Cerita: 3 Hari “Menjadi Tuli” (1)
Dua minggu lalu, telingaku bermasalah. Sebenarnya sudah dari beberapa bulan lalu terasa tidak nyaman tapi berkali-kali kuurungkan niat untuk pergi ke dokter. Suatu sore di hari minggu, aku merasa telinga kiriku seperti tersumbat. Aku kesulitan mendengar. Suara di sekelilingku menjadi hanya terdengar sayup-sayup. Lalu esok harinya aku pergi ke bank untuk keperluan menyetor tunjangan kesehatan kantor. Tetiba terlintas untuk sekalian saja memeriksakan keluhan pada telingaku dan kubulatkan niat untuk pergi ke klinik dokter spesialis telinga hari itu juga. Hari senin, klinik ramai. Menunggu antriannya lama sekali, ada 20 antrian di depanku. Rupanya bukan hanya antrian CS dan teller bank yang antriannya ramai di hari senin. Untungnya hari itu jadwalku WFH jadisaat antri aku bisa menunggu dengan tenang tanpa diburu waktu dan tak perlu mengurus izin ke atasan.
Tiba giliranku dipanggil untuk masuk ke ruangan dokter. Dia melayangkan beberapa pertanyaan lalu memeriksa kondisi kedua telingaku. Usut-punya usut rupanya serumen di dalam telingaku telah menyumbat liang telinga dengan tekstur yang cukup padat katanya. Lalu dokter memberiku obat tetes untuk dipakai di kedua telinga dan satu strip obat yang harus diminum selama 3 hari. Aku harus membayar 150an ribu untuk pemeriksaan di hari itu. “Baru obat sama priksa doang keluar segini, gimana lusa pas tindakan. Hhhhh mahal banget dah”, keluhku dalam hati.
Sampai di rumah, setelah makan siang aku segera minum obat dan menggunakan obat tetes ke kedua telingaku. Tujuan penggunaan obat tetes adalah untuk melunakkan tekstur serumen, sementara obat yang dikonsumsi bertujuan untuk mengurangi nyeri. “Pake obat sekalian tidur siang”, pikirku. Kutetesi kedua telinga dengan obat tersebut. Telinga kanan, jeda 50 menit telinga kiri. Setelah ditetesi obat rasanya pendengaranku semakin redup. Aku bahkan tidak mendengar suara tv di ruang tengah yang biasanya terdengar dari dalam kamarku. Aku panik ketika bangun tidur siang suasana rumah terasa sepi sekali sementara suara “jangkrik” di dalam telingaku semakin keras.
Benar saja, pendengaranku menjadi semakin berkurang setelah ditetesi obat. “Duh gimana pas ngantor besok nih, semoga aku tetap bisa mengerti saat ada yang berbicara denganku besok.” doaku dalam hati. Esok harinya kondisi masih sama, pendengaranku belum membaik. Aku berusaha keras mendengar ucapan lawan bicaraku saat di kantor. Bersyukur, hari berlalu dengan cukup baik walaupun terasa lebih sunyi dalam pendengaranku.
Esok harinya jadwalku untuk datang kembali ke klinik untuk dilakukan tindakan membersihkan serumen yang menyumbat liang telinga. Aku sangat gugup, pikiranku kemana-mana. Padahal ini bukan kali pertamaku menjalani tindakan seperti itu. Tapi tetap saja rasanya deg-degan.
bersambung...













