Teka-Teki Rasa
Dua tahun berlalu, rasa yang tertuju padamu semakin nyata. Segala usaha untuk mengalihkannya sudah ku coba, namun pada akhirnya kembali juga. Sedikit lelah dibuatnya menebak rasa dari arah sebelah sana. Ingin sekali ku tanya 'ada kah aku dalam rencana masa depannya?'.
Ku coba perlahan mendekatinya, menjadikan yang selalu ada. Pernah sampai di titik jenuhnya. Lalu kembali bertanya akan rasa yang dimilikinya sesungguhnya untuk siapa? Sudah adakah yang memilikinya?
Bertanya kesana dan kesini, bahkan sudah ku tanyakan langsung padanya. Tetapi, jawabannya masih menjadi teka-teki rasa. Pernah mencoba mundur dari hidupnya. Menyudahi dan memberi tenang pada rasa yang ku miliki untuknya. Membiarkan luka terbuka kembali olehnya yang kupikir akan menjadi obat penyembuh dari luka lama yang pernah ada.
Tetapi, lagi-lagi dia datang dengan percakapan sederhananya. Iyaa, sederhana. Tapi selalu berhasil membuat aku nyaman bercerita padanya, mengajaknya berdiskusi tentang rencana hidupnya yang ku doakan agar ada aku di dalamnya. Menyedihkan mendegarnya, bukan? Yasudahlah, aku yang memilih untuk tetap menuju ke arahnya.
Akan aku lanjutkan teka-teki rasa untuknya sampai Tuhan memintaku untuk menyudahinya.
Teruntuk kamu, terima kasih masih memilih untuk ada dalam hidup yang ku punya. Walau aku masih harus menerka, mudah-mudahan kamu benar-benar memilih aku dan mengakhiri teka-teki rasa yang sudah berlangsung cukup lama.












