Jarum jam sudah menunjukan pukul 07.45, aku yang sudah beberapa hari ini mengikuti kegiatan Muslim Business School (MBS) baru beranjak dari rumah. Padahal biasanya jam segini udah sampe ditempat, karena budaya in time yang dibangun. Well, bersyukurnya dikasih jalan lancar dan sampai 5 menit sebelum pintu ditutup.
Setelah acara dibuka, pak Khoerul sebagai owner deJilbab yang punya acara memberikan arahan. Hari ini akan diadakan sebuah "misi" yang sejak seminggu terakhir ditunggu-tunggu oleh peserta MBS. Misi yang bikin kita naik asam lambung, migrain, 'cekat-cekot' jantung sekaligus bersemangat dengat amat sangat.
Sebuah misi dimana kita akan diturunkan di alun-alun kota Bandung. Tanpa uang, tanpa handphone, tanpa jam tangan, tanpa apapun yang bisa jadi modal. Cuma bawa barang yang nempel dibadan doang. Targetnya adalah, kita harus pulang dengan uang yang didapat. Mau dari hasil apapun selama caranya halal.
Setelah berbekal amunisi shalat dhuha dan tilawah al-quran. Dengan tingkat kepercayaan bahwa Allah akan memberi jalan. Bismillah, kita mulai bergerak menuju alun-alun. Padahal kayaknya semua orang pada bingung mau gimana nanti disana, mau ngapain nanti disana... yang penting Bismillah dulu deh.
Sampai di alun-alun. Langit sepertinya juga asyik memberi rezeki, berbentuk butiran air yang cukup deras. Ah, iya kebetulan yang mungkin sudah Allah rencanakan juga disana sedang ada acara santri, yang entah gimana mereka keliatan kayak uang yang lagi berjalan. Wkwk.
Setelah briefing menentukan tempat kumpul akhir, masing-masing mulai bergerak. Mencari cara untuk menghasilkan, berusaha untuk bisa 'pulang' saja lebih dulu. Beberapa oraang sudah mendapat ide jualan jasuke, yang lain mulai berpencar ke-segala arah membuktikan bahwa rezeki itu sudah Allah jaminkan, gantungkan, atau janjikan.
Mataku menangkap seorang laki-laki memakai jaket hijau, berdiri dibawah pohon, menunggui beberapa kotak donat. "Bisa jadi kesempatan nih" pikirku yang sudah berjalan melewati bapak itu. Aku mengambil langkah kembali, bertanya padanya
"Pak, boleh saya bantu jualannya? Saya bawa dulu gitu datu kotak nanti saya kesini lagi"
"Boleh atuh neng, seneng malah saya mah. Tapi suka ada satpol pp, saya ge udah kena berapa kali"
"Oh gitu pak..." sementara aku mencari jawaban yang meyakinkan bapak udah duluan ngomong lagi
"Ya, kalau neng berani mah sok aja"
"Boleh nih pak? Yaudah deh saya coba dulu" berbekal bismillah dalam hati. Semoga satpol pp lagi asik neduh, sambil makan mie. Wk
Akhirnya satu kotak berisi 12 donat yang masing-masing berharga 5 ribu berpindah tangan. Aku melancarkan aksi mencari orang yang mau membeli. Sampai di sebuah kumpulan ibu-ibu baru bertanya sudah ditolak lebih dulu, yasudah, syukuri dulu saja. Aku memutar otak. Mencari orangtua yang membawa anak kecil.
Aku membuka daganganku, bertanya pada ibunya barangkali mau membeli. Seperti biasa, Ia menolak. Aku tawarkan saja pada adenya "adenya mau? Mau yang mana?" Si ade yang liat warna-warni donat akhirnya menunjuk satu. 'Hahaha emak kalah nih sama anak' tawaku dalam hati. Alhamdulillah, 5 ribu masuk saku baju.
Aku kembali menawarkan donat dengan trik yang sama. Setelah terjual 1 lagi, sekelompok anak laki-laki memanggil "teh teh mau beli donatnya" aku seneng banget dong, "boleh-boleh mau yang mana?" Tanyaku "yang ini teh" aku mengambilnya.
Teman-temannya ikut membeli "bu bu mau yang ini" ini nih hal yang paling ga aku suka 'dipanggil ibu' tapi mikir 'dagangan gue harus laku', akhirnya ku senyumin aja, sambil ngasih adeknya donat yang dia mau. Dalam sekejap ke12 donat laris manis, menyisakan kotak kosong yang siap ku kembalikan pada pemiliknya.
Kembali ke bapak donat, ia sudah tidak ada ditempat. Bersyukurnya pedagang lain memberitahu lokasi si bapak. Aku diberi lagi 1 kotak baru siap untuk dijajakan. Menjelang dzuhur aku bertemu bu Rani, teman kelompok dan bertanya padanya.
"Gimana bu? Udah dapet berapa?"
"Belum ih ibu mah, masih 0"
"Hayu atuh bu, bareng aku aja"
Bu Rani tadi jual donat, tapi karena yang punya liat satpol pp belum sempet laku... eh ditarik duluan sama empunya.
