#1
Tak banyak yang tahu tentang kampung halamanku. Sewaktu sekolah dulu, beberapa teman harus bertanya ulang di mana tempat tinggalku. Sebuah kampung yang berjarak sekitar 20an KM dari kota Bandung.
Tempat tinggalku banyak dikenal dengan kawasan industrinya, di jam-jam tertentu menjadi macet karena pergantian jam kerja dari para pekerjanya. Selain itu, tempat tinggalku pun menjadi salah satu jalur yang dilalui orang-orang ketika musim mudik tiba.
Sejak SMP aku memutuskan untuk sekolah di Bandung, jarak yang kutempuh setiap harinya memerlukan waktu 30-45 menit. Waktu itu jalanan memang belum seramai sekarang, aku biasa pergi sekitar pukul 05.30 - 05.45 WIB. SMP sampai kuliah setiap harinya aku melewati jalan yang sama, dengan tingkat keramaian yang berbeda pula. Jalanan semakin ramai, semakin banyak kendaraan bermotor, waktu yang ditempuh pun tak lagi cukup 45 menit.
Kini tempat tinggalku menjadi semakin ramai, di jam-jam sibuk sering mengalami kemacetan. Banyak lahan persawahan yang telah berubah menjadi sebuah bangunan berisi berbagai mesin-mesin yang aktif 24 jam.
Hal yang paling baru dari tempat tinggalku adalah adanya jalan alternatif menuju kota Garut yaitu melalui jalur Kamojang, jalannya bagus walaupun banyak tanjakan curamnya.
Tak banyak yang dapat diceritakan tentang tempat tinggalku, Majalaya, tempat yang sibuk dengan industrinya dan polusi yang tiada hentinya.













