk menjelaskan agama itu sendiri juga dihadirkan untuk membedakan satu agama dengan agama lain. Bahkan pembedaan adalah inti dari setiap agama dan persamaan adalah nista bagi agama. Tentu yang dimaksud adalah teologinya, juga ritualnya. Pembedaan terus-menerus dihembuskan dengan alasan untuk menghindari kekafiran karena persamaan berarti kekafiran.
Pengalaman spiritual tidak terlalu hendak membedakan dirinya dengan yang lain karena pengalaman spiritual memahami bahwa memang tidak mungkin ada pengalaman yang sama karena pengalaman selalu personal. Bagaimana mungkin pengalaman yang personal disamakan dan juga bagaimana mungkin dibedakan?
Pengalaman spiritual sesungguhnya adalah pencapaian yang tidak hanya tentang kesadaran semata, tetapi juga tentang bagaimana cara hidup dipengaruhi olehnya. Pengalaman spiritual bukan hanya peristiwa sesaat tetapi berlangsung secara kontinyu dalam kehidupan sehari-hari dan berpengaruh terhadapnya. Pengalaman spiritual selalu menekankan kepada kesadaran “ketergantungan mutlak”. Bukankah itu bukan teologi? Bukankah itu menjadi inti agama-agama?[]
Il prossimo 2 agosto ricorrono 50 anni dalla morte di padre Julio Meinvielle, una figura di altissima importanza per teologia cattolica.
Continue reading Untitled