You know my politics by now.

seen from Indonesia
seen from United States

seen from Indonesia

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Russia
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from Austria
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Netherlands
seen from China
seen from China
seen from Japan
seen from Indonesia
You know my politics by now.
Today on 7/1/2023 Twitter has decided if you don’t pay for a “premium experience” aka be “verified” you get a very small one. Even trying to check your own profile is locked. Trying to view comments, retweets or quote tweet is locked. Pay the tithe or else is the bottom line.
Star Trek: Insurrection (1998)
I realize I never really posted about my boyfriend on my blog, at least not until the end Not until he and I convinved each other that everything that could have possibly gone wrong had indeed gone wrong Months later, the truth came out. We never once cheated on each other We always wanted each other We were afraid of the potential of developing friendships, each of us having friendships the other was suspicious and jealous of, only to realize we cut those people off shortly after we broke up for good He and I still care for each other more than most people we've ever encountered, but we also know we will never be together again. The finality - nearly a full year later - is beginning to crush me. I know he can never give me what I want and deserve, and he knows it too. He and I remain as crucial parts of each other's support systems, but we're slowly drifting. He's more school-oriented, I'm more financially oriented. I'm meeting amazing people who know me through our mutual friends and constantly forging new friendships, he's stuck with the people he met when I broke up with him, and slowly seeming to realize they're not who he thought they were. To summarize, I'm growing up and he's not. But if I could change it, I'd take back my invite for him to live with me. I think we could have worked through that period of our lives if we had had our own designated spaces
"If someone says:"That's impossible,' you should understand that as: 'According to my very limited experience and narrow understanding of reality, that's very unlikely."
Paul Buchheit, creator and lead developer of Gmail
Belajar dari dr. Yusuf
Assalamu'alaykum, hari ini sy akan bercerita tentang petualang *cielah* seorang dokter kecil yang sebut saja Dewi. Kenapa dokter kecil? karena dia terlalu dini untuk di sebut dr Muda dan terlalu biasa aja klo dibilang mahasiswa.
SO, jadi gini ceritanya..
Di suatu hari yang cerah, Dewi ini mendapatkan sms dari salah satu seniornya untuk membantu salah satu dokter yang terkenal di desa *ups* kota Purwokerto tercinta. Awalnya, dia pikir ga ikut aja, karena sms dari seniornya itu sudah beberapa jam yang lalu. Namun, telepon ketiga dari seniornya ini membuat dia bertekad bulat untuk bantuin dokter itu.
Beberapa jam kemudian, Dewi ini sudah siap dengan tas ransel berisi makanan siang dan menunggu seniornya, sebut saja Mas Sholih untuk segera dijemput ke klinik dokter tersebut. Sebenernya, Dewi ini sedikit males pergi ke sana, melihat motor yang digunakan Mas Sholih ini jenis motor yang besar *entah sebutan kerennya apa* jadi dia harus bersusah payah untuk naik dengan posisi duduk miring.
Sesampainya di tempat klinik dokter tsb yang ternyata adalah Apotik, sebut saja Aurora di mana tempat dr.Yusuf Suseno spesialis jantung praktek setiap hari sabtu di sana. Semua cerita berawal dari sini.
Sambil menunggu dr. Yusuf, Dewi mencoba untuk mencairkan suasana dengan pertanyaan2 keponya, dan dijawab dengan seperti biasa oleh Mas Sholih menggunakan ejek2annya. Tapi, setidaknya pikir Dewi, di setiap obrolan dengan seniornya ini walaupun selalu ada ejekan buatnya dia selalu bisa belajar dari situ, walaupun kadang2 membuat dia semakin rudet.
