Cermin Diri
Halo, Juli!
tumblr dot com
KIROKAZE
Sweet Seals For You, Always

ellievsbear

@theartofmadeline
Not today Justin
Sade Olutola

★
d e v o n
cherry valley forever
Mike Driver
$LAYYYTER
Lint Roller? I Barely Know Her
TVSTRANGERTHINGS

❣ Chile in a Photography ❣
trying on a metaphor

Origami Around
Show & Tell

izzy's playlists!

Janaina Medeiros
seen from Japan

seen from China

seen from United States

seen from United States
seen from Germany
seen from Italy
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Netherlands

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Myanmar (Burma)

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Brazil
seen from Singapore
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@ubr30
Cermin Diri
Halo, Juli!
Sastra Indonesia dalam Perburuan Panjang akan Liyan (Faruk HT)
Sejak 1970-an, satu masa yang disebut eksperimental di awal Orde Baru, realisme dalam sastra dan bahkan mungkin dalam seni pada umumnya mulai terdesak ke pinggiran. Paham yang demikian memasuki wilayah di luar kesenian dengan mengikuti aturan main tambahan yang membuatnya dalam istilah Pierre Bourdieu-menjadi heterodoks, mempunyai doksa atau semacam aturan main yang lebih dari satu.Ada dua doksa tambahan terhadap paham tersebut, yaitu hukum ekonomi atau pasar, seperti yang berlaku dalam sastra populer yang terbit di majalah hiburan Kartini dan Femina atau novel-novel yang diterbitkan Gramedia, termasuk karya-karya Ashadi Siregar dan Marga T.
Karya-karya dengan eksperimentasi estetik tinggi yang muncul pada masa itu memang makin jauh dari realisme dan mendekat ke karya-karya yang, katakanlah, fantastik dan irasional. Pada 1970-an, kecenderungan demikian diwakili oleh novel-novel Iwan Simatupang, yang oleh Dami N. Toda disebut mengikuti gerakan "Novel Baru" yang muncul di Prancis.Karya-karya itu juga dinilai absurd dan bernapaskan filsafat eksistensialisme Jean-Paul Sartre dan Albert Camus. Cerita-cerita pendek Budi Darma juga disebut "absurd". Novel-novel Putu Wijaya, yang cenderung surealistik, pun dianggap absurd. Begitu pula cerita-cerita pendek Danarto, yan nderung mistis dan sufistik, meskipun dengan pela alur yang tidak terlalu berbeda dengan karya Putu Wijaya dan Budi Darma.
Yang dinamakan realisme tersebut, sebagaimana yang antara lain diimplikasikan oleh Ian Watt, merupakan satu paham tertentu mengenai realitas. Realitas itu merupakan produk dari kelas menengah (borjuis) yang mulai dominan sejak Abad Pencerahan dan menemukan bentuk literernya pada novel. Sesuai dengan pandangan kelas menengah tersebut, kehidupan yang dianggap realistik dalam novel adalah segala sesuatu yang serba partikular, empirik, dapat diverifikasi, sekaligus rasional dan koheren.Hanya, seperti kata Berger dan Luckmann, karena merupakan hasil konstruksi sosial, realitas menjadi sama pluralnya dengan masyarakat itu sendiri. Karena itu, kecenderungan yang terjadi sejak 1970-an tersebut pada dasarnya didorong oleh hasrat atau tuntutan kultural untuk menemukan realitas-realitas yang lain. Kelainan itu sendiri bersifat relatif yaitu ditentukan dalam hubungannya dengan realisme borjuis.
Pencarian akan realitas-realitas lain itu terus berlangsung hingga sekarang. Selain realitas "absurd" yang merupakan produk filsafat eksistensialisme, realitas surealistik yang berbasis psikoanalisis, dan realitas mistis yang berbasis sufisme atau pandangan pantheisme, dalam perkembangan sastra Indonesia, kemudian muncul realitas-realitas lain yang begitu beraneka.Sebagaimana yang antara lain saya temukan dalam pengalaman menjadi salah seorang penilai bagi buku sastra pilihan Tempo, ada novel yang memberikan tekanan pada penggambaran kenyataan atas dasar pengalaman perempuan, misalnya sebagai ibu, pengalaman homoseksual, masyarakat terjajah atau kulit berwarna dan darah campuran, masyarakat tradisional/tribal, masyarakat daerah terpencil, masyarakat Indonesia bagian timur, kelas bawah, dan penganut aliran keagamaan yang bisa disebut sempalan. Di samping itu, terdapat karya karya yang berusaha mengangkat realitas sejarah dari perspektif yang berbeda dengan perspektif dominan yang menjadi penyangga realisme.
Tentu saja, karya sastra terutama sekali menggambarkan berbagai realitas di atas tidak secara konseptual, melainkan secara imajinatif, yang membentuk sebuah dunia pengalaman, bukan sekadar pemahaman. Karena itu, berbagai realitas tersebut dapat campur aduk, tumpang-tindih, dan berdampingan dalam sebuah karya yang sama.Di samping itu, realitas-realitas yang, katakanlah, alternatif tersebut tidak pula sepenuhnya dilepaskan dari realisme yang ditopang pengalaman hidup keseharian para penulisnya di sebuah tatanan sosial dan kebudayaan modern yang kapitalistik. Ada banyak kemungkinan relasi di antara kedua pihak tersebut. Dalam karya-karya yang tergolong dalam realisme magis, misalnya, realitas borjuis dijajarkan dalam posisi yang setara, tidak saling menenggelamkan, dengan realitas magis yang pada umumnya berbasis sosio-kultural.
Cara unik masyarakat Indonesia timur yang marginal, yang sekaligus cenderung etnik dan tribal, dalam memandang Indonesia barat yang lebih modern, kolonial, dominan, dan sentral menimbulkan efek-efek humor, parodik, dan sekaligus ironis. Konstruksi ulang sejarah kolonial di Indonesia dalam perspektif kelas bawah dan perspektif mitologis juga memberikan kejutan-kejutan tersendiri yang membawa pembaca ke dalam sebuah dunia yang sama sekali lain, berbeda, dan harus dihadapinya sebagai tidak kalah nyata dibanding realitas dari realisme borjuis. Realitas dalam pengalaman masyarakat kelas bawah yang hidup di daerah pantai utara Jawa dengan pornografi dan pornoaksi yang blakblakan juga demikian.
Puisi lirik merupakan puisi yang bisa disebut utama dalam masyarakat dan kebudayaan modern, Realitas yang dibangunnya adalah realitas yang terpusat, padu, dan padat. Ia berusaha mengubah gerak, dinamika, dan proses menjadi sesuatu yang statis. Karena itu, puisi lirik menjadi sangat dekat dengan yang visual. Puisi lirik ini sering juga disebut sebagai puisi suasana yang sekaligus dianggap sebagai ungkapan suasana hati yang bersifat personal. Efek yang diharapkan adalah kontemplasi dan refleksi yang mengimplikasikan kesunyian dan kesendirian. Penyair terkemuka yang dianggap representatif dalam puisi yang demikian adalah Amir Hamzah dan Chairil Anwar.Rendra, yang cenderung komunal, serta berorientasi pada aksi dan akting, lebih menyukai balada, puisi naratif yang penuh dengan peristiwa serta aneka suara dan rupa. Pada awal 1980-an, Linus Suryadi AG menulis prosa lirik yang naratif, yang mengurai, hingga satu puisi memenuhi buku. Dalam perkembangan mutakhir terdapat kecenderungan yang relatif menonjol untuk meninggalkan lirisisme itu. Cukup banyak yang bersifat naratif dan berupa puisi panjang. Seperti yang terjadi pada cerpen dan novel, puisi-puisi naratif ini juga memperlihatkan usaha menghadirkan realitas lain yang tidak sekadar komunal, tapi berbasis mitos, legenda, atau bahkan tuturan sejarah.
Puisi Afrizal Malna merupakan puisi yang fenomenal, yang memperlihatkan kecenderungan khas dalam usahanya keluar dari lirisisme itu. Dengan asumsi filosofis tentang hilangnya manusia dan subyek, "aku" lirik dalam puisi-puisinya berkelindan dengan benda-benda, ruang, dan waktu. Karena bahasa, seperti yang dikemukakan antara lain oleh Jacques Lacan, merupakan kekuatan simbolik yang membentuk subyektivitas, puisi-puisi penyair ini juga cenderung melakukan semacam pemberontakan radikal terhadap sistem bahasa tersebut. Tapi puisi-puisi Afrizal itu seperti tidak kehilangan kesan lirisismenya yang memadat, memusat, dan menyatu. Seperti ada ketegangan yang terus-menerus antara kesinambungan dan keterputusan, konvergensi dan divergensi, di dalamnya. Puisi-puisi Afrizal bisa dikatakan sebagai proyek yang belum selesai yang mungkin tetap akan menjadi tantangan ke depan.Sejak semula sejarah sastra Indonesia modern tidak pernah lepas dari perkembangan sastra global, khususnya Barat atau negara-negara besar lain dengan tingkat peradaban yang tinggi, seperti Cina, Jepang, India, dan Persia. Eksperimentasi pada 1970-an tidak lepas, misalnya, dari munculnya absurdisme, eksistensialisme, dan surealisme. Begitu juga yang dinamakan realisme magis. Karya-karya sastra pemenang Hadiah Nobel, misalnya, cenderung dijadikan pedoman, karya kanonik. Begitu pula ketika muncul paham-paham filosofis, kebudayaan, ekonomi, dan politik seperti pascamodernisme, pascastrukturalisme, pascamarxisme, kosmopolitanisme, dan pluralisme.
Perburuan akan realitas-realitas alternatif tersebut tidak bisa pula dipisahkan dari semangat merayakan perbedaan. Karena itu, bila di tahun-tahun mendatang perburuan terhadap realitas lain tersebut terus berlangsung, tantangan sastra Indonesia adalah menempatkannya tidak hanya dalam konteks sejarah sastra Indonesia sendiri, melainkan sastra dunia.
Sumber: https://www.tempo.co/arsip/masa-depan-sastra-indonesia-2025-1198947
Profil Sally Rooney, Penulis yang Vokal Dukung Pembebasan Palestina (Tempo.co)
TEMPO.CO, Jakarta - Nama Sally Rooney semakin berkibar di panggung sastra dunia. Pada 24 September 2024, penulis asal Irlandia itu merilis novel keempatnya, Intermezzo. Sebagai suara dari generasi millennial, Sally dikenal karena kemampuannya menggambarkan ketidakpastian ekonomi dan emosi yang menghantui anak muda. Novel debutnya, Conversations With Friends (2017), disusul Normal People (2018) dan Beautiful World, Where Are You (2021), telah membuatnya diakui sebagai penulis berbakat.
