Have Miki to go with Marxie cuz she was originally meant to be her "perfect" replacement or whatever back in 2013 but now they're just sisters
seen from Singapore
seen from Maldives
seen from China
seen from Sri Lanka
seen from China

seen from Maldives

seen from Germany
seen from Uzbekistan
seen from United States
seen from Japan
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Croatia
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Australia
Have Miki to go with Marxie cuz she was originally meant to be her "perfect" replacement or whatever back in 2013 but now they're just sisters
Marxie (right) and her twin sister Mikiran (left) from Nov 1st
Technically I'm coming up with alt names for them to push Marxie a lil further away from being a complete Marx knockoff (its a part of her charm at this point, though <3) but I dunno if I'll use those names in the Kirby fandom.
Sorotan Dua Syaikh Ahli Hadits dari Yordan di IAIN Surabaya dan UIN Malang
Beberapa Pemahaman Perlu Diluruskan
Empat orang Syaikh ahli Hadits, murid Syaikh Al-Albani ahli hadist terkemuka tingkat dunia, berkunjung ke Indonesia untuk menjadi tutor dalam dauroh (penataran) tentang ilmu aqidah dan hadits. Penataran itu diselenggarakan oleh Al-Irsyad, berlangsung di Lawang Malang Jawa Timur, 6-10 Desember 2004, dihadiri 135 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Di samping itu, para Syaikh itu sempat bertabligh Akbar di Masjid Istiqlal Jakarta, 5 Desember 2004, dan menyampaikan ceramah di IAIN Sunan Ampel Surabaya, serta di UIN (Universitas Islam Negeri) Malang Jawa Timur.
Berikut ini kami ringkaskan ceramah dua Syaikh yang berceramah di IAIN Surabaya dan UIN Malang yang diterjemahkan saat itu oleh Ustadz Agus Hasan Bashori da’I Al-Sofwa Jakarta yang bermukim di Malang.
Ringkasan Ceramah Syaikh Ali Hasan Al-Halabi
Prolog Penerjemah
Pagi itu pukul 10.00 WIB, Saya (Agus Hasan Bashori), saudara Husnul Yaqin dan Ustadz Salim Ghanim (Al-Irsyad Surabaya) meluncur dari Wisma Erni Lawang, Malang Jawa Timur, mengawal Syaikh Ali ibn al-Hasan al-Halabi menuju IAIN Sunan Ampel Surabaya pada pekan pertama Desember 2004.
Tidak terasa waktupun menunjukkan pukul 11.40 WIB dan kamipun sampai di halaman Masjid Kampus IAIN Surabaya. Ternyata shalat jama’ah telah selesai. Acara langsung dimulai. Salah seorang dosen IAIN berdiri memberikan sambutan singkat dalam Bahasa Indonesia yang isinya menyambut kedatangan Syaikh, berterima kasih kepada Allah atas kedatangan seorang ulama ahli hadits dari Yordania dan mengharapkan kepada hadirin untuk menyima’ ceramah ilmiah yang akan disampaikan Fadhilah al-Syaikh. Saya yang duduk di sebelah kanan Syaikh yang bertindak selaku penerjemah mengawali Tabligh itu dengan memperkenalkan Syaikh kepada hadirin yang berjumlah sekitar seratusan orang. Saya katakan bahwa tamu kita ini adalah Syaikh Ali ibn Al-Hasan al-Halabi. Beliau adalah salah satu murid senior Syaikh Nashiruddin al-Albani ahli hadits terkemuka di dunia Islam yang meninggal 3 tahun yang lalu. Beliau menyertai Syaikh al-Albani selama 25 tahun dan kini telah menulis lebih dari 150 kitab baik Ta’lif, Ta’liq, Tahqiq maupun Syarah. Lalu saya sebutkan beberapa nama kitab beliau. Dan selanjutnya saya persilahkan beliau berkhutbah.
Batilnya Perkataan “Islam bukan Nama Agama”
(Ringkasan Pidato Syaikh Ali)
Pembahasan kita akan kita tekankan pada masalah-masalah ilmiah yang amat mendasar.
Pertama: Tentang hakikat agama Islam. Agama yang dengan bangga kita menisbatkan diri kepadanya, berdakwah kepadanya dan berkumpul karenanya. Dialah agama Islam yang difirmankan oleh Allah:
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)
Ayat ini merupakan Dustur (undang-undang dasar) bagi setiap muslim dan merupakan syariatnya yang paling agung. Islam adalah agama Allah, agama yang haq dan agama yang diterima dan agama penutup. Karena Rasul Allah bersabda: “Tidak ada Nabi lagi sesudahku”.
