#14
Kejutan! Tempo hari, selepas raga ini mengenalmu, aku jadi lupa diri. Semua tentangmu aku abadikan di sini. Terpatri baik-baik di dalam hati. Keyla, mungkin akan mengagetkan buatmu. Jika kau bertanya apa musik kesukaanku, maka aku akan menjawab bahwa musik kesukaanku adalah musik aliran hardcore. Aku suka mendengarkan lagu dari band-band Slipknot, SOAD, Bring Me The Horizon, Walls of Jericho, atau beberapa band hardcore Indonesia seperti Burgerkill, Dead Squad, Forgotten, Siksa Kubur, Purgatory, dan Nemesis. Apa kau pernah mendengar nama band ini, Key? Hahaha. Mungkin kau akan heran, bagaimana bisa aku menikmati lagu-lagu bertempo menghentak diiringi suara vokalis dengan teknik scream, growl, atau grunt, yang buat sebagian orang hanya membuat telinga panas dan memekakkan. Tapi begitulah kenyatannya, buatku lagu-lagu seperti itu menjadi moodbooster untuk hari-hariku. Membuat jiwaku terlonjak dengan hentakkan semangat. Maka jangan heran, bila suatu kali nanti kau bertemu denganku -entah kapan, tentu saja- saat mendengarkan musik dari earphone yang tersumbat di telingaku, kau melihatku menganggukan kepala secara terus menerus. Jangan kau anggap aku gila, aku hanya sedang menikmati lagu yang menghentak di sana. Apakah mengejutkan buatmu, Key? Key, ada beberapa hal dalam hidup terjadi dengan penuh kejutan. Sesuatu yang tak pernah kau sangka bahwa kau dapat merasakannya. Hal yang mungkin hanya menjadi sebuah angan di atas langit-langit kepalamu yang kau tak tahu bahwa kau bisa meraihnya. Tapi semua terjadi begitu saja, tanpa aba-aba, tanpa kau duga-duga. Tiba-tiba semua hal yang kau angankan mewujud kenyataan. Membuatmu senang bukan kepalang, bahagia sejadi-jadinya. Mencipta debar-debar perasaan yang entah bagaimana bisa membuatmu tersenyum-senyum sendiri saat mengingatnya. Kejutan itu adalah kamu, Keyla. Mungkin Tuhan sedang berbaik hati, saat aku mengirimimu surat pertama kali, Dia bolak-balikan hatimu yang pesona itu sehingga membuat pikiranmu merasa perlu untuk membalas suratku. Lalu kita menjalani cerita begitu saja, sebulan penuh saling balas membalas surat. Hingga kita bisa saling mengenal antara satu dengan yang lainnya. Saling berbagi cerita, dongeng, puisi-puisi , tawa, dan air mata. Hingga kekagumanku semakin tandas untuk satu namamu. Atau mungkin, sebenarnya Tuhan hanya ingin bermain-main saja denganku, -tentu saja dengan memberikan perannya kepadamu. Untuk membuatku melayang-layang di atas langit dengan degup perasaan bahagia. Yang suatu saat nanti, -entah tak tahu kapan- akan menghempaskanku ke dalam lubang pengap bernama kesedihan dan kekecewaan yang begitu dalam. Ah, tentu saja aku tidak akan memikirkan itu lebih jauh. Belum apa-apa aku sudah begitu miris membayangkannya. Kau tidak akan tega mengecewakan hati yang bernaung kepadamu kan, Key? Key, cinta kerap datang dengan cara yang begitu sederhana. Engkau tak butuh adegan-adegan romantis seperti yang kau lihat di film-film drama untuk sekedar merasakan jatuh cinta. Engkau tak harus menjadi tokoh-tokoh fiksi dalam dongeng-dongeng picisan untuk merasakan bagaimana mewahnya sebuah perasaan cinta. Cukuplah kau menjadi dirimu sendiri, lalu biarkan semua mengalir seperti bagaimana adanya. Lalu suatu saat, akan datang momen dalam hidupmu yang membuatmu jatuh cinta. Entah bagaimana caranya. Entah kapan masanya. Termasuk aku saat ini. Aku mencintai kamu karena semesta bahu membahu membuatku menemukanmu. Dari lelaki yang kaupanggil Al. Ps: Hari ini hujan. Padahal kemarin mentari bersinar begitu terik. Terkadang, hujan menjadi kejutan yang menyenangkan. Kau tahu? Seperti halnya cinta. Hari ini kau merasakan kerontang, engkau tak pernah tahu, bahwa esok, lusa, atau seminggu ke depan bisa saja turun hujan. Membasuh kemarau yang kekeringan. Pernghapus dahaga saat kerontang. Tiba-tiba datang lalu pergi. Kemudian datang lagi dan pergi lagi. Tapi, sungguh Key. Aku tak pernah ingin