SEMENTARA
Lelah datang seperti senja, ia selalu sementara, gelap merambat di dada pun hakikatnya sementara, dunia berputar dalam janji yang sementara.
seen from China
seen from Saudi Arabia

seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Canada
seen from Germany
seen from Russia

seen from Singapore

seen from United States

seen from Belgium

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Colombia
seen from United States
seen from China

seen from Malaysia
seen from Brazil
SEMENTARA
Lelah datang seperti senja, ia selalu sementara, gelap merambat di dada pun hakikatnya sementara, dunia berputar dalam janji yang sementara.
Terkadang kita terlalu mengkhawatirkan sesuatu sampai lupa bahwasanya itu hanyalah dunia yang sifatnya sementara, hingga dosa yang sudah menggunungpun seolah olah di abaikan bahkan sampai terlupakan. Padahal kelak dosa itulah yang akan mengantarkan kita menuju neraka.
Lalu kapan terakhir kali kita menangis meminta ampunan dosa?
sayangnya, hanya sedikit yang merasa takut di kesempatan yang sementara ini.
—memelena
Senja ajarkan diriku tetap memberi rasa nyaman walau seringnya dirimu dilupakan.
Senja ajarkan diriku juga tentang segala hal yang indah itu tak selamanya akan sama.
Senja ajarkan juga diriku walau dirimu pergi itu akan selalu berjanji untuk kembali.
Walau setelah kepergianmu harus menghadapi kegelapan malam.
"Bisa jadi kita terlalu sibuk menunjukan apa dan siapa diri kita, hingga lupa: seni pertunjukan ini sifatnya sementara."
Lagu ini baru saya temukan tahun 2018 berkat suatu band yang menyanyikannya di atas panggung. Lagu ini ternyata pernah menjadi soundtrack film yang dibintangi oleh Nicholas Saputra “3 Hari untuk Selamanya”. Hotma (vokalis Float) seolah sedang bermonolog dengan hatinya. Berkontemplasi dengan dirinya sendiri dalam perjalanan panjang kehidupan, untuk meyakinkan bahwa yang sedang dilalui hanya sementara.
Masing-masing dari kita punya andil untuk berlaku adil pada diri sendiri. Beberapa memilih menepi dari riuh yang malah membuatnya sepi. Saat ketakutan membuat hati tertekan. Usaha serasa hanya kegagalan. Hingga setelah sekian lama bertahan, tindakan tiba di batas kemampuan.
Merayakan perjalanan yang katanya tak lagi jauh, oleh karenanya belum saatnya untuk jatuh. Mengingatkan banyak mimpi yang harus direngkuh juga janji yang tak boleh diingkari. Menumbuhkan keyakinan untuk jangan dulu berhenti, karena yang sudah-sudah lebih dari ini. Memberikan pengertian bahwa luka hanya sementara, sesekali perlu memberi jeda pada setiap usaha, sembari menikmati lara.
Dan sementara, akan ku karang cerita
Tentang mimpi, jadi nyata
Untuk asa kita berdua
Mimpi bisa menjadi nyata, tapi jalannya tak akan sama dan rata. Sementara tanjakan, sementara turunan, sementara datar-datar saja. Sementara kepala di kaki, nanti kaki di kepala. Kemungkinan juga berulang kali jatuh di lubang yang sama. Tak jarang sesenggukan hingga tak bersuara.
Teduhlah hatimu, sebab ujung tak lagi jauh.
hanya sementara saja, jangan dulu jatuh.
Mencintai yang sementara
Mengapa banyak manusia mencintai hujan. Padahal turunnya hanya sementara. Setelahnya bumi kembali seperti semula. Mengapa tak saja mencintai sungai? Padahal mengalirannya menghidupkan nyawa bagi mahluk semesta. Toh keduanya adalah air yang Allah turunkan kebumi. Sama-sama layak dicintai.
Mengapa banyak manusia menyukai senja, padahal ia adalah matahari itu sendiri. Disukai justru saat ia pergi. Bukankah matahari memberikan nyawa pada bumi sepanjang hari. Tidaklah lebih layak menyukai matahari daripada senja.
Ya begitulah kita, seringkali lebih mencintai yang sementara. Mungkin karna yang sementara itu mampu memberikan sesuatu yang berbeda, berbeda dari yang biasanya menetap lama. Mungkin yang sementara seperti sebuah warna baru dari banyaknya warna disekeliling kita.
Begitulah manusia, seringkali lebih mengejar dan mencintai yang sementara. Rela pergi jauh ke tepi pantai untuk melihat senja. Rela menaiki gunung dan kemah berdingin-dingin bahkan kehujanan untuk melihat sunrise. Atau rela memuji hujan padahal tak mau juga hujan-hujanan. Ya, sama seperti dunia. Sementara, tapi kita rela berlelah-lelah mengejarnya.
Kapan terakhir kali kamu merasakan bahagia yang benar-benar bahagia, kawan?
Kapan terakhir kali kamu merasakan bahagia tanpa takut kebahagiaan itu akan segera berakhir?
Kapan terakhir kali kamu merasakan bahagia tanpa menginginkan kebahagiaan itu bersamamu selamanya?
Mungkin hal itu bisa hari ini, kemarin, atau entah kapan.
Satu hal yang terpenting,
Bahagia itu tanpa syarat dan ketentuan.
Jadi berhentilah menjebak dirimu dalam labirin yang kamu buat sendiri.
- Sastrasa