Mengenang 2018
Bagi saya, 2018 mengubah saya begitu banyak. Ada beberapa hal besar yang saya dapatkan dari-Nya. Hal-hal yang membuat saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk melewatinya.
31 Desember 2017, untuk pertama kalinya saya berkunjung ke rumah si Mas dan berkenalan dengan kedua orang tuanya. Saya tidak mengira bahwa kami akan menikah kala itu.
Akhir Januari, si Mas melamar saya. Di ruang tamu rumah ibuk. Si Mas grogi sampai salah ucap. Saya tersenyum lega karena akhirnya berani memutuskan; menyerahkan nasib saya ke depannya kepada Gusti Allah, terserahlah kami akan bagaimana nantinya.
14 Februari, bapak mertua dan pakde si Mas datang ke rumah untuk 'meminta' saya. Melamar kepada ibuk-bapak.
4 Maret, keluarga si Mas resmi melamar ke rumah. Langkah awal kami menuju keseriusan.
22 Agustus, kami resmi menikah. Akad di masjid dekat rumah. Sore hari setelah idul adha. Acara sederhana sesuai impian saya.
6 September, saya pindah ke Banyuwangi, menyusul si Mas yang sudah di sana terlebih dahulu. Kami mengontrak. Belajar hidup mandiri. Di awal kepindahan, saya banyak bapernya, dramanya, nangisnya. Maklum, harus sendirian menunggu si Mas bikin saya kaget. Tiba-tiba aja gitu.
Tahu-tahu kami sudah memasuki bulan kelima pernikahan. Sudah semakin banyak pertanyaan soal kehamilan. Saya mati-matian menjaga hati supaya tidak baper.
Hubungan saya dengan bapak tak kunjung menemui titik temu. Saya masih rindu, bapak pun masih tidak memberi kabar. Tidak apa-apa. Saya kira nanti akan ada saatnya bertemu bapak. Biar saya coba untuk lapang dada merelakan bapak.
Terima kasih 2018, sudah memberi saya kesempatan untuk berani mengambil keputusan terbesar dalam hidup saya. Saya banyak sekali bersyukur tahun ini.
Selamat berbahagia 🌻











