Seperti Air Mata di Laut Mati
Kau tahu tidak, seberapa tabah laut mati mengasinkan dirinya? Tanpa ekosistem normal disekitarnya, tanpa apa apa, apa adanya. Hanya air dan kandungan garam didalamnya yang bertahan untuk menjadi dirinya sendiri. Meski begitu, ia berhasil membuat makhluk bumi senang akan dirinya.
Laut mati ditakdirkan tidak akan pernah bisa menenggelamkan apapun. Semua sesuatu yang ia peluk, ia akan biarkan mengapung di lebah dadanya. Terlebih, ia selalu memuja penciptanya karena menjadi titik terendah bumi yang berada di daratan. Yea, ternyata sebuah danau, tapi tabahnya ia kepada penciptanyq, menjadikan ia dipanggil “laut” oleh elemen-elemen alam yang mengindahkannya.
Meski aku menangis sebanyak mungkin, asinnya air mataku akan terasa sama ketika bermuara di laut mati. Kau tidak akan bisa membedakan mana air mataku dan mata air laut. Apa-apa yang menjadi kesedihanku kepada dunia; kepada kamu, itu tidak akan merubah takdir - kita tidak bisa bersama.
Seperti air mata di laut mati, di titik terendah bumi seperti titik pasrah kepada Sang Ilahi. Setidaknya, apa-apa yang sudah digariskan semesta, terdapat hal yang bisa dikenang. Di sisi lain, laut mati masih bisa menyajikan swastamita, dan kehadiran kamu sudah menyajikan banyak cerita.
















