Resensi Novel “Mahar untuk Maharani” ++
Jadi, tulisan ini mulai ditulis ketika saya baru membaca beberapa bab dari novel apik ini—dan sekarang sudah dikhatamkan. Untuk diketahui bahwa, ini adalah resensi pertama saya, boleh dikatakan latihan meresensi novel—latihan menulis.
Tulisan ini sudah diunggah sejak 28 Februari lalu—lupa—namun, berhubung ketika melihat instastory Mas, Bang, Kang Azhar Nurun Ala tentang #MengulasMaharani dalam novel #MaharUntukMaharani, maka tulisan disunting kembali agar lebih geulis pisan ayu tenan.
Salah satu faktor yang membuat pembaca sangat tertarik pada sebuah karya adalah karena karya tersebut serasa merasuk pada jiwa pembaca, semacam perasaan yang terwakilkan oleh karya yang dimaksud. Boleh dibilang buku ketujuh karya Azhar Nurun Ala ini ‘gue banget’—the story was so me. Lol
“Bagian mananya yang lu banget, kisah cintanyakah?” tanya Budi
“Nope” jawab gue
“Trus apanya cuy?
“Ceritanya broda, cerita tentang wisuda wkwkwk, skripsinya, ‘interview’ keluarga kalo pulkamnya, ngomong tentang umatnya, bahas pertaniannya, minat mondoknya, sampai usia tokoh utamanya, de el el selain kisah cinta itu sendiri. Baper gue gan”
“Gubrakkk” *diiringi lagu Intan Nuraini-Gubrak
Dialog di atas hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Well, nevermind the intermezzo...kalau di skripsi sebut saja latar belakang *deep
Tulisan ini semacam curhatan saya sekaligus resensi novel berjudul “Mahar untuk Maharani,” itulah judulnya saya tambahkan “++” dimana plus-plusnya itu adalah curhatan saya (judul yang unik akan menarik minat orang lain untuk membaca). Kalau di soal ujian nasional SMA, khususnya pelajaran bahasa Inggris, biasanya ada soal “it refers to...bla..bla..bla...” nah “++” di atas maksudnya begitu.
Check this out...
Judul: Mahar untuk Maharani
Penulis: Azhar Nurun Ala
Tebal: 250 halaman
Penerbit: Lampu Djalan
Tahun Terbit: 2017
Berikut sinopsisnya yang saya kemas secara ringan, seringan aku yang tertarik padamu namun berat pada yang lain. *abaikan
Novel ini menceritakan seorang lelaki bernama Salman yang jatuh hati pada gadis salihah, kawan karibnya yang bernama Maharani, yang membuat dirinya berubah menjadi sosok yang lebih baik. Sebagai mahasiwa yang tidak lulus a.k.a wisuda tepat waktu—tetapi diwaktu yang tepat, asekk—tentu tantangan tersendiri untuk dapat meyakinkan Pak Umar, ayah Maharani. Dibumbui dengan kehadiran Dimas, anak Pak Haji Kahfi, yang secara kualitas jauh di atas Salman, dalam hubungan tanpa status yang masa depannya belum jelas, semakin memotivasi Salman untuk segera menyelesaikan kuliah dan bekerja demi mimpinya memiliki Maharani. Namun, setelah lulus kuliah, Salman justru menjadi seorang petani kangkung yang dinilai oleh Pak Umar justru sangat tak masuk akal putrinya akan dinikahkan dengan Salman.
Akankah Salman berhasil memiliki Maharani? Bagaimana perjuangan Salman? Apakah Dimas tinggal diam? Mengapa Pak Umar begitu keras? Jawabannya sesaat lagi, setelah pariwara berikut ini *abaikanlagi
Diselingi dengan kisah lain, seorang mahasiswa yang memiliki tekad kuat demi cita-cita dan melaksanakan amanah orang tuanya, menjadikan novel ini tidak monoton.
Siapakah dia? Mengapa tekadnya begitu kuat? Apakah bumi bulat? *lagilagiabaikanini
Seperti buku karya Azhar Nurun Ala yang lain, saya selalu menangkap pesan-pesan yang disampaikan penulis selain ceritanya itu sendiri, ada pesan religi dalam novel ini. Selain itu, kisah tokoh utama yang ‘galau’ demi wanitanya kelak, bisa dikaitkan dengan dilema sebagian orang yang baru saja lulus sarjana: apakah akan menikah, kerja atau lanjut kuliah, begitu menarik disajikan. Menikah, bagaimana masa depan keluarga kelak atau minimal bagaimana meyakinkan pihak keluarga wanita. Dilema, apakah akan mencari kerja sebagai karyawan di kota—rantau ataukah hidup sebagai pewirausaha—bertani, membangun kampung halaman, juga sebagai hidangannya. Setidaknya itu hal tersirat yang saya petik.
