Yang paling sulit bukan menerima kenyataan bahwa dia bukan takdirmu. Yang paling sulit adalah menerima bahwa sampai hari ini pun, hatimu masih menyimpan tempat untuknya.
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Yemen

seen from Malaysia
seen from China

seen from Yemen
seen from Yemen

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Egypt
seen from Serbia

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
Yang paling sulit bukan menerima kenyataan bahwa dia bukan takdirmu. Yang paling sulit adalah menerima bahwa sampai hari ini pun, hatimu masih menyimpan tempat untuknya.
Semuanya ga harus sesuai dengan apa yang aku rencanakan Tapi semuanya harus diupayakan sesuai dengan apa yg Allah ridhai
43/365
Biarlah malam ini menjadi saksi, atas lelah yang tak lagi bersuara. Di hadapan sajadah yang mulai basah, kuakui segalanya pada semesta. Aku kalah, dan aku menyerah. Maka, izinkan aku menutup rasaku.
Bukan karena benci yang membakar dada. Bukan pula karena amarah yang tersisa. Aku hanya ingin menyelamatkan sisa-sisa jiwaku yang hampir habis dikikis sepi. Aku melipat seluruh rindu, menyisihkan semua cemas, dan mengunci rapat-rapat pintu hati yang dulu pernah terbuka begitu lebar untukmu.
Mulai detik ini, tak akan ada lagi tanya tentang kabarmu. Tak ada lagi harap pada hadirmu. Kupilih jalan sunyi ini, menjemput damai yang lama hilang. Aku memilih untuk mati rasa, demi bisa tetap berdiri tegak demi mereka yang mencintaiku tanpa jeda.
Kulepaskan genggaman yang selama ini membuat jemariku berdarah. Pergilah. Dan izinkan aku, mendekap sepi dengan senyuman paling pias.
Di bawah langit orange | 18.45
Ibadah yang paling panjang bukanlah pernikahan. Melainkan belajar berbaik sangka pada takdir Allah, bahkan saat kita belum memahami ke mana arahnya.
38/365
Narasi Semesta
Kita ini hanyalah baris-baris kecil dalam buku besar milik-Nya, yang sering kali sibuk mendikte ingin menjadi apa.
Padahal, semesta bergerak dalam narasi yang teramat rapi, ia tidak pernah terlambat sedetik pun untuk mempertemukan, dan tidak pernah keliru saat memisahkan.
Menjadi dewasa adalah tentang melapangkan dada, menerima setiap plot cerita yang kadang patah dan tak kasat mata.
Biarlah takdir melumat semua ingin kita, hingga yang tersisa di dalam hati hanyalah ridha pada sebaik-baiknya ketetapan Sang Maha Pengatur.
Diatas awan | 16.49
33/365
Dibalik Tirai Takdir
Pagi itu, udara terasa dingin menembus jendela, membawa serta kecemasan yang belum sempat larut. Di atas sajadah yang masih tergelar, seorang hamba duduk bersimpuh, menatap jemarinya yang gemetar. Ada mimpi yang baru saja patah, ada rencana besar yang hancur berkeping-keping, dan ada kehilangan yang menyisakan rongga kosong di dada. Ia merasa dunianya runtuh, seolah-olah seluruh semesta sedang bersepakat untuk mengujinya tanpa ampun.
Namun, di tengah badai kecewa yang berkecamuk, sebuah kesadaran perlahan terbit seperti fajar. Ia teringat kembali pada secarik keyakinan purba yang tertanam di lubuk hati, bahwa lembar-lembar kehidupannya telah ditulis rapi di Lauhul Mahfuz jauh sebelum ia dilahirkan. Sungguh egois jika ia hanya bersedia memeluk nikmat yang manis, namun membuang muka saat disodori cangkir ujian yang pahit. Bukankah sang Khalik adalah Pemilik mutlak atas jalannya waktu dan embusan napasnya?
