So Close Yet So Far
Aku dan kamu memang selalu begitu. Dikatakan dekat, tidak. Dikatakan tidak dekat, tidak. Terlalu sulit untuk dijelaskan bagaimana hubungan pertemanan kita ini sebenarnya. Mengapa? Karena tidak dipungkiri semenjak kelulusan SMA, kita jelas berbeda lokasi. Terpisah jarak. Segala macam hal tidak lagi seperti dulu semasa kita SMA. Komunikasi kita pun tak lagi sama.
Kita sangatlah berbeda. Aku yang lebih ekspresif dibandingkan kamu, kamu yang lebih diam, membuat apa yang dilihat orang luar berbeda. Berbagai macam persepsi tentang kita muncul. Sebagian orang berpendapat, kamu adalah duniaku. Kamu adalah obsesiku. Sebagian orang itu adalah yang tidak mengenalku dengan baik, tidak mengenal kita dengan baik. Teman-teman terdekat kita, tak pernah berpikiran macam-macam. Karena mereka tahu seperti apa kita.
Memangnya kita itu seperti apa? Aku lupa. Jika ditanya seberapa dekatnya kita, aku ragu untuk menjawab. Aku lupa. Tapi jika ku kumpulkan memori-memori yang ku ingat, ya memang kita dekat. Sangat dekat. Sejak awal pertemanan kita. Aku merasa kita dekat biasa. Dekat karena kita teman dekat, bisa dibilang sahabat. Tapi orang-orang di sekitar kita menganggapnya berbeda. Aku ingat waktu itu kita sesama pasukan 17 ditawarkan untuk mengikuti seleksi menjadi anggota paskibra kota/provinsi. Dipanggil satu persatu untuk ditanyakan apakah bersedia untuk mengikuti seleksi. Kamu menjawab tidak. Tentu saja. Menjadi paskibra sekolah pun untuk 17an hanya kebetulan karena badanmu yang tinggi dan kamu dipilih. Saat giliranku, "Jadi gimana Leri? Mau ikut seleksi?" Saat itu aku juga menjawab tidak. Karena aku takut kegiatan itu akan mengganggu sekolahku. Akademisku. Ternyata jawaban tidak dariku memancing reaksi, "Cie, kenapa gak ikut? Karena ngikutin Ito ya? Karena Ito gak ikut ya?" Tentu saja langsung ku sanggah, ketidakinginanku mengikuti seleksi paskibra kota/provinsi memang karena aku tidak ingin. Bukan karena siapa-siapa. Ini terjadi di awal pertemanan kita dimulai, 2008.
Di 2012, aku ingat sekali. Saat kita mengunjungi sekolah bersama teman-teman yang lain. Wali Kelas kita di kelas XI melihat kita. Kemudian apa yang diucapkan beliau? "Kalian pacaran ya?" Aku dan kamu saling pandang. Dan tentu saja bersamaan menjawab, "Nggak, Bu." Wali Kelas kita menggelengkan kepala. Raut wajahnya seakan meragukan jawaban kita. "Nggak pacaran kok berdua terus sih sampai udah lulus gini? Kalian lulus 2011 kan? Ini 2012. Dari sekolah sampai lulus kok berdua terus." Saat ini, 2018 aku berpikir keras. Sebegitu dekatnya kah kita? Dimana ada aku, di situ ada kamu. Begitu pula sebaliknya. Begitu kah?
Mungkin kita dekat, mungkin juga tidak. Yang jelas, jika ada orang bertanya pada ku, tentang hubungan ku denganmu, selalu jawab kalau kita berteman, kita bersahabat. Memang begitu adanya, bukan? Kamu sendiri yang mendeklarasikan diri sebagai MegaBestFriend dari seorang Lerizya. Sahabat yang jarang tahu kabar sahabatnya sendiri. Sahabat yang jarang bertukar kabar adalah kita. Kalau diingat masa-masa kuliah kita, betapa jauhnya kita. Dan aku benci akan hal itu. Sahabat macam apa yang tidak terlalu tahu bagaimana kabar sahabatnya? Apa kesibukannya? Siapa teman-teman barunya? Sedang dekat dengan siapa? Saat itu, aku hanya bisa melihatmu dari sosial media. Melihat update-anmu. Melihatmu dengan teman-teman barumu. Kamu baik-baik saja tanpaku. Sekali dua kali ku kirimi kamu pesan. Sekadar untuk menyapa dan bertanya kabar. Basa-basi yang basi.
Gengsi. Mungkin itu juga yang tertanam dalam diri ku. Karena terlalu sering pesanku dibalas lama olehmu, aku jadi malas untuk selalu memulai komunikasi denganmu. Sahabatku yang jauh. Aku pikir, ya memang aku dan kamu bersahabat. Tapi di dunia paralel saja kita bersama. Di dunia nyata, kita memiliki dunia masing-masing. Aku dengan duniaku, kamu dengan duniamu. Mungkin selama kita terpisah jarak, begitu banyak hal yang kita tidak ketahui, terutama urusan pribadi kita. Privasi. Yang berdekatan saja tertutup, apalagi yang berjauhan.
Akhir 2015 saat aku masuk rumah sakit, kamu tidak tahu. Akhir Desember kelabu bagiku. Biasanya, kamu orang pertama yang aku hubungi jika terjadi sesuatu. Kamu orang pertama yang tahu. Tapi saat itu, aku ingat sekali yang ku kabari pertama kali adalah Akroma dan Zahedi. Karena kedua bocah itu lah yang menemaniku selama kamu tidak ada. Entah kemana kamu saat itu. Sibuk seperti biasa. Sibuk dengan duniamu, kuliahmu, pacarmu.... Dan di awal 2016, entah kena angin apa kamu mengirimkan pesan padaku. Seperti biasa, basa basi yang basi. Itu lah kebiasaan kita. Hai, apa kabar? Teks yang baku. Saat itu aku pun mengabari bahwa aku sempat masuk rumah sakit. Kamu langsung berisik. "Sakit apa? Berapa lama? Kok gak bilang sih kalau masuk rumah sakit? Aku ini siapa sih kok sampai gak tau kamu masuk rumah sakit?" Kira-kira begitulah serentetan kalimat yang kau ucapkan via teks. Aku lupa apa jawabanku. Aku agak kesal membaca pesanmu. Apalagi di kalimat yang mempertanyakan kamu itu siapa. Sahabat macam apa yang gak tau sahabatnya sakit? Bukan sahabat dong. Entah saat itu apa yang aku jawab. Aku ingat setelahnya kamu berkata, "Berarti aku punya feeling kamu kenapa-kenapa. Buktinya ini aku ngechat kamu duluan kan." Iya. Tapi sudah basi. Feelingnya telat.
...................
Sekarang sudah hampir memasuki triwulan akhir 2018. Apa kabar kamu, MegaBestFriend? Ingin sekali aku langsung bertanya padamu, tapi tak bisa. Belum saatnya. So close yet so far.
Banjarmasin, 30-09-18.
















