Menulis. Menulis adalah tentang menuangkan isi hati. Tentang memverbalkan rasa yang sedang bergelut dalam hati. Tentang cara meluapkan emosi. Terapi diri sendiri.

seen from Sweden
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from France

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Macao SAR China
seen from Malaysia

seen from Germany
seen from Germany
seen from United States
seen from Russia

seen from Malaysia
seen from Indonesia
Menulis. Menulis adalah tentang menuangkan isi hati. Tentang memverbalkan rasa yang sedang bergelut dalam hati. Tentang cara meluapkan emosi. Terapi diri sendiri.
apa yang harus ku tulis
"Ya Allah, apa yang harus ku tulis?"
Pertanyaan itu sekarang lalu lalang di kepala saya. Blank. Tapi tetep pengen meng-capture sesuatu.
Hari ini saya pulang ke rumah dengan membawa pusing di kepala. Cenat cenut rasanya. Kerjaan hari ini bener-bener nguras tenaga walaupun nggak lari-lari. Duduk berjam-jam depan leptop sambil meriksain gambar-gambar yang jelimet nya yaampuuun. Fiuh...Ngegabungin gambar tim Me, struktur, sama arsitektur jadi satu. Bikin semua bisa selaras sesuai konsep. Meriksain tiap detail demi detail. Lelah. Tapi semoga helaan nafas yang telah berhembus selalu dalam ridoNya.
Apa yang kita lakukan semata-mata sebagai salah satu bentuk syukur atas potensi yang dititipkan. Menjadi salah satu cara untuk memperdalam kemampuan semoga bisa membawa kebermanfaatan untuk siapapun yang dikehendakiNya karena sesungguhnya kita mampu menghasilkan karya sebab ada Rabb yang memampukan kita. Karena kita kuat menjalani semua ini sebab ada Rabb yang menguatkan kita.
Seuntai syukur, maaf, dan doa.
Alhamdulillah ya Rabb...
Hari ini semakin sadar dan yakin bahwa segala yang ada pada diri ini adalah pemberianMu sebagai bekal untuk kami "bekerja" di dunia. Bekerja bukan tentang mencari rezeki di dunia, tapi tentang menepati kesaksian ruh kami di alam sebelum hidup. Memenuhi kewajiban dan fitrah sebagai manusia, hambaMu.
Bekal yang kau berikan bukan sesuatu yang biasa, tapi luar biasa. Tak pernah terduga sebelumnya. Sesuatu yang dulu pernah disesali keberadaannya, tapi sekarang justru membuat hati merasa sangat beruntung memilikinya. Sesuatu yang dulu mengundang kecewa tapi justru membuat diri berkembang.
Ya Rabb, maafkan...
Maafkan diri yang penuh khilaf, sering lalai dan tidak cukup bersyukur. Terlambat menyadari semua nikmatMu ini memang membawa sesal. Tapi jauh diluar itu, yakin ini semua membawa sebuah pesan penuh hikmah.
Ya Rabb...
Mampukan kami untuk menjadi hambaMu yang pintar bersyukur. Lembutkan hati kami agar mudah menerima semua pesanMu.
Alhamdulillah Ya Rabb...
Terimakasih atas petunjuk yang Kau berikan. Semoga langkah ini selalu dalam tuntunanMu. Semoga sikap ini selalu dalam bimbinganMu. Semoga diri ini selalu dalam penjagaanMu.
Aamiin...
Pertemuan
Menjalani hari adalah menjalani kewajiban. Raga ini masih memiliki kesempatan menghirup udaraNya. Lantas untuk apakah?
Malu rasanya ketika hembusan udaraNya dalam organ ini tergunakan untuk hal-hal yang tidak membawa kita semakin mendekat padaNya sementara hidup ini dariNya dengan segala karunia yang begitu luas.
