“Sebagian ingin dimengerti payahnya, sebagian ingin diikuti kejernihannya. Padahal keduanya sama-sama menuntut orang lain melompat, bukan berjalan bersama.”
seen from Italy
seen from China
seen from United States
seen from China

seen from Thailand

seen from Belarus
seen from United States

seen from Italy

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Ukraine

seen from Italy
seen from Thailand
seen from China
seen from Ukraine

seen from Hong Kong SAR China

seen from Italy
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
“Sebagian ingin dimengerti payahnya, sebagian ingin diikuti kejernihannya. Padahal keduanya sama-sama menuntut orang lain melompat, bukan berjalan bersama.”
Jarak dalam Kedekatan;
Lampu kafe ini tak terlalu benderang, tapi cukup terang untuk memperlihatkan kepulan uap dari cup kopi yang baru saja diletakkan seorang pelayan di hadapanku. Ia tersenyum tulus, menyadari mataku yang sembab, lalu berbisik pelan, "Kopinya saya tambahkan sedikit karamel, semoga harimu membaik."
Aku tertegun. Seorang asing yang bahkan tak tahu nama tengahku bisa merasakan ada yang retak di dalam sana. Sementara kamu? Kamu yang tahu bagaimana aku menyukai kopi hitam tanpa gula, yang tahu jam berapa aku bangun, dan yang menyimpan ribuan memori bersamaku, justru duduk di seberang meja dengan pandangan terkunci pada layar ponsel.
Kita berada dalam satu lingkaran yang sama, namun rasanya seperti terpisah galaksi.
Aku menyadari satu hal yang menyakitkan hari ini:
"Terkadang, perhatian justru datang dari orang-orang yang tak mengenalku sebaik kamu."
Karena bagi mereka, aku adalah manusia yang butuh dianggap ada, sedangkan bagimu, aku hanyalah sebuah kebiasaan yang mulai membosankan.
"Sangat melelahkan saat harus menjelaskan rasa sepi kepada seseorang yang seharusnya menjadi tempatmu pulang."
Seringkali orang baik menjadi sasaran luka. Bukan karena ia salah, tapi karena kelembutannya memantulkan apa yang tak ingin dilihat orang lain yang hatinya masih penuh dengan rasa iri.
Namun mereka percaya, cahaya tak pernah berhenti bersinar hanya karena langit yang tertutup awan.
Pada akhirnya, mereka yang terus menabur kebaikan akan menemukan pelukan semesta yang diam-diam merangkai balasan paling indah di waktu yang tepat.
@muarakatahati
Hukum Kekekalan Jarak dan Dekat
Pada mulanya adalah ketiadaan, sebelum kita sepakat menamai spasi ini sebagai "pisah". Namun dengarlah satu aksioma yang tak tertulis di buku fisika: bahwa di semesta perasaan, tak ada energi yang benar-benar musnah.
Jarak, kasihku, hanyalah satuan ukur yang gagal. Ia tidak mampu menghitung berapa kali dadamu sesak saat notifikasi di layar menyala pada pukul tiga pagi. Ia tidak bisa mengalkulasi percepatan rindu yang bergerak lebih cepat dari cahaya, menembus benua, samudra, dan dinding kamar yang dingin.
Ingatlah hukum pertama termodinamika cinta: Kedekatan tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, ia hanya berubah bentuk.
Dulu, saat lengan kita saling bersentuhan di kedai kopi itu, kedekatan kita berwujud materi. Padat. Teraba. Aroma parfummu adalah konstanta yang hirup, dan tawa kecilmu adalah gravitasi yang menahanku tetap di bumi.
Sekarang, saat ribuan kilometer membentang, kedekatan itu tidak hilang. Ia menyublim. Ia berubah fasa menjadi gelombang sinyal, menjadi doa-doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, menjadi ingatan yang memutar ulang adegan di kepala seperti piringan hitam yang menolak retak.
Kita sering tertipu oleh mata yang manja akan visual. Mengira bahwa "jauh" berarti "kurang". Padahal lihatlah mereka yang duduk di satu meja makan, berhadapan namun sibuk dengan layar masing-masing. Bukankah itu jarak yang paling purba? Mereka dekat secara geografis, namun terlempar jauh secara batin. Jarak nol meter, namun hampa udara.
