Hai ini aku.
Tahukah km saat kita pertama bertemu? Km seperti saudaraku yg telah lama hilang.
Rasanya baru kemarin kita berkenalan, km diantara ribuan org yg menawarkanku untuk beristirahat di kamarmu. Senyum ramahmu seolah memberiku peluang kita bisa menjadi teman. Bahagianya seperti menemukan saudara yg telah lama hilang dari kehidupan.
Waktu demi waktu kita lalui bersama memulai persahabatan. Walau kau sering kuributi dengan kegalauanku yang tak ada habisnya, rasanya telingamu selalu terbuka untuk menerima cerita.
Rasa pahitnya hidup terasa lebih nyaman untuk dicerna saat ada kau yang selalu mengingatkanku.
Kau adalah rumah yang tidak pernah membuatku ragu untuk singgah sewaktu-waktu. Meski kau seringkali lelah mendengar ceritaku, tapi nyatanya kaulah orang yang paham bagaimana aku. segala lelucon dan masukanmu membuatku tahu bahwa ada akhir baik.
Apapun itu, bukankah kau yang paling mengerti aku? Uang jajan yang hanya tinggal lima ribu, mata kuliah yang nilainya jelek, sampai kegalauanku soal cinta yang tidak pernah ada jalan keluarnya.
Seperti bagian yang tidak pernah alpa untuk diceritakan dalam sejarah. Cerita hidupmu menjadi ceritaku juga. Begitupun sebaliknya. Meski sesekali kau lelah mendengar celotehanku yang tidak ada habisnya. Kau tetap saja tidak pernah bosan untuk membuka telinga.
Tapi ketahuilah, nyatanya kamulah orang yang tahu seluk beluk bagaimana aku sebenarnya.
Kita berdua tahu, menikah adalah hal yang kau tunggu-tunggu. Hingga tiba saatnya kabar bahagia itu sampai di telingaku, akulah orang yang paling tersentuh. Rasanya, bahagiaku tak lagi terukur.










