Film keluarga dengan makna Personal
Review film Ngeri-Ngeri Sedap
Oleh Agnes Lisdiani Simamora
Saat melangkahkan kaki keluar dari ruangan bioskop, rasanya saya ingin mengucapkan terima kasih secara langsung kepada Sang Sutradara sekaligus penulis naskah, Bene Dion Rajagukguk.
Bagi saya pribadi Bene Dion berhasil menyuguhkan film yang sungguh personal. Setelah lama tidak menulis review film, saya tidak bisa untuk tidak menuliskan apa yang terbesit dalam benak, setelah lagu Viky sianipar berjudul “Huta Namartuai” terlantun, menutup keseluruhan cerita.
Berkisah tentang cerita sederhana sebenarnya. Konflik keluarga antara orang tua dan anak. Namun, karakter yang dimainkan dalam film ini sungguh terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari khususnya ketika kamu terlahir sebagai orang batak.
Ada beberapa film ber-setting cerita tentang suku batak yang sudah saya tonton, namun film ini adalah film yang memiliki pesan dan unsur “ke-batak-an” yang paling dalam dan berkesan.
** Sudah bertahun-tahun, Pak Domu dan Mak Domu tidak bertemu dengan ketiga anaknya yang mengejar mimpi di perantauan. Selain karena rindu berat, keharusan untuk menghadirkan anak-anak mereka di Pesta “Sulang-sulang Pahoppu” membuat mereka berpikir keras dan tercetuslah ide berpura-pura akan bercerai demi memaksa Domu,Sahat dan Gabe pulang kampung.
Dari sinilah konflik cerita dimulai. Kita akan dipertontonkan bagaimana pengembangan karakter Pak Domu yang diperankan dengan baik oleh Arswendy Nasution. Menjadi seorang kepala dalam keluarga batak, kuat dengan nuansa patriarki. Cenderung dominan dan memiliki keegoisan yang tinggi terutama dalam memutuskan masa depan anak-anaknya. Sungguh relate dengan karakter Bapak dalam keluarga Batak kebanyakan.
Hal inilah yang membuat ketiga anak laki-laki dari Pak Domu merasa sungkan pulang. Kerinduan dan rasa cinta terhadap orang tua harus mengalami pergolakan dengan rasa kesal dan keinginan kuat untuk melawanan apa yang menjadi keinginan Pak Domu selaku Bapak yang sudah membesarkan dan menyekolahkan mereka.
Domu sebagai anak tertua yang diharuskan menikah dengan wanita Batak agar mampu meneruskan adat, ternyata akan segera menikahi wanita Sunda. Gabe yang seorang Sarjana Hukum lebih memilih menjadi pelawak dibanding bekerja sebagai Jaksa atau Hakim. Sahat, anak bungsu yang seharusnya mewariskan rumah peninggalan orang tua dan hidup di kampung, justru memilih menetap di Yogyakarta karena menemukan kedamaian hidup bersama seorang Bapak bijaksana bernama Pak Pomo.
Sarma satu-satunya anak perempuan yang dianggap Pak Domu paling berbakti karena bekerja sebagai PNS di kampung dan mengurus kedua orang tuanya ternyata menyimpan pergumulan karena harus mengorbankan mimpinya untuk sekolah memasak. Seorang anak perempuan yang diharuskan menurut keinginan orang tua dan tidak boleh melawan.
Konflik-konflik keluarga yang justru semakin membuat relasi seorang Bapak dengan anak lelakinya semakin kaku dan dingin.
Saya tidak akan menceritakan banyak spoiler dalam review ini.Tapi ada satu adegan yang sungguh sangat ingin saya tuliskan.
Yaitu dialog saat Sahat pamit pulang ke Yogyakarta. Dialog yang bagi saya cukup meruntuhkahkan ego Pak Domu sebagai Bapak yang keras kepala. Saat Sahat mengatakan bahwa Pak Pomo seorang bersuku jawa, yang justru mengajarkannya tentang pentingnya untuk lebih banyak “mendengar” dan mengharuskannya pamit dengan Bapaknya secara baik-baik. Hal yang justru tidak didapatkannya dari Bapak kandungnya yang egois dan memaksakan kehendaknya sendiri. Adegan yang sungguh sangat jujur dan apa adanya. Bahwa meskipun sudah menjadi Orang tua,adalah perlu untuk tetap dan terus belajar bahkan jika pelajaran itu didapatkan justru dari seorang dari kebudayaan dan adat yang berbeda
**
Bagi saya pribadi, selain sudah dimanjakan dengan sinematografi indah ditambah lokasi Danau Toba yang memang super Indah, musik karya Viky Sianipar yang tidak terlalu mendominasi pun mampu membuat saya terhanyut dalam suasana melankolis.
Akting para komika dan komedian seperti Tika Panggabean, Indra Jegel, Lolox, Boris Bokir dan Gita Bhebhita cukup mampu membangun suasana haru sekaligus kocak.
Seperti yang disampaikan Bene Dion, cerita dalam film ini memiliki cerita yang personal dalam kehidupan pribadi sang sutradara. Pun bagi sebagian banyak penonton terutama yang bersuku batak termasuk saya.
Jika cerita ini mengisahkan tentang anak perantauan yang diminta pulang ke tanah leluhur mungkin cerita saya tidak begitu. Sebagai perempuan berdarah batak yang lahir dan besar bukan di tanah batak, perantauan saya ke Tanah Batak adalah justru menjadi kepulangan saya.
Film ini menjadi relate justru karena perantauan saya ke tanah batak yang membuat saya mampu lebih mengenal langsung bagaimana adat dan budaya leluhur.
Melalui film ini kita disuguhkan beberapa cuplikan bagaimana adat dan kebudayaan Batak salah satunya “Sulang-sulang Pahoppu”. Bagi saya beberapa adegan itu adalah ajakan sang sutradara dan penulis naskah untuk tetap mencintai dan melestarikan budaya batak. Namun yang tidak kalah penting adalah pesan tersirat dalam film ini, bahwa ada beberapa hal mengatasnamakan adat yang perlu dilihat kembali dan tidak dapat dipaksakan, mungkin kamu yang membaca review ini akan mengerti saat menonton langsung filmnya :)
Score film : 8/10











