(redraw) can't believe they made merrid canon
original:

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from Pakistan
seen from Singapore
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Canada
seen from United Kingdom

seen from Russia
seen from United States
seen from Russia
seen from China
seen from China
seen from Japan
seen from Türkiye
seen from Russia
seen from China

seen from Canada
seen from China
(redraw) can't believe they made merrid canon
original:
girl that's eyeliner why you looking there
AI_Character Design
가장 아끼는 동생의 결혼식 욱상이와 도경이 얼마전까지만 해도 같이 낚시도 하고 맛있는거도 먹으러 갔는데 같이 공부도 했는데 벌써 딸아이의 가장이자 아버지가 되었구나 시간 너무 빠르다 다행히. 손님들이 청접장 디자인한거 마음에 들어하셔서 속으로는 매우 기분이 좋더라 :D (ps.행복한 신혼생활하고 건강한 딸아이 낳으렴 도경아,욱상아!)
The War
Siapa bilang pasangan yang baru menikah hanya akan berteman dengan cerita manis?
Hei..justru banyak hal tak terduga yang justru menjadi sumber peperangan.
Kaget.
Itulah yang saya alami di waktu-waktu pertama ini. Tiba-tiba saja keranjang cucian menggunung... ada makhluk lain dalam satu ruangan. Jujur saja, terkadang saya masih kaget saat bangun pagi melihat seseorang tidur di sebelah saya.... Belum lagi kebiasaan-kebiasaan makhluk baru yang terkadang berbeda dengan selera saya.
Ada banyak hal sebenarnya yang bisa menyulut api kemarahan, tetapi sejauh ini saya masih dalam naungan ibu peri yang sabar.
Menerima dan mensyukuri apapun dan siapapun sosoknya, setidaknya saya bisa sedikit mengendalikan emosi.
Beberapa kali lepas kendali, tetapi untunganya masih bisa menahan diri.
Semoga saja kami bisa memenangkan segala perang di hari-hari selanjutnya
Satu Bulan Tambah Sepekan Lagi
Ya Allah, 36 hari lagi...
Ada saat dimana saya merasa sama sekali tidak siap untuk merubah status diri. Ketidaksiapan atas berbagai ketakutan dari berbagai perandaian yang tidak baik.
Takut, seandainya saya tidak bisa menjadi istri yang baik. Tak bisa menjadi istri yang diinginkan. Tak bisa menjadi istri yang diharapkan. Tidak bisa menyediakan makanan kesukaan suami. Takut akan ini dan itu..
Takut, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan rumah tangga kami nantinya..
Tapi kemudian ada saat dimana saya merasa excited. Merasa begitu ingin segera sampai di hari pernikahan yang kami rencanakan. Sangat bergairah saat merencanakan apa saja yang hendak saya lakukan setelah menikah nantinya.
Berencana mendekor kamar tidur dengan se’JUVE’ mungkin. Berencana untuk belajar memasak di waktu luang. Berencana berkebun di halaman rumah kami (insya Allah bisa segera memiliki rumah sendiri). Berencana mengaji bersama setelah menunaikan ibadah salat wajib. Berencana berlibur tiga bulan sekali...
Ahhh... Kedua pemikiran yang terkadang membuat saya pusing sendiri...Bahkan tak jarang membuat suasana hati menjadi buruk. Membuat emosi saya menjadi labil & mudah sekali merubah raut muka menjadi muram, hingga kemudian memicu sedikit adu argumen antara saya & dia. Pertengkaran yang sebenarnya saya tak tahu kenapa harus terjadi -_-
Saya, seakan-akan terkurung diantara prasangka buruk yang tidak seharusnya serta harapan terlampau tinggi yang juga tak sebaiknya.
Ya Allah... seharusnya saya hanya perlu berdoa.
Menggantungkan semua pemikiran itu padaNya. Tak perlu berburuk sangka. Harus optimis! Bukankah prasangka Tuhan bergantung pada hambaNya?
