MEMBANGUN DARI DASAR
Meletakkan batu pada dasar bangunan adalah sesuatu yang sangat vital. Batu tersebut akan menjadi alas akan bangunan yang dibangun. Namun di jaman modern ini bentuk fondasi yang di buat bukan lagi menggunakan batu seperti fondasi bangunan sederhana tempo dulu. Bangunan jaman modern ini di bentuk sedemikian hingga, dan memiliki fungsi ganda. Oleh sebab itu, selain atas dasar kekuatan, dan daya pakai yang lama. Fondasi yang di buat itu, memerlukan sedikit sistem yang lebih mutakhir dibanding, bangunan di masa lalu.
Mungkin bisa dijadikan gambaran, bagaimana bentuk fondasi yang harus dibangun untuk generasi baru. Dan terkhusus, generasi yang sedang menjalani pendidikan di lembaga pendidikan yang tersebar di berbagai titik di seluruh nusantara raya, baik di tingkat kanak, dasar atau pun lanjut. Namun pada itu tidak akan pernah mudah. Sebab jika kita hanya menjadi peniru yang sudah ada tanpa tahu dan mempelajari seluk beluk diciptakannya fondasi bangunan itu, maka kita hanya akan membangun sesuatu yang mungkin saja tak dibutuhkan untuk kehidupan kita. Jika bangunan itu sudah tak sesuai dengan tujuan dan fungsi yang kita mau. Maka kita membuang waktu dan daya pikir kita, untuk sesuatu yang tak kita paham manfaatnya.
Pada hal-hal yang bersifat alami, seperti struktur alam semesta. Mereka terbentuk dari kejadian-kejadian khusus dan momentum, yang sebenarnya jika kita mau mencari tahu, mereka memiliki aktivitas kecil yang jarang kita gali, dan aktivitas tersebut memberi dampak juga dalam hidup makhluk. Revolusi bumi akan menciptakan musim yang berbeda, erupsi gunung akan menyemburkan debu, yang membuat subur, namun mereka harus membuat beberapa flora tersebut mati terkubur menjadi humus tanah. Lempeng benua yang saling bertemu akan menggerakkan dataran, yang akan mengangkat sebagian permukaan laut menjadi dataran baru. Boleh mungkin hal tersebut disebut sistem dasar yang bahasanya hanya bisa dipahami oleh mereka yang mau membaca gerak semesta.
Namun bagaimana dengan membuat pola dasar dalam pendidikan, agar mereka juga merasakan, dan mengetahui bagaimana ruang-ruang yang diciptakan oleh sang pencipta tersebut merupakan ilmu yang bisa mereka pelajari, agar mereka bisa berlaku baik untuk semesta. Tujuan utama pendidikan apakah hanya untuk menjadikan sang penuntut ilmu itu menjadi cerdas semata, namun tumpul dalam memperlakukan sumber daya, ruang, waktu yang diberikan kepada mereka dengan tak bijak. Mengabaikan hak dan kewajiban antar komponen penyusun kehidupan.
Srrp....
Mari sejenak minum secangkir teh, jangan bubuhkan gula. Biarkan tetap tawar. Agar lidah kita terbiasa merasakan hal yang murni. Dan sistem di lidah kita tak dirusak oleh hal semacam rasa gula. Dan mampu merasakan pahit dari teh tersebut. Agar kita tahu bahwa rasa semacam itu yang dibutuhkan jantung, bukan yang manis yang tak terukur itu. Mereka yang akan lambat laun, akan menggerogoti organ kita. Mari kita cari rasa yang sebenarnya dari menuntut ilmu, yang rasanya pahit dan cenderung tak kita sukai, namun tentu mereka mempunyai manfaat yang benar-benar dibutuhkan oleh kehidupan kita.
Di mana itu?
Apakah di sekolah, di kampus. Di mana ?
Di dalam dirimu ada universitas besar, yang bisa kau pelajari.
Di keluargamu ada perpustakaan besar yang harus kau baca.
Di tempat kau bertahan hidup ada detail-detail yang harus kau amati dengan saksama.
Mungkin hal tersebut yang akan membawamu ke atas titik yang cerah. Di situ kau akan dapat melihat dengan jelas, apa yang sedang alam kerjakan, sistem sosial bentuk di alam yang modern ini, dan paronama budaya yang dilahirkan jaman. Tapi kau akan memahami pola-pola pikir yang unik, dan autentik dari setiap makhluk, mereka digerakkan oleh apa, dan untuk ke arah mana?
Jika di sana, ada ruang yang sangat sempit. Maka memang mereka belum mampu memanfaatkan sesuatu itu.