Perlahan, ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya bersama dengan seluruh ego yang sempat meninggi. Hatinya mulai mengeja sebuah kepasrahan yang indah. Ia menyadari bahwa pandangan matanya sebagai manusia sangatlah pendek, hanya mampu melihat apa yang ada di depan hidung. Sebaliknya, pandangan Allah Ta'ala melampaui batas ruang dan waktu, mengetahui akhir dari segala awal, dan memahami obat terbaik bagi setiap luka. Apa yang ia tangisi hari ini sebagai musibah, bisa jadi adalah cara Allah menyelamatkannya dari jurang kehancuran yang tidak ia ketahui.
Air mata yang menetes kini bukan lagi air mata protes, melainkan embun penyejuk yang membasuh jiwa. Mengatakan "Aku rida atas takdir-Mu, ya Allah" ternyata tidak mengurangi kekuatannya, justru melahirkan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Menyerahkan segala urusan kepada-Nya bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan sebuah keberanian tertinggi untuk percaya bahwa skenario-Nya tidak pernah salah.
Kini, ia melangkah keluar rumah dengan senyuman yang baru. Beban berat di pundaknya seolah menguap, digantikan oleh kelapangan dada yang luas. Ia siap menyambut apa pun yang tertulis di garis hari esok—baik itu tawa renyah maupun air mata—karena ia tahu, selama ia menggandeng rida Allah, setiap takdir adalah jalan pulang yang membawa kebaikan.
Di bawah langit | 12.30
32/365
Skenario Allah Tidak Pernah Keliru
Untuk selembar daun yang jatuh, Allah telah mengatur waktu dan tempatnya mendarat. Maka untuk hatimu yang hari ini terasa berat, percayalah bahwa Allah tidak sedang menghukummu, melainkan sedang merajut seuntai hikmah yang belum mampu terbaca oleh jarak pandangmu.
Berhentilah memaksa semesta untuk berjalan sesuai kemauanmu yang begitu sempit. Ketika pintumu tertutup, itu karena Allah tahu ruangan di dalam sana berbahaya untukmu. Ketika doamu belum terwujud, itu karena Dia sedang mempersiapkan ganti yang jauh lebih megah dari sekadar apa yang kamu minta.
Lepaskan lelahmu pada sujud yang panjang, lalu katakan pada jiwa yang ringkih itu
"Tenanglah, takdir-Mu selalu aman untukku, aku pasrahkan hidupku pada alur cerita-Mu Ya Rabb."
Jalan setapak | 10.21
31/365
Takdir adalah sebuah arsitektur rahasia yang cetak birunya tidak pernah ditunjukkan kepada kita, namun fondasinya selalu kita pijak setiap hari.
Ia bekerja seperti sungai yang mengalir di bawah tanah.
Kita tidak pernah melihat riaknya dari permukaan, tetapi setiap keputusan, kelokan, dan langkah kaki kita perlahan menuntun kita menuju muara yang sama.
Sering kali kita merasa sedang tersesat di dalam labirin yang gelap, memaki waktu yang berjalan terlalu lambat, atau meratapi pintu-pintu kesempatan yang tertutup rapat.
Kita mengira semesta sedang menghukum kita, padahal takdir hanya sedang menyusun ulang kepingan hidup kita yang berantakan agar pas pada tempatnya.
Menerima takdir bukan berarti kita menyerah dan berhenti mendayung.
Menerima takdir adalah keberanian untuk melepaskan kendali atas hal-hal yang memang di luar kuasa kita.
Kita bertugas menanam benih dengan sebaik-baiknya, namun urusan kapan hujan turun dan bagaimana bunga itu mekar adalah hak mutlak dari Sang Pemilik Waktu.
Pada akhirnya, takdir selalu datang dengan ketepatan yang menakjubkan. Ia tidak pernah datang terlalu cepat untuk membuat kita jemawa, dan tidak pernah terlambat hingga membuat kita binasa.
Saat kita menengok ke belakang nanti, kita akan menyadari bahwa setiap luka, pertemuan singkat, dan kegagalan di masa lalu ternyata adalah benang-benang takdir yang sengaja ditenun untuk membentuk diri kita hari ini, agar lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih legowo.
Sudut ruang | 20.32