maGis, Menjalin kembali relasi spiritual.
Jika menurut Abraham Maslow salah satu perilaku aktualisasi diri tercermin dari kemampuan untuk mengapresiasi hal-hal kecil yang berulang (repetitif), maka mungkin kondisi saya saat itu jauh dari teori tersebut. Saya tidak merasa bahwa kucuran air di pagi hari saat mandi itu menyegarkan. Saya tidak berpikir bahwa bisa sampai kantor dengan selamat dan disambut dengan sapaan senyum rekan kerja adalah berkat. Bahkan saat saya pikir tanggal gajian bisa menjadi satu hari yang paling membahagiakan, pun rasanya berlalu dengan biasa-biasa saja. Berbagai macam cara menghabiskan weekend yang saya lakukan pada akhirnya seperti kegembiraan semu yang mudah memudar ketika hari Senin kembali tiba. Seperti ada yang hilang secara perlahan dari diri saya sejak identitas saya berubah dari seorang mahasiswa menjadi karyawan.
Jawabannya mulai saya temukan pada suatu hari sepulang mengikuti kegiatan pertemuan bulanan (perbul) maGis yang membahas kisah hidup Santo Ignatius; dari Inigo menjadi Ignatius. Kisah pengalaman Santo Ignatius yang meninggalkan kebangsawanannya dan mendirikan Serikat Jesus dengan digerakkan oleh perasaan dicintai Tuhan yang besar, begitu mengusik hati.
Saya teringat sebuah pengalaman perjalanan spiritual yang pernah saya lakukan sebelumnya. Ada pengalaman-pengalaman di masa lalu yang membuat saya pernah berpikir bahwa konsep beragama adalah suatu doktrin yang saya terima dan ‘terberi’ ketika saya lahir ke dunia. Sesuatu yang tidak pernah saya minta dan tidak saya pilih namun saya jalani semata sebagai bagian hidup ‘normal’ dalam lingkungan keluarga yang menghidupi saya. Banyaknya realita yang tidak sesuai dengan ekspektasi saya terhadap kehidupan beragama membuat saya nyaris acuh dan meninggalkanNya. Sampai akhirnya seorang rohaniawan memberi ‘tamparan keras’ kepada saya, menggerakkan saya untuk mempertanyakan dan terus mencari. Pencarian yang akhirnya membawa saya pada kesadaran betapa Tuhan begitu mencintai saya.
** Kejenuhan dunia kerja yang saya rasakan lantaran belum sepenuhnya menyadari bahwa segala yang saya terima termasuk pekerjaan adalah bentuk kehadiranNya. Sekalipun pemahaman tersebut sebenarnya bukanlah hal baru dan sering muncul dalam rupa-rupa quotes dan kutipan, saya belum benar-benar mampu merefleksikannya. Bahkan tanpa sadar, saya mulai menetapkan ukuran dan standar tentang kebahagiaan. Betapa mudahnya saya terlena, beraktivitas semata bertujuan untuk kepentingan diri dan meninggalkan relasi spiritual yang pernah saya bangun. Melalui latihan rohani Examen, saya merasa mulai disapa kembali meski dalam menjalankannya masih harus bergulat dengan kemalasan.
Namun maGis memberikan lebih. Saya bukan hanya harus menerima dan menyadari kehadiranNya atas apa yang saya terima di masa kini. Melalui pengolahan sejarah hidup, saya berjumpa kembali dengan luka-luka di masa lalu yang sebenarnya belum seutuhnya mampu saya terima. Tapi saya sudah memilih untuk menjalani proses berdamai dengan hal-hal tersebut. Dan yang lebih penting saya juga belajar untuk melibatkan Tuhan dalam pengambilan keputusan melalui pembedaan roh (Discernment), bagian dari latihan rohani yang cukup ‘menguras diri’ untuk benar-benar mampu memahaminya. Mungkin karena saya lebih sering mengandalkan diri sendiri dan teori-teori sebelum mengambil keputusan. Kesadaran demi kesadaran yang perlahan muncul dan membawa saya kembali pada relasi spiritual denganNya mungkin tidak serta merta melepaskan seluruh rasa takut, cemas atau kadang kesepian. Hal-hal tersebut adalah sisi manusiawi dan menjadi bagian diri. Namun saya merasa terlalu ‘angkuh’ jika tidak mengakui bahwa Tuhan benar-benar mampu ditemukan dalam segala hal. Dan ada sebuah keyakinan diri bahwa pada saat-saat kecemasan dan kesepian itu, Ia justru bisa lebih dulu menyapa. Seperti halnya pada suatu siang yang terik dan saya merasa hidup menjadi kurang menarik, Ia menyapa saya melalui sebuah poster di papan gereja. Poster yang akhirnya membawa saya mendaftarkan diri dan bergabung di maGis. Finding God in All Things.