Dua novelnya bahkan telah diadaptasi menjadi serial televisi. Conversations With Friends tayang pada 2022, sementara Normal People tayang pada 2020. Dalam Intermezzo, Sally beralih dari protagonis perempuan yang biasa ia angkat dan memilih menjelajahi kehidupan dua saudara laki-laki—Ivan dan Peter—yang menghadapi duka setelah kematian ayah mereka. Ia mengeksplorasi tema kehilangan, penyesalan, dan refleksi diri.
Sikap Politik dan Dukungan Sally Rooney untuk Palestina
Perhatian pada Sally tidak hanya soal karya-karyanya. Ia mengklaim dirinya feminis dan marxis. Sikap politiknya–terutama dukungan terhadap Palestina, juga vokal disuarakan. Terbaru, dalam acara peluncuran Intermezzo di Southbank Centre, London, 26 September 2024, ia memulai dengan pidato terkait krisis di Palestina.
Sally menggambarkan kampanye militer terhadap Palestina sebagai ‘pembunuhan massal dan kehancuran struktural’. Ia bahkan mengkritik dukungan dari Uni Eropa dan Inggris. Sally menyoroti jumlah korban yang terus meningkat, lebih dari 40.000 jiwa telah tewas sejak 7 Oktober 2023, dan hampir 17.000 di antaranya adalah anak-anak. “Kita sedang menyaksikan genosida yang tengah berlangsung,” ujarnya.
Ia juga mengkritik perluasan aksi militer Israel ke Lebanon, menyebut bahwa kematian sipil di Palestina, Israel, dan Lebanon adalah tragedi besar yang memiliki akar dalam pendudukan ilegal Israel atas Palestina, dan sistem apartheid yang diterapkan terhadap rakyat Palestina. Pada 2021, Sally juga menolak tawaran penerbitan dalam bahasa Ibrani dari penerbit Israel untuk novel Beautiful World, Where Are You. Penulis berusia 33 tahun itu menjelaskan bahwa penolakannya adalah bentuk dukungan terhadap gerakan Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS) yang pro-Palestina. “Saya tidak dapat menerima kontrak baru dengan perusahaan Israel yang tidak secara tegas menjauhkan diri dari apartheid dan mendukung hak-hak rakyat Palestina yang ditetapkan oleh PBB,” ungkapnya.
Latar Belakang Sally Rooney
Sally Rooney, lahir pada 20 Februari 1991 di Castlebar, Irlandia, telah mencuri perhatian dunia sastra sejak debutnya dengan Conversations with Friends (2017). Latar belakang keluarganya—sang ayah bekerja di perusahaan telekomunikasi dan ibunya mengelola pusat seni—telah membentuk minatnya pada sastra sejak kecil. Setelah menempuh studi Sastra Inggris di Trinity College Dublin, Sally mulai menulis dengan serius.
Gaya tulisannya yang minimalis, dialog cerdas, serta kemampuan menggali psikologi karakter muda yang kompleks membuatnya unik. Sikap politik Sally, yang menekankan keadilan sosial dan solidaritas, tercermin kuat dalam karyanya. Bagi dia, sastra adalah medium moral, bukan sekadar estetika.
Sumber: https://www.tempo.co/teroka/profil-sally-rooney-penulis-yang-vokal-dukung-pembebasan-palestina-4951
Rekam Jejak Han Kang (Tempo.co)
TEMPO.CO, Jakarta - Penulis Han Kang memenangkan Hadiah Nobel dalam bidang sastra pada Kamis, 10 Oktober 2024. Ia menjadi orang Korea Selatan pertama yang menerima penghargaan tersebut.Akademi Swedia menganugerahkan penghargaan tersebut kepada perempuan berusia 53 tahun itu atas prosa puitisnya yang intens, menghadapi trauma sejarah dan menyingkap kerapuhan kehidupan manusia. Han Kang berhak atas Hadiah Nobel bernilai 11 juta mahkota Swedia atau 1,1 juta dolar AS."Dalam karyanya, Han Kang menghadapi trauma historis dan dalam setiap karyanya, ia mengungkap kerapuhan hidup manusia," kata Komite Nobel. "Ia memiliki kesadaran unik tentang hubungan antara tubuh dan jiwa, yang hidup dan yang mati, dan dengan gaya puitis dan eksperimental, ia telah menjadi inovator dalam prosa kontemporer."Han Kang tidak menyangka memenangkan Nobel Sastra 2024. Ia berharap pencapaian ini berdampak positif bagi kemajuan sastra di Korea. "Saya sangat terkejut dan benar-benar merasa terhormat," kata Han Kang, dalam wawancara telepon yang dibagikan oleh Akademi Swedia. "Saya tumbuh besar dengan sastra Korea, yang sangat dekat dengan saya. Jadi saya harap berita ini baik bagi para pembaca sastra Korea, dan teman-teman serta penulis saya."Profil Han KangHan Kang lahir pada 1970 di kota barat daya Gwangju sebagai putri dari novelis Han Seung Won. Dia kemudian pindah ke Seoul bersama keluarganya dan lulus dari Universitas Yonsei, mengambil jurusan bahasa dan sastra Korea.Setelah lulus kuliah pada 1993, ia memulai karier sastranya sebagai penyair dengan menerbitkan empat puisi dalam edisi musim dingin majalah sastra triwulanan "Literature and Society" sambil bekerja sebagai reporter untuk majalah budaya. Setahun berikutnya, Han Kang memulai debutnya sebagai novelis ketika cerita pendeknya "Red Anchor" memenangkan kontes sastra yang diselenggarakan oleh harian Seoul Shinmun.Han Kang telah menerbitkan berbagai buku novel, seperti "Yeosu," "The Fruit of My Woman," "Your Cold Hands," "Black Deer," "The Wind is Blowing" dan "Greek Lessons." Ia juga dikenal dengan karya-karya seperti "Aje aje bara-aje," "Chusa" dan "The Life of Dasan." Awal tahun ini, Han Kang menerbitkan sebuah novel otobiografi, berjudul "The Path of Humans."Selain novel, Han Kang juga terlibat dalam berbagai kegiatan sastra, termasuk puisi, fiksi, dan sastra anak-anak. Ia menerbitkan kumpulan puisi berjudul "I Put the Evening in the Drawer," hingga buku anak-anak, seperti "My Name is Sunflower" dan "Tear Box."
Namanya menjadi terkenal setelah memenangkan Penghargaan Man Booker International pada 2016 untuk "The Vegetarian." Cerita tersebut awalnya dimuat dalam majalah triwulanan "Creation and Criticism" pada 2004 dan diterbitkan sebagai buku di Korea tiga tahun kemudian.Sejak 2007 hingga 2018, Han Kang mengajar penulisan fiksi kepada para calon penulis di Institut Seni Seoul. Para mahasiswanya menggambarkannya sebagai seorang profesor yang memikat para mahasiswa dengan kepekaan dan karismanya.Salah satu karya terbaru Han Kang adalah "We Do Not Part" yang dirilis pada 2021, menggambarkan tragedi pembantaian warga sipil tahun 1948 di Pulau Jeju, Korea Selatan, dari sudut pandang tiga perempuan. Novel tersebut membuatnya memenangkan penghargaan Prix Medicis untuk sastra asing, salah satu dari empat penghargaan sastra utama di Prancis, tahun lalu dan Penghargaan Emile Guimet untuk Sastra Asia, juga penghargaan Prancis, pada Maret 2024.Han Kang Anak dari Novelis TerkenalAyah Han Kang adalah Han Seung Won, seorang penulis yang terkenal. Han Seung Won masih bekerja sebagai penulis yang cakap di usianya ke-85. Kakak Han Kang, Han Dong Rim, juga bekerja sebagai novelis.Han Seung Won ikut terkejut atas kemenangan putrinya sebagai peraih Nobel di bidang sastra. Mengenai gaya sastra putrinya, ia berkomentar bahwa Han Kang menggambarkan tragedi dengan cara yang sangat mendalam, indah, dan menyedihkan."Saya pikir dia telah dibicarakan sebagai seorang penulis dengan signifikansi khusus sejak 'The Vegetarian.' Kemudian muncul 'Human Acts,' diikuti oleh 'We Do Not Part.' Saat pemberontakan Gwangju dan Insiden 3 April saling terkait, ada semacam cinta untuk manusia rapuh yang merasakan trauma akibat kekerasan negara dan dunia. Saya pikir itulah yang dipilih para juri," kata Han Seung Won.Upacara penganugerahan Hadiah Nobel diadakan di Aula Konser Stockholm, Swedia setiap tanggal 10 Desember, hari peringatan kematian Alfred Nobel. Akademi Swedia mengakui pencapaian dalam bidang sastra, sains, kedokteran, ekonomi, dan perdamaian.
Sumber: https://www.tempo.co/teroka/rekam-jejak-han-kang-penulis-korea-selatan-pemenang-nobel-sastra-2024-50
Palestina adalah Puisi (Saras Dewi)
Palestina sebagai kumparan kesadaran adalah ingatan yang kelam tentang kekerasan, pengusiran, dan trauma antargenerasi. Palestina adalah kata yang memuat sejarah kekejian, ratapan kematian, dan penjajahan yang tidak berkesudahan. Palestina juga adalah harapan tentang tanah, bangsa, dan kemerdekaan.
Palestina dalam hati para sastrawan dan penyair adalah metafora yang getir. Itu yang disampaikan oleh Mahmoud Darwish, puisi-puisinya yang terinspirasi perjuangan rakyat Palestina, adalah soal tanah yang tidak terbatas pada bentangan bukit dengan pohon-pohon zaitun, tetapi tanah sebagai kerinduan mereka terhadap keluarga, rumah, dan kedamaian.
Palestina sebagai tanah tidak saja meliputi ruang hidup secara fisik, tetapi di khayalan para seniman, tanah itu adalah diri mereka, yang membentuk dunia kultural mereka. Darwish mengatakan, ”Aku menyadari bahwa tanah itu rapuh..; aku pelajari bahwa bahasa dan metafora tidak cukup mengembalikan tempat pada tempatnya. Tidak dapat mencari tempatku di bumi. Aku berusaha mencarinya dalam sejarah, tetapi sejarah tidak dapat direduksi sebagai kompensasi geografi yang hilang…”
Bagi Darwish, lamentasi kehilangan rumah dan bangsanya adalah kesedihan yang sulit diwakilkan oleh perubahan garis-garis batas wilayah yang tertera dalam peta dunia. Dihilangkannya Palestina, adalah penghapusan keberadaan diri, keterasingan yang selalu ia sebut dalam puisinya. Palestina adalah surga yang malang, dan kecintaan terhadap Palestina adalah cinta sejati kepada yang tidak sanggup dimiliki.