beranjak pergi. Aku selalu ingin menjadi kejutan yang menyenangkan buatmu. Key. Di surat ini, kuselipkan dua bagian foto wajahku sekaligus. Jangan terkejut!. --------------------------------------- Terima Kasih Jangan terkejut? Setelah melihat fotomu secara keseluruhan dan kau bilang jangan terkejut? Seperti berjalan di bawah hujan tanpa payung ataupun jas hujan dan kau berteriak jangan kebasahan. Seperti hendak berlari di atas kerikil duri tanpa sepatu dan kau berkata jangan mengaduh. Seperti menceburkan diri ke laut maha dalam tanpa pelampung dan kemampuan berenang dan kau berbisik jangan tenggelam. Tidak mungkin.. Tidak mungkin aku tak terkejut, Al. Jika kemarau bermusim di pikiranku, kau pastilah hujan yang tiba-tiba turun mengusir debu. Kau adalah kedatangan yang mengejutkan seluruh sendi tubuhku, menggigilkan darah hingga ke sumsum tulangku. Kau adalah.. Kau.. Aku.. Aku tak mengerti. Berkali-kali aku membalas suratmu, berulang kali kau mengejutkanku. Berkali-kali aku menangis di bahumu, tak pernah berhenti kau mengusap kepalaku. Berkali-kali aku menatap matamu, tak pernah sekalipun aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Mengapa baru sekarang, Al? Atau mulai sekarang aku harus memanggilmu Saka? Usai membaca suratmu kemarin, aku merasa begitu kerdil. Betapa aku terlalu jauh mencari, betapa aku terlalu sibuk memperhatikan luka sendiri, betapa aku tak pernah sadar bahwa selama ini yang memahami berada di sisi kiri. Selalu dekat, berjarak tak lebih dari satu tatapan saja. Aku tak pernah tahu bahwa dalam pedihku, kau selalu mendekapku. Tak pernah menyadari bahwa dalam lukaku, kau selalu menggenggam tanganku. Berbaik hati meminjamkan bahu, mengusap kepalaku, lalu mengajak berdiri dan berjalan kembali. Betapa aku tak tahu apa-apa tentang dirimu, Saka. Lalu mengapa baru sekarang? Mengapa baru sekarang kau datang dengan sepucuk cinta? Aku tak habis pikir. Kau.. Sedang bermain-main kah? Sebab aku tak pernah berpikir bahwa kau yang mengirimiku surat selama ini. Tak pernah berpikir bahwa kau rupanya memendam rasa. Al, maaf. Maksudku, Saka.. Kau benar-benar pandai menyembunyikan banyak hal dariku. Sementara kau begitu tahu tentangku, aku kau buat buta tentang dirimu. Aku seperti orang bodoh yang menceritakan masalahku padamu sementara kau sudah benar-benar tahu apa yang terjadi padaku. Aku seperti orang idiot yang tak menyadari bahwa kau yang menghiburku melalui surat-suratmu adalah orang yang sama yang merentangkan pelukan, menyiapkan dada bagi air mataku untuk bermuara. Saka, di dalam cerita ini, aku kah yang paling tak tahu apa-apa? Hal ini terlalu mengejutkanku. Membuatku mengingat-ingat hingga jauh ke belakang. Saat pertama kali aku menerima suratmu dengan setangkai bunga krisan di atasnya, akupun ingat saat kau mengajakku bertemu di perpustakaan daerah. Sungguh aku tak habis pikir, akan jadi apa jika aku saat itu benar-benar pergi dan menemuimu? Akan semengejutkan ini kah? Terlepas dari siapa kau sebenarnya, aku telah lebih dulu tenggelam kedalammu. Entah aku sebut apa saat aku merasa berdebar membaca suratmu. Entah aku sebut apa saat berbincang denganmu mampu membuatku lupa pada lelah yang bertamu. Cinta kah? Aku.. Terima kasih. Aku tak tahu harus berkata apa selain berterima kasih kepadamu. Kau telah begitu baik menjagaku, memperhatikanku, dan memahami tiap tetes bening air mataku. Terima kasih, Al, Saka atau siapa pun kau. Terima kasih telah datang dan menemaniku saat aku benar-benar merasa kesepian. Terima kasih telah menjadi penopang bagi sendiku yang timpang saat aku sedang kehilangan pegangan. Terima kasih untuk semua hal yang kau lakukan dan telah luput aku perhatikan. Terima kasih telah menjadi kejutan paling menyenangkan bagi benakku yang penasaran. Terima kasih telah menjadi hujan bagi hatiku yang kekeringan. Terima kasih, Saka Aldrian. Terima kasih.. Key. Ps: Aku ingin menemuimu. Secepatnya.













