Riuh dikepalamu, orang lain juga memilikinya. Hanya saja ketika berjalan berpapasan tampak biasa saja, tapi sebenarnya mereka sama demikiannya denganmu. Mahir nya manusia tidak kelihatan bahwa sebenarnya mereka saling berantakan.
@menyapamakna1

seen from Brazil

seen from Australia
seen from China
seen from Malaysia
seen from Russia

seen from India

seen from United States

seen from Indonesia
seen from Malaysia

seen from Bangladesh
seen from United States
seen from Indonesia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from China
Riuh dikepalamu, orang lain juga memilikinya. Hanya saja ketika berjalan berpapasan tampak biasa saja, tapi sebenarnya mereka sama demikiannya denganmu. Mahir nya manusia tidak kelihatan bahwa sebenarnya mereka saling berantakan.
@menyapamakna1
Jika dunia ini adalah perihal memancing, maka:
Sedih adalah ketika tali pancingmu putus.
Kecewa adalah ketika kau berharap ikan besar, tapi yang tersangkut hanya ikan kecil.
Stres adalah ketika kau terus menarik tali, berjuang melawan ikan besar yang tak mau menyerah.
Dan depresi — adalah ketika kau masih memancing, tapi tak lagi tahu untuk apa kail itu dilempar.
Sedih membuatmu menangis.
Kecewa membuatmu berpikir.
Stres membuatmu bertahan.
Tapi depresi membuatmu berhenti berjuang.
Untuk mengobati semua rasa itu, kau hanya perlu menganggap masalah terbesarmu seperti masalah terkecilmu.
Tali putus — beli lagi.
Dapat ikan kecil — terima saja, lalu mancing lagi.
Ikan besar datang, kau lelah — berjuanglah dulu.
Tak tahu mengapa — lakukan saja, dan temukan makna barumu.
Tak akan mudah, memang.
Tapi pada akhirnya, itulah satu-satunya hal yang akan kau lakukan — Yang membedakan hanyalah waktunya —
sebab manusia selalu belajar berdamai, bahkan dengan dirinya sendiri.
Menjadi Bijaksana
Aku ingin menjadi seseorang yang bijaksana. Orang yang cerdas, orang yang bertindak setelah mencoba memahami situasi sesungguhnya. Menjadi bijaksana juga berarti menjadi hati-hati, tak terburu-buru membuat keputusan sebelum mempertimbangkan segala sesuatunya. Dan aku percaya, untuk menjadi bijaksana, aku perlu menginternalisasi pemahaman bahwa semua hal yang terjadi tak terjadi tanpa alasan. Ada tujuan di balik setiap pertemuan, ada makna di balik setiap kejadian. Aku ingin menjadi bijaksana dan sebelum itu, aku ingin benar-benar paham bahwa peristiwa seburuk apa pun yang terjadi di luar keinginanku akan memberiku pelajaran berharga. Mungkin aku tidak akan pernah menjadi seseorang yang bijaksana di setiap kesempatan, tapi kurasa niat dan upaya untuk mencapainya adalah sesuatu yang membanggakan.
Senantiyasa, 2026.
Makna
Many thanks to @delyth-thomas-art for commissioning art of Makna from Spirit Caller!!!! Here she is:
Thank you ever so much for the commission, it was a blast!
If anyone else is interested in my commissions, info can be found here - both for art commissions (the above artwork was a crisp £20) and for editing commissions (£1 per 1k words) and my Ko-Fi can be found here!
Is Chrismas!
Patreon reward for @ctheldraws , they asked for a Festive Makna. Despite being a sassy grumpy dragon, its the best season as everyone gives her carrots.
Aku dan prasangkaku
Aku ingin melihat segala sesuatu dengan lebih tenang, bukan dengan rasa iri dengan rasa dengki rasa ketidakcukupan. Aku ingin melihat segala sesuatunya dengan lebih baik, bahwa setiap orang selalu melewati proses yang tidak mudah dalam hidupnya, bahwa setiap orang selalu bertahan dalam menjalani setiap hariharinya. Aku meyakini Allah mendekatkan setiap orang dengan tujuan di hidupnya. Hari ini aku ingin membesarkan prasangka baikku. Pada orang orang yang selalu datang disekitarku, pada kesempatan yang selalu ditawarkan untukku, pada rasa jatuh lelah dan berliku yang aku jalani. Pada rasa cinta dan rasa bahagia yang sederhana tapi membuatku bermakna. Hiduplah dengan lebih baik, mekarlah dimanapun kamu tumbuh. Berikan selalu kenangan indah pada siapapun yang mengenalmu.
20 Januari 2026
Seorang teman mengirimkan pesan WA berisi beberapa VN yang setiap durasinya cukup panjang. Orang ini adalah salah satu teman ngobrol saya selama kuliah S2 dulu di Yogyakarta. Apa saja jadi bahan obrolan kami. Selain karena sesama wanita yang suka cerita, juga kami merasa sefrekuensi dan seperspektif tentang banyak hal.
Dulu, kami sering sepulang kuliah sengaja naik transjogja karena sudah waktunya pulang tapi obrolan kami belum selesai. Jadilah memilih naik transjogja adalah jalan ninja, tetap pulang meski waktu sampainya lebih lama. Jadi di jalan kami masih bisa melanjutkan pembahasan. Padahal beberapa kali saat di transjogja kami tidak dapat tempat duduk, alias berdiri sepanjang jalan. Tapi tetap saja, tidak menjadi penyebab kami menghabiskan waktu di transjogja hanya dengan diam saja.