Alangkah sembilu saya pikir, sebab apa yang tidak diberitakan oleh media-media ketika tanah di Palestina diledakkan adalah untaian hidup antara seorang ibu kepada anaknya, seorang kakek kepada cucunya, atau pertalian keluarga dan komunitas dalam suatu pemukiman. Apa yang tampak di layar kaca maupun gawai kita adalah gambar tumpukan puing-puing, debu dan patahan kerangka, yang menimbun peristiwa hidup yang dahulu bahagia dan semarak.
Dunia melupakan Palestina dalam wajah kesehariannya. Diskursus yang diangkat terkait kekerasan yang tengah terjadi, berputar-putar pada kerumitan yang melingkupi diskursus geopolitik. Padahal, di balik itu orang-orang perlu melihat keseharian yang dilenyapkan dalam penjajahan Palestina. Keseharian ini tersimpan dalam karya-karya penting para sastrawan; Mahmoud Darwish, Ghassan Kanafi, Adania Shibli, Susan Abulhawa adalah sebagian penulis yang ingin mempertahankan narasi-narasi yang menyuarakan kehidupan warga Palestina dalam kesehariannya.
Keseharian inilah yang perlu terus dibicarakan. Selain karya sastra, kehidupan di Palestina dapat kita amati melalui karya-karya para sineas. Saya mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Jemaah Sinema Madani Film Festival bekerja sama dengan kampus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI yang menayangkan film-film pendek yang berkisah tentang Palestina. Film Maqloubeh (2012) karya Nicolas Damuni menceritakan tentang lima pemuda yang hidup di Ramallah, mereka memasak hidangan khas Palestina bernama Maqloubeh.
Film itu menyampaikan keadaan yang tragis, bagaimana warga Palestina harus hidup dengan rongrongan kontrol Pemerintah Israel. Normalisasi dan internalisasi kekerasan inilah yang disiratkan dalam film tersebut. Bagi orang-orang Palestina, hidangan ini lekat dengan perjuangan rakyat Palestina. Menikmati Maqloubeh bersama-sama menjadi simbol pembangkangan terhadap kekuasaan penjajahan.
Dukungan masyarakat dan Pemerintah Indonesia terhadap Palestina perlu dimaknai sebagai solidaritas yang melampaui golongan, agama maupun etnis. Begitu pula di mata global, sewajarnya pembebasan Palestina bukan saja tanggung jawab solidaritas dunia Arab, lebih besar dari itu, pembebasan Palestina adalah cita-cita humanitarian yang penting disokong oleh siapa pun.
Filsuf teori kritis dan jender, Judith Butler, menyatakan dengan tegas bahwa kekerasan yang terjadi di Gaza adalah genosida. Butler, seorang filsuf dengan akar ajaran dan budaya Yahudi, menulis dalam renungan filosofisnya yang berjudul ”Parting Ways, Jewishness and the Critique of Zionism”, ia menjelaskan bahwa etika Yahudi perlu dimaknai secara kritis, yang menolak opresi pengambilalihan tanah di Palestina pada tahun 1948, yang menyebabkan eksodus besar-besaran yang dikenal sebagai Nakba.
Samera Esmeir seorang periset dan pengajar di UC Berkley yang fokus pada sejarah politik, hukum, dan HAM di Timur Tengah, ia menulis esai yang menggugah dengan mendedah Palestina sebagai situs kolonialisme modern. Ia menganalisis pengertian tentang Nakba, yang dalam bahasa Arab berarti katastrofe, ia berargumen bahwa terpisahnya orang Palestina dengan tanahnya memengaruhi keseluruhan eksistensinya sebagai manusia.
Itu mengapa kata genosida ataupun penyingkiran etnis tidak memadai menggambarkan apa yang terjadi terhadap orang-orang Palestina, sebab yang terjadi tidak saja penghancuran secara fisik dan biologis, tetapi pembasmian dan pemusnahan ingatan dan sejarah Palestina. Esmeir menguraikan bahwa dengan lensa kritis kita dapat mencermati praktik kekerasan militer yang menyasar pemutusan orang Palestina dari tanahnya dengan cara; iqtila (mencerabut), tarhil (deportasi), tahjir (pengasingan), dan tashrid (pengusiran).
Saya kesulitan menutup tulisan ini, sebab kata-kata ini tidak akan pernah cukup menuturkan duka tapi sekaligus asa untuk Palestina. Beberapa tahun yang lalu saya pernah membaca esai karya seorang guru asal Palestina bernama Refaat Alareer dalam buku yang berjudul Gaza Unsilenced, ia bercerita dengan lirih tentang kerinduannya kepada adiknya yang bernama Hamada. Adiknya terbunuh oleh serangan bom pada tahun 2014, ia mengatakan bahwa Hamada adalah martir nomor 26 di keluarga besarnya.
Awal Desember ini saya membaca bahwa Alareer telah meninggal dunia disebabkan serangan udara yang menimpa wilayah Gaza, ia meninggal bersama 6 anggota keluarga lainnya. Ia meninggalkan dunia yang bengis ini dengan mewariskan sepenggal puisi, ”Jika aku harus mati, kau harus hidup untuk menceritakan kisahku..— Jika aku harus mati, biarkanlah ia membawa harapan, biarkanlah ia menjadi cerita.”
Sumber: https://www.kompas.id/baca/opini/2023/12/22/palestina-adalah-puisi
Seabad A.A. Navis dan Lapis Ideologinya (Raudal Tanjung Banua)
Puncak peringatan 100 tahun A.A. Navis secara internasional oleh UNESCO dilangsungkan di Paris (13/11). Di dalam negeri, dua bulan terakhir berbagai kegiatan terkait pun telah ditaja.
Navis figur kompleks dari ranah Minang yang mewarnai dunia kebudayaan tanah air. Ia dikenal ”sinis” atas puaknya sendiri. Lewat cime’eh (cemooh), ia sindir tradisi jumud sekalipun terkait adat dan agama. Gaya tulisannya kadang disamakan dengan pengarang Minang lain, M. Radjab: keras dan pedas. Hanya Radjab lebih sarkas, Navis tipikal Idrus yang satire.
Navis manusia lintas bidang. Ia merintis Dewan Kesenian, ikut mendirikan Fakultas Kedokteran Unand dan ASKI Padang Panjang, serta mengelola INS Kayu Tanam. Ia pelopor Gebu Minang dan mantan anggota DPRD Sumbar. Pernah pula jadi pimpinan redaksi Semangat.
Kosmopolitanisme ”Orang Daerah” Sosok lintas batas Navis tak lepas dari latarnya yang kosmopolit. Dalam otobiografinya, A.A. Navis: Satiris dan Suara Kritis dari Daerah (Yusra, 1994), vibes kosmopolitanisme kental di Kampung Jawa, Padang Panjang, tempat ia dilahirkan, 17 November 1924. Stasiun kereta api penghubung darek (pegunungan) dengan pesisir terletak di situ.
Di Kampung Jawa banyak tinggal orang Jawa, selain Bengkulu dan Palembang. Mereka bergaul setara. Maka jarang diketahui bahwa Navis bukan ”murni” berdarah Minang. Kakek buyut saya bernama Warido. Ia prajurit Jawa pasukan Sentot Alibasa –panglima perang Diponegoro yang dikirim Belanda ke Minangkabau memadamkan Perang Padri (1994: 10).
Salah seorang putra Warido adalah kakek Navis, R. Moerdiman, yang menikah dengan gadis Bengkulu, Mariyah. Dari perkawinan itu lahir ibu Navis, Sawiyah. Ayahnya, Nafis Sutan Marajo, pegawai Jawatan Kereta Api kelahiran Padang, asal Koto Anau, Solok.
Navis juga mencatat bahwa kelahirannya ditangani bidan asal Ambon bernama Makatita.
Detail asal-usul, silsilah hingga bidannya, memampangkan wajah Minang dari perspektif keberagaman. Hal yang kini terasa ironi: belakangan daerah ini terkesan homogen.
Navis secara sadar memilih jadi ”orang daerah” –selintas kontras dengan unsur kosmopolit. Pada era sentralistis, ini identik udik, marginal, tak menguntungkan. Tapi, ia asyik melakukan banyak hal di kampung.
Saat Bung Hatta ke Bukittinggi, anak sekolah menyambut dengan lagu yang lebih berupa persembahan kepada raja. Navis mengkritiknya. Saat kunjungan atase kebudayaan, digelar tari Minang diiringi lagu Latin dan alat musik Barat, hanya pakaiannya saja Minang. Ia protes atas ketidaktepatan lokalitas itu.
Sikap ini mengental secara ideologis, hal yang jarang dikaji. Padahal, faktor ekstrinsik –visi pengarang, masyarakat, dan zaman– perlu dilihat demi keutuhan makna seorang sastrawan. Seperti kata Gus Dur (1992), Navis tak hanya menyoal kaumnya, namun persoalan kemanusiaan yang dapat terjadi di mana pun. Mangunwijaya (1982) membuka kajiannya tentang sastra dan religiusitas merujuk sikap Navis yang mendahulukan ikhtiar kemanusiaan ketimbang ritual.
Ujian Ideologis
Meski tinggal di daerah, karya Navis menderas di media ibu kota dan pergaulannya meluas ke mana-mana. Jika Ali Sadikin proseniman DKI lewat kepiawaian Ajip Rosidi, Navis berbuat sama di Sumbar. Berkat kedekatannya dengan Widodo A.S., banyak kegiatan diadakan.
Ia bersahabat dengan Pram yang Lekra dan Jassin orang Manifes Kebudayaan. Tapi, ia punya sikap. Ia cenderung ke Manifes, tapi merasa kelompok ini kurang tanggap; ia berorientasi Islam, tapi gelisah melihat kejumudan nasib umat. Bila diringkas ideologinya: kemanusiaan.
Yakin akan ”kekenyalan” ideologinya, ia datang ke Konferensi Pengarang Asia Afrika (KPAA) besutan Lekra di Denpasar, 1963. Akibatnya, ia diserang banyak pihak sebagai komunis. Ia jadi kepikiran. Maklum, ia terkesan hadir secara naluriah, segan kepada Joebaar Ajoeb, Sekjen Lekra asal Bukittinggi. Ia baru sadar sepenuhnya berada di tengah orang komunis ketika konferensi dibuka Nyoto. Meski ia ketemu Mahbub Djunaidi (Lesbumi) atau Sitor (LKN) di sana.
Ada cerita menarik sepulang Navis dari Denpasar. Menjelang penutupan KPAA di Jogjakarta, ia sempat berdua dengan Pramoedya yang sedang marah besar. Sebab, saat acara di Denpasar, teks pidatonya diminta panitia untuk disensor. ”Omong kosong, munafik!” kata Pram.
