Perihal Kata Kerja yang Tidak Semua Orang Mampu Melakukannya
Pernah nggak, sih, kamu punya teman yang kelihatannya pendiam, tapi sekalinya cerita bakal beda banget dari biasanya?
Kalau sudah kayak gitu, mungkin kamu bakal bingung gimana mengatasinya. Kadang untuk sekadar mendengarkan saja, tanpa sengaja sudah nge-judge duluan. Akhirnya, dia nggak jadi cerita, deh.
Hmm.. Nyatanya, mendengarkan adalah sebuah pekerjaan yang nggak semua orang mampu melakukannya. Apalagi secara sukarela, tulus, dan ikhlas.
Ada tipe orang yang emang dasarnya suka bercerita, ada juga yang suka memendam isi hati dan pikirannya
Nggak jarang saya nemuin orang yang bisa dengan mudah dan lantang bercerita tentang dirinya. Seolah-olah hidupnya sangat menyenangkan dan dia adalah "center of the rotation of the earth", kadang tanpa sadar dia motong pembicaraan orang lain yang lagi bercerita.
Iya, nggak semuanya, tapi ada.
Orang-orang yang awalnya pengen cerita, jadi nahan-nahan, nyari waktu yang pas buat gantian cerita. Tapi waktu yang terbatas membuat dia memutuskan untuk menyimpan ceritanya dulu. Sampai akhirnya dia lupa. Kemudian cerita itu tidak pernah sampai ke telinga orang lain.
Kejadian itu pun terus berulang sampe dia menyimpan segudang rahasia tentang luka, bahagia, sedih, tawa, dan banyak hal yang nggak semua orang tahu gimana rasanya.
Lagi-lagi, tidak semuanya, tapi ada.
Diam bukan berarti tidak ada hal yang menarik untuk diceritakan dan bercerita tentang semuanya bukan berarti tidak ada rahasia
Sayangnya, kadang kita tidak sadar di balik banyaknya kosa kata yang dikeluarkan tiap 24/7 ada rahasia yang tidak semua orang perlu tahu.
Tentang bagaimana dia bangkit dari keterpurukan, bagaimana dia harus menutup mata panda atau kantung mata dengan kaca mata, atau bagaimana dia memiliki banyak akun role play di media sosial sebagai tempat pelampiasan.
Juga, bagi si (nampak) pendiam. Dia hanya sedang menunggu momen. Bukan berarti dia tidak mau bercerita. Sekali mulut terbuka, satu-dua jam bukan waktu yang lama untuk dia mengeluarkan segala ceritanya.
Tapi, jangan sekali-kali memaksanya bercerita karena itu hanya akan membuat dia semakin tidak nyaman.
Menaruh kepercayaan ke orang lain itu butuh nyali. Pun buat bisa dipercaya itu nggak mudah
Mulai dengan pertanyaan yang ringan-ringan. Terkesan basa-basi?
Yaudah, mulai dari kamu dulu. Setelah itu lempar pertanyaan yang sama. Satu pertanyaan bisa beda jawaban kalau itu menyangkut pengalaman, prinsip, dan mimpi.
Kalau dia sudah bercerita lebih dari satu kalimat. Tunjukkan antusiasme kita. Ubah tatapan langsung ke dia. Posisi duduk atau gestur tubuh juga penting.
Kalau percakapan lewat chat, tunjukkin kalau kita ada buat dia. Fast Response!
Ada juga yang kadang-kadang dengan sendirinya membuka diri. It's good!
Make a good impression to her/him. Jangan kecewain ekspektasinya dia!
Sekali orang bercerita tentang dirinya, itu tandanya dia mulai percaya. Dia pengen kita bisa jadi tempat berbagi cerita bahagia atau bahkan sekadar keluh-kesahnya.
Tapi, kalau dia butuhnya di waktu yang nggak pas gimana?
Di sinilah tantangannya. Nggak semua orang betah mendengarkan curhatan orang di tengah malam.
Apalagi kalau kita mau berangkat tidur, mata sudah tinggal 5 watt, tiba-tiba ada yang manggil nama kita.
Jangankan tengah malam, pas lagi siang hari bolong mata melek aja nggak semua orang bersedia buat bener-bener pay attention sama cerita kita.
Saya pernah denger suatu kutipan yang dikutip oleh seorang podcaster, "Berpura-puralah sampai kamu tidak sadar bahwa kamu sedang berpura-pura."
Iya, coba dengerin aja dulu. Dengerin semuanya dari awal sampe akhir. Balas dengan tanggapan singkat yang menunjukkan seolah-olah kamu mendengarkan.
Terdengar jahat? Hmm.. lumayan sih. Tapi, nggak bisa dipungkiri pada akhirnya kamu akan paham apa yang dia ceritain, kok.
Kadang dia juga cuma butuh pendengar, bukan pemberi saran atau solusi. So, make it simple.
Pencapaian tertinggi seorang pendengar adalah ketika dia mendapat balasan, "Terima kasih ya sudah mendengarkan ceritaku."
Kadang orang merasa insecure lebih dulu sebelum dia berani bercerita. Entah karena takut bakal dapat judgment atau bingung mau mulai dari mana.
Ketika dia sudah memutuskan untuk bercerita. Tandanya kamu adalah orang terpilih. Nggak semua orang punya kesempatan yang kamu miliki. Detik itu juga, kamu bisa mulai menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang bisa dipercaya dan pertahankan itu. Keep it secret!
Kamu akan mendapatkan banyak sekali pengalaman, ilmu baru, dan sudut pandang baru tentang kasus-kasus yang mungkin sering atau bakal kamu temui.
Kalau dia butuh asupan saran dan pendapat gimana?
Gausah ngasih insight yang muluk-muluk. Tanyain ke dia sendiri aja dulu. Toh, solusi yang kita kasih itu dari sudut pandang kita dan (terkadang) hanya akan pas kalau kita yang melakukannya.
Biarkan dia mencari jawabannya sendiri, yang sesuai dengan dirinya. Kamu hanya perlu memancingnya dengan bertanya.
Bagaimana pun, mendengarkan mungkin kata kerja yang terkesan mudah dilakukan. Namun, untuk bisa menjadi seorang pendengar, kita musti tahu bagaimana karakteristik lawan bicara kita. Pahami maksudnya, pahami ceritanya, dan jadi orang paling spesial buat dia.