Setidaknya rencana 36 hari ke depan itu saya landasi dengan niatan baik. Sebagai momen untuk menjaddi pribadi yang lebih baik. Belajar lebih baik tentang hidup yang sudah Tuhan beri.
Tentang apa-apa yang akan terjadi setelahnya, adalah bonus yang bisa menjadi cerita tersendiri bagi kami nantinya.
Lancarkanlah ya Allah...
Semoga Tuhan benar-benar mengamini doa ini.
Rencana
Rencana yang awalnya kami buat untuk beberapa bulan ke depan harus berubah. Kesepakatan orang tua dan keluarga besar memutuskan untuk mempercepat rencana kami .
Tidak ada waktu panjang untuk meresmikan hubungan ke tahap paling sakral, disegerakan karena memang bertujuan baik.
Oke... saya patuh.
Lagi dan lagi, memberikan ruang bagi para tetuah untuk ‘mengatur’ kehidupan saya...setidaknya hingga acara pernikahan selesai. Setelahnya, kehidupan itu milik kami.
Kalau kata pacar;
“Diniatin ibadah ya Sayang..Bismillah..”
Memang, manusia pandai mengatur rencana... mempersiapkan segala sesuatu untuk masa depan.. Namun sebenarnya Tuhan-lah yang Maha Berencana.
Kami telah berencana lama, Tuhan berkehendak segera.
Dan semoga saja rencana Tuhan ini benar-benar yang terbaik. Yaaa...semoga saja rencana yang berniat ibadah ini berjalan lancar.
Menghitung Hari
Kenapa harus mengaplikasikan perhitungan hari dan sebagainya untuk melangsungkan acara pernikahan?
Weton, tanggal lahir, bulan, bintang... hingga hari kematian pun menjadi variabel hitung dalam sebuah rencana pernikahan.
Sebuah metode pernikahan yang berkaitan dengan adat istiadat leluhur di tanah Jawa.
Sebuah metode yang saya sendiri, tak mengerti mengapa harus dilakukan. Hanya untuk menentukan waktu dalam rentetan rencana pernikahan, harus mengaplikasikan matematika sederhana. Ahh..
Apa hubungannya hari kematian dengan tanggal pernikahan?
Untuk menentukan hari baik? Bagi saya hari baik adalah semua hari yang tidak menimbulkan masalah. Tidak berbenturan dengan kewajiban kerja, tidak sedang sakit, tim saya bermain bagus, atau sedang liburan... itulah hari baik.
Tapi ya mau bagaimana lagi...acara hitung-menghitung itu masih dianut oleh keluarga besar pacar. Alasan sang ibu saat saya dan pacar menanyakan mengapa harus ada perhitungan tersebut adalah untuk menata hidup saya dan pacar supaya baik.
Ohh..Sorry, Mam.. it’s unlogic.
Menata apanya coba? Tidak masuk akal, dalam pandangan saya.
Padahal yang utama dari konsep pernikahan adalah kesepakatan dan kesepahaman antara keluarga calon mempelai... dan untuk masalah hitung-hitungan, keluarga inti saya sendiri tak lagi mempercayainya. Tapi saya menghargai keluarga pacar yang masih berkeinginan menghitung hari.
Terserah saja mau menghitung dengan rumus apa... Saya tak ikut campur, karena saya memang kurang pandai dalam urusan matematis. Biarkan saja... saya anggap hitung-hitungan tersebut sebagai batas akhir para tetua ‘mencampuri’ urusan saya (dan pacar).
Saya tetap beranggapan perhitungan tersebut hanya sebagai warisan budaya yang perlu diketahui, tetapi tetap.. baik buruknya sebuah rumah tangga tidak didasarkan pada perhitungan hari pernikahan, tetapi bergantung sepenuhnya pada komitmen pasangan yang menikah.
Yahh...Semoga saja perhitungan mereka menghasilkan hasil akhir dengan susunan angka yang cantik.