Yang Perlu Berlari: Semacam Tafsir [Dian Hartati]
Pelarian seorang perempuan bukanlah upaya meninggalkan realitas. Sebuah peristiwa yang pastinya dipikirkan matang-matang dengan menyadari segala konsekuensi. Pergi dan melepaskan apa yang membebat pikiran perlu dilakukan untuk sampai pada perenungan, mencari peluang, dan kembali ke awal. Bahkan pelarian bisa sampai pada proses penyucian diri, /membiarkan tubuhnya pecah oleh ombak/ menjadi buih/ memutih/.
Kapankah seorang memutuskan untuk bersembunyi atau kembali pulang? Beragam jawaban tentu saja akan didapatkan. Ada yang pergi setelah mendapatkan berita-berita kehilangan; ada yang kembali setelah digempur angan-angan. Hari-hari yang dipenuhi pemberitaan pandemi memunculkan harapan-harapan tentang dunia yang lebih sehat. Siapa pun akan berstrategi menghadapi ketidakpastian, termasuk memohon, /Izinkan tetap hidup penuh kebebasan/. Pertanyaan besar seperti, /Kapankah belenggu pandemi ini berakhir. Tuhan?/ menjadi bagian keseharian yang tak bisa dibiarkan begitu saja. Upaya melindungi keluarga menjadi keharusan dan dilakukan, misalnya mendoakan, /Do'aku selalu menyertaimu! Di setiap waktu... Sehat, sukses, harapanku/ Semoga dan semoga/, atau mengingatkan protokol kesehatan.
Jika sedang berada di dalam rumah, ke arah mana perempuan harus berlari? Jeda dibutuhkan untuk tahu: waktu perputar. Diam. Dengarkan token listrik yang berbunyi. Heningkah? Tidak ada yang benar-benar berhenti sampai menyadari, /kami melewati toko pakaian, rumah makan/ bioskop, toko es krim, dan toko mainan/, rumah adalah simbol kepulangan, bagi pelari yang tidak menemukan tempat sembunyi. Pertanyaan dalam kalimat pertama paragraf ini belum terjawab.
Atau sebenarnya tidak perlu ada peristiwa pelarian? Terima saja yang ada, mengalir lalu hikmati. Seperti keikhlasan seorang ibu, /Anakku.../ Bukalah matamu/ /Rentangkan sayapmu/ Terbanglah! Tapaki mega-mega biru/ Tuk gapai asamu/. Kerelaan dan kegundahan akan terus hadir mewarnal pesona hari. Kematangan berpikir akan dilalui seseorang. Jadi, wajar saja jika ingin jeda. Bernapas dengan lapang, menghitung langkah, atau mengatur mimpi.
Katanya kehidupan utopia akan diselingi fragmen distopia. Surti yang merindukan surga, /Kini aku ingin pergi/ tak ingin kembali menanti janji-janji/ di bawah lampu-lampu mercuri/ menjual harga diri/ ah... persetan dengan pundi pundi!/, namun terjebak pada jelaga kehidupan. Siapa yang mau membersamai Surti? Kita, atau siapa lagi. Hitam putih kehidupan seringkali dicemburui oleh warna abu-abu, pela- belan baik dan buruk tersaingi pihak netral. Perempuan harus memahami sesama perempuan, dan cara mendapatkan sadut pandang yang tepat masih menjadi pe-er panjang.
Begitulah kira-kira suara-suara dari para perempuan penyair dalam buku ini. Berawal dari pelarian berakhir pada proses perenungan. Hal yang lebih penting adalah konsisten dalam menulis karya karena itulah sejatinya proses "mendapatkan kehidupan". Kata-kata yang dicetak miring merupakan larik-larik puisi dalam buku Perjalanan Rindu tanpa menyebutkan nama penyairnya. Mari berlari, merawat semesta kata.
Sumber: Kumpulan Puisi Perjalanan Rindu Merawat Semesta Ibu (Trubadur, 2021)



















