Memaku Luka
25 Agustus 2013 Seperti orang yang baru terbangun dr tidur yang ditemani mimpi. Berkelebatan kejadian singkat. Ada kalian, kita, mereka, dan tentunya aku. Jelas-jelas peran antagonis dalam mimpinya aku. Menjadi pemaku luka. Entah itu dengan kata atau terlebih dengan laku. Memaku luka Mungkin secara tidak sadar atau bahkan dengan dipenuhi kesadaran penuh saya berbuat demikian teganya, tidak perdulikan timbulan bekas yang akan ada di setiap hati. Entah itu melalui kata, tingkah laku, atau apapun itu namanya yang jelas pernah saya gunakan paku kemudian dengan palu sebagai perantara penancap di hati. Pagi ini saya memohon ampun pada Allah, mungkin sudah terlalu banyak kata yang keluar dibandingkan dzikir. Terlalu bertingkah dibandingkan menghadapNya mengadu. Sehingga kombinasi kata dan laku inilah yang secara otomatis memaku luka. Siapapun, pada siapapun. Maaf. Untuk luka paku yang akan berbekas itu. Semoga setiap kita bisa memejamkan mata sebelumnya didahului dengan saling mengikhlaskan, agar kisah seorang pemuda dijaman Nabi bisa terulang kembali, amalan utama yang mengantarkan ia ke syurga ialah dengan memaafkan. Ia ikhlas memaafkan siapapun dan apapun yang dilakukan padanya.









