My Depressed (Dream in Dream) (3)
layar menjadi gelap lalu kembali terang, memperlihatkan adegan lainnya dari kenangan masa silam.
~!@#$%^&*()_+
perlahan semua sepupu pulang ke rumah masing masing, tak banyak yang tersisa dari sepekan saling mengenal melalui kerja mengerjai. keakraban yang kini terasa terlambat, tapi membuat kami saling merindukan.
“waktu pertama kita ketemu, aku ngerasa kamu itu cewe ngeselin, nyebelin, anta, ga banyak omong, dingin, ga gaul, banyaklah”, ujarnya sambil tersenyum dan melihat ekspresiku yang mengkerut. “tapi sekarang beda, ternyata kamu itu menyenangkan, meski kadang masih tetap menyebalkan”
“sama aja, aku kira kamu itu cowo yang sok ganteng, suka tebar pesona, ngeselin, nyebelin, pengen banget minta tabok, dan lain sebagainya”, jawabku yang tarsenyum. “Dan ternyata emang kamu itu cowo yang sok kegantengan dan suka tebar pesona, dan sok imut”, tambahku menertawakan ekspresinya yang berharap untuk dipuji.
“yah, gimana dong. aku kan emang ganteng. senyum aja banyak yang terpesona, jadi gak perlu tebar pesona.” kalimatnya yang buatku melempar tumpukan bantal di kursi ruang tamu.
~!@#$%^&*()_+
semakin lama tiap bagian yang ku lihat memperlihatkan kedekatan kami, lalu kerenggangan yang mulai mencuat.
~!@#$%^&*()_+
0XXXXXXX123X: Sabtu nanti ada acara?
Me: maaf dengan siapa ini?
0XXXXXXX123X: ini aku, Kemal
Me: kenapa?
0XXXXXXX123X: mau nonton?
Me: boleh
~!@#$%^&*()_+
tak ada film yang bisa kami tonton bersama saat itu, tiketnya habis. alhasil kami pergi ke timezone, menghabiskan waktu dengan bermain basket. aku tidak suka basket, tapi entah mengapa tiap kali ke timezone permainan basket tak pernah terlewatkan olehku. lain cerita dengan DDR, aku sangat suka, tapi sangat jarang aku mainkan.
perjalanan pulang kami terjebak hujan. ya, seperti drama, FTV, dia meminjamkanku jaket, dan membawakanku mie dalam gelas untuk sekedar menghangatan diri. kami berteduh di deretan ruko yang tengah tutup, sebuah bank milik negara, sambil duduk bersebelahan berjarak 2 buah helm. tak banyak yang terucap, seakan masing masing tengah menikmati iringan melodi dari rintik hujan di depan mata.
“mungkin nanti aku akan bekerja di bank, dan bisa saja membeli mobil suatu hari nanti. sampai saat itu tiba, kita akan sering berteduh seperti ini”, suasana terpecah dengan ucapan yang buatku terpanah, ‘kita’.
“hah? kita? kamu aja sendiri. hu........ pegel tau gak bisa nyender, basah, polusi, dll”, godaku sambil tersenyum padanya.
“ralat, gak jadi kita tapi kamu dan aku” semeringah senyum kudanya buatku tersenyum lagi. “kalo pegel sini lah, kan pundakku terbuka lebar”
layar kembali meredup, menyisakan senyum kami yangberbincang sambil menanti hujan reda. aku merindukan itu.
~!@#$%^&*()_+
part selanjutnya memperlihatkan aku yang menunggu di dekat statiun, lengkap menggunakan seragam sekolah yang masih terpakai rapih.
aku menunggu, melihat pintu keluar tiap kali kereta berhenti. sesekali melihat jam lalu memandang ponsel, apakah ada pesan? atau sebaiknya aku mengirikan pesan? entahlah.
kumandang adzan magrib menyadarkanku, bertapa aku berdiri lama di sana dan tak ada seorang pun yang datang.
“cepat pulang, sudah jam segini. kamu dimana sih?”, suara ibu memaksaku untuk segera pergi tanpa bertemu dia.
apa terjadi sesuatu? atau mungkin dia lupa? pasti dia sudah datang dan mengerjaiku. pasti begitu, lihat saja nanti, akan ku hajar dia.
tak ada sosok yang kutunggu di rumah, dan entah mengapa terasa sakit, sakit sekali. tapi aku tetap menganggap itu salahku yang tidak menghubunginya. tapi jujur aku marah, rasanya ingin memaki dirinya. ini bukan yang pertama dia ingkar janji padaku, ini kesekian kalinya.
sejak kerjasama bisnis keluarga kami putus, hubungan kami pun tak lagi seharmonis dulu. tapi mengapa berimbas padaku?
~!@#$%^&*()_+
Kemal: ayo kita bertemu
Me: ah, palingan kamu lupa lagi nanti
Kemal: janji, kali ini jadi.
Me: beneran?
Kemal: iya
Me: dimana?
~!@#$%^&*()_+
aku rasa dia tidak akan datang, seperti sebelum sebelumnya. sudah sering terjadi, tapi aku tetap datang. berturut turut terjadi, tapi tetap ku menyakini dia akan datang.
aku sudah menunggunya 4 jam, tapi tak ada kabar. bodoh, tetapi tetap ku jalani. entahlah.
Kemal: kamu dimana?
Me: kamu dimana?
Kemal: foodcourt dekat lift
Me: aku ke sana.
dia melihatku, melambaikan tangan dengan senyum yang ku rindukan. rasanya penantian itu begitu berbuah manis.
”udah lama ya?”, ujarnya
“lumanyan buat maraton Monas 10 kali”
“maaf deh”, pintanya dengan sok imut lalu melambaikan tangan lagi engan senyum ke arah dimana aku datang.
refleksku menoleh, seorang gadis cantik.
~!@#$%^&*()_+
.....(4)