Islam memiliki dua pengertian, yaitu umum dan khusus. Pengertian khusus adalah apabila Islam digunakan secara mutlak atau lepas maka maksudnya adalah agama Nabi MuhammadSAW. Sedangkan makna umumnya adalah agama semua Nabi yang mengajarkan Tauhid, tunduk patuh hanya kepada Allah swt. Sebagaimana firman Allah:
“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (al-An’aam: 162-163)
Pasrah menyerahkan diri kepada Allah melalui ajaran masing-masing Nabi adalah makna Islam secara umum. Sedangkan makna Islam secara khusus yang karenanya al-Qur’an diturunkan adalah tunduk patuh kepada Allah dan taat kepada Muhammad SAW yang diutus untuk seluruh umat manusia hingga hari kiamat.
Di dalam al-Qur’an, di dalam surat al-Fatihah, surat terbesar dalam al-Qur’an, yang menjadi rukun shalat dan tidak sah shalat tanpanya, sebagaimana hadits: “Tidak ada shalat tanpa Fatihah”; surat yang dihapal oleh anak-anak kecil apalagi oleh orang dewasa, di dalamnya Allah berfirman: “Tunjukilah kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka”. Jalan yang lurus di sini adalah agama yang dianut oleh para Nabi, para shiddiq, shuhada’ dan kaum shalih seperti firman Allah:
“Dan barangsiapa yang menta‘ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni‘mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (al-Nisaa’: 69).
Telah shahih di dalam al-Sunnah bahwa ketika Rasul Allah menyebut ayat ini “bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” beliau mengatakan yang dimurkai adalah Yahudi dan yang sesat adalah Nasrani”.
Seandainya ada orang yang merubah-rubah makna Islam dengan mengatakan bahwa Islam bukanlah nama agama yang diterima tetapi sifat agama maka ini tertolak dan batil.
Pertama: Tertolak oleh ali-Imran: 85: Yang mana dalam ayat ini kata Islam terkait dengan nama dan sebutan bukan dengan sifat dan sikap.
Kedua: Hadits Nabi SAW yang menafsiri surat al-Fatihah tadi. Seandainya kita katakan bahwa setiap agama yang mengajarkan kepasrahan kepada Tuhan adalah diterima, tentu tidak ada bedanya antara agama Islam, Yahudi, Nasrani dan agama keberhalaan , sebab para penyembah berhala itupun niatnya menyembah Allah, bukankah mereka mengatakan:
“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (al-Zumar: 3)
Jadi mereka mengaku bertaqarrub kepada Allah. Maka ini adalah ucapan batil dan rusak, kesesatan yang nyata dan telanjang di depan mata, tidak memerlukan bantahan. Namun demikian kami telah membantahnya.
Dalam hadits lain Nabi SAW bersabda: “Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidak ada seorangpun dari umat ini apakah Yahudi atau Nasrani yang mendengar tentang aku kemudian ia mati dan tidak beriman kepada agama yang aku bawa melainkan ia menjadi penghuni neraka” (HR. Muslim).
Lalu bagaimana ucapan mereka yang mengklaim bahwa semua agama sama saja? Bagaimana mereka menyamakan antara yang haq dan yang batil?!
Sumber agama ini adalah al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (al-Isra’: 9)
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)
Inilah al-Qur’an yang telah dikatakan oleh Allah:
“Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fushshilat: 42)
“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (al-Taubah: 6)
Maka Kalam (firman Allah) adalah sempurna seluruhnya, tidak ada cela, cacat atau kurang. Kalam Allah adalah sifat Allah. Bila Allah Yang Pemilik sifat adalah Maha sempurna, maka sifatnya adalah sempurna, tidak ada kekurangan sedikitpun di dalamnya.
Orang-orang yang tidak memahami hakikat al-Qur’an itu entah karena bodohnya atau sikap sok pintarnya mengatakan bahwa al-Qur’an adalah Muntaj Tsaqafi (produk budaya). Sungguh kebohongan besar yang muncul dari mulut mereka. Bagaimana mungkin al-Qur’an disamakan dengan buku-buku lain yang dikarang oleh manusia, sedangkan Allah berfirman:
“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (al-Mulk: 14)
Al-Qur’an diturunkan Allah melalui Jibril as kepada hati Muhammad saw.