Jarum panjang menunjukkan angka sekitar jam 3 kurang, dr. Yusuf datang dan Dewi siap untuk membantunya, walapun sedikit deg-degan. Mas Sholih pun pergi. Pertama-tama Dewi membantu dr. Yusuf membaca USGnya jantung. semacam alat yang digunakan seperti USG tapi untuk jantung, -semacam alat seperti ecocardiogram tapi lebih sederhana- awalnya, Dewi merasa malu dan segan untuk bertanya-tanya, tapi untuknya dr.Yusuf yang menyuruhnya melihat layar USG tersebut dan menjelaskan sedikit mengenai apa yang ada di layar itu, dan sesekali dr.Yusuf juga menunjukkan hasil rekaman irama jantung pasiennya. Dari situ, yang bisa Dewi pelajarin itu satu, selalu ramah waktu pasien datang, ketika pulang ucapkan terimakasih dan semoga lekas sembuh.
Setelah membantu di bagian situ, Dewi disuruh dr.Yusuf untuk menggantikan mbak Septi -perawatnya- di bagian EKG dan mencoba menggunakan EKG. Di tempat ini Dewi bersama dengan mbak, sebut saja mbak Ferri, harus menensi pasien, memasang EKG, dan merekap keluhan serta tekanan pasien di kartu berwarna biru dan merah pasien.
Dewi, yang tidak pedean ini, awalnya tidak berani disuruh -hanya- menensi pasien saja, tapi karena tidak enak melihat mbak Ferri yang sibuk sendiri, akhirnya Dewi memberanikan diri untuk menensi pasien. Lama kelamaan, Dewi mulai membantuk sedikit2 pemasangan EKG, mulai dari bagian tangan dan kaki. Untuk warna hijau dijepitkan dipergelangan kaki kiri, warna Hitam kaki kanan, warna merah pergelangan tangan kanan, warna kuning pergelangan tangan kiri. Nah, bagian pemasangan di C1-C6, Dewi ini sampai giliran shift bantuin dr Yusuf lagi belum berani praktek sendiri ya walaupun dia sudah bisa.
Akhirnya dengan wajah sedikit kecewe dr.Yusuf karena Dewi belum mencoba EKG, Dewi kembali ke pekerjaan semulanya yaitu membantu dr.Yusuf di prakteknya. Di sana, Dewi sedikit-sedikit menguping pembicaran dr.Yusuf dengan pasiennya, sok-sok tahu tentang gejala pasiennya, menulis catatan kecil untuk beberapa penyakit yang dia tidak tahu, walaupun kadang-kadang Dewi ini sedikit menganggu dr.Yusuf. Di kesempatan kedua ini Dewi banyak bertanya sama dr. Yusuf, dr.Yusuf yang sedang menghadapi pasien menjawab dengan bahasa Inggris, ada waktunya Dewi diperbolehkan mendengarkan suara jantung murmur oleh dr.Yusuf dari pasiennya yang mengalami kelainan jantung, sebuah pengalaman yang luar biasa, pikirnya.
Dewi banyak belajar dari dr.Yusuf, bagaimana beliau sebegitu sabarnya mendengarkan keluhan pasien yang terkadang melebar menjadi sebuah curcol atau bahkan betapa sabarnya dr.Yusuf ketika dibilang gaptek oleh salah seorang pasiennya. Dan melihat betapa sopannya dr. Yusuf menghadapi pasiennya yang tidak sabaran yang perilakunya, bisa dibilang tidak enak dipandang.
Dewi juga, belajar banyak hal untuk menghargai hidup, ketika dia bertemu dengan salah satu pasien yang sudah mengidap penyakit jantung sejak SD, lebih tepatnya 40 tahun menderita penyakit tersebut karena kebocoran klap. Sebuah anugrah yang sangat dilahirkan dengan keadaan yang normal tanpa kurang sedikitpun.
Menuju Isya, Dewi tidak sengaja bertemu dengan Seniornya, Mas Yudha yang tiba2 muncul diantara antrian pasien untuk memberikan surat undangan oada dr.Yusuf, sebenarnya Dewi ingin mengobrol banyak sama senior yang sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri ini, namun waktu dan kondisi yang tidak memungkinkan membuatnya mengurungkan diri.
Jam berlalu begitu cepat, banyak sekali ilmu yang Dewi dapat. Pukul setengah 9 lebih, datanglah seniornya dari tahun 2006 yang baru saja lulus ujian UKDI. Akhirnya, Dewi harus pulang dan berpamitan sama dr.Yusuf, dr.Yusuf bilang smabil menunggu jemputan ada baiknya Dewi mencoba memasang EKG biar bisa. Well, akhirnya dengan bantuan mbak Septi dan mbak Ferri Dewi bisa memasang EKG dengan benar, ya walaupun ga benar-benar amat. Nah, sekarang Dewi bisa lebih mengerti di mana itu letak katup mitral, tricuspid, dan semilunar.
Hari itu setelah pulang dari apotek Aurora dan di jemput oleh mbak De, di kamarnya Dewi tersenyum senang bisa mendapatkan pengalaman yang limited edition bersama dr. Yusuf. Dewi jadi lebih memantapkan diri agar nantinya dia bisa jadi dr spesialis jantung. Ah, dasar Dewi dokter kecil yang sok tahu..
Tulisannya ini adalah sebagian kecil dari pengalaman sy, tak lupa terimakasih banyak untuk Mas Ijal yang telah memberikan kesempatan utk brtmu dgn dr.Yusuf, Mbak Ai yang rela ditinggalkan sendiri menjaga P2 dan menjeput sy, dan terimakasih sangat untuk dr. Yusuf yang sangat menginspirasi.
Sebuah malam dengan bulan yang Indah,
HDM