Sementara kita? Kita merawat "dekat" dalam definisi yang lebih agung. Kita memangkas ego, bukan memangkas kilometer. Kita belajar percaya pada frekuensi yang tak terlihat.
Maka, jangan lagi mengutuk peta. Peta hanyalah ilusi kartografi. Sebab dalam Hukum Kekekalan Jarak dan Dekat, semakin jauh raga ditarik merenggang, semakin padat jiwa memampatkan ingatan.
Kita tidak pernah benar-benar menjauh. Kita hanya sedang belajar mencintai dalam dimensi yang lebih luas dari sekadar sentuhan kulit. Segala yang ada di antara kita tetap abadi, hanya wadahnya yang berganti.
Simpanlah cemasmu. Kita aman dalam kekekalan ini.
mengunjungi mimpi
aku selalu menyadari bahwa rasa ini tidak perlu naik ke permukaan. karena itu aku merasa aman dengan jarak yang selalu jauh.
sialnya rasa menjadi terlalu kuat lalu menarik dirimu jauh ke dalam mimpiku. lengkap dengan senyum itu bahkan dua tangan gemetar milikku. kemudian seolah saling mengenal, kita hanyut dalam dekapan.
bisakah kunjungi mimpiku lagi?
Hal-hal yang Berhenti Dibicarakan.
Ada jarak yang tumbuh tanpa suara, bukan karena amarah, bukan pula karena peristiwa besar yang bisa ditunjuk dengan jari. Ia hadir seperti udara yang berubah dingin: perlahan, wajar, lalu menetap.
Rasa itu tidak pergi sekaligus. Ia menyusut. Menjadi kebiasaan. Menjadi sunyi yang tidak lagi ditanyakan. Kami tetap menyebut satu sama lain dengan nama yang sama, menjalani hari seperti biasa, namun kebersamaan terasa lebih seperti rutinitas ketimbang pulang.
Ada hari-hari berat yang kulalui sendirian, bukan karena ditinggalkan, melainkan karena aku tak tahu bagaimana caranya meminta ditemani tanpa merasa berlebihan.
Lalu hidup mengambil sesuatu yang ingin kupeluk sebagai rumah. Sejak itu, aku sering berdiri di tengah keramaian sambil bertanya ke dalam diri "ke mana seharusnya aku kembali ketika runtuh?"
Usaha datang. Perubahan menyusul. Aku melihatnya. Aku menghargainya. Namun perasaan bukan tanah yang selalu bisa ditanami ulang hanya dengan niat baik.
Aku hidup di antara dua hal: rasa bersalah karena bertahan tanpa utuh, dan ketakutan untuk mengakui bahwa ada bagian dari diriku yang telah terlalu lama lelah. Kupelajari peran yang seharusnya kumainkan, namun semakin kupeluk erat peran itu, semakin aku menjauh dari diriku sendiri.
Kini aku memilih diam, bukan untuk menghindar, melainkan untuk mendengar apa yang selama ini tenggelam di kepalaku. Tidak semua yang retak langsung tahu cara kembali menyatu.
Tulisan ini tidak sedang menjelaskan apa pun. Ia hanya serpihan perasaan yang terlalu rumit untuk diringkas, dan terlalu rapuh untuk disebut terang-terangan.
Jika suatu hari jarak ini mengecil, mungkin karena dua orang belajar hadir dengan cara yang baru. Jika tidak, mungkin karena ada luka yang hanya bisa tenang ketika tidak lagi dipaksa utuh.
Tidak ada yang selesai.
Beberapa hal hanya berhenti dibicarakan.
—
— dna. | 17 Desember 2025
Tubuh Terakhir yang Kita Punya
Kita tidak punya banyak waktu. Hanya tubuh ini berisi daging, tulang, dan jantung puisi ini yang pelan-pelan melepas diri, pada waktu.
Kita menampung luka di punggung, menyimpan tawa di dada, padahal ia menopang beban dunia.
Tubuh terakhir yang kita punya adalah tempat kita menyebut nama, bercinta dengan hari, bertengkar dengan takdir, dan memeluk mimpi yang mungkin tak selesai.
Sebelum segalanya berhenti, aku ingin menulis di kulitmu: bahwa kita pernah hidup, pernah jatuh, pernah cinta dengan segala yang sederhana.
Dan aku tahu,
meski tubuh kita patah berkali-kali
tubuh ini tetap mengingat
semua pelukan yang tak sempat diselamatkan waktu.
Pada setiap yang berjarak, semoga berakhir temu, segera, sesegeranya.