Dalang Di Balik #KutuBukuJalanan
April, 2017- Berawal dari sebuah percapakan ringan dengan Rida, kawan sekampusku via direct message di Instagram satu minggu yang lalu, yang dalam kasus ini bermula dari fitur STORY-nya Instagram yang sedang hits di kalangan para penggunanya. Obrolan seputar Ukulele, Payung Teduh, Nostress, Sophie’s World novel, Literasi Jalanan, tentang Rumah Pintar yang hampir kehilangan penghuni , tentang rencana-rencana Persma Inovasi yang menanti realisasi, sampai akhirnya bermuara pada ide membuka semacam perpustakaan jalanan di kota Manado. Aku dan Rida pun sepakat melibatkan kedua organisasi kami untuk berkolaborasi.
Sepertinya akan menyenangkan jika menggelar kegiatan baca buku gratis di tepi laut manado menjelang sore hari pada setiap hari sabtu. Tak sengaja tercetus ide menamainya ‘Perpus Senja’ pada awalnya. Namun setelah melakukan beberapa kali diskusi untuk menentukan nama, kami menyepakati gerekan#KubuBukuJalanan. Maka sejak percakapan malam itu berakhir, si Rida ngaku hampir tak bisa tidur menanti mimpinya mewujudkan gerakan literasi jalanan di Manado terealisasi.
Mungkin juga kerena tengah kecanduan dengan media sosial, kami seolah tak menemukan titik jenuh. Aku dan Rida sepakat sama-sama pecandu Instagram dan aplikasi terkini lainnya, yang walaupun memang menyenangkan, namun terus-terusan terlena dengan aktivitas online tentu tidak baik. Kadang memang apa yang kami lakukan sama sekali tidak ada manfaatnya, stalking misalnya, hahaha. Maka semangat Rida untuk kembali menggerakan Rumah Pintar menjadi salah satu jalan baginya untuk mengurangi efek candu sosial media.
Kupikir-pikir betul juga, mengembalikan kebiasaan membaca buku sekaligus menggerakan lebih banyak orang untuk ikut membaca adalah upaya yang tepat dalam mengurangi aktivitas di media sosial.
Maka dengan begini, malam mingguku akan lebih ber-faedah !









