c u K e K
Mengawali tahun 2024 bagi saya menjadi sebuah awal untuk menuju perjalanan baru, yang mana setelah adanya reposisi akhirnya saya harus berpindah tugas ke wilayah terdekat. Bukan karena alasan atau sebab apapun, akan tetapi karena memang diminta untuk menggantikan dan mengisi kekosongan SDM di wilayah tersebut. Setelah surat tugas keluar akhirnya bergegaslah saya untuk berpindah dan menjalani tugas di tempat yang baru.
Desa Tahunan Kecamatan Sale Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah menjadi salah satu rute dan tujuan perjalanan berikutnya, setelah sebelumnya saya menjalankan tugas di wilayah domisili. Bermodalkan tekad dan juga alat komunikasi serta lisan dan pengalaman menjelajah wilayah sejak tahun 2008 dikegiatan-kegiatan sebelumnya, akhirnya sampailah saya ke beberapa dusun yang ada di desa ini. Saya datangi satu persatu untuk memastikan bahwa saya bisa mudah untuk mengakses dan masuk ke lokasi wilayah tugas.
Secara geografis wilayah desa yang terbilang luas, terdiri dari dataran tinggi dan juga dataran rendah yang setiap hari kesibukan warganya terbilang sangat variatif mulai dari pertanian, pertambangan dan juga peternakan. Desa yang terletak paling ujung dari wilayah Kecamatan dan juga Kabupaten (karena berada di perbatasan Kabupaten Blora), dan juga merupakan desa yang menjadi fokus program pengentasan kemiskinan karena menurut pengelompokan rumah tangga dalam basis data terpadu, desa Tahunan masuk dalam kelompok terendah. (Data Primer-Monografi Desa Tahunan, 2017)
Selesai mengunjungi semua wilayah dusun dan bertemu dengan para pemegang wilayah, rasa senang yang pertama kali muncul karena sambutan hangat dan ramah oleh warga lokal dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Setidaknya pertemuan pertama sudah memberikan kesan baik dan pastinya banyak harapan semoga akan menjadi perjalanan yang menarik keesokan harinya.
Hari demi hari berlalu, satu dua tiga minggu sudah terlewati, dan akhirnya saya sudah bisa bertemu dengan semua warga yang akan menjadi teman cerita selama perjalanan saya di wilayah ini. Ada sejumlah 350 warga yang harus saya damping demi terwujudnya sebuah kemandirian dalam menjalankan kehidupan dan aktivitas sehari-hari. Jumlah itu terbagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan wilayah dusunnya, mereka adalah warga pilihan dengan kategori masih berusia produktif sampai dengan yang sudah berusia lanjut. Jumlah yang terbilang banyak sangat tidak mungkin bagi saya untuk menghafal satu demi satu, toh kalaupun hafal mungkin hanya wajah tidak dengan nama. Memang ada beberapa yang saya tau dan hafal nama dan bahkan alamat tempat tinggalnya, akan tetapi itu hanya berlaku untuk beberapa orang saja. Bukan karena teristimewakan atau sesuatu hal, akan tetapi memang dibandingkan dengan yang lain beberapa diantara mereka memiliki ciri khas sesuai dengan kodrat Nya.
Seperti biasa kegiatan yang saya lakukan melakukan pertemuan dengan setiap kelompok yang sudah terbentuk berdasarkan lokasi geografis dusunnya, dan sampailah saya pada kelompok terakhir yang berlokasi di wilayah pegunungan tetapi masih belum wilayah tertinggi dari desa ini. Merupakan hal yang unik dan menarik bagi saya khususnya, karena di kelompok sebelumnya yang notabene diisi oleh kaum hawa tapi tidak bagi kelompok yang terakhir ini, ada satu kaum adam yang sudah berusia lanjut akan tetapi jiwa dan semangatnya masih seperti kaum milenial yang selalu membara. Mbah Ngusman beliau biasa dipanggil, nama yang cukup singkat dengan hanya satu kata.
Pertemuan pertama dengan beliau tidak banyak yang kami obrolkan, hanya sekedar salam perkenalan dan obrolan ringan tanpa ada hal yang mendalam ataupun terkait dengan pribadi yang bersifat saran atau ilmu baru untuk saya yang masih muda dan terbilang sebagai cucu jika melihat usia beliau yang sudah memasuki angka kepala sembilan.
Setelah pertemuan pertama, kemudian berlanjut dibulan berikutnya sampai akhirnya menjadi rutin sering bertemu. Bukan rasa jenuh bahkan bosan layaknya anak muda yang sedang menjalin asrama, akan tetapi rasa tenang dan bisa dibilang nyaman layaknya seorang cucu kepada kakeknya.
Setiap selesai berkegiatan, saya dan beliau selalu ngobrol layaknya seorang cucu yang dengan senang hati mendengarkan cerita dari seorang kakek yang jalan hidupnya sudah sangat panjang dan sudah sangat banyak menjalani pengalaman pahit dan manis tentunya. Beliau bercerita tentang masa hidupnya mulai dari waktu masih kecil, tumbuh dewasa hingga saat ini yang sudah menjadi seorang kakek dari beberapa cucu dari putra-putri beliau.
Perjalanan hidup yang waktu itu terbilang tidak mudah seperti saat ini, masa kecil beliau di era saat semua masih serba manual dan terbatas, ditambah pula dengan keberadaan beliau terlahir dari keluarga yang terbilang “biasa” dari segi sosial ekonomi tidak membuat beliau patah semangat dan berkeluh kesah. Menempuh jenjang pendidikan layaknya anak lain pada umumnya, mengikuti dan belajar kesenian “ketoprak”, serta aktif dikegiatan lain yang sekiranya bisa mengembangkan kreatifitas dan potensi diri yang kelak bisa bermanfaat bagi diri sendiri.
Gurauan dan candaan khas beliau sering kali menjadi penghibur diri agar senantiasa mengisi hari-hari dengan rasa penuh syukur, karena apa yang kita diterima hari ini belum tentu juga sama diterima oleh orang lain. Sehingga tidak perlu berkeluh kesah ataupun merasa berkecil hati ketika melihat lingkungan sekitar tempat tinggal atau dimanapun berada. Satu hal yang paling berkesan dari beliau adalah saat saya minta di Do’akan agar selalu bisa ber Istiqomah dalam menjalankan tugas dan juga beribadah, sehingga bisa mendampingi dan memberikan yang terbaik untuk semuanya, serta selalu bisa mensyukuri atas apa yang selama ini sudah didapatkan.
Sehat selalu untuk mbah Ngusman, di usia yang sudah tidak muda lagi akan tetapi tetap semangat untuk menebar kebaikan kepada sesama tanpa ada pamrih sedikitpun, semoga kami generasi Millenial sampai generasi Alpha bisa mencontoh dan meneladani kisah baik panjenengan, Aaaamiiiin.
