Kita akhirnya mencari lagi orang yang bisa di prospek. Sampai dzuhur berkumandang. Kita memutuskan untuk shalat lebih dulu. Selesai shalat, aku mau memperkenalkan bu Rani pada bapak pemilik donat yang kujual.
Sampai disana, hujan sudah mereda. Aku bertanya pada pak Sulaiman apakah boleh bu Rani ikut berjualan. Dan kulihat beberapa orang dari MBS juga ada disana. Sebelum selesai bertanya, 2 orang laki-laki membawa bungkusan besar berisi nasi.
"Pak udah makan?" Ia bertanya pada pak Sulaiman. Sambil lalu mengambil satu kotak dan memberikannya pada pak Sulaiman
"Ibunya mau juga?" Ia bertanya padaku. Aku melihat coach Edy yang ada disana, boleh mengambil atau tidak. Coach Edy melihat laki-laki itu
"Boleh kang?" Sambil menerima kotak nasi.
Akhirnya kita mungkin sekitar 6-7 orang mengambil kotak nasi dari akang itu, dan mengucap syukur banyak-banyak.
"Sok neng makan dulu aja" pak Sulaiman menyuruh aku makan dulu. Sementara makan, aku kembalikan saja dulu donat dan modal yang sudah dipinjamkan.
"Jadi laku 20 donat ya, yaudah ke saya 70k aja"
Sisa 30k aku masukan saku, karena bu Rani bantu aku bagi lah aku 25, bu Rani 5 ribu. Lalu mencari tempat duduk dipelataran masjid sambil beristirahat, makan siang dan berbincang sebentar.
Selesai shalat makan, aku memutuskan untuk ke pasar baru. Mencari peruntungan disana. Setelah meneliti sekeliling dari lantai 1 hingga lantai 6, tidak terlihat ada kesempatan disana. Pasar yang termasuk lengang untuk ukuran 'pasar baru'. Di lantai 4 aku bertemu teh Mia yang juga sedang mencari peruntungan.
Aku dan teh Mia bertemu 2 orang penjual makaroni. Lalu meminta pada mereka untuk membantu menjualnya. Sayangnya negosiasi tidak berjalan terlalu baik, jadi kami disuruh untuk mrngambil langsung pada pemiliknya di lantai basement. Aku dan teh Mia lalu bergerak ke lantai basement.
Belum sampai di pintu basement, kami bertemu lagi dengan penjual lainnya. Ia berkata kalau pemilik usaha makaroni itu sedang dilantai atas, menjajakan juga jualannya. Merasa tidak ada harapan, kita akhirnya kembali ke alun-alun. Berharap disana bisa mendapat lagi beberapa lembar ribuan.
Sampai kembali di alun-alun, barisan orang berbaju hijau terlihat sudah berjaga di sekitar mesjid agung. Aku bertemu beberapa teman yang terlihat sedang beristirahat sambil bercerita pengalamannya.
Disana aku bertanya apa yang mereka lakukan untuk mendapatkan beberapa rupiah penunjang kehidupan. Bu Rani menjawab Ia mendapat uang dari memijat. 'Ah, boleh tuh' pikirku. Lalu mencari seseorang yang kira-kira butuh relaksasi setelah kegiatan panjangnya sampai menjelang ashar.
Alhamdulillah, tidak ada satu orangpun yang berminat untuk dipijat. Sehingga akhirnya aku memilih ikut menjual kaos dengan sembunyi-sembunyi tanpa terlihat oleh satpol pp. Saat sedang berkeliling, suara adzan ashar terdengar. Yang berarti alarm tanda berakhir kegiatan juga berbunyi.
Selesai shalat ashar kita berkumpul kembali, bersiap untuk pulang. Ada yang mendapat lebih dari 200 ribu, sampai tidak mendapat 1 rupiah pun seperti saat Ia datang kesana.
Alhamdulillah, aku benar-benar bersyukur mendapatkan pengalaman ini. Bagaimana menghargai uang, mengetahui sulitnya mendapat kepercayaan, merasakan berada di posisi mereka yang untuk makan saja tidak tahu darimana. Merasakan bagaimana nikmatnya sekotak nasi ketika tidak memiliki uang sama sekali. Berusaha untuk berbagi ketika kekurangan. Ah, ini benar-benar sebuah pengalaman yang tidak dapat dibeli dengan apapun. Allah itu ada, Allah itu dekat, rezeki Allah itu nyata aku benar-benar merasakannya hari ini.
Segala hal yang aku dapatkan hari ini, selamanya mungkin akan aku ingat dalam hati. Menjadi sebuah pegangan bahwa aku sanggup, aku bisa, kapasitas diri itu benar-benar harus ditarik sampai batas maksimalnya. Ketika memiliki rezeki sesedikit apapun, berbagi. Karena mungkin rezeki orang lain ada didalamnya, dan betapa tidak menyenangkannya tidak memiliki apapun.