seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from Poland
seen from United States
seen from Tunisia

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Mexico

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Ireland

seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from Aruba
seen from Canada

seen from Spain

seen from United States
Makna Keberkahan
Makna berkumpul bersama orang-orang sholeh baru terasa sangat berharga disini, saat kau menjadi minoritas di satu negara yang jauuuuh sekali dari negaramu. Suatu kondisi yang benar-benar keluar dari zona nyaman diri sendiri.
Hari ini menjadi pertemuan pertama setelah sekitar 2 bulan lamanya tidak berkumpul bersama orang-orang sholeh dalam suatu lingkaran 😊
Alhamdulillah..
Pertemuan pertama ini dilaksanakan di rumah Mbak Hanum, murobbiyah saya di sini, di Wageningen pukul 11-15. Sudah beberapa hari ini saya sangat menunggu-nunggu pertemuan ini, sekaligus ‘refreshing’ dari persiapan ujian yang cukup menguras pikiran. Perjalanan dari Leeuwarden, tempat saya tinggal, ke Wageningen membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam perjalanan menggunakan kereta dan dilanjutkan dengan 20 menit menggunakan bus dari stasiun ke rumah Mbak Hanum. Tapi sayangnya yang bisa hadir pada pertemuan tadi hanya saya, Mbak Tita (mahasiswa PhD di TU Eindhoven) dan Mbak Oneng (mahasiswa Master di WUR), teman-teman yang lain belum bisa hadir.
Pertemuan ini benar-benar menguatkan. Ternyata perasaan berat saat menjalani perkulian bukan cuma saya saja yang merasakan. Jadi jangan merasa memiliki permasalahan yang paling berat, setiap orang punya masalahnya masing-masing. Tadi Mbak Oneng menyampaikan kultum tentang makna “Mastatho’tum”. Salah satu ayat Al-Qur’an yang mengandung kalimat ini adalah surat At-Thagabun ayat 16. Secara Bahasa, mastatho’tum berarti bertaqwa sesuai dengan kesanggupan kita. Namun pertanyaannya, sejauh mana batas kesanggupan kita seharusnya?
Ada suatu kisah tentang Syaikh Abdullah Azzam yang menjelaskan makna kalimat mastatho’tum kepada murid-muridnya. Beliau mengajak murid-muridnya untuk berlari bersama mengelilingi lapangan. Satu per satu murid-muridnya berhenti saat berlari karena telah merasa lelah dan telah sesuai dengan kesanggupannya. Sementara Syaikh terus berlari hingga akhirnya terjatuh karena pingsan kelelahan. Saat beliau bangun, murid-muridnya bertanya kenapa beliau terus berlari hingga akhirnya pingsan. Syaikh Abdullah menjawab bahwa itulah makna dari mastatho’tum yang sebenarnya, yaitu kita terus berikhtiar semampu kita hingga Allah sendiri yang menghentikan ikhtiar kita.
Benarlah bahwa di dalam hidup ini kita harus terus berusaha menggapai ridho Allah, hingga Allah yang menghentikan langkah kita. Istirahatnya seorang muslim adalah nanti, saat kakinya telah menapak di syurga Allah.
Dalam diskusi tadi juga dibahas bahwa jangan pernah membandingkan diri sendiri dengan pencapaian orang lain, karena setiap orang punya jalannya masing-masing, punya ujiannya masing-masing. Tapi yang harus kita pastikan adalah kita telah berikhtiar semampu kita. Kita harus memaksa diri sendiri, jangan membatasi potensi yang sudah Allah pinjamkan kepada diri kita.
Materi liqo pada pertemuan kali ini adalah tentang makna barakah. Ada satu parameter utama yang menandakan barakah atau tidaknya waktu kita, aktivitas kita, usia kita, rezeki kita, ilmu kita, dan sebagainya. Barakahnya semua hal itu adalah jika itu semua menambah ketaatan kita kepada Allah swt. Apapun yang terjadi kepada kita, baik itu hal yang menyenangkan ataupun tidak, selama mendekatkan diri kita kepada Allah, itulah tanda-tanda keberkahan. Selain itu keberkahan juga bisa hadir dalam hidup kita jika hidup kita mengikuti sunnah Rasulullah saw. Kita tidak kebingungan mencari-cari gaya hidup. Hal ini juga menjadi salah satu bukti kalua kita mencintai Rasulullah saw. Salah satu kisah sahabat yang mengamalkan dengan konsisten sunnah Rasulullah adalah Bilal. Rasulullah mendengar terompah Bilal di syurga karena Bilal secara konsisten menjaga wudhu nya dan sholat dua raka’at setelah berwudhu. Kita harus memilih satu amalan sunnah yang tidak akan kita tinggalkan seumur hidup kita.
Barakah juga bisa hadir saat kita tetap istiqomah dalam ketaatan kepada Allah hingga akhir hayat kita dan akhirnya kita diberikan khusnul khatimah oleh Allah swt. Salah satu caranya adalah dengan terus mengingat Allah kapanpun dan dimanapun kita berada dan membaca serta memahami ayat-ayat Allah. Karena tujuan utama hidup kita adakah menaati perintah Allah dan menjauhi larangannya. Hidup hanya sesaat. Setiap aktivitas kita di dunia ini sejatinya hanyalah sarana untuk mendekatkan diri kita kepada Allah. Hidup di dunia itu anyalah sementara, namun kehidupan akhirat itu kekal.
Cara-cara yang bisa kita lakukan untuk menjaga keistiqomahan antara lain senantiasa berdo’a kepada Allah, sering-sering datang ke majelis ilmu, berkumpul bersama orang-orang sholeh, menyisihkan harta yang haram dan syubhat dari harta kita sehingg tidak masuk ke dalam tubuh kita, dan senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Hari ini benar-benar mengisi kembali energi dan semangat saya dalam menjalani hari-hari ke depannya. Setiap aktivitas yang kita jalani, harus kita pastikan bahwa itu menambah ketaatan kita kepada Allah swt. Setiap aktivitas harus diniatkan karena Allah. Niatnya harus diperluas, jangan hanya sekadar menuntut ilmu, tapi harus menuju kepada Sang Pemilik Ilmu. Perjalanan jauh hari ini semoga Allah nilai sebagai perjuangan dalam menuntut ilmu dan semoga Allah ridhoi. Aaamiiin..
Leeuwarden,
Sabtu, 28 Oktober 2018
Indah Puspita