“Dan Kami turunkan (Al Qur’an itu dengan sebenar-benarnya dan Al Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran.” (al-Israa’: 105)
Bagaimana mungkin al-Qur’an yang sempurna keseluruhannya sejajar dengan produk manusia yang penuh dengan kekurangan?. Seandainya ucapan ini keluar dari orang yang telah ditegakkan hujjah atasnya tentu ia menjadi kafir, akan tetapi kita memakluminya karena kebodohannya. Kami nasehatkan kepada orang-orang seperti ini agar bertakwa kepada Allah, ingat kematian, kebangkitan, pertemuannya dengan Allah Penguasa alam semesta, hisab, pahala dan siksa.
Nabi saw bersabda: “Ingatlah sesungguhnya aku diberi al-Qur’an dan yang semisalnya bersamanya”. Yang semisal dengan al-Qur’an adalah al-Sunnah. Permisalan di sini bukanlah dalam kedudukan dan kesucian. Kalam Allah sesuai dengan kesucian Dzat Allah saw, sedangkan kalam Rasul-Nya sesuai dengan diri Rasul Allah saw. Oleh karena itu, kesamaannya di sini adalah dalam bidang hukum; hukum-hukum al-Sunnah sama dengan hukum-hukum al-Qur’an, karena ia adalah wahyu seperti al-Qur’an.
Maka barangsiapa mencela sunnah, sebenarnya pukulan itu mengenai al-Qur’an sebelum al-Sunnah itu sendiri. Maka hendaklah ia bertaubat, kembali kepada akal sehatnya dan kembali kepada kebenaran. Sebelum datang waktu yang hanya berisi penyesalan, penyesalan yang tidak lagi berguna dan tidak pula didengar.
Akhirnya, saya akan menutup dengan dua perkara: yang satu bersifat umum, berkaitan dengan ceramah kita dan yang kedua bersifat khusus, berkaitan dengan Perguruan Tinggi Sunan Ampel.
Setelah kita jelaskan hakikat Islam –tidak ada satu agama yang diterima setelahnya dan bersamaan dengannya-, setelah kita jelaskan sumber-sumber agama Islam yaitu kitab Allah yang berisi hukum, hidayah dan Tasyri’. Setelah penjelasan tentang Sunnah Rasul saw yang ia adalah wahyu yang sama dengan al-Qur’an. Setelah penjelasan tentang akal dan kedudukannya yang amat tinggi dalam Islam untuk memahami al-Qur’an dan Sunnah bukan untuk menghakimi dan menolak al-Qur’an dan Sunnah. Setelah penjelasan tentang Abu Hurairah ra, kedudukan dan keutamaannya dan bahwa dia adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, saya mengatakan: “Di antara manhaj ilmi yang benar yang wajib diketahui adalah al-Qur’an dan Sunnah harus kita pahami sesuai dengan pemahaman para Salaf Shalih. Secara ringkas saya sebutkan dua dalil berikut ini.
Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (al-Nisaa’: 115)
Ini adalah isyarat kepada pemahaman lurus yang ada pada para sahabat ra. Karena itu wajib memahami al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman para Salaf Shalih dan tidak boleh memahaminya dengan pemahaman yang menyimpang dari pemahaman mereka.
Kedua, hadits Nabi saw:
“Sebaik-baik generasi manusia adalah generasiku kemudian generasi berikutnya kemudian berikutnya”.
Tidak mungkin Khairiyyah (nilai kebaikan) di sini dikaitkan dengan jaman, atau tempat, atau orang atau fisik. Akan tetapi kebaikan yang dimaksud adalah kebaikan iman, kepatuhan, pemahaman, ilmu dan amal. Dan kebaikan ini ada pada tiga kurun yang utama tersebut agar menjadi pelita bagi generasi sesudahnya.
ADA PEMURTADAN di IAIN Oleh : H. Hartono Ahmad Jaiz
Kunjungi juga: http://jaketbaseball.org/ http://jualjaketbaseball.com/ http://www.artizara.com/ http://tokoseragamonline.com/ http://pelaminan-minang.safirkonveksi.com/
Let’s just say that Mikira dyed her hair.
Digitally colored version of this.
I'm really upset so I doodled a stressed Mikira...
I’m trying out styles.
Also Miru looks small for some reason?
Doodles from last night.
I tried humans.
Tried.
I colored them.