Tergetar rasa yang sama dalam dirinya, yakni sebagai manusia bebas, Navis bisa menyimpulkan bahwa seandainya PKI berkuasa, Pram pun tak akan dipakai –kalau bukan dibunuh. Pram, menurut Navis, terlalu bebas, terlalu kritis, dan liberal bagi orang komunis.
Dari Jogja, Navis lanjut ke Bandung. Ramadhan K.H. dan Rustandi Kartakusumah mengajaknya keluar makan malam. Tapi, mereka bawa Navis ke rumah bordil dan ditinggal sendirian. Ia lalu kembali ke hotel. Saat itu ia menyadari kadar keimanannya sengaja diuji secara ”biologis”, yang bisa dibaca sebagai ujian ideologis!
Lolos dari ujian ideologis, rasa serbasalah menghantui Navis. Untunglah efeknya positif. Ia tulis novel Kemarau ber-setting Danau Maninjau. Novel itu kaya unsur hablum minannas dan hablum minalalam, nilai-nilai Islam yang kerap terkalahkan oleh hablum minallah.
Tapi, di situ justru lahir antitesis atas cerpennya, ”Datangnya dan Perginya” (1956). Dalam cerpen itu, ada sebuah keluarga bahagia menikah incest dan demi kemanusiaan, ayah-ibu mereka sengaja merahasiakannya. Dalam Kemarau (1957), motif itu dibalik: demi Tuhan, Malin Duano dan Iyah, membuka tabir bahwa Arni dan Masri menikah antara kakak dan adik.
Mungkin ada yang menganggap ini keguncangan ideologis. Tapi, bagi saya, itu cara Navis memperkokoh posisi ideologinya yang berlapis. Atau itu sekadar kegugupan ”orang daerah” yang kerap jadi mainan ”orang pusat” –mungkin sampai saat ini? Saya rasa tidak. Navis yang kosmopolit telah teruji dan ia tangkas unjuk gigi: ia hadapi semua secara produktif.
Unsur ideologis terbukti jadi roh penggerak dan stabilisator seorang sastrawan. Inilah warisan penting Engku Navis yang mendesak diinternalisasikan sekarang. (*)
Puncak peringatan 100 tahun A.A. Navis secara internasional oleh UNESCO dilangsungkan di Paris (13/11).
Perempuan dan Penanya (Anindita S Thayf)
”Dia yang memegang pena adalah dia yang menulis sejarah,” ajar seorang penulis terkenal, Willy, kepada istrinya, di awal masa perkenalan perempuan itu pada dunia literasi. Siapa sangka, puluhan tahun kemudian, nama sang istri benar tercatat dalam sejarah kesusastraan Perancis mengalahkan Willy.
Sidonie-Gabrielle Colette adalah salah satu penulis perempuan yang paling berpengaruh dalam kesusastraan Perancis. Sebagai perempuan yang mulai berkarya jelang akhir abad XIX, tidak mudah baginya memasuki dunia sastra yang patriarkal. Tekanan dan cemooh sudah menerpanya sejak dari rumah.
Oleh sang suami, novel serial karya perdana Colette diterbitkan atas nama lelaki itu. Mereka pun bercerai. Patah arang sebagai penulis, Colette menemukan tempat di atas panggung pantomim, tetapi ternyata itu tidak membuatnya merasa lebih hidup. Akhirnya, Colette kembali memegang pena dan menyadari bahwa lewat menulis dia menemukan kembali suara dan kekuatannya.
Daya cipta dan kesempatan
Pada hari ini, siapa pun bisa memegang pena dan menulis. Baik laki-laki maupun perempuan sudah bisa menjadi penulis. Sebagaimana halnya seniman, penulis adalah dia yang mampu memberdayakan dirinya untuk menciptakan sesuatu: sebuah karya. Dengan daya ciptanya yang tinggi, seorang penulis diyakini akan sanggup menghasilkan karya yang berkualitas (tinggi) pula.
Berdasarkan keyakinan tersebut dan didorong semangat emansipasi, orang-orang lantas membuat penyamarataan bahwa karya yang bagus tidak mengenal jender. Ia bisa dihasilkan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Orang-orang itu mengabaikan apa yang terjadi selama proses kreatif seorang penulis.
Mereka menganggap daya cipta adalah, meminjam istilah Simone de Beauvoir, sejenis pelepasan yang alamiah. Padahal, seorang penulis yang menghasilkan sebuah karya tidak sama dengan seekor sapi yang menghasilkan susu. Padahal juga, bahkan sapi pun mesti diberi kesempatan untuk mempersiapkan kondisinya sebelum pemerahan agar mampu memberikan hasil yang sesuai harapan.
Daya cipta adalah sebuah proses yang tidak sederhana. Ia begitu kompleks sebab tidak hanya melibatkan si pemilik diri, tetapi juga orang-orang di sekitarnya dan lingkungannya. Itulah mengapa, memiliki sebuah pena, mesin tik, atau komputer, dengan sepaket imajinasi dan keberaksaraan, tidak serta-merta bisa membuat seseorang menjadi penulis. Dia membutuhkan lebih daripada itu.
Sebelum menulis, seorang penulis mesti bersiap terlebih dahulu. Dia harus memiliki seluruh dirinya dan waktu yang banyak sebelum duduk di belakang meja. Adapun untuk menghasilkan sebuah karya, apalagi yang bagus dan berkualitas, dia sangat membutuhkan dukungan. Namun, apa yang terjadi jika penulis yang memegang pena itu seorang perempuan?
Masyarakat modern memang telah mengizinkan perempuan memegang pena. Para ayah, suami, kekasih, laki-laki telah membolehkan perempuan menjadi penulis. Sekilas, keadaan seolah sudah berubah. Masalah kesetaraan jender seakan berhasil diatasi dan kini semua baik-baik saja. Kondisi ini memang tetap akan baik-baik saja selama perempuan yang menulis itu tetap mematuhi syarat dan ketentuan yang diberlakukan dunia patriarki untuknya.
Oleh masyarakat, perempuan yang menulis dituntut untuk tidak mengabaikan tugas-tugas domestiknya. Sebagai pekerjaan yang dilakukan dari rumah, masyarakat lebih suka memandang menulis serupa menjahit atau memasak. Sesuatu yang bisa dilakukan sambil mengurus rumah dan keluarga.
Mereka lebih suka pula melihat kegiatan menulis lebih sebagai kegiatan pemberdayaan perempuan untuk mengisi waktu dan mendapatkan tambahan penghasilan. Dalam kondisi seperti ini, mungkinkah seorang penulis perempuan dapat selalu memaksimalkan daya ciptanya demi menghasilkan karya berkualitas?
Seorang penulis perempuan tidak akan bisa meniru Kazuo Ishiguro yang boleh memiliki dirinya seutuhnya di sepanjang waktu saat sedang menulis atau mengikuti jejak Budi Dharma yang sengaja berhibernasi berhari-hari untuk menulis Olenka. Dia yang berani melakukan itu mesti langsung dicap perempuan pemalas atau semacamnya.
Setiap penulis perempuan memiliki beban yang diletakkan masyarakat di atas punggungnya. Ini membuatnya tidak bisa melompat terlalu tinggi, bahkan memiliki dirinya sendiri. Sebab, dalam bingkai patriarkal, perempuan adalah milik keluarganya. Di bawah keterkungkungan ini, seberapa besarkah kemungkinan lahirnya kesempatan bagi penulis perempuan untuk menghasilkan karya yang bagus?
Suara perempuan
Laki-laki percaya kondisi perempuan adalah sesuatu yang berhubungan dengan kodratnya. Keyakinan yang berusaha terus dipertahankan ini bersumber dari ketakutan laki-laki atas perempuan. Sebagai liyan, laki-laki hanya ingin melihat perempuan dalam sosok yang sesuai keinginan dan kepentingannya. Mulailah laki-laki mendikte perempuan. Untungnya, perempuan akhirnya mengenal dunia tulis menulis. Lewat menulis, perempuan menemukan kekuatan sekaligus suaranya.
Laki-laki memilih untuk percaya bahwa ketika perempuan diam, itu pertanda semua baik-baik saja. Maka ketika perempuan mulai bersuara, entah lisan atau tulisan, buru-buru laki-laki membungkamnya dengan satu tujuan: mengembalikan perempuan pada ”tempatnya” yang baik-baik saja.
Jadilah perempuan yang menyuarakan masalahnya disindir terlalu baper. Perempuan yang menuntut haknya disebut pencari masalah yang tidak kenal puas. Perempuan yang bersuara keras lekas-lekas diingatkan pada kodratnya. Semua perlakuan itu membuktikan betapa takutnya laki-laki pada perempuan yang telah menemukan suara dan kekuatannya.
Namun, sistem patriarkal tidak semudah itu dirobohkan. Perempuan yang berusaha memberontak melalui tulisannya seringkali terperangkap. Karya si penulis perempuan malah ikut melanggengkan apa yang hendak ditentangnya. Hal ini bisa dilihat dari sejumlah karya sastra yang hadir akhir-akhir ini. Beberapa penulis perempuan berupaya keras menaikkan derajat kaumnya, tetapi malah berujung ironis karena menggunakan cara-cara maskulin.
Yang sering terjadi adalah seorang tokoh perempuan diberi kehormatan sebagai subyek. Dengan kekuatannya, dia lantas mendominasi dunia fiktifnya dan segala aspek cerita, termasuk adegan-adegan seks. Ketika karya tersebut sampai ke tangan pembaca, jejak perjuangan si penulis perempuan menjadi tak berbekas seiring tokoh perempuannya kembali menjadi obyek di mata pembaca laki-laki.
Berbeda dari laki-laki yang menulis demi memenuhi obsesinya, perempuan menulis untuk memperjuangkan posisinya. Pada titik inilah perempuan kerap tergelincir dan terjatuh hanya karena perjuangan tersebut tampak begitu absurd. Di sisi lain, kejatuhannya ditunggu banyak orang yang selalu memaksanya mengalah lewat sindiran, makian, atau kata-kata menjatuhkan lainnya.
Bagaimanapun penulis perempuan bukan penulis laki-laki. Hanya ada sedikit tangan yang sudi membantunya tetap berdiri dan lebih sedikit kesempatan yang diberikan kepadanya untuk membuktikan diri. Pada akhirnya, satu-satunya jalan yang tersedia bagi penulis perempuan adalah percaya pada kekuatannya sendiri. Untuk tetap berjuang. Untuk terus menulis.