Dia ini juga temen berjuang saya dalam mempersiapkan bekal untuk seleksi CPNS tahun 2024 kemarin. Saya yang begitu ambis dengan ritme belajar yang suka di luar batas, punya temen belajar yang serius tapi tetap sellow seperti dia adalah sebuah anugerah. Sering jadi rem kalau saya terlalu ngebut belajar sampai lupa istirahat.
Naah... Jadi, di antara banyaknya VN yang dia kirim, ada satu pertanyaan dia yaitu tentang "Kamu belum ingin untuk lanjut studi S3?" yang menjadi remainder lagi buat saya kalau ternyata sejak lulus S2 tahun 2021 sampai dengan saat ini, saya kok belum tergerak untuk mengeksekusi keinginan lanjut pendidikan. Bahkan orang tua saya sudah beberapa kali menanyakan juga, dan saudara saya sudah pernah merekomendasikan.
Teman saya ini ternyata sedang mempersiapkan proses lanjut studi S3nya. Dan sebagai orang yang selalu jadi partner dia berjuang mulai dari S2 dan tes CPNS, dia berharap agar kali ini saya juga bisa gedebag-gedebug bareng dia dalam proses belajar di jenjang S3.
Saya sempat tertawa setelah mendengar salah satu alasan kenapa dia ingin lanjut S3 adalah karena dia batal menikah. Sehingga dia memilih untuk melanjutkan perjalanan untuk masa depannya dengan kuliah (lagi) aja. Tapi saya yakin, bukan karena itu tujuan utamanya. Dia bekerja sebagai seorang dosen dan sebagaimana yang kita tahu, bahwa dalam profesi tersebut tuntutan untuk terus mengupgrade pendidikan tidak bisa dipungkiri. Tapi itu juga pasti bukan satu-satunya alasan dia memutuskan pilihan lanjut S3.
Lalu bagaimana dengan saya?
Apa yang menyebabkan saya belum tergerak untuk mengeksekusi keinginan melanjutkan pendidikan ke S3? Apa karena saya merasa S2 adalah pemberhentian terakhir dari perjalanan pendidikan saya karena saya bukan seorang dosen? Apa karena saya tidak berniat untuk menduduki jabatan tertentu dalam struktur profesi saya saat ini? Ah ternyata sudah cukup lama saya tidak mempertimbangkan hal itu. Bukan karena saya merasa tidak mampu atau takut dengan gelarnya. Saya masih percaya pada kemampuan saya, percaya pada hak setiap orang pantas untuk melanjutkan pendidikan setinggi apa pun kapan saja dia siap tanpa melihat profesinya.
Saya hanya masih belum menemukan strong why yang cukup kokoh. Saya belum selesai mengumpulkan bekal yang bisa menjadi bahan bakar saya bertahan di tengah badai yang akan saya hadapi selama kuliah nanti. Karena saya yakin, tidak hanya cuaca cerah yang akan saya temui dalam perjalanan itu, tetapi juga sepaket dengan badainya. Teman saya itu tentu sudah menemukannya lebih dulu.
Saat S2 dulu, saya punya alasan yang sangat jelas. Alasan itu membuat saya menikmati dan mampu bertahan di tengah tugas yang terasa sulit, rasa bosan dan rasa lelah. Untuk S3, pegangan itu belum cukup kokoh saya bangun untuk menjadi alasan dalam berproses lebih jauh, menghadapi tuntutan akademik yang pasti lebih demanding, lebih kompleks dan lebih membutuhkan komitmen jangka panjang. Tentu akan berbeda lagi dengan sewaktu S2.
Bukan juga takut karena belum menikah, S3 akan membuat laki-laki tidak berani untuk berproses dengan saya. Sehingga jadi penghalang jodoh. Saya percaya pendidikan dan jodoh adalah dua hal yang berjalan di jalurnya masing-masing. Mereka bisa saling bersinggungan, tapi tidak saling menghalangi.
Saya juga sepakat bahwa melanjutkan pendidikan bukan sebatas tentang gelar atau jabatan semata, bahkan perempuan yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga juga berhak untuk punya pendidikan tinggi. Meski saya bukan dosen, saya tetap merasa perlu untuk meng-upgrade ilmu dan cara berpikir. Sebagai seorang pendidik, saya percaya bahwa pendidikan adalah proses panjang yang tidak mengenal masa berlaku telah berakhir.
Pada akhirnya, tidak semua orang harus melangkah di waktu yang sama, dengan alasan yang sama. Ada fase menyiapkan diri, ada fase menunggu rasa siap itu datang di diri masing-masing. Bukan karena saya selalu jadi partner berjuang teman saya, akhirnya saya jadi ikut-ikutan lanjut S3 padahal diri saya sendiri belum yakin dengan itu. Saya cukup jadikan pilihannya sebagai motivasi dan referensi.
Tapi semoga suatu hari nanti, ketika saya memilih melanjutkan pendidikan lagi, keputusan itu lahir dari keyakinan yang utuh dan keberanian menangung semua konsekuensi dari proses yang akan dijalani. Ada Allah sebaik-baik yang akan menolong dan memudahkan insya Allah...