Kaki ini masih kuat melangkah, berlari bahkan memanjat. Tangan ini masih bisa membawa barang, bisa untuk memegang kendali, bahkan masih kuat untuk menopang. Sudah sekian tahun telinga menerima frekuensi suara merdu kicau burung, air mengalir, petir, rintik hujan, dentuman benda, bahkan hembusan angin yang begitu halus. Mulut selalu bisa mengutarakan isi hati dan hentakan pemikiran sementara mata selalu melihat bias cahaya yang manghasilkan warna warni dalam waktu yang begitu cepat.
Nikmat.
Kaki mengajak telinga bercengkrama dengan desauan suara-suara merdu walau tangan berat memikul beban. Mulut disibukkan dengan ucap takjub ketika mata dimanjakan dengan berbagai pemandangan luar biasa, ciptaanNya yang penuh dengan keindahan. Hati ini ingin ikut serta mengucap syukur lantas tak kuat menahannya dalam diri. Membuat sesak.
Lalu harus bagaimana?
Begitu halus caraNya, sampai akhirnya saya bertemu 6 orang disebuah kelas. Keterlambatan saya cukup membuat perasaan tidak nyaman namun terlambat menjadi satu-satunya pilihan saat itu. Tak sedikitpun terbayang pertemuan ini akan seperti apa. Saya hanya berharap pertemuan ini diridhoiNya dan membawa saya terus mendekat padaNya.
Kata demi kata terlantun santun. Berkali-kali mengangguk setuju, berulang-ulang melepas senyum sependapat, beberapa saat menghela napas kagum, sekali memejamkan mata, Allah berikan saya jalan untuk belajar menyalurkan emosi-emosi dalam diri melalui tulisan. Belajar untuk lebih pintar merasa.
Percaya bahwa dalam setiap pertemuan ada Sang Maha yang mengatur segalanya. Sangat halus bagai air yang mengalir begitu saja. Pertemuan ini penuh maksud. Berharap ini akan membawa diri terus mendekat padaNya, dalam upaya membenah diri, semoga selalu dalam ridhoNya.
Aamiin.
Bukan Hanya Jari, Tapi Juga Hati
Bismillahirrahmanirrahim Rasanya mulai heran pada diri sendiri. Mulai menyukai sesuatu yang sama sekali tidak pernah di inginkan.
Penulis. Apa itu? Apa susahnya merangkai kata untuk dibaca oleh orang lain?
Di beberapa kesempatan training kilat, Publich speaking-Writing, semangat ini menurun saat sesi kepenulisan. Timbul rasa enggan untuk menyimak atau sekedar untuk tau. Sombongnya diri saat itu, Astaghfirullah.
Menulis artinya kita sedang merekam jejak. Jejak dari aktivitas, bahkan pola pikir. Bukan sekedar menulis tweet dengan batasan 140 karakter, tapi ini soal kita bebas menulis apapun tentang kehidupan kita. Semuanya bisa semau kita. Sedikit atau banyak, jelek atau bagus, bermakna atau tidak. Meluapkan emosi lewat tulisan. Mengenali seseorang lewat kata demi kata.
Mulai menyadari kesalahan diri akan sudut pandang yang salah tentang menulis. Ucapan dan untaian doa terbaik untuk tim #MenulisDenganHati. Allah SWT mengiringi langkah kaki menuju pertemuan-pertumuan kemarin mungkin agar aku sadar. Tawaran seseorang yang jauh disana, meski kemarin sedikit harus ‘dipaksa’ untuk ikuti aktivitas ini. Masih ingat, “Ikut dulu aja ikut,” katanya dalam pesan singkat di bulan Juli.
Benar bahwa kasih sayang Allah SWT akan sampai pada kita lewat orang-orang yang tidak disangka. Tidak boleh sedikitpun meremehkan hal-hal yang ada. Soal pekerjaan, soal hobi, soal apapun itu. Pengalaman berharga di bulan ini. Agustus begitu indah, khususnya pembelajaran membiasakan menulis. Alhamdulillahirabbil ‘alamin.