(Anindita S Thayf, Novelis dan Esais)
Sumber: https://www.kompas.id/baca/opini/2020/10/29/perempuan-dan-penanya
membuka tumblr kembali
Ingat kembali punya akun tumblr ketika memasuki hlm. 84 buku Rin Usami.
Lapis Realitas Penyair Kini (Tanggapan atas Hasan Aspahani dan Binhad Nurrohmat) [Kompas, 5 Sept 2021]
Walau puisi itu sebuah dunia rekaan, namun pada dasarnya tidak berjarak dari keseharian. Imajinasi yang utuh dalam puisi tersusun dari aneka serpihan pengalaman, remah angan, dan juga pengharapan.
Jauh sebelum masa pandemi, di halaman budaya Kompas Minggu ini saya menulis sebuah esai bertajuk ”Ilusi Globalisasi, Mantra Visual dan Mimikri yang Mengelabui” (2009), mengungkapkan bahwa kemajuan dunia audiovisual di era digital memang tak selamanya menjadi rahmat. Melekat dalam media-media modern itu sebentuk kecanggihan yang penuh godaan manipulasi; melalui ketajaman mata kamera dan seperangkat teknologi di studio, sebuah peristiwa nyata bisa dikemas sedemikian rupa sehingga hadir lebih estetis, lebih imajinatif dari realitas yang sebenarnya.
Kehadiran teknologi informasi memicu perubahan segala lini. Dan gawai adalah keniscayaan tak terelakkan; secara serentak dan seketika dapat menghubungkan manusia dari belahan bumi mana pun melalui streaming ataupun suguhan peristiwa secara daring—mengubah konsep ruang dan waktu; disadari atau tidak, menghadirkan realitas baru; sebentuk realitas virtual.
Seturut itu, Covid-19 merundung masyarakat, berikut penerapan social distancing (pembatasan sosial) dan kewajiban prokes (prosedur kesehatan). Tidakkah hakikatnya pandemi sejagat ini kian menegaskan keberadaan realitas virtual, selain realitas senyatanya yang kasatmata dan realitas imajiner (dunia imajinasi pemicu kreativitas). Pada galibnya, realitas virtual bukanlah tiruan keduanya.
Dunia rekaan virtual yang bahkan lebih nyata dari kenyataan menampilkan sebuah rekayasa audiovisual yang kerap bersifat ’manipulatif’, mengaburkan batas yang fiksional dan yang faktual. Penyedia layanan aplikasi berlomba-lomba menawarkan ’dunia fantasia’ tak terbayangkan kepada para pengguna media sosial. Misalnya, seseorang kini bisa berduet nyanyi dengan siapa saja melalui gawai lalu ditonton jutaan orang. Dengan mudahnya siapa saja bersalin rupa menjadi tua atau muda, perempuan menjelma laki-laki atau sebaliknya; menyerupai aktor/aktris idamannya. Bahkan dapat menghapus serta mengganti latar belakang foto, berikut hal menakjubkan lainnya.
Pada dunia simulacra kini yang menghamba digitalisasi ini, bagaimanakah kehidupan kreatif kesenian, khususnya susastra, apakah mengalami dinamisasi atau stagnasi? Pada esainya di Kompas Minggu (8/8/2021), Hasan Aspahani mempersoalkan perihal belum mengemukanya inovator dalam ekosistem kesusastraan, utamanya karya puisi. Tulisannya menyiratkan nada prihatin sesuai seruan tajuknya, ”Wahai, Para Inovator Sastra, di Manakah Kalian?
”Binhad Nurrohmat, dalam tanggapannya (Kompas Minggu, 22/8/2021) ”Fundamentalisme Puisi”, juga menyoal ada atau tidaknya serta bagaimana reka-baru (innovation) dalam dunia susastra, seraya mengungkapkan bahwa konteks reka-baru puisi pada masa ini berbeda dengan masa lain, misalnya zaman Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Diungkap pula sejauh mana peran pihak legitimator sebagaimana HB Jassin dalam meneguhkan sosok-sosok sastrawan atau penyair ’terpilih’ itu untuk ditahbiskan menjadi ikon-ikon zaman.
***
Di sisi susastra, realitas virtual yang membanjiri keseharian kita dengan labirin kenyataan (melampaui rasa, nalar, dan imajinasi); pada hakikatnya menohokkan tuntutan tentang kebutuhan akan suatu bahasa ungkap baru yang lahir dari suatu cara pandang baru pula. Banyak nilai yang harus dikaji ulang; segala yang dulu dipandang baku dan memuaskan, kini tak kuasa memenuhi hasrat pencaharian akan kesejatian ”kebenaran”. Bahkan, dalam peristiwa bahasa pun, yang dulu terbaca mencekam, kini boleh jadi terbaca datar dan wajar saja.
Perubahan cara pandang itu hanya mungkin diraih apabila telah rekah kesadaran baru betapa berlapisnya realitas yang dihadapi hari ini. Upaya pencarian dan pembaruan itu tidak cukup hanya dengan mengedepankan inovasi (reka-baru) sebatas penggalian stilistik, estetik, ataupun ragam tematik, melainkan menyarankan pentingnya paradigma baru.
Percepatan perubahan yang dipicu laju kemajuan teknologi informasi itu mendorong terjadinya ’chaostic sosial kultural’, di mana identitas diri tertransformasikan menuju sebuah wilayah sosial kultural yang tak berjuntrung atau tak jelas arahnya, bahkan tak tertutup kemungkinan banyak pribadi teralienasi, kehilangan sikap kritis dan terbawa dalam beragam bentuk amnesia sosial. Tampilan audiovisual dalam gawai bersifat ritmis dan sugestif, lambat laun ’menyulap’ pemirsa, dari sang subyek yang merdeka berubah menjadi obyek yang tersandera; melahirkan masyarakat yang kian obsesif dan delutif.
Rekahnya kesadaran baru itu didasari kenyataan sekaligus pertanyaan, tentang bagaimana rasa kemanusiaan bekerja dalam diri manusia di era digital ini. Ketika peristiwa kematian belum luas ditayangkan dan diviralkan di media sosial, sebuah esai Czeslaw Milosz, pemenang Nobel dari Polandia, yang mengisahkan bagaimana ia menyaksikan seorang gadis remaja Yahudi yang tewas ditembak tentara Nazi, terasa dramatis. Akan tetapi, boleh jadi kini tulisan tersebut, jika dibaca ulang, tak sepenuhnya seberpengaruh dulu. Atau malahan menimbulkan sensasi rasa yang tak jauh beda dengan ketika pemirsa ”menikmati” tayangan kekerasan yang setiap hari hadir di televisi atau aneka kanal media sosial.
Demikian pula halnya puisi Catetan Th. 1946 atau Kerawang-Bekasi karya Chairil Anwar, atau sajak-sajak pamflet WS Rendra, dan sejumlah puisi penyair kanon lainnya, boleh jadi hadir menyapa khalayak luas era realitas virtual ini dengan sentuhan cita rasa yang tidak sedalam sebagaimana dihayati masyarakat pada era-era sebelumnya.
Tertaut hal ini, walau puisi itu sebuah dunia rekaan, namun pada dasarnya tidak berjarak dari keseharian. Imajinasi yang utuh dalam puisi tersusun dari aneka serpihan pengalaman, remah angan dan juga pengharapan—bagian tak terpisahkan dari cara kita bersikap menghayati hidup dan keseharian. Puisi adalah dunia yang kompleks, bukan rumit akibat kerancuan berbahasa ataupun bernalar dalam menghayati lapis demi lapis kenyataan. Sang ”aku” dalam sajak tak pelak masih memiliki kemerdekaan, tetapi tipisnya batas antara ruang publik dan ruang pribadi menyulitkan siapa pun untuk menjadi sosok individual yang sepenuhnya soliter.
Penyair yang tanggap, dengan kesadaran dan cara pandang baru atas realitas kini yang berlapis itu, barulah terbuka kemungkinan kreatifnya untuk menciptakan karya-karya yang tidak semata dipicu oleh pengalaman berbahasa (intrisik), melainkan juga oleh sensitivitasnya akan suatu percepatan perubahan yang terjadi di dalam lingkungan sosial-globalnya (ekstrinsik). Melalui bahasa puisinya yang otentik, berkarakter, serta universal berupaya mengungkapkan renungannya secara sistematis melalui sarana artistik serta intelektual dalam suatu dialektika di mana ’sang aku’ adalah cerminan masyarakat, pelaku yang sesungguhnya yang mengalami dan menghayati perubahan.
Warih Wisatsana
Penyair dan kurator
Fundamentalisme Puisi (Tanggapan atas Hasan Aspahani) [ Kompas, 22 Agustus 2021]
Puisi yang baru ditulis tentu tak niscaya menjadi puisi berkadar reka-baru. Para penelaah yang bersuaralah yang akan ”merilis” reka-baru puisi sehingga eksis dalam ruang pengetahuan publik atau membatalkannya.
Ada yang ideologis setiap kali orang menanggapi dan menilai puisi. Ideologi di sini adalah sesuatu yang menghubungkan dan memberi kita orientasi dalam memandang dunia. Dari sudut pandang ideologi pula akan bertolak dan berlandas penilaian ihwal ada atau tidaknya serta bagaimana reka-baru (innovation) puisi yang semestinya.
Ajaran-ajaran kaum penelaah puisi yang berpengaruh telah menularkan formula-fornula reka-baru puisi modern kita. HB Jassin membaiat Chairil Anwar sebagai pelopor ”Angkatan ’45” dari abad kemarin. Ada pengaruh situasi historis dan biografis yang turut menginfiltrasi opini Jassin, misalnya latar pendudukan fasisme Jepang dan kecamuk Perang Dunia II. Faktor situasi historis inilah yang membuat larik puisi ”aku ini binatang jalang” bergema pada masa itu ketimbang ”duka maha tuan bertahta”.
Nirwan Dewanto pada abad berikutnya menampik opini Jassin itu dengan kontra opini bahwa Chairil adalah pelanjut tradisi perpuisian sebelumnya—bukan pelopor. Lebih ekstrem Nirwan menilai bahwa bentuk klasik, misalnya kuatrin, menjadi bentuk puisi Chairil yang terbaik. Nirwan meminggirkan tetek-bengek latar sejarah atau ruang hayat yang mengitari dan membentuk Chairil kecuali urusanliteratur khazanah puisi dunia yang dibaca Chairil—seolah Chairil makhluk yang kedap-sejarah dalam berkarya.
Konteks reka-baru puisi pada masa ini berbeda dalam banyak hal dengan konteks masa lain, misalnya zaman Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Puisi sebagai karya manusia tak akan lolos dari pengaruh zamannya. Bagaimana cara memandang puisi akan berubah pula dari zaman ke zaman. Apakah sama pandangan puisi Amir Hamzah, Chairil Anwar, dan Sutardji Calzoum Bachri meski masa berkarya mereka dalam lingkup abad yang tak berbeda?
