

#batman#dc comics#dc#bruce wayne#tim drake#batfam#batfamily#dick grayson#dc fanart

seen from China
seen from China
seen from Ecuador
seen from China
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Tunisia
seen from Brazil
seen from United States
seen from Russia
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from Yemen
seen from Singapore
seen from Canada
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States
Maaf dan Kereta Sore
Hujan belum berhenti juga sejak dua jam yang lalu. Sementara satu jam lagi saya harus sudah duduk manis di kereta menuju Jakarta. Tas berisi laptop sudah siap beserta sebuah tas jinjing kecil berisi perbekalan makanan, in case saya akan kelaparan di jalan menuju ibukota - yang mana hanya tiga jam perjalanan.
Oke, sepertinya hujan berhenti atau tidak saya tetap harus berangkat, daripada mesti antri tiket lagi, ya kan?
Drrrrtttt.. drrrrttt.. Hp pink (tentunya tidak norak) di saku saya tiba-tiba bergetar, nampaknya ada seseorang yang menelepon.
"Ya, haloo?"
"Hoy, belum berangkat?"
"Ehehe. Belom, hujan gede dari tadi di rumah. Ini baru mau berangkat."
"Gue jemput ya?"
"Heh? Serius? Asiiiiik."
"Haha. Girang banget, yaudah tungguin di depan rumah, ntar langsung berangkat."
***
Setengah jam kemudian, dengan kepiawaian seorang Denis mengendarai Avega kesayangannya di tengah kemacetan Kota Bandung, akhirnya saya berhasil sampai di stasiun yang dengan ajaibnya selalu penuh luar biasa di akhir minggu.
"By the way, tadi gw tadi mampir ke toko makanan kesukaan lo, trus kebetulan cake kesukaan lo masih ada. Nih." kata Denis sambil menyodorkan sebuah kantung plastik berisikan kotak kue keju.
"Asik, makasih banyak Nis. Lo emang temen gue yang paling baik." sahut saya sambil nyengir kuda.
"Hahaha. Dasar bocah! Siapa bilang gue mau jadi temen lo?"
"Lah abis apaan? Masa musuh? Kalo musuh ga akan cape-cape ngasih cheesecake sama gue."
"Haha. Gue sayang sama lo Rum."
"Asik gue punya kakak yang sayang sama gue."
"Ya ampun ni bocah, gue bukan kakak lo ya. Gue sayang sama lo, dan gue mau lo jadi orang yang gue sayang selamanya."
"Hah?"
"Lo mau kan jadi orang yang bareng sama gue buat ngebangun masa depan?"
"Maksudnya?"
"You know what I mean."
" ... "
Tiba-tiba flashback semua masa lalu terlintas begitu saja. Lalu saya berlari sebisa mungkin menjauhi Denis, masuk ke dalam kereta, lalu duduk di kursi saya, dan terdiam. Rasanya lama sekali sampai tiba-tiba kereta melaju meninggalkan Bandung, juga Denis.
Maaf, saya masih terlalu takut untuk disayangi.