. . . 50 JUTA, 2 HARI ? . .
Tulisan ini bukan bercerita tentang bagaimana mendapatkan 50 juta dalam 2 hari ataupun bagaimana carannya menghabiskan uang 50 juta dalam 2 hari.
Tulisan ini saya buat karna saya terinspirasi—sebenarnya terlukai—dengan perkataan salah satu dosen saya yang mengatakan bahwa anak Fakultas Ekonomi dan BISNIS (FEB) tidak lebih cerdas dari anak Fakultas lain dalam hal berbisnis.
Ceritanya begini, 2 hari yang lalu saya berada disuatu kelas untuk mendapatkan materi kuliah, dosen yang mengajar saya adalah dosen yang sering mengajar di fakultas-fakultas selain FEB—maklum mata kuliah umum—. Menyinggung soal bisnis, beliau bertanya “kalau kalian saya kasih uang 50jt, dan dua hari lagi saya minta profit, kalian mau buka bisnis apa?” seketika kelas senyap........... kemudian ada yang menyahut “main togel pak” seketika pula kelas kembali pecah. Tak ada satupun mahasiswa di kelas saya yang mempunyai ide cemerlang untuk menjawab pertanyaan dosen yang satu ini. Dengan nada meremehkan beliau berkata “hahaha kalian itu kalah sama anak fakultas perikanan, fakultas pertanian, fakultas peternakan, dll. Kalau saya mengajar di fakultas mereka dan menanyakan hal yang sama, mereka langsung menjawab dengan cepat mau bikin pakan ternak lah, mau bikin tambak lah, mau bikin pupuk lah, lah kalian ini gimana, anak bisnis kok malah bingung? Bahkan jika ada lomba PKM kewirausahaan, anak ekonomi jarang muncul sebagai juaranya.”
Oke stop sampai disitu ceritanya.
Peristiwa hari itu selalu berputar-putar terus dalam pikiran saya, hampir setiap hari saya memikirkannya. Sempat saya berpikir, apakah benar di FEB ini budaya bekarya mahasiswanya sudah berubah menjadi budaya bekerja ? kenapa saya berpikir seperti itu, karena sebagian lebih dari semua orang yang saya kenal di FEB orientasi masa depannya selalu ingin mendapatkan perkerjaan (di Deloit, di PWC, di perusahaan ini itu, di pemerintahan,dll.) jarang sekali teman saya yang ingin membuka lapangan kerja alias berbisnis. Alasannya selalu sama “TAKUT RUGI”.
Lebih jauh dari itu saya juga sempat berpikir, keahlian apa yang bisa di BISNIS kan dari anak FEB ini. Misalnya, anak peternakan, mereka belajar tentang makanan ternak maka mereka bisa bikin pakan ternak yang berkualitas lalu di BISNIS kan, misalnya lagi, anak pertanian, mereka belajar tentang bahan-bahan pembuat pupuk maka mereka bisa bikin pupuk yang berkualitas lalu di BISNIS kan. Nah, sampai sekarang saya masih bingung apa yang bisa di bisniskan dari apa yang di pelajari oleh anak FEB di bangku kuliahnya ??? apa kita mau bikin bisnis dari SPSS ? AMOS ? (WHAT THE F***)
Perlahan-lahan, saya mulai menemukan “cahaya” mengenai permasalahan yang saya pikirkan. Singkatnya, saya sharing dengan senior saya, saya menjelaskan semua yang menjadi pertanyaan saya. senior saya juga bingung mengenai apa yang bisa di BISNIS kan dari apa yang kita pelajari di FEB ini. TAPI, dia menjelaskan kepada saya bahwa KITA anak Fakultas Ekonomi dan Bisnis punya yang namanya “PROFESIONAL ADJUSTMENT” kita sebagai anak ekonomi setelah lulus mempunyai “sesuatu” yang melekat pada diri kita yang membuat individu kita menjadi lebih berkualitas, dengan adanya “profesional adjustment” ini kita mempunyai “value added” tersendiri yang memudahkan kita mencari pekerjaan (Yahhh ujung-ujungnya kerja lagi, hehehee)
Dapat saya simpulkan, mungkin ada benarnya bahwa budaya berkarya perlu dimunculkan dan ditingkatkan lagi di lingkup mahasiswa FEB ini. Meskipun kita memiliki yang namanya “profesional adjustment” –menurut saya—itu belum cukup. Kita juga harus memompa otak kita untuk menciptakan karya yang kreatif. Tidak harus berorientasi dengan apa yang kita pelajari di kelas, mungkin kita juga bisa sekali-sekali “intip-intip tetangga” dalam artian mempelajari apa yang dipelajari oleh teman-teman kita di fakultas lain lalu di BISNIS kan –toh, menurut saya perkara me-manajemen Bisnis kita lebih jago—
Kamu ini bangun pagi, mandi, pamit kerja, pake seragam, kaki dibungkus sepatu, berangkat pagi pulang sore, bayaran nggak seberapa, KERJA apa diKERJAIN?
. . . --Bob Sadino-- . . .