Reka-baru puisi dipandang ada sejauh adanya pihak legitimatornya yang berpengaruh kuat. Tanpa legitimasi Jassin, sejarah perpuisian Amir Hamzah dan Chairil Anwar tak akan seperti yang kita pahami saat ini yang menempatkan mereka sebagai ikon-ikon besar puisi terdepan dari abad lampau. Ada keberuntungan sejarah yang terlibat dalam kehadiran kepenyairan mereka yaitu peran legitimator ”Sang Paus Sastra” HB Jassin.
Lalu apa sebenarnya reka-baru puisi itu? Mudahnya adalah sesuatu yang signifikan dalam penulisan puisi yang belum ada sebelumnya. Apa yang dimaksud sesuatu yang signifikan itu tergantung sudut pandang atau ideologi yang memandang dan pada akhirnya ditentukan oleh sejarah pertarungan wacana tentang reka-baru puisi.
Puisi yang baru ditulis tentu tak niscaya menjadi puisi berkadar reka-baru. Para penelaah yang bersuaralah yang akan ”merilis” reka-baru puisi sehingga eksis dalam ruang pengetahuan publik atau membatalkannya. Ada kerja ”goreng-menggoreng” di sini dan gejala ini biasa disebut sebagai ”politik sastra”.
***
Fundamentalisme puisi, hal-hal yang diyakini sebagai dasar bagi puisi sehingga bisa dinilai bagus atau unggul, menjadi acuan yang paradoks. Dan, melalui inilah reka-baru puisi lazim ditimbang kadarnya.
Reka-baru akan dihadap-hadapkan dengan konvensi, dengan hal-hal yang diyakini fundamental dalam puisi.Reka-baru pada mulanya adalah eksperimen, upaya menempuh langkah signifikan yang belum ada sebelumnya, yang bisa berhasil atau sebaliknya. Reka-baru adalah menempuh sejenis risiko dan juga beradu ”peruntungan”. Jika para penelaah puisi antusias menyambutnya, akan beruntunglah reka-baru itu. Kalau penelaah puisi diam, bersiaplah dengan kesenyapan.
Gejala puisi Joko Pinurbo yang karikatural, penuh satir yang cerdas, kenapa diapresiasi dengan sangat antusias oleh penelaah dan publik puisi? Apakah yang karikatural merupakan hal fundamental dalam puisi? Apakah yang karikatural merupakan faktor yang membuat puisi bisa disebut punya kadar reka-baru? Lalu, ”puisi video”—bukan video puisi—karya Afrizal Malna masih bisa ataukah mesti dinilai melalui acuan-acuan yang dianggap fundamental dalam puisi? Kenapa penelaah melewatkan ”puisi video” Afrizal Malna hingga saat ini? Apakah karya Afrizal kali ini kurang beruntung atau dipandang tak punya kadar reka-baru?
Apakah buku-buku puisi yang diganjar penghargaan atau menang sayembara dalam dua dekade terakhir tak memberikan kadar reka-baru? Jika tidak, kenapa karya-karya itu menerima penghargaan dan memenangi sayembara?
*
Bertubi-tubi pertanyaan di atas ada asal-usul kehadirannya. Limpahan karya sastra, khususnya puisi, tak diimbangi kehadiran kritik sastra sehingga tak ada penilaian yang representatif dan situasi ini dijadikan dasar bahwa karya sastra dipandang tanpa kadar reka-baru. Apakah tiadanya kritik sastra berarti indikator tiadanya reka-baru dari ruahan karya sastra saat ini?
Seruan Hassan Aspahani di koran ini (8/8) yang menyoal krisis ”inovator sastra”, ketiadaan reka-baru sastra. yang dikaitkan dengan dokumen ”rujukan puisi” terdahulu yang sukar diperoleh secara memadai dan kenyamanan para sastrawan menempuh konvensi persajakan umum sebagai biang keladinya sebenarnya kurang bisa dipertanggungjawabkan obyektivitasnya.
Semestinya yang perlu ditinjau adalah minimnya kiprah kritik sastra di tengah melimpahnya karya-karya sastra saat ini. Jika belum ada telaah atau kritik terhadap karya-karya sastra saat ini yang cukup memadai, bahan apa yang dijadikan pijakan tuduhan adanya krisis reka-baru sastra saat ini? Jangan-jangan seruan Hassan itu berasal dari anutan fundamentalisme puisi yang dipaksakan ditempuh oleh para sastrawan saat ini?
Binhad Nurrohmat, Penyair; mukim di Rejoso, Jombang
Sumber: https://www.kompas.id/baca/sastra/2021/08/22/fundamentalisme-puisi-tanggapan-atas-hasan-aspahani
Wahai, Para Inovator Sastra, di Manakah Kalian? [dari kompas.id | 8 Agustus 2021]
Ucapan Endo Suanda, etnomusikolog, pakar arsip musik dan seni tradisi dalam diskusi tentang preservasi seni yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Selasa, 29 Juni 2021 lalu, memantik saya untuk menarik isunya ke dunia sastra.
Beliau pada pernyataan penutup diskusi mengatakan, buku adalah benda mati yang hanya akan hidup kalau dibaca, arsip tak ada artinya apabila tidak dikaji untuk menghasilkan pengetahuan baru. Beliau tampak mengatakan itu dengan geram dan cemas. Kesadaran kita untuk merawat arsip memang rendah, apatah lagi menghidupkannya dan mengembangkan pengetahuan dari situ. Hal itu terjadi di semua bidang, sastra, dan puisi tak terkecualikan.
Puisi adalah sebuah wilayah, atau sebuah daerah, kata Jassin. Penyair berada di sana, meniup tifanya, menyuarakan sajaknya. Wilayah puisi itu tidak mati, ia hidup, berkembang, menghidupi, dan dihidupi oleh penyair-penyair yang datang dan pergi. Di wilayah itu tradisi sastra dibentuk dan dihidupkan, dengan segala jejak pencapaian.
Setiap penyair yang memasuki lalu berada di daerah itu menghadapi ketegangan antara konvensi pencapaian yang tertradisikan dan kesempatan berinovasi menawarkan pembaruan yang bisa ia bayangkan untuk ditawarkan, hal apa yang disebut Teeuw pada 1980 ketika membahas beberapa puisi penyair kita, terutama ketika ia mengulas Sutardji. Setiap penyair yang masuk ke daerah itu sadar atau tidak, ia terlibat dan terbawa arus sejarahnya.
Seorang penyair terseleksi atas pilihannya dan keberaniannya ketika mengatasi ketegangan itu dan tentu saja seberapa berlimpah energi kreatif, bakat, kecerdasan, dan kesungguhan dalam dirinya. Ketegangan itulah yang membuat daerah puisi menjadi hidup, dinamis, bergerak, meluas, dan berkembang. Terciptalah apa yang oleh Jacob Sumardjo sebagai topografi: sastra pop, sastra konvensional atau mainstream, dan sastra avant garde.
Sastra yang sehat adalah ekosistem yang merawat semua yang berada dalam dirinya, yang pop, yang konvensional, juga yang avant garde. Penyair bisa saja bergerak, melompat, berpindah di semua ketinggian topografi itu. Kita ingat Motinggo Busye untuk kasus ini.
Sepanjang bisa kita baca, sejarah puisi kita melahirkan para penyair yang menaklukkan konvensi (bukan menolak atau mengingkarinya) dan dengan kuat menawarkan inovasi. Di ranah prosa, kita bisa melihat bagaimana pengaruh inovasi Armijn Pane, Idrus, dan Iwan Simaptupang, misalnya, berhasil mendobrak dan membuka kemungkinan perkembangan tradisi baru.
Di daerah puisi, kita punya Amir Hamzah, Chairil, Sutardji, Afrizal, dan Jokpin, sekadar mengingat beberapa nama yang kerap disebut ketika kita bicara soal keberhasilan mendobrak konvensi, memperluas daerah penjelajahan puisi, membuka gerbang kemungkinan baru, dan menempatkan diri dan puisinya di gigir avant garde, dalam hal bentuk dan tema.
Penyair hidup dan bernapas dalam konvensi itu. Ia merawat tradisi, tapi harus juga ia lakukan bagaimana ia bisa menaklukkannya, bukan tunduk atau takluk pada kejumudannya. Sajak Chairil yang paling matang dari sisi isi ditulis dalam bentuk kwatrin yang rapi, bukan dalam bentuk sajak bebas. Kwatrin adalah konvensi klasik dalam bentuk.
Konvensi adalah zona nyaman, yang menyinambungkan kehidupan puisi kita, tapi harus diingatkan kita tak boleh terjebak di situ. Kita melihat para penyair berkerumun di sana agar tetap dianggap hadir. Dengan konvensi, mereka memenuhi undangan menerbitkan antologi bersama, dengan mengikut konvensi ia berharap bukunya dilirik penerbit.
Di situlah perlunya para pendobrak, para pembaru, untuk mengganggu keterlenaan perpuisian kita, dan mengusik kenyamanan para penyair yang girang ketawa-ketawa sambil memeluk konvensi persajakan umum.
Kita merindukan dan memerlukan banyak penyair yang dengan gagah mengambil risiko menjadi inovator, mendobrak konvensi, bereksperimen, dengan segala risiko yang kerap tak nyaman. Risiko itu adalah: ia dengan serta-merta disambut tepuk tangan dan dielu-elukan, atau hasil kerjanya tak terpahami, eksperimennya tertolak dan hanya dianggap kenes, lalu ia kelelahan, kehabisan energi kreatif, lalu berhenti dan kembali ke konvensi.
Di situlah pula kita bisa merasa cemas. Kita kekurangan para inovator. Atau bahkan yang kita hadapi adalah ketiadaan. Penyair muda, juga mereka yang sudah matang dengan pengalaman, seperti tak merasa perlu menyadari adanya ketegangan itu. Asyik berkubang saja di wilayah konvensi, jadilah puisi kita seakan menggenang saja, tak mengalir ke mana-mana.
Pada puisi, seni puisi, sebagai mana seni lain, kreativitas adalah mesin, adalah motor penggerak kemajuan. Juga padanya segalanya dipertaruhkan. Seorang inovator berada di garis itu. Sejarah puisi kita akan berisi bahan-bahan catatan yang kaya dan menarik apabila para penyairnya serentak, sendiri-sendiri dan bersama-sama menyinambungkan apa yang telah ada, mengulang hal-hal baik, mengembangkan yang belum maksimal dan masih mungkin dimajukan, dan terutama mengubah ke arah kemungkinan-kemungkinan baru.
