Memuridkan Melalui Profesi
By: Theresia Putri
Memuridkan, jika ditelusuri semiotika katanya, akan terdiri dari dua kata imbuhan dan satu kata dasar. Me-murid-kan. Artinya membuat satu orang atau lebih menjadi murid. Memuridkan di dalam Kristus berarti menjadikan seseorang sebagai murid Yesus, di mana murid tentu akan mengikuti teladan baik dari Yesus sendiri.
Secara harafiah, kita dapat mengatakan bahwa tugas memuridkan ini ada pada seorang guru, atau yang dalam dunia perguruan tinggi kita sebut ‘dosen’. Meskipun sesungguhnya kita tidak harus menjadi seorang guru untuk dapat memuridkan, membicarakan seorang guru yang benar-benar memuridkan tentu saja menarik. Tak dapat dipungkiri, pada masa ini banyak pengajar (guru/dosen) yang tidak “memuridkan”, tetapi hanya menjalankan fungsi mengajar.
Namun, tentunya kita bersyukur bahwa di Fikom Unpad ini kita masih dapat menemui pengajar yang “memuridkan” melalui profesi mereka sebagai dosen. Kita masih dapat menjumpai dosen-dosen yang mengenal Tuhan Yesus dan berpegang pada Yesus dalam setiap tingkah laku mereka. Mereka tidak hanya menjadikan kita manusia-manusia duniawi yang berpikir dengan logika, tetapi tetap “menyelipkan” Tuhan dan firman dalam setiap pengajaran mereka. Contohnya, seorang dosen pernah menasihati mahasiswanya untuk belajar dengan baik agar tidak mengecewakan orang tua, terlebih di atas segalanya agar tidak mengecewakan Tuhan sebagai Pencipta kita.
Meskipun memuridkan di dalam Kristus sesungguhnya menjadi tugas kita semua, tentunya kita bersyukur jika saat ini kita menemukan dosen-dosen yang “memuridkan” kita terlebih dahulu.
“Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” Yesaya 50:4
*tulisan yang sama pernah dimuat di Ponticello, majalah internal Ikatan Mahasiswa Kristen Katolik (IMKK) Fikom Unpad edisi November 2013












