#1 'Hujan' Pertama di Bulan Februari
Tanggal 4 Februari kemarin, tepat di hari rabu, aku bertemu dengannya. Bewarna hitam dengan mata hitam pekat yang menarik. Ukuran sebesar genggaman tanganku. Mengeong-ngeong dengan kencang di balik kardus di parkiran sebuah restoran yang jadi tujuan pertemuanku dengan pemiliknya.
'Jadi gimana?' tanyaku polos saat melihat kucing kecil itu di dalam kardus. Pemiliknya bingung, dengan sedikit keberanian dia meminta aku untuk kembali lagi ke rumah.
'Eh?' baru lima belas menit yang lalu aku meninggalkan rumah, membayangkan orang-orang rumah akan bertanya-tanya dan menertawakanku bukan pilihan terbaik untukku. Tapi suara kucing kecil itu terus terdengar, eongannya akhirnya membuat aku menyerah.
'Okeh.' dan dimulainya perjalanan pertamanya menuju rumahku. Rumah yang diharapkan membawa kehangatannya untuknya.
Jam setengah sembilan aku baru pulang. Dengan segera aku memberikan po-sari-bear yang diberikan pemilik kucing itu untuk ayahku. Kebetulan abi sedang sakit. Setelah memberikannya dan dimarahi sedikit karena pulang terlalu malam, akhirnya aku melirik kardus tempat kucing kecil tadi. Aku membukanya, dan menemukannya sedang tertidur. Tidak berapa lama saat kardusnya dibuka dia mengeong-ngeong, bangun. Aku lalu membawanya ke dalam kamar dan menarunya dipojokan kamar dekat dengan kasur.
Adik-adikku mulai berisik menanyakan berbagai macam hal, aku yang baru saja pulang menyimpan semua barang-barang yang tadi aku bawa sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka seadanya, lebih tepatnya tidak mau memperpanjang (Haha). Dengan segera aku mengambil gelas plastik yang diberikan pemiliknya dan menaruh susu di dalamnya untuk diberikan kepada si kucing kecil. Dengan segera aku duduk di dekat kardusnya, mengambilnya. Dia kecil sekali, satu matanya tertutup, jadi sebelum benar-benar aku berikan susu aku mengelapnya dengan tisu. Setelah dirasa cukup, aku mulai memberinya susu menggunakan ear bud. Setelah dia menyedot susu yang ada di dalam ear bud itu, aku segera mencelupkan bagian lainnya ke genangan susu yang ada di dalam gelas. Dengan segera aku mendengar suaranya menyedot susu dengan cepat, sepertinya dia lapar. Beberapa saat kemudian dia berhenti dan hidungnya dari hidungnya keluar susu. Aku tertawa sambil mengelap hidungnya dengan tisu. Sebelumnya aku sudah diingatkan tentang hal ini, tapi tetap saja lucu saat benar-benar melihatnya. Dia mengeong-ngeong dan sesekali bersin lalu bergerak-gerak tidak mau diam. Aku mencoba memberikannya lagi susu menggunakan ear bud, tapi dia menolaknya. Sudah kenyang mungkin ya? Akhirnya, aku memasukannya lagi ke dalam kardus. Dia mengeong-ngeong seperti biasa, namun dalam waktu sekian menit suaranya menghilang. Aku membuka kardusnya dan aku lihat dia sudah tertidur. Manisnyaaa~~
Aku akhirnya bangkit dan mulai membersihkan diri dan mengganti baju. Karena perut yang sudah penuh, aku sama sekali tidak tertarik untuk makan lagi. Saat melihat kasur, rasanya ingin sekali berbaring. Dengan segera aku tertidur.
Pukul 1.35 Aku terbangun, kucing kecil mengeong-ngeong. Dia terbangun, aku yang ogah-ogahan turun dari kasur akhirnya turun juga dan mengecek keadaannya. Mungkin dia lapar, lagi. Lagi, aku membuatkan susu untuknya dan mulai memberikannya susu. Sama seperti sebelumnya dia meminumnya dan lagi-lagi susu keluar dari hidungnya. Aku masih tertawa sambil mengelap hidungnya. Kali ini aku lupa kalau aku mengantuk. Sambil menunggu, dia mau meminum susunya untuk kedua kalinya dan berhenti disaat susu keluar lagi dari hidungnya. Aku masih tetap tertawa. Aku mengelusnya yang sedang mengeong-ngeong dan bersin. Badannya dingin. Entah bagaimana aku tiba-tiba terpikir untuk menghangatkan selimutnya dengan menggunakan setrikaan. Dan benarlah, hanya selang satu menit diselimuti dengan selimut hangat dia langsung tertidur. Selamat malam~