Adakah masa yang begitu lekat kau ingat? suatu masa yang dapat menghadirkan senyum pada wajah kita atau menggurat sesal dalam hati? Saya kebetulan memiliki masa2 seperti itu. Masa SMP. Adalah masa ketika saya menjadi murid yang bisa dibilang, cukup (oke, super) bandel Ah, banyak sekali kenakalan saya dan teman-teman kala itu, malu, dan sungguh, merasa berdosa sekali jika mengingatnya. Beragam benar polah kami. Teringat adegan saat saya menyembunyikan sandal perawat yang sedang mandi di kamar mandi guru, alhasil perawat itu mesti bertelanjang kaki melewati jalan bertanah menuju asrama kami. Beberapa dari kami juga pernah mendemo perawat tersebut yang saat itu kami anggap "over" (padahal sih ngga juga) dengan menempelkan kertas berisi kalimat-kalimat sindiran di tempat tidurnya. Bahkan teman saya ada yang begitu niatnya mengumpulkan puluhan kumbang untuk disebar di lemari dan kasur sang perawat. Ah, semakin diingat, walaupun konyol dan membentuk senyum, terasa nyeri juga di hati, guilty tingkat tinggi.
Pada masa-masa itu, di saat saya merasa beberapa guru tergolong gak asik, ada seorang guru yang begitu berbeda di mata saya. Beliau adalah guru kesenian sekaligus wali asrama. Sebenarnya, saya jarang berbincang-bincang dengannya. Jika ada masalah, saya enggan bercerita pada siapapun, termasuk padanya. Tapi saya merasa beliau selalu ada untuk saya, untuk kami anak bimbingnya, dengan cara yang terkadang sulit untuk digambarkan. Beliau yang membangunkan kami tiap pagi, mengingatkan kami untuk makan, memastikan kami pergi ke masjid dan ke sekolah tepat waktu, mengajak kami jalan-jalan, dan mengajari kami banyak keterampilan. Beliau bahkan kerap mencucikan pakaian beberapa teman yang direndam berminggu-minggu karena pemiliknya lupa atau malas mengurusnya. Saat saya bertengkar dengan sahabat saya, beliau berusaha mendamaikan kami dengan berbagai cara. Dan ketika pada akhirnya perang dingin kami reda, beliau mengajak saya dan sahabat saya bertemu, menegaskan kami untuk segera berjabat tangan, menggugurkan segala amarah yang sempat melimpah ruah.
Suatu pagi, pada ulang tahun saya yang ke 12 saya mendapati sebuah buku diary terbungkus rapi. Ya, diary itu pemberiannya. Beliau berpesan dalam diary itu agar saya terus dan tetap menulis. Saat itu saya memang gemar sekali menulis (tidak seperti sekarang, huhu) Dari caranya memberi (meletakkannya saat saya sedang terlelap, di tempat tersembunyi pada meja belajar saya) saya tahu bahwa kado itu kado rahasia. Maka ucapan terima kasih juga saya sampaikan secara rahasia kepadanya. Mungkin beliau juga pernah mengirim kado-kado rahasia pada teman-teman yang lain, yang tiada saya ketahui.
Saat kami memasuki catur wulan kedua di kelas dua, guru saya ini harus pindah dari asrama kami. Beliau beserta suaminya mendapat amanah untuk mejadi wali asrama putra. Kami, tentu saja sedih kala itu terutama beberapa yang telah begitu dekat dengannya. Setelah beliau pindah, praktis saya menjadi jarang bertemu dengannya. Ketika bertemu, saya kerap merasa canggung karena lama tak berjumpa sehingga seringkali menghindari kontak mata dengannya. Saya kuatir beliau bisa membaca apa yang sedang saya fikir dan rasa, sementara saya malas bercerita.
Suatu hari, menjelang musim ujian, beliau mengirim surat pada kami, personally. Yap, satu per satu. Pada 25 anak didiknya. Saat itu saya cukup penasaran apa yang akan beliau sampaikan pada saya. Beberapa teman yang sudah membuka surat untuk mereka bercerita tentang isi surat dari ibu guru kami. Ada yang mendapat untaian doa rabithah, ada pula yang mendapatkan kata-kata motivasi agar terus semangat menghadapi ujian nanti. Saya buka juga surat untuk saya. Cukup singkat. Hanya sebuah judul dan dua paragraf menyertai. Ya, saya mendapat sebuah puisi. Puisi pertama yang saya terima dalam hidup saya. Serangkaian kata yang somehow membuat saya merasa blessed telah terlahir di dunia ini. Selembar kertas yang membuat saya merasa dicintai, dan membuat saya sadar bahwa saya tidak pernah benar-benar sendiri. Dua paragraf yang membuat saya merasa harus menyayangi dengan tulus, membuat saya ingin mempersembahkan puisi juga untuk orang yang saya cintai, suatu saat nanti. Puisi itu berjudul Asma Karimah.
Ingin rasanya kupeluk mata itu
Karena di dalamnya ada rindu
Sorotnya tak dapat kelabui aku
Sinarnya makin meyakinkanku
*lot of love for our teachers and our special nurse