Dari novel ini juga, menyadarkan pembaca akan perkara jodoh yang sekali lagi rahasia Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Dibalik pengharapan dan ikhtiar yang besar, perlu diiringi kepasrahan yang tak kalah besar pula. Asa yang optimis adalah keharusan, karena semesta akan berkonspirasi meng-iya-kan, ‘mestakung’ alias semesta medukung.
Pada tokoh-tokoh yang dihadirkan, saya justru salah fokus pada Ajran. Tokoh dengan karakter yang memiliki tekad kuat, amanah, religius, dan yang pasti membuat pembaca tak menduga-duga apa yang dilakukan Ajran diakhir cerita.
Adegan pada bagian akhir novel ketika Ajran bertemu Salman di saung dan menceritakan dari mana dan apa yang dia lakukan sebelumnya, benar tak terduga dan mengirim pesan tersirat bahwa akan ada novel sekuelnya.
Deskripsi tempat dan alur cerita membuat pembaca seakan-akan turut terlibat dalam kisahnya, tak jarang senyum dan sesak akan dirasakan disela-sela konsentrasi.
Latar cerita yang berbeda-beda antarbab, bisa membuat pembaca sedikit bingung diawal. Tetapi dari ‘kekurangan’ itu, novel ini justru semakin menarik, penulis terkesan cerdas sehingga novelnya tampak tidak “lurus-lurus” saja. Ada hal yang mungkin tertebak, tetapi hal lainnya diluar perkiraan.
Kisah tentang Dr. Koswara mengingatkan saya pada seorang ‘petani’ berjasa kelahiran Cirebon yang telah lama menetap di Lampung.
Perasaan saat mengakhiri membaca novel tentu saja bahagia. Soal perasaan pada kisahnya, jangan ditanya.
Sudahlah penilaian saya...lebih baik kawan-kawan membaca sendiri novelnya :D
Dari beberapa karya Azhar, saya semacam dibuat jatuh cinta dengan karya-karyanya, menjadi ingin memiliki dan membaca karya lainnya, juga mempelajari caranya berkarya. Sebagai alumnus jurusan gizi, lucu juga memang beliau bisa menghasilkan karya-karya semacam prosa, novel romantis, juga pengungkapan memoar yang menyentuh hati. Tak ada salahnya memang.
Jadi, saya sebagai orang yang sudah membaca, merekomendasikan kawan-kawan pembaca tumblr ini untuk membaca novel “Mahar untuk Maharani” karya Azhar Nurun Ala, oh iya...jangan cuma baca, harus punya bukunya, beli, jangan nyuri, pinjam-boleh, punya-kudu :D
Bisa order ke bukku.co.id dan bisa cari tau lebih tentang bukunya ke akun instagram @buku.azharnurunala atau cek di situs azharologia.com/koleksi, atau stalking akun instagram penulisnya @azharnurunala. *thisisnotpaidendorsement
P.S. Menjawab pertanyaan Kang Azhar dalam Undangan #MengulasMaharani pada paragraf ke-2:
“Di penghujung Desember 2017, ketika novel Mahar untuk Maharani mulai dikirim ke rak-rak buku pembaca, saya pasrah. Huruf demi huruf telah selesai dirangkai, halaman demi halaman telah dihimpun dan tersebar ke berbagai penjuru tanah air, mulai dari daerah yang sudah begitu saya kenal seperti Depok, Bogor, Jakarta, Bandar Lampung, hingga yang namanya terdengar begitu asing di telinga seperti Maliaro di Ternate, Sarmi di Papua, Nanga Bulik di Kalimantan Tengah, atau Kelurahan Pangaliali di Kabupaten Majene-Banggae, Sulawesi Barat—saya juga baru tau Kang :) btw saya dari Buton, Sulawesi Tenggara, tau kah? Tapi lagi di Jawa sih sekarang :D *pentingamatyak—Biaya kirim ke daerah-daerah tersebut bahkan menyaingi harga buku itu sendiri.—Kalau ke Buton sekitar 70 ribu-an lebih per kilo—Adakah yang lebih menderu, di dalam dada saya sebagai penulis selain perasaan haru?—Nah, yang ini cuma Akang seorang yang tau—Maka rasa cemas itu tak cuma sekali dua kali mampir: akankah saya membuat pembaca kecewa?—Insya Allah tidak, saya sendiri bahagia setelah memiliki lalu membaca bukunya. Ada inspirasi, motivasi, informasi, dan tentu saja buku yang saya dapat—Akankah karya sederhana ini bermanfaat bagi mereka?—Insya Allah, barakallah Kang—Tapi, mau bagaimana lagi, penulis tak lagi bisa apa-apa. Inilah saatnya kamu, pembaca, yang memberi vonis atas karya ini.—Dengan ini, hakim (pembaca) memutuskan bahwa ilmunya Insya Allah bermanfaat seumur hidup *sambil ketuk palu lebay—”
Btw, admin whatsapp azharologia 081212340604 juga tampaknya ramah, merespon dengan reply walaupun yang kita kirim cuma “Tq min”.