Dan, itulah persoalannnya: pengarsipan hasil karya sastra kita jauh dari lengkap, jika tidak ingin dibilang buruk. Ada upaya-upaya pribadi yang harus diberi salut, tapi ketika bicara soal kesadaran untuk memanfaatkannya kita harus berpikir bagaimana membangun sistemnya.
Padahal, itulah bahan utama yang harus dirujuk dan diolah apabila seorang penyair hari ini ingin membangun fondasi persajakan yang kuat dan memperkuat tradisi perpuisian kita, juga apabila ingin mendobrak dengan inovasi baru. Ditambah lagi godaan untuk berkreasi nyaman di jalur konvensinoal—bahkan ngepop—terlalu besar. Sastra kita, dipenuhi orang yang berkreasi setengah hati—memakai istilah Budi Darma—dan kita memang kekurangan para inovator.
Wahai, para inovator sastra, di manakah kalian?
Hasan Aspahani, menerbitkan majalah Mata Puisi, mengelola situs www.haripuisicom, dan Ketua Komite Sastra DKJ 2020-2023.
Sumber: https://www.kompas.id/baca/opini/2021/08/08/wahai-para-inovator-sastra-di-manakah-kalian
It's my 1 year anniversary on Tumblr 🥳
Buku Karya Peserta Workshop Menulis Cerpen bersama Dian Hartati
Asal Mula Berita Pertemanan Penyair Jawa Barat
Sempat kaget baca tautan ini:
https://www.detik.com/jabar/berita/d-6690978/5-penyair-asal-jawa-barat-yang-mengkilap-di-dunia-sastra-indonesia
ternyata asal mula informasi dalam berita itu dari tautan berikut.
Jendela Sastra, media sastra Indonesia.
Yang Perlu Berlari: Semacam Tafsir [Dian Hartati]
Pelarian seorang perempuan bukanlah upaya meninggalkan realitas. Sebuah peristiwa yang pastinya dipikirkan matang-matang dengan menyadari segala konsekuensi. Pergi dan melepaskan apa yang membebat pikiran perlu dilakukan untuk sampai pada perenungan, mencari peluang, dan kembali ke awal. Bahkan pelarian bisa sampai pada proses penyucian diri, /membiarkan tubuhnya pecah oleh ombak/ menjadi buih/ memutih/.
Kapankah seorang memutuskan untuk bersembunyi atau kembali pulang? Beragam jawaban tentu saja akan didapatkan. Ada yang pergi setelah mendapatkan berita-berita kehilangan; ada yang kembali setelah digempur angan-angan. Hari-hari yang dipenuhi pemberitaan pandemi memunculkan harapan-harapan tentang dunia yang lebih sehat. Siapa pun akan berstrategi menghadapi ketidakpastian, termasuk memohon, /Izinkan tetap hidup penuh kebebasan/. Pertanyaan besar seperti, /Kapankah belenggu pandemi ini berakhir. Tuhan?/ menjadi bagian keseharian yang tak bisa dibiarkan begitu saja. Upaya melindungi keluarga menjadi keharusan dan dilakukan, misalnya mendoakan, /Do'aku selalu menyertaimu! Di setiap waktu... Sehat, sukses, harapanku/ Semoga dan semoga/, atau mengingatkan protokol kesehatan.
Jika sedang berada di dalam rumah, ke arah mana perempuan harus berlari? Jeda dibutuhkan untuk tahu: waktu perputar. Diam. Dengarkan token listrik yang berbunyi. Heningkah? Tidak ada yang benar-benar berhenti sampai menyadari, /kami melewati toko pakaian, rumah makan/ bioskop, toko es krim, dan toko mainan/, rumah adalah simbol kepulangan, bagi pelari yang tidak menemukan tempat sembunyi. Pertanyaan dalam kalimat pertama paragraf ini belum terjawab.
Atau sebenarnya tidak perlu ada peristiwa pelarian? Terima saja yang ada, mengalir lalu hikmati. Seperti keikhlasan seorang ibu, /Anakku.../ Bukalah matamu/ /Rentangkan sayapmu/ Terbanglah! Tapaki mega-mega biru/ Tuk gapai asamu/. Kerelaan dan kegundahan akan terus hadir mewarnal pesona hari. Kematangan berpikir akan dilalui seseorang. Jadi, wajar saja jika ingin jeda. Bernapas dengan lapang, menghitung langkah, atau mengatur mimpi.
Katanya kehidupan utopia akan diselingi fragmen distopia. Surti yang merindukan surga, /Kini aku ingin pergi/ tak ingin kembali menanti janji-janji/ di bawah lampu-lampu mercuri/ menjual harga diri/ ah... persetan dengan pundi pundi!/, namun terjebak pada jelaga kehidupan. Siapa yang mau membersamai Surti? Kita, atau siapa lagi. Hitam putih kehidupan seringkali dicemburui oleh warna abu-abu, pela- belan baik dan buruk tersaingi pihak netral. Perempuan harus memahami sesama perempuan, dan cara mendapatkan sadut pandang yang tepat masih menjadi pe-er panjang.
Begitulah kira-kira suara-suara dari para perempuan penyair dalam buku ini. Berawal dari pelarian berakhir pada proses perenungan. Hal yang lebih penting adalah konsisten dalam menulis karya karena itulah sejatinya proses "mendapatkan kehidupan". Kata-kata yang dicetak miring merupakan larik-larik puisi dalam buku Perjalanan Rindu tanpa menyebutkan nama penyairnya. Mari berlari, merawat semesta kata.
Sumber: Kumpulan Puisi Perjalanan Rindu Merawat Semesta Ibu (Trubadur, 2021)
🎉 Pesta Sastra Indonesia 2017 🎉 . “Aku takkan pergi karena aku hanya kata muncul diamdiam di setiap ingatan” . – Dian Hartati, “Kalender Lunar” . Dalam hal bermain kata dan merajut makna, para penyair tentu menjadi garda terdepan yang memperkenalkan puisi sebagai salah satu jenis sastra Indonesia. Setiap kalimat yang terukir pada dasarnya akan membawa segenap rasa yang tengah berkecamuk dalam dada sang penulis, meneguhkan isi hati sang pujangga, dan meneduhkan jiwa-jiwa yang terluka. . Namun, bagaimana ketika berbagai penyair dengan latar belakang yang beragam menulis suatu sajak dalam sebuah buku yang sama? Bagaikan spektrum, mereka akan menjadi pelangi yang mewarnai benak para pembaca dengan ragam karya yang telah mereka torehkan. . Kali ini, salah satu diskusi yang akan dilaksanakan dalam Pesta Sastra Indonesia 2017 akan membedah buku kumpulan puisi berjudul “Roncean Syair Perempuan”, sebuah karya kolaborasi antara Jaringan Anak Sastra (JAS), Forum Lingkar Pena (FLP), dan Lingkar Sastra ITB. . Insya Allah sebagai pembedah buku ini kami akan menghadirkan Nenden Lilis Aisyah (Penyair, Dosen Sastra Indonesia UPI) dan Adinda Lutviani untuk memberikan pengantar diskusi hangat kita nanti. Acara yang dimoderasi oleh Dian Hartati tersebut akan berlangsung pada hari Jumat, 13 Oktober 2017 pukul 10.20 s.d. 11.20 WIB, bertempat di Padepokan Seni Mayang Sunda, Jl. Peta No. 209, Bandung. . Mari ramaikan rangkaian acara Seni Bandung #1 yang perdana dilaksanakan di kota kembang! Acara ini gratis dan terbuka untuk umum, lho! Jadi, mari bantu sebar dan ajak teman-temanmu sebanyak-banyaknya yaa ;) . Info lebih lanjut: @senibandung.id Didukung oleh: @flpbandung & @biblioforum . #pestasastra #senibandung #literasi #sastra #bandung #indonesia #pesonasenibandung #sastrawan #jawabarat #senibandung2017 #flp #bandung #flpbandung #biblioforum #infobandung #bandungevent #infobdg #promobandung #komunitas #penulis #bdg
PEREMPUAN DAN MOMENTUM-MOMENTUM YANG HENDAK DIABADIKANNYA [Lily Yulianti Farid]
Dalam kuliah umumnya yang bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2017 di Universitas Melbourne, Australia, feminis Germaine Greer mengemukakan kekecewaannya terhadap media massa yang cenderung lebih tertarik memberitakan hal-hal yang remeh temeh tentang kehidupannya daripada pemikirannya. Karenanya, ia menulis dan merekam sendiri ide, kegelisahan, juga pandangannya tentang berbagai hal. Hari itu, koleksi arsip Germain Greer pun dirayakan. Setelah diolah dan dikurasi dengan baik oleh sebuah tim khusus di perpustakaan kampus, koleksi ini pun menjadi pintu untuk para peneliti serta masyarakat umum untuk menyelami alam pikiran dan kegelisahan penulis yang disebut sebagai salah satu tokoh feminis paling berpengaruh dari era gelombang kedua feminisme di paruh kedua abad ke-20 ini. Koleksi arsip yang antara lain mencakup surat, audio diary, foto, video, berita majalah dan surat kabar ini, menempati rak arsip sepanjang 82 meter dan terbilang masif untuk rentang waktu 1959-2010 karir sang feminis itu. Yang mengesankan dari pidato Greer yang telah berusia 78 tahun ini adalah semangatnya yang tak surut untuk menulis dan menyuarakan. Ternyata, salah satu hal yang membuat semangat dan stamina menulisnya karena Greer selalu ingin mengabadikan momentum. "Bukan untuk membanggakan diri sendiri, tapi untuk menjadi inspirasi bagi orang lain. Arsip ini menyimpan komentar-komentar saya terhadap berbagai peristiwa penting di dunia. Dan bila koleksi ini pada akhirnya dapat diakses oleh publik, orang akan tahu pandangan seorang perempuan tentang berbagai hal..."Soal perempuan dan momentum-momentum yang hendak diabadikan ini sudah berkelebat dalam benak saya beberapa hari sebelum menghadiri kuliah umum Germaine Greer dan ikut merayakan Hari Perempuan Internasional 2017. Saya memikirkan hal itu setelah membaca manuskrip Berbagi Zikir: Antologi Penyair Muslimah. Saya diminta memberi pengantar untuk antologi ini dalam kapasitas sebagai seseorang yang mendalami masalah gender. Perempuan dan momentum yang hendak diabadikan adalah kesimpulan pertama yang mencuat di kepala saya setelah membaca manuskrip ini. Terasa istimewa, bahwa bentuk yang dipilih untuk mengabadikan momentum-momentum tersebut adalah puisi. Menurut saya, puisi adalah bentuk karya sastra yang paling sulit untuk diciptakan. Penyair adalah seseorang yang tidak saja peka, tapi juga cerdas serta merupakan pelaku komunikasi yang efektif. Penyair yang memiliki banyak penggemar atau yang karyanya banyak dibicarakan, adalah mereka yang berhasil menciptakan larik dan bait yang membuat hati berdesir, membuat indra kita bekerja menelaah idiom baru yang ditawarkan, membuat kepala kita terbuka menerima ide yang disampaikan. Dalam kehidupan saya, puisi adalah hal yang akrab. Ia adalah pengingat, pengasah rasa dan pemantik imajinasi. Salah satu bait favorit saya adalah 'berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya' dalam puisi Akulah Si Telaga karya Sapardi Djoko Damono. Bagaimana gerangan cara memandangi cahaya yang harum? Saya selalu mengulang-ulang bait favorit ini dalam hati sambil membayangkan diri menjadi seseorang yang tengah berperahu di sebuah telaga, berkhayal tentang cahaya yang kemilau, penuh pesona dan wangi.
Ketika manuskrip ini tiba di tangan saya, hal pertama yang saya lakukan adalah mencoba mencari benang merah dari puisi-puisi yang terpilih yang merupakan karya 35 penyair. Saya membaca dengan seksama satu demi satu puisi tersebut dengan mengedepankan dua pertanyaan kepada diri sendiri: Pertama, apakah saya dapat memahami makna puisi tersebut? Kedua, apakah saya merasakan keindahannya? Dalam pembacaan saya, benang merah dari antologi ini dapat disebut sebagai upaya mengabadikan momentum spiritualisme perempuan dengan segala dimensi dan lapisannya, yang dianyam dengan kesibukan keseharian khas perempuan, peristiwa-peristiwa kecil yang dibingkai dalam konteks religiusitas serta refleksi hubungan manusia dalam hal ini perempuan - dengan Tuhan, alam dan manusia lainnya. Sungguh jelas bahwa struktur batin seluruh puisi yang terangkum di dalam antologi ini bermuara pada satu hal: religiusitas. Semua penyair menjadikan identitas 'perempuan dan Muslim' sebagai titik berangkat dalam menulis satu demi satu puisinya. Eksplorasi pengalaman batin dan renungan yang utamanya didominasi oleh ekspresi penyerahan diri terhadap Sang Pencipta terlihat jelas jejaknya. Salah satunya bisa dibaca dalam karya Choen Supriyatmi berikut ini:
Sajak Rindu 2
Kurindukan aroma pagi
dengan teh kau seduh setengah saja
satu gula yang cokelat warnanya
dan kita nikmati tanpa banyak kata
Kurindukan aroma senja
saat matahari redup dan hening tiba
ketika pintu langit luas terbuka
dan kita melesatkan doa doa
: Kurindukan selalu saat saat bersamamu
melarutkan sujud di sepanjang waktu.
Puisi ini bicara tentang rutinitas sehari-hari yang terjadi pada pagi dan senja. Rutinitas yang dijalani setiap orang. Namun jelas terlihat bahwa bagi sang penyair, pagi yang dirindu memiliki aroma teh yang diseduh setengah cangkir dengan sebiji gula batu berwarna cokelat, juga kebersamaan dengan seseorang yang dilalui tanpa banyak bicara, Sementara aroma senja dalam indra sang penyair identik dengan waktu untuk berdoa. Bait kedua puisi ini serta merta menghadirkan gambaran langit merah jingga dengan suara azan yang menggetarkan, yang dalam religiusitas pemeluk agama Islam menjelma sebagai kesyahduan magrib. Tetapi apa sebenarnya yang hendak disampaikan sang penyair dengan menyandingkan aroma pagi yang diisi rutinitas minum teh dan aroma senja yang diwarnai doa-doa yang dilesatkan ke langit? Bait terakhir puisi ini mengantar pembaca untuk menyimpulkan bahwa sang penyair merindukan seseorang yang senantiasa menemaninya 'melarutkan sujud di sepanjang waktu. Di sini, kerinduan menjadi hal yang disandingkan dengan penyerahan diri. Pengalaman spiritual, peristiwa sehari-hari dengan penanda-penanda kecil, posisi perempuan yang menyuarakan kerinduan sekaligus inisiatifnya mengabadikan momentum religiusitas dalam kesyahduan magrib dan langit senja, saya kira menjadikan puisi ini sungguh khas dan terasa nyambung dengan pengalaman batin banyak Muslimah lainnya.
Contoh lain dapat dilihat dari puisi karya Dian Hartati berikut ini:
Berbagi Zikir
di taman tempat puisi menari
cahaya langit telah hilang
bangku kayu dan rumput saling berbisik
mereka berbagi zikir
angin mencermati setiap langkah
terpesona dalam gumam yang sama
udara mabuk
berputaran melawan jarum jam
melaju ke angkasa
dan memuntahkan wahyu baru
puisi semakin lincah bergerak
menyisakan gugur daun-daun usia
di dunia ia masih punya tugas
menanti para penyair
bersulang kata memetik lara
suara baru bermunculan
di taman-taman cahaya
mereka kehabisan suara
Selain hutan, padang, laut, pantai, banyak penyair yang mengeksplorasi taman dalam karya-karya mereka. Namun, dalam puisi di atas, keputusan Dian Hartati memasukkan berbagi zikir' dalam peristiwa di taman tempat puisi menari, menurut saya menegaskan titik berangkat sang penyair untuk mengeksplorasi taman dan menyodorkan gagasan tentang semua ciptaan Allah di muka bumi ini pada dasarnya tak henti berzikir memuji nama Sang Pencipta. Sang penyair menawarkan imajinasi yang lebih jauh, bahwa bangku kayu dan rumput saling berbisik dan sebenarnya yang mereka lakukan adalah berzikir bersama, berbagi zikir.
Selama membaca manuskrip ini, tak henti saya mencari elemen perempuan yang sangat khas di setiap puisi dan salah satu puisi yang menurut saya sangat perempuan adalah puisi karya Dhya K. Husma berjudul Kican Balau Gurau.
KICAU BALAU GURAU
Mak,
kau benar
aku pekak tak nak dengar
hari ini telah kasematkan paku
pada sebongkah daging saudaraku
Mak,
kau tahu
aku bebal tak nak tahu
kicau balau gurauku
Ah! Ini bagai kutukan tahi di lidahku
Puisi yang mengingatkan pada bentuk pantun Melayu ini serta merta membuat saya berpikir tentang stereotip perempuan yang berlaku di masyarakat Indonesia, di mana perempuan pada umumnya digambarkan gemar bergunjing sehingga ada ungkapan, hati-hati dengan mulut perempuan atau mengingatkan pada kalimat 'dasar mulut perempuan!' yang mengandung konotasi yang kurang baik. Penyair secara tegas menohok kita dengan membagi penyesalannya karena telah berbicara sembarangan tentang seseorang yang digambarkannya sebagai kicau balau gurauku. Sementara kata 'Mak' di pembuka di kedua bait puisi ini menyiratkan penyesalan yang diungkapkan kepada ibu yang telah menasehati anaknya agar senantiasa bertutur kata yang baik. Meski tidak memasukkan diksi yang dengan terang menunjukkan religiusitas Islami seperti 'zikir' atau 'sujud', bagi saya, puisi ini justru secara efektif membuka ruang renungan tentang ajaran agama yang senantiasa menganjurkan pemeluknya untuk berkata baik tentang saudara sendiri atau orang lain sekaligus tentang nilai-nilai keagamaan yang juga pada umunya kita temui dalam petuah orang tua.
Tiga puisi di atas yang saya jadikan contoh dalam pengantar singkat ini sedikit banyaknya mewakili semangat antologi ini, bahwa titik berangkat seorang penyair yang mengenakan identitas keagamaan dan gender mereka sudah pasti memunculkan upaya pengabadian momentum spiritual dengan pengungkapan dan sudut pandang khas perempuan. Dari satu ke puisi lainnya, saya menemukan jalinan perjalan spiritual yang dikisahkan dari rutinitas sehari-hari seperti saat bangun untuk menunaikan salat subuh atau saat sujud dalam salat tahajud. Di puisi lainnya saya bertemu pengisahan suasana batin penyair saat menjejakkan kaki di Tanah Suci Mekah. Perempuan dalam perannya sebagai ibu dan juga sebagai anak tak luput dari amatan para penyair, yang dengan halus dan lembut melukiskan betapa setiap peran yang diamanahkan Allah kepada perempuan adalah ladang pahala. Yang juga menarik perhatian saya adalah upaya untuk mengisahkan peristiwa yang termaktub di dalam Al Qur'an, seperti yang ditemui dalam puisi berjudul Perempuan Di Padang Mahsyar karya Linny Oktovianny.
Meski saya harus jujur bahwa tidak semua puisi yang terangkum dalam antologi ini mudah dimengerti maknanya, ada puisi yang tidak menawarkan ruang interpretasi yang terang benderang dan juga tidak semua puisi berhasil menunjukkan pencapaian estetika yang istimewa, namun selayaknya kita memberi apresiasi pada hadirnya antologi ini. Dari 35 perempuan yang terpilih karyanya, ada sejumlah nama yang tidak lagi asing seperti Dian Hartati dan Nenden Lilis A, namun juga terdapat banyak nama baru. Dengan beragamnya jejak kepenyairan dan juga bervariasinya 'jam terbang' para penyair, sudah jelas antologi ini menawarkan kualitas pencapaian estetika yang beragam, di mana sejumlah puisi menunjukkan kematangan yang mengagumkan, namun ada juga yang -setidaknya dalam pembacaan saya seharusnya masih bisa diperam dengan sabar sehingga bisa disajikan dengan lebih sempurna.
Namun, terlepas dari kekurangan yang ada, secara pribadi saya senantiasa menunjukkan hormat kepada perempuan yang menulis - baik karya sastra berupa prosa atau puisi, atau karya non-fiksi dan karya akademik - karena keputusan menjadi penulis menempatkan perempuan sebagai agen penggerak dan pemberi suara bagi peristiwa-peristiwa yang luput dari perhatian luas. Kini, pekerjaan rumah yang tersisa bagi para penyair yang karyanya termuat dalam antologi ini adalah bagaimana merawat semangat untuk tetap berkarya, bagaimana mengembangkan daya tahan untuk menempa diri di jalan puisi secara bersungguh-sungguh: jalan yang meski sunyi dan terjal, namun merupakan salah satu jalan kemanusiaan yang sungguh mulia sumbangsihnya bagi peradaban.
Lily Yulianti Farid, adalah doktor kajian gender lulusan Universitas Melbourne, Australia, pendiri dan direktur Makassar International Writers Festival
Sumber: kumpulan puisi Berbagi Zikir (2017)