Aku Juga Dulu Menyontek (3)
Sebelum membaca tulisan ini, silahkan baca dulu Aku Juga Dulu Menyontek (2)
Begitupun di SMA. Aku masih melakukan kebiasaan Kerja Sama. Lingkungan semakin menjadi-jadi merayuku untuk menghalalkan menyontek. Suatu perbuatan yang ringan namun dapat menjerumuskanku ke neraka apabila aku terus membiasakannya. Semakin aku ingin berhenti melakukannya, semakin setan menarikku ke dalam kebiasaan itu. Ia tak mau aku berhenti menjadi temannya.
Pernah seorang temanku yang senang mendiskusikan berbagai macam hal berkata padaku,
X: Sir, nyontek itu dosa kan? Kalau kerjasama nyontek bukan?
S: Kenapa ya? Soalnya kita make jawaban temen waktu ulangan kan?
X: Kata aku sih ngga. Menurut aku, definisi nyontek itu ngeliat pekerjaan temen tanpa diketahui sama orangnya. Kalau kerjasama itu kan kitanya sama-sama udah sepakat untuk saling ngasih tau. Iya ga?
Maka semakin menjadi-jadilah kebiasaan menyontekku. Aku setuju dengan pendapat temanku, tapi aku sebenarnya ragu. Kalau memang kerjasama bukan bagian dari menyontek, lalu kenapa teman-temanku di DKM mengharamkan hal itu? Kenapa guru-guru melarang kami untuk kerjasama?
Semester 2 kelas X, aku mulai berusaha untuk berhenti menyontek. Pernah saat ulangan kimia dibagikan, nilaiku 6 sendiri diantara ke-3 teman dekatku yang semuanya mendapat nilai 9 karena mereka kerjasama. Aaah susah banget pokoknya buat jadi orang jujur. Sering aku mendapat tawaran jawaban saat ulangan, kadang aku tolak, kadang juga aku terima kalau kepepet. Ya, belum jujur-jujur amat sih sebenernya. Namanya juga masih belajar untuk jujur. Jadi kalau ulangan kadang jujur, kadang ngga.
Suatu hari, aku mendapat invitation group di facebook dari kakak kelasku. Nama groupnya, Mandiri-Terpercaya Gerakan Anti Nyontek Pelajar Nasional ~ "MANTEP GAN"
Wow, baru tau ada gerakan macam gituan. Mereka membuat group dan event di media maya tentang kejujuran. Mereka membuat suatu propaganda yang ketika mereka melaksanakan UN, maka orang-orang yang jujur menggunakan pita biru.
Dan saat Ujian Kenaikan Kelas tiba, ternyata kelas 1 dan 2 juga diajak untuk memakai pita biru. Termasuk aku. Sebenarnya aku ga mau memakainya, karena takut tiba-tiba di tengah ujian merasa kepepet lalu menengok kanan kiri. Tapi berhubung saya teman dekat dari si penyebar pita biru, dan karena saya anak DKM (kebanyakan anak DKM pake pita biru), dan juga saya seruangan dengan ketua DKM, saya jadi ga enak kalau ga pake pita biru. Yeah, dengan terpaksa aku pasangkan pita biru di lengan bajuku. Dan aku berazam untuk tidak menyontek sama sekali (sebenernya nangis dalam hati). Banyak teman-temanku yang bertanya apa fungsinya pita biru, meledekku karena aku sendiri yang memakai pita biru di kelas. Beberapa ada yang minta pita biru untuk dipakai mainan. Situasi yang sangat tidak enak.
Pernah di salah satu mata pelajaran yang aku benci, aku hampir sama sekali tidak bisa mengerjakannya. Lalu aku membuat dadu dari penghapus, lalu aku menuliskan huruf A sampai E di setiap sisinya. Saat yang lain bekerjasama dengan hedonnya, aku berusaha menutup mata. Lalu berteriak dalam hati, “Aaaa pengen lepas pita biru! Pengen kerjasama juga!”. Bahkan kakak kelas yang sebangku denganku menertawai tingkahku. Lalu aku tertunduk lesu. Lemas. Kesal karena hampir seluruh penjuru kelas kulihat sedang saling menanyakan jawaban. Aah, sudahlah. Pasrahkan saja.. Aku sudah terlanjur janji untuk jujur.
Bukannya mau memberi contoh yang buruk. Hanya mau menunjukkan bahwa kejujuran berlaku tidak hanya untuk orang-orang yang pintar. Mungkin kebanyakan dari kalian berpikir, orang yang pintar mudah untuk jujur karena mereka bisa mengerjakan ujian sendiri. Tidak bagiku. Bukan orang yang pintar yang dapat menerapkan kejujuran, tapi orang yang berusaha jujur akan terdesak untuk belajar. Misalnya, ada orang yg terbiasa nyontek saat ujian. Tentu sebelum ujian dia belajar setengah-setengah, karena ia yakin bahwa saat ujian nanti akan ada yang menolongnya dengan memberi jawaban. Tapi orang yang belajar untuk jujur, ia akan belajar lebih ekstra daripada yang lain. Hasilnya? Ia justru bakal jadi lebih pintar dari sebelumnya. Okelah mungkin di awal nilainya banyak yang turun. Tapi ia akan belajar dari kesalahannya lalu belajar lebih ekstra lagi di kemudian hari.
Bagi teman-teman yang mau UN, belum terlambat untuk berhenti dari kebiasaan menyontek. 22 hari itu waktu yang lama kalau kalian gunakan seefektif mungkin. Toh target kita kan cuma lulus. Masih ada Latihan UN 2 untuk latihan jujur. Apalagi bagi kalian yang sebenarnya sudah pintar. Kenapa harus nyontek?
Ingat, bergantung itu cuma sama Allah, bukan sama teman yang pintar, bocoran, atau contekan lainnya.
“Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkanmu. Jika Allah membiarkanmu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah yang dapat menolongmu selain Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu’min itu bertawakkal” (Ali Imran:160)