Kisah Kemarin, Bukan Fiksi.
"Wan, kamu di mana?" Tanya Bapak kontrakan saya lewat telpon, kemarin siang, Senin, 09/10/2017.
"Di kantor, Pak. Ada apa?"
"Bisa ya, pulang dulu sekarang, ada yang mau bongkar rumah katanya itu." Ucapnya, bukan lagi dalam bentuk pertanyaan, tapi meminta. Ia baru saja ditelpon oleh salah seorang tetangga saya, sesama penghuni bangsalan.
"Oke, pak, saya pulang."
Saya menjadi cemas akan hal-hal buruk yang mungkin saja sedang terjadi di rumah. Kalau bapak kontrakan saja tidak tahu akan ada pembongkaran rumah, dan malah khawatir, ya itu berarti bukan tukang. Pastilah itu maling yang sedang melakukan tugas-tugas kesetanannya. Segera saya meluncur pulang.
Tiba di rumah, pintu pagar kami terbuka. Sepeda motor salah seorang tetangga saya, yang menelpon bapak kontrakan tadi, bahkan diparkir agak di tengah jalan di depan rumah, tampak sekali hasil parkiran orang yang sedang panik. Saya kemudian juga segera memarkirkan motor dan lalu memastikan apa yang sedang dan sudah terjadi, dengan bertanya kepada tetangga kami yang lain yang lebih dulu berkumpul di tempat itu.
Beberapa saat kemudian, tetangga kami penghuni rumah itu muncul, dengan matanya yang sudah cukup sembab. Rupanya, apa yang terjadi, terjadilah. Sebuah kamera berharga tujuh jutaan telah raib dari dalam rumah tetangga kami yang malang itu. Perkiraan kami, maling itu masuk melalui pintu belakang, setelah memanjat pagar dan mencongkel pintu belakang rumah. Lalu kabur dengan kebegoannya: meninggalkan sebuah hape model lama tepat di bawah pagar tempatnya memanjat.
Kami menyarankannya untuk menelpon siapapun yang bisa memberikan masukan tentang hal-hal apa yang dapat dilakukan dengan hape itu, atau orang yang cukup bisa menenangkannya. Ia kemudian menelpon Om dan Tantenya yang (tidak) kebetulan ada tak jauh dari tempat kami, yang lalu tiba beberapa menit setelah itu.
Selanjutnya, apa yang dilakukan, bersama keluarganya yang baru tiba, adalah mencari cara bagaimana agar mendapatkan identitas pemilik hape tersebut: menyimpan beberapa kontak dan menghubungi kontak yang kira-kira mengenalnya, mengembalikannya ke tempat semula dengan keyakinan, si pemilik bakal kembali mencari hape itu, dan kita bisa menangkapnya segera, dan lain-lain. Tapi untuk beberapa saat kemudian, semua hal yang bisa direncanakan, belum juga dilaksanakan. Selalu terselip, "laporkan saja ke polisi."
Saya tidak sedang ingin mengoreksi kinerja bapak bapak di kepolisian kita, sebab, pada banyak hal, kepolisian telah melakukan banyak hal yang luar biasa untuk masyarakat. Tapi, ada sesuatu yang ironis menurut saya: kenapa, dalam kasus-kasus kemalingan semacam ini, "Laporan ke Polisi", justru menjadi pilihan terakhir dan bahkan terpaksa?
Polisi, sebagai aparat resmi negara, justru menjadi alternatif terakhir di mata masyarakat, itukan sesuatu banget. Dan saya yakin sekali, situasi semacam ini tak mungkin hadir begitu saja. Ada begitu panjang dan banyak hal yang membuat kebanyakan orang akhirnya setuju dengan pendapat yang tidak lagi memerlukan keterlibatan polisi dalam beberapa hal kriminal. Timbullah kasus, dimana massa akhirnya mengambil langkah sendiri, dengan membakar hidup-hidup pelaku kejahatan yang mereka tangkap, misalnya. Tanya kenapa.
Kembali ke kasus tadi, pada akhirnya, karena beberapa rencana untuk mendapatkan identitas pemilik hape itu juga dirasa tidak berhasil, mereka kemudian membawanya ke kantor polsek di Lempake, melaporkannya, dengan konsekuensi hape itu juga diserahkan sebagai barang bukti. Prosedur yang sebetulnya sama saja dengan menyerahkan harapan itu sepenuhnya di pundak bapak-bapak yang mulia di kepolisian. Lalu pulang dengan harapan akan adanya titik terang. Ini kemalingan yang kedua bagi dia loh, pak.
Saya sendiri, sejujurnya, tidak tahu harus melakukan apa siang itu, selain memastikan, dan bersyukur, bahwa tetangga kami itu baik-baik saja. Dan dalam situasi gamang seperti itu, ingatan saya kembali ke beberapa bulan lalu, ketika pada suatu jum'at sore, sebelum berangkat pulang ke Balikpapan, saya dan istri mendapati pintu salah seorang tetangga kami terbuka.
Saat itu kami hanya kepikiran, meskipun sepeda motornya tidak ada di parkiran, mungkin saja orangngya ada di dalam rumah, mungkin ia datang dengan diantar temannya, mungkin temannya yang tidak kami kenal sedang menjaga rumahnya, atau banyak lagi kemungkinan positif lainnya yang dapat kami bayangkan. Tapi kami tidak juga berhenti untuk memastikan pikiran kami itu, dan terus berkendara ke luar kota, naik V-ixion istimewa kududuk di muka.
Pada hari ahad, setibanya kami kembali di Samarinda, kami mendapat kabar, bahwa salah seorang tetangga kami telah kecolongan. Kejadiannya ternyata tepat ketika orang-orang sedang Shalat Jum'at. Pintu yang terbiarkan terbuka pada hari itu ternyata adalah sisa-sisa pekerjaan maling. Tetangga kami itu kehilangan cukup banyak barang di siang bolong itu, dan itu kata dia adalah yang ketiga kalinya.
Saya mengingat-ingat, merenung-renung kembali apa yang sesungguhnya bisa menyebabkan kejadian semacam ini begitu mudah terjadi. Ditinggal sebentar, pintu rusak. Ditinggal sebentar, laptop raib. Bingung aja, kenapa tidak sekalian toilet beserta kamar mandinya aja dibawa. Mikul kamar mandi sepanjang jalan kan buat kami jadi gampang ngejarnya, mas maling.
Hasilnya, mungkin karena silaturrahim antartetangga di antara kami belum terjalin. Juga antartetangga di antara kalian, orang-orang yang juga pernah mengalaminya, juga belum terjalin. Karena sepengamatan saya, begitulah kondisi di banyak kost atau kontrakan di kota ini, orang-orang bertegur-sapa seadanya, seperlunya, maka pertanyaan-pertanyaan bukan lagi dianggap sebagai upaya menjalin persaudaraan, tapi justru dianggap mencampuri urusan orang lain, sesuatu yang kayaknya nggak banget bagi kids zaman now kali ya.
Padahal, bersilaturrahim, saling kenal-mengenal, menjalin komunikasi antartetangga itukan besar sekali manfaatnya. Kita mungkin tidak bisa mengatasi setiap kejahatan yang bahkan tidak kita tahu akan terjadi kapan dan di mana, tapi dengan terjalinnya komunikasi, kita menjadi lebih kenal-mengenal, menjadi lebih peduli, dan akhirnya tentu saja akan ada banyak hal-hal jahat yang bisa kita hindari.
Ya